
Satu hari itu, Kila dan Irsyad sama sekali tidak bertemu. Tentang memo di meja makan, Kila hanya menuliskan "jangan lupa di makan" untuk menemani makan malam Irsyad. Irsyad tidak terlalu ambil pusing dengan sindiran yang dimaksud di memo itu. Ia tetap tidak kembali ke kamar dan malah tidur di ruang kerjanya kembali.
Keesokan paginya, Irsyad melihat sebuah catatan kecil di sebelah teh pahit yang sudah di suguhkan sebelumnya oleh Kila. Bukan seperti memo, melainkan sebuah gambar emoticon senyum yang digambar dengan pulpen. Post it yang dipilih untuk menggambar emoticon itupun dipilih Kila yang berwarna biru, menggambarkan suasana hatinya yang haru biru. Naif sekali Kila memilih warna itu berharap agar Irsyad mengerti dirinya.
"Saya mengajar Bahasa Indonesia. Lalu, drama apa ini, Kila?" ucap Irsyad seraya menyingkirkan post it itu. Seketika emosinya tersulut saat mencoba mengerti sikap Kila.
Irsyad merasa ada yang salah dengan dirinya. Ia ingin pulang ke rumah Citra untuk menenangkan diri. Kelas mengajarnya hari ini juga tidak terlalu pagi.
"Jangan siapkan makan atau bekal. Hari ini saya akan makan diluar." Irsyad mengirim pesan singkat itu kepada Kila. Ia ingin sekali meladeni memo-memo yang Kila buat dengan melakukan hal yang sama. Tapi, zaman sudah modern sekarang. Pakai saja media yang menyediakan fitur pesan singkat jika tidak ingin bicara secara langsung. Itulah yang Irsyad pikirkan.
Mungkin untuk menenangkan pikirannya, Irsyad akan menginap di rumah Citra. Setelah mengajar, ia akan memberitahukan hal itu kepada Kila melalui pesan chat.
Setelah berganti pakaian, Irsyad langsung berangkat menuju rumah Citra. Jam sarapannya juga ia lewatkan, lagian ia tidak perlu mengkhawatirkan itu karena sudah memberitahukannya kepada Kila.
Irsyad sudah sampai di rumah Citra. Dan Citra yang menyadari ada yang membuka gerbang rumah miliknya langsung keluar melihat siapa gerangan yang datang. Citra cukup terkejut saat mengetahui yang datang adalah Irsyad di pagi-pagi begini.
"Kamu tumben pagi-pagi begini ke rumah, Nak. Ada masalah di rumah, ya?" sambut Citra dengan tanya.
"Assalamu'alaykum dulu, Bun. Bunda apa kabar?" ujar Irsyad seraya menggapai tangan Citra untuk ia kecup.
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Kabar bunda baik, sehat dan bahagia. Kamu gimana kabarnya, Syad?" jawab Citra menanggapi. Mereka berdua kemudian mengobrol seraya berjalan untuk masuk ke dalam rumah.
"Baik, Bun," jawab Irsyad lesu. Ia tampak menunjukkan ekspresi lesunya saat duduk di ruang tamu rumah Citra. Benar-benar membutuhkan Citra penasaran tentang apa yang terjadi sampai Irsyad membuat wajah seperti itu.
"Baik aja? Nggak sehat, nggak bahagia?" tanya Citra dengan nada menggoda. Berharap hal itu dapat mengembalikan semangat Irsyad, tapi itu tidak bekerja sama sekali.
"Bun..., Irsyad bukan tipe yang akan menjawab seperti itu, bunda tahu itu kan?" jawab Irsyad masih lesu.
"Iya, Nak. Bunda tahu juga kalau kamu bukan tipe yang akan datang pagi-pagi ke sini. Apalagi nanti kamu akan kembali ke kampus untuk mengajar. Itu sungguh repot dan nggak efisien, kamu nggak suka yang seperti itu, kan? Ada apa, Nak? Dan..., Kila kenapa nggak ikut sama kamu juga?" balas Citra.
"Bun, kali ini Irsyad datang sebagai tamu. Setidaknya suguhkan Irsyad minuman terlebih dahulu baru kembali bertanya. Lagian, Irsyad datang ke sini bukan untuk diintrogasi," ucap Irsyad sedikit menyindir.
"Iya, Bun."
"Bentar, ya. Bunda juga kemarin masih ada sisa camilan. Ini dulu kamu makan, ya, sembari menunggu."
Camilan yang disuguhkan sudah Irsyad makan. Rasa manis saat memakannya serasa seperti mengembalikan kembali semangat Irsyad yang hilang. Tak lama kemudian, Citra datang menyuguhi teh pahit, dan langsung saja Irsyad menyesapnya. Selesai Irsyad menyesap teh yang disuguhkan, ia langsung memasuki kamar yang biasa ia tiduri di lantai dua. Pertanyaan sang bunda masih belum ia jawab. Selesai dari kamar itupun, Irsyad langsung pamit untuk ke kampus. Citra ditinggalkan dengan seribu pertanyaan yang menerka-nerka apa yang terjadi dengan Irsyad.
...****************...
"Assalamu'alaykum, Kila. Hari ini saya akan menginap di rumah bunda." Pulang mengajar dari kampus, Irsyad langsung mengirimkan pesan singkat kepada Kila. Saat ini, Irsyad bahkan sudah berada di kamarnya dan membaringkan tubuhnya. Ia sudah berada di rumah Citra.
Mendapat pesan dari Irsyad yang kedua hari ini, Kila langsung membuka dengan cepat. Pesannya menusuk hati Kila. Setelah tidak mau dibuatkan makanan, kini Irsyad memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Apa tidak cukup dengan tidak sekamar dengan Kila? Kenapa harus pisah rumah segala? Dengan pesan Irsyad itu, Kila malah ingin membalasnya dengan ide yang tak masuk akal. Pikirnya, untuk apa ada di rumah jika harus sendirian? Iapun dengan berani mengutarakan pemikirannya melalui pesan singkat. Besar harapan permintaan itu akan dipenuhi meskipun terbilang mustahil.
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Pas sekali, Kak. Kila juga mau minta izin untuk menginap di hotel dekat pantai selama tiga hari. Apakah Kakak mengizinkan?" balas Kila. Ia sedikit ragu saat mengetikkan itu, namun ia terus memberanikan diri.
Cukup lama Irsyad membalas kembali, itu membuat Kila menunggu izin Irsyad dengan ketegangan di dalam hati. Kila takut permintaan anehnya itu tidak diizinkan oleh Irsyad. Sebenarnya bisa saja Kila pergi. Tapi, ia akan menjadi istri yang durhaka saat meninggalkan rumah tanpa izin dari suaminya.
"Jika kamu pergi sendiri, berhati-hatilah. Maaf saya tidak bisa mengantar," balas Irsyad setelah lebih dari setengah jam memikirkan balasan yang tepat. Irsyad berperang melawan egonya untuk mengizinkan Kila pergi, itu yang membuatnya lama membalas. Irsyad memang memberi izin, tapi hatinya ragu membiarkan Kila pergi dalam keadaan hubungan mereka yang seperti ini. Secara jujur, Irsyad tidak ikhlas tapi berusaha untuk ikhlas.
Kila tidak menyangka permintaannya itu ditanggapi dengan baik. Tak ia sangka Irsyad memberi izin. Sebentar Kila merasa senang karena Irsyad telah mengizinkan. Namun, sebentarnya lagi ia merasa sedih karena berharap dapat penolakan dari Irsyad. Tidak tahu apa yang sebenarnya wanita ini inginkan, ia hanya ingin mengetes Irsyad, tapi apapun jawaban Irsyad nantinya tetap akan mengecewakannya. Apalagi, suasana dingin di dalam rumah mereka belum kunjung hangat. Ia ingin Irsyad tidak mengizinkan, jika Irsyad mengizinkan, ia ingin Irsyad mengantarkannya ke bandara. Wanita yang kompleks bukan?
"Terimakasih, Kak. Untuk bahan makanan sudah tersedia di kulkas kalau Kakak ingin memasak," balas Kila lagi. Ia ingin berbasa-basi lebih dari itu, tapi hanya itu saja yang berani ia ketikkan.
"Oke," balas singkat Irsyad.
"Cuma oke?" kesal Kila dalam hati.
Biarlah Kila menikmati waktunya kali ini meski ini adalah rencana dadakan. Mendapat izin dari Irsyad juga bukan sesuatu yang buruk. Kila berharap dengan melakukan perjalanan ke tempat favoritnya akan membuat pikirannya lebih segar. Selain masalah Irsyad, ia juga mengalami kebuntuan dalam mengerjakan skripsinya. Kila meyakini kalau sudah pulang dari hotel nanti dirinya akan lebih baik. Dengan begitu, ia juga berharap akan lebih berani untuk mengembalikan suasana hangat rumah mereka seperti sebelumnya.
...****************...