
Tibalah hari dimana Irsyad akan berkunjung ke rumah Kila untuk membicarakan sesuatu dan sekaligus berta'aruf katanya. Kila tidak ikut ke rumah karena tidak ingin ikut campur dengan pertemuan mereka. Lagian, ia meyakini bahwa setelah pertemuannya selesai Irsyad akan memberitahukan apa saja yang telah dibicarakan.
Irsyad sampai pukul satu siang, setelah sholat dzuhur dan makan siang. Orang tua Kila yang meminta untuk datang di jam segitu, seperti biasa karena urusan pekerjaan lagi-lagi. Biasanya di jam itu orang-orangnya akan beristirahat untuk isoma, dan orangtua Kila memanfaatkan waktunya untuk melakukan pertemuan ini.
Suguhan camilan sudah disediakan di meja ruang tamu. Tempat yang sama dimana Irsyad melakukan pertemuan dengan nenek selaku wali Kila. Aa.. mau bagaimana, pembicaraan tentang nenek tidak akan terelakkan. Atas alasan itulah Irsyad ke sini, untuk membahas tentang nenek.
"Selamat siang, Pak Irsyad. Senang bisa bertemu dengan Anda. Saya Gilang papanya Kila. Dan ini istri saya Riska," ucap Gilang. Ia menjabat tangan Gilang. Sedangkan Riska membungkukkan badan sebagai salam penghormatan.
"Silahkan, dinikmati camilannya," suguh Riska. Ia menilai Irsyad dari berbagai sudut pandang. Lalu menilai Irsyad, kemudian mengaitkannya dengan alasan Kila begitu dekat dengan pria ini. Pasti karena wajah tampan miliknya, pikir Riska.
"Oh, baik, terimakasih banyak. Sebelumnya maaf merepotkan anda berdua karena saya begitu tiba-tiba meminta untuk bertemu. Saya sangat senang dapat bertemu langsung dengan orang tua Kila. Setidaknya, tujuan awal saya sudah terpenuhi. Selanjutnya, saya ingin masuk ke topik utama, boleh?" pinta Irsyad. Gilang tidak menyangka, pria satu ini tidak ingin bertele-tele dan langsung to the point.
"I-iya, silahkan," jawab Gilang.
"Begini, saya ingin mengungkapkan kejujuran terlebih dahulu. Saya wali kelas Kila, tapi saya menganggap Kila murid yang spesial karena memiliki berbagai kelebihan dan saya tidak dapat mengabaikannya. Tapi, saya tidak menyimpan perasaan suka sedikitpun untuk Kila. Sikap yang saya lakukan hanya sebagai bentuk apresiasi saya pada murid spesial seperti Kila, jadi saya harap Anda tidak salah paham dulu," ucap Irsyad perlahan sebagai pembuka. Gilang tampak tidak senang dengan yang diucapkan Irsyad, namun ia dapat menyembunyikannya. Bicara dengan Irsyad ia samakan dengan bernegosiasi dengan klien, memasang muka yang ingin dilihat oleh si klien agar rencana yang ia buat tercapai.
"Saya tidak akan tahu bahwa nenek Kila sedang sakit kalau Kila tidak menunjukkan keanehannya, seperti sering melamun. Saya sudah mengerti jika Kila melamun pasti ia memiliki masalah. Dan ternyata benar bahwa ia sangat memikirkan neneknya di rumah sakit, ia juga merasa sangat bersalah karena merasa dirinya lah penyebab nenek kecelakaan. Kila memang sering melamun tapi nilainya tidak berpengaruh, hanya saja karena dia kurang memperhatikan di tiap pelajaran ada beberapa guru yang yang tidak senang dengan sikap Kila itu. Kila semakin sering melamun di tiap saya mengajar, sampai akhirnya saya panggil ia ke ruangan saya dan dan gila menceritakan penyebab ia sering melamun," lanjut Irsyad. Ada reaksi dari Riska saat Irsyad menyebutkan ada beberapa guru yang tidak senang dengan sikap Kila. Lalu Riska mengambil kesimpulan bahwa itulah yang menjadi penyebab mengapa nilai raport Kila tidak mencapai nilai yang sempurna.
"Saya sangat prihatin dengan kondisi Kila waktu itu, sehingga saya menawari tumpangan untuk Kila. Sekaligus saya ingin melihat bagaimana kondisi nenek Kila. saya sangat sering mampir rumah sakit, bukan hanya mengantar Kila belaka. Oiya, saya ingin memberitahu kalau Kila tidak duduk di samping saya melainkan duduk di belakang, saya juga tidak terbiasa dengan seorang wanita. saya sering mampir, dan banyak yang sudah kami perbincangan antara saya dan nenek Kila tentunya. Justru, dengan Kila saya tidak banyak bicara. Jadi, Anda tidak perlu khawatir." Irsyad melanjutkan ceritanya. Ia menenggak minuman sebentar sebelum melanjutkan kembali ceritanya.
"Bagaimana bisa Kila tidak memberitahukan ini pada kami? Ia malah lebih mengandalkan gurunya dibandingkan orangtuanya sendiri. Kalau diberitahu, pasti kami akan berusaha untuk datang untuk bergantian menjaga nenek." Gilang menanggapi. Sebuah tanggapan yang hanya ia lontarkan untuk memperbaiki citranya saja.
"Saya pikir Kila sudah menghubungi Anda, tapi karena Kila anaknya begitu pengertian ia tidak memaksa orang tuanya untuk datang, karena dirinya sendiri masih sanggup kalau hanya sekedar menjaga neneknya saja. Saya memaklumi itu, dan sekarang saya ingin ke inti pembicaraan." Irsyad menanggapi ucapan Gilang.
"Ha? Bagaimana bisa?" Riska merespon dengan keterkejutan.
"Tentu bisa, lagian yang saya tahu, beliau meninggal tiba-tiba tanpa di diketahui oleh Kila. Jadi pesan terakhirnya nya permintaan-permintaan sebelum beliau meninggal. Dan saya sangat terganggu dengan permintaan itu apabila saya belum menyampaikan sekarang pada kalian selaku orang tua Kila dan anak beliau." balas Irsyad.
"Lalu, apa isi permintaannya?" Gilangpun ikut merespon.
"Sebelumnya saya ingin meluruskan bahwa saya tidak memiliki perasaan apapun dengan Kila. Jadi mohon dengarkan baik-baik dan saya harap tidak ada diantara kita yang tersulut emosinya." balas Irsyad. Ia memberi jeda untuk menyampaikan pesan nenek itu.
"Beliau meminta saya, jika beliau sudah tidak ada nanti saya yang menjaga Kila. Beliau ingin saya menjadi penggantinya untuk selalu ada buat Kila. Beliau ingin Kila mendapatkan sosok imam seperti saya, bahkan beliau juga lancar mengatakan bahwa saya lah yang diinginkannya untuk menjadi imam untuk Kila. Di akhir pesan itu beliau mengatakan kalau permintaan ini diserahkan kepada saya, ingin dilakukan atau tidaknya. Begitulah isi pesannya kira-kira. Saya sudah menyampaikan kepada Anda berdua. Saya tidak bisa memutuskan sendiri apakah saya harus memenuhi pesan ini atau tidak karena yang paling berhak atas Kila sekarang bukan saya melainkan Anda berdua sebagai orang tuanya. Selain ingin menyampaikan pesan itu saya ingin mendengar pendapat Anda berdua dengan permintaan beliau ini." Irsyad menuntaskan ceritanya. Ia menunggu Gilang dan Riska memberikan pendapatnya.
Gilang dan Riska tidak mengerti harus memberikan pendapat seperti apa dari cerita Irsyad tersebut. Karena mereka tidak menginginkan Kila menikah dengan cepat. Apalagi, mereka tidak ingin hubungan murid dan guru terjalin antar dua insan itu. Bagi mereka itu hal yang tabu dipandang masyarakat.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Gilang buka mulut.
"Terima kasih sudah menyampaikan permintaan nenek sebelum meninggal. Mungkin saya ingin berpendapat hal ini kita bahas lagi nanti. Kila masih sangat dini, ia masih SMA. Mungkin setelah kami berdiskusi, nanti akan kami sampaikan pada Anda," pendapat Gilang.
"Baiklah kalau begitu, ini alamat lengkap saya dan nomor ponsel saya. Saya siap kapanpun jika Anda berdua sudah selesai berdiskusi dan memutuskan. Kalau begitu, saya pamit dulu. Maaf telah menggunakan waktu Anda. Terimakasih banyak. Assalamu'alaykum," Irsyad pamit pulang.
Setelah Irsyad pulangpun, Riska dan Gilang masih di tempatnya. Berpikir keras tentang pesan yang disampaikan Irsyad. Bagaimana mereka akan menanggapi hal ini, sesuatu yang sangat bertentangan dengan mereka. Dilain sisi, mereka tidak bisa melakukan apapun karena pesan itu merupakan wasiat.
...****************...