
Selesai ditinggalkan oleh Irsyad, Kila menangis semakin kencang. Tersedu-sedu hingga waktu maghrib tiba. Ia segera membersihkan diri sebelum menunaikan shalat maghrib.
Selesai doa ia haturkan, matanya kembali panas mengingat kejadian tadi. Padahal ia sudah sangat yakin bahwa dirinya siap, tapi kenapa saat itu masih saja ketakutan? Kila tak bermaksud memainkan perasaan Irsyad, memang pada dasarnya dirinya belum siap, seperti yang dikatakan oleh Irsyad.
Terdengar suara gemuruh dari luar. Sepertinya akan hujan. Kila teringat jemurannya di roof top yang belum di angkat karena hari ini begitu sibuk. Segera ia naik untuk mengentaskannya.
"Hujan?" tanya Kila. Ia sudah mengentaskan semuanya di tempat yang tidak terkena hujan. Sementara itu, ia terkena hujan karena melamun sejenak tadi.
Kila berjalan menuju ujung dinding luar pembatasan roof top dan taman di lantai satu. Menyanggahkan tangannya pada dinding itu, lalu berlipat tangan di sana dan melanjutkan lamunannya yang ditemani hujan.
"Bagaimana bisa aku belum siap? Apa yang membuat ku menangis?" Kila bermonolog ditengah hujan.
"Bahkan setelah aku menangis, beliau masih bersikap baik. Wajahnya terlihat merasa bersalah, bukan marah. Dan sangking baiknya, beliau masih ingat akan waktu shalat di saat canggung seperti itu."
Kembali air matanya menetes, bercampur dengan air hujan yang juga membasahi pipinya.
Melihat ke arah bawah membuat Kila berpikir untuk turun ke sana. Pikirannya mulai kacau. Ingin rasanya ia melompat dari lantai tiga ini ke bawah.
"Nek, apa Kila harus ke tempat nenek? Mungkin, kalau Kila ke sana, nenek bisa bantu permasalahan Kila."
Kila sudah mulai gila. Ia bermaksud mengakhiri hidupnya? Kekalutan yang ia rasa membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Ia ingin melompat selangkah lagi. Namun, tak lama ia mendengar adzan berkumandang. Waktu isya telah tiba. Ia mengenal suara itu, juga nada adzan yang dibawakan. Suara yang dulu dapat menyihir Kila, sekali lagi menyihirnya dengan irama nahawand yang mendamaikan. Kila langsung mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidupnya. Ia akan kembali ke niat awalnya, ada cara lain untuk membuat ini menjadi terakhir kalinya untuk keduanya.
Karena sudah terlanjur ingin melompat, ia tidak langsung turun kembali ke posisi normal. Kini ia mendudukkan dirinya di dinding yang tingginya sedada itu. Menikmati hujan kembali sebelum hujannya berhenti. Karena kini, temannya adalah hujan.
Kila merenungkan kembali bagaimana hubungannya dengan Irsyad dapat sampai ke jenjang ini. Yang ia temukan malah betapa egoisnya Kila dan pemaksaan terhadap pemenuhan wasiat itu. Jika dipikir-pikir, Kila ternyata kekanakan sekali. Ia bahkan tidak ada shalat istikharah sama sekali atas pengambilan keputusannya untuk mengakhiri hubungannya dengan Irsyad. Padahal, ia menasehati Riska untuk melakukan shalat istikharah lebih dulu. Menasehati agar tidak mengambil keputusan terburu-buru, karena akan menyesal nantinya.
Ngomong-ngomong shalat, Kila teringat bahwa dirinya belum menunaikan shalat isya. Ia menengadahkan wajahnya mengarah langit, membuat wajahnya basah karena air hujan. Teringat petuah sahabatnya untuk menjadi cocok dengan Irsyad, ia hanya harus mengimbangi kebaikan Irsyad. Jangan pernah merasa tak pantas, mungkin disandingkan dengan Irsyad akan membuat Kila menjadi pribadi yang lebih baik, sama seperti Irsyad. Ia memejamkan mata cukup lama sebelum beranjak dari duduknya itu untuk shalat isya. Wajahnya yang masih menengadah menatap langit mulai rileks, air matanya sudah berhenti. Kila sudah dapat berpikir jernih sekarang.
Kila memutuskan untuk mantap memantaskan diri untuk bersanding dengan orang sebaik Irsyad. Ia tidak akan mengungkit kembali hal yang sama. Ia sadar, kemungkinan depresinya tinggi karena di hadangkan banyak masalah, juga tesis yang selesainya dipaksakan. Ia sadar, dirinya hanya terkena banyak tekanan saja, jadi, sikap kekanakannya sering kambuh akhir-akhir ini.
"Mulai dari nol, ya? Bismillah...," ucap Kila yang sudah puas menengadah itu. Yang ia butuhkan ternyata cuma ini, merenungkan semua hal dair berbagai sudut pandang, ditemani hujan dan kesendirian. Hingga ia sadar, dirinya sudah benar-benar sembuh sekarang.
Kila ingin turun dari posisi duduknya ini, tapi ia tak tahu caranya. Bisa naik, tidak bisa turun. Terlebih, sekarang ia malah takut melangkah, karena jika salah langkah ia akan berakhir selamanya. Lain halnya saat ia naik tadi yang tak memedulikan hidupnya sama sekali.
"Gimana ini, susah banget turunnya," keluh Kila kesusahan.
"Aaa... tolong!! Mas Irsyad..., tolong Kila. Siapapun..., tolong...!" Kila berteriak sekencang-kencangnya. Entah teriakan itu dapat didengar atau tidak. Sebab, hujan kian deras, sampai menutupi suaranya. Roof top ini pun tidak terlihat dari depan rumah, tidak ada yang bisa melihatnya terjebak di situ, hanya bisa dilihat dari belakang rumah. Cuma Irsyad lah harapan Kila yang datang untuk menyelamatkannya.
"Mas Irsyad!!! Tolong Kila!" untuk kesekian kalinya Kila berteriak. Suaranya bahkan hampir menghilang. Matanya sudah agak buram karena terus diguyur hujan.
Di lain tempat, Irsyad memang sengaja buru-buru pulang dari masjid setelah isya untuk memperbaiki keadaan. Ada perasaan yang tidak enak juga yang tiba-tiba menyuruhnya untuk cepat-cepat pulang setelah salam. Padahal, biasanya ia akan pulang setelah doa yang dipimpin oleh imam.
"Mas Irsyad...!!" samar-samar suara terdengar dari depan rumah.
"Seperti terdengar suara Kila." Irsyad segera masuk ke dalam rumah, perasaannya makin tak enak.
"Tolong Kila, Mas Irsyad!!!" suara itu makin jelas, tapi tidak ada dimana-mana. Irsyad mencarinya dengan panik.
"Di dalan rumah tidak ada, di mana Kila?" Irsyad panik mencari keberadaan Kila yang suaranya terdengar dekat. Apalagi Kila berteriak minta tolong terus-terusan.
Ia keluar ke taman belakang rumah. Belum sempat ia menengadah ke atas, ia sudah ditimpuk sesuatu. Ia periksa itu, dan ternyata kalung yang pernah ia berikan untuk Kila. Segera Irsyad menatap atas. Ia langsung panik melihat Kila terjebak di sana. Jika sampai jatuh, habislah sudah.
"Mas Irsyad...?" tanya Kila penuh harap dan kelegaan.
"Kila, bertahan sebentar ya. Saya akan ke sana," teriak Irsyad dengan raut wajahnya yang semakin panik. Buru-buru dengan langkah panjang, Irsyad menuju roof top.
"Kila, pegang tangan saya yang erat!" seru Irsyad. Selain panik, ia bahkan ingin menitikkan air mata saat memikirkan bagaimana Kila dapat terjebak di posisi ini.
Kila tampak tak bertenaga, itu karena cukup lama ia terjebak di posisi ini dan menghabiskan seluruh energinya.
"Kila! Cepat pegang. Jangan bunuh diri!" Irsyad geram, tenaganya untuk menarik Kila sendirian tidak cukup kuat. Namun, Kila benar-benar sudah kehabisan tenaga untuk menggenggam tangan Irsyad.
Irsyad berdoa meminta pertolongan kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan untuk mengangkat Kila.
Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, akhirnya Kila berhasil diselamatkan. Keduanya terbaring lemas.
"Apa-apaan ini, Kila? Apa kamu benar-benar akan mengakhiri ini semua dengan mengakhiri hidup kamu?" Irsyad menghabiskan energinya yang tersisa untuk meluapkan emosinya. Keduanya tak bersuara lagi. Nafas yang memburu dan hujan yang mengguyur menemani mereka.
...****************...