Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Perhatian yang Berlebihan



Sejak mimpi buruk yang menghampiri Kila waktu itu, ia jadi berubah semakin perhatian pada neneknya. Untuk sekarangpun, Kila dapat melupakan cintanya sejenak ke Irsyad. Hari Senin pertama sejak mimpi buruk itu, di tiap pelajaran Irsyad ia berusaha tidak menonjolkan diri seperti di pelajaran lainnya. Berusaha untuk tidak berlarut dalam imajinasinya yang selalu mengagumi segala hal tentang Irsyad. Dan mengalihkannya dengan melakukan aktivitas yang ia senangi atau sekedar menanyakan kabar nenek di jam kosong dan jam istirahat.


Seperti sekarang, di jam kosong yang banyak disenangi murid dengan pergi ke kantin atau sekedar melihat kelas sebelah tidak dilakukan oleh Kila. Ia pergi sebentar menuju Ira dan Risa untuk memberitahunya agar meneleponnya kalau guru sudah datang karena ia akan fokus menanyai kabar neneknya dalam pesan chat.


“Nenek, lagi apa?” tulis Kila memulai chat.


“Sepuluh menit yang lalu kamu juga menanyakan hal yang sama,” balas nenek.


“Hehe. Nek, Kila lagi free class, ini. Karena nggak ada kerjaan, jadinya Kila chat nenek.” Kila membalas dengan emoji tawa di sampingnya. Saat ingin mengetikkan sesuatu lagi pada neneknya, Risa menelepon memberikan tanda bahwa guru sudah memasuki ruang kelas. Iapun melihat sekilas bahwa guru yang masuk bukan guru mata pelajaran sebenarnya--pkn, melainkan Irsyad guru bahasa Indonesianya sekaligus wali kelasnya.


“Sebentar, Nek. Nanti kita sambung lagi. Guru Kila sudah datang.” Kila mengetikkan obrolan penutupnya, sementara Irsyad sudah berada di depan Kila. Kila sedikit santai karena biasanya Irsyad juga tidak mempermasalahkan murid yang melihat telepon genggamnya selama ia sedang tidak menjelaskan suatu materi pelajaran.


Terlihat ada balasan chat dari nenek, “Itulah, kan, gurunya datang. Kalau nggak jam istirahat, kamu nggak usah pegang handphone apalagi nge-chat nenek. Soalnya sekolah kamu itu hampir tidak pernah membiarkan jam kosong berlangsung lama. Nenek juga tahu soalnya cucunya teman nenek cerita ke nenek.”


“Siap, Nek. Saran di terima,” balas Kila tanpa balasan dari nenek. Tampaknya nenek paham selagi orang yang di chat tidak berhenti membalas chat, maka Kila akan terus membalas sebagai respon yang baik. Tapi karena Kila berkata kalau gurunya sudah datang, nenek tidak ingin lagi membalas pesan yang Kila balaskan agar Kila tidak membalasnya lagi. Dan benar, Kila langsung menyimpan telepon genggamnya itu karena tidak ada balasan dari sang nenek.


“Fadli, kemana separuh penghuni kelas ini?” seru Irsyad penuh ketegasan. Seisi kelas agak terkejut dengan sikap Irsyad, karena Irsyad yang dikenal santai kini menunjukkan wajah yang tegas seketika.


“Maaf, Pak, saya kurang tahu,” jawab Fadli tak berani menatap Irsyad.


“Bagaimana bisa kamu tidak tahu keberadaan warga kelasmu? Sekarang kamu dan perangkat kelas mohon cari mereka, saya beri waktu 10 menit. Kalau tak sampai, akan ada konsekuensinya,” perintah Irsyad. Fadli, Risa, Ira dan Desi kemudian bergegas pergi keluar kelas mencari separuh penghuni kelas mereka yang tidak berada di kelas. Seraya berjalan, Fadli memberikan instruksi agar mereka mencari di tempat yang berbeda. Fadli ke kantin, Risa ke musholla, Ira ke gerbang sekolah untuk menanyakan pada satpam, dan Desi ke UKS. Ira yang lokasi pencariannya jauh karena stamina yang dimilikinya berlebih, bahkan ia sendiri yang mengusulkan kemana ia harus mencari teman sekelasnya itu.


Dilain sisi, Kila merasa sudah melakukan kesalahan. Saat Irsyad memasuki kelas, Kila tidak melihat raut wajah Irsyad yang gusar. Kila dengan santainya membalas isi chat neneknya dengan memperkirakan bahwa Irsyad tidak akan mempermasalahkannya. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Irsyad seperti menunjukkan ketidaksukaannya dengan sikap Kila tadi dengan terus menatap tajam ke Kila. Kila yang merasa ditatap itu memilih untuk menundukkan kepalanya dalam-dalam.


“Afifah Syakila,” tegur Irsyad.


“Saya, Pak,” dijawab Kila masih dengan menunduk.


Didalam tegurannya, semua orang didalam kelas memperhatikan Kila. Ia jadi pusat perhatian orang-orang di kelasnya. Kila menarik napas dan menghembuskannya seraya membendung air matanya agar tak tumpah.


“Maaf, Pak. Saya mengaku saya salah. Saya tidak akan mengulanginya lagi,” jawab Kila mengakui kesalahannya. Kila tidak ingin membantah. Sepertinya kekagumannya pada Irsyad mulai sirna.


Tak lama, separuh penghuni kelas itu kembali bersama perangkat kelas yang lainnya kurang dari sepuluh menit dari yang diperintahkan. Irsyad menyuruh mereka berdiri di depan kelas termasuk perangkat kelas.


“Kalian tahu letak kesalahan kalian dimana?” Irsyad menghakimi. Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab. Seketika semua menunduk tak ada yang berani menatap Irsyad.


“Tidak ada yang menjawab? Baiklah, kita selesaikan masalah ini. Saya akan menghukum kalian dengan cara saya,” seru Irsyad. Kemudian mereka bergeming dengan wajah pucat. Mereka cukup terkejut dengan sikap Irsyad.


“Kalian saya persilahkan duduk. Saya akan memberikan hukuman pada kalian saat kalian sudah duduk. Segera laksanakan,” titah Irsyad yang langsung dikerjakan mereka.


“Saya ingin murid yang meninggalkan kelas karena jam kosong tadi menuliskan kesalahan dan berjanji tidak akan mengulanginya, kemudian merenungi kesalahannya, untuk perangkat kelas juga. Saya mau itu dijabarkan. Format tulisan di tulis tangan dengan minimal sepuluh paragraf. Pulang sekolah nanti saya tunggu di ruangan saya. Jika saya tahu ada yang tidak menumpulkan, saya tidak akan main-main. Baiklah, begitulah hukumannya. Saya ingin kalian mengerjakannya dengan sungguh sungguh dan benar benar menyadari kesalahan kalian.” Irsyad menjelaskan hukuman untuk mereka. Irsyad tak terlalu paham, ada apa dengan angka sepuluh hari ini yang berulang dia ucapkan.


Irsyad duduk di kursinya. Suasana kelas yang hening menyadarkan Irsyad, sepertinya ia sudah berlebihan hari ini.


“Saya tahu ada yang terkejut dengan sikap saya ini. Sudah sewajarnya begitu. Tapi saya juga terkejut dengan sikap kalian ini, di depan dan di belakang saya perilaku kalian berbeda, wajar juga, dong,” ucap Irsyad dengan nada mulai santai. Kecanggungan dalam kelaspun berkurang.


“Saya beritahukan, kalian masih kelas sepuluh. Tempa diri dengan kebiasaan baik. Jangan biarkan keburukan anak IPS melabeli diri kalian. Kalian tidak harus bersikap berandalnya anak IPS seperti stereotip masyarakat. Justru, kalian bisa buktikan stereotip itu salah. Saya mohon, jangan ada lagi murid IPS berandal di kelas saya. Kelas saya ini muridnya baik-baik kok, bersosial dengan wajar kok. Ingat tidak ada pembeda antara kelas IPA dan IPS disini, semuanya sama.


Saya sebagai wali kelas kalian ingin sesuatu yang terbaik untuk kalian. Kalian jangan menganggap bahwa saya sesantai ini tidak mempedulikan kalian, ya. Saya sangat memperhatikan kalian. Kalian murid yang berharga bagi saya. Mari kita sama-sama jaga hubungan baik ini. Saya serius jika saya harus. Saya bukan orang yang pemarah, tapi sikap itu akan saya tunjukkan saat kalian duluan yang memancingnya.” Irsyad menjelaskan panjang lebar.


“Ada yang saya ingin sampaikan. Setiap saya menjadi wali kelas, saya akan melakukan kunjungan rumah ke tiap murid saya. Untuk itu, persiapkan diri kalian. Saya berharap dengan ini saya bisa lebih mengenal kalian bagaimana di rumah dan di sekolah. Jadi, kemungkinan kita akan menjadi lebih dekat. Berdasarkan nomor absen, saya akan mengunjungi rumah kalian. Afifah Syakila, kamu yang pertama.”


...****************...