Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Masalah



Hari ketiga dan keempat liburan telah terlewati. Kila membuat kejadian saat ia menangis itu seperti tidak pernah terjadi. Ia bersikap biasa saja setelah itu, Irsyad juga tidak ingin mengganggu Kila dengan menanyakannya. Irsyad hanya tidak ingin bertanya lalu menyakiti hati Kila lagi, kalau Kila yang cerita dengan kemauannya sendiri Irsyad pasti akan mendengarkannya.


"Gimana? Udah selesai packing, Kak?" tanya Kila.


"Sudah, sini kemarikan punya kamu. Saya saja yang bawa," jawab Irsyad. Kila kemudian menyerahkan kopernya untuk dibawa Irsyad.


Hari ini adalah hari kelima mereka liburan dan bersiap pulang ke rumah Citra. Beberapa oleh-oleh sudah mereka beli untuk orang-orang terdekat. Sebagian besar waktu yang mereka habiskan setelah hari kedua itu adalah mengumpulkan oleh-oleh yang akan dibeli. Masih disekitar daerah pantai, Kila dan Irsyad membelinya bersama. Kila yang mulai terbuka dan cerewet tiba-tiba kembali menjadi pendiam lagi. Ia hanya menjawab seperlunya pertanyaan Irsyad dan memulai topik pembicaraan yang perlu saja. Irsyad menganggap perubahan Kila itu biasa saja baginya, ia berpikir tak perlu mengkhawatirkan hal kecil semacam itu.


"Kak, Kila akan pulang ke kosan. Sudah satu minggu Kila tidak kembali. Kakak jika mau kembali ke rumah bunda, tolong sampaikan pesan Kila. Ada beberapa persiapan juga yang harus Kita lakukan untuk membeli keperluan kuliah bersama Ira dan Risa," ujar Kila kaku. Namun masih dapat tertutupi karena ia tetap menyebutkan panggilan yang baru itu.


"Ooh, ok kalau begitu. Saya juga akan mempersiapkan kepulangan saya besok. Kamu juga tidak perlu membantu saya meskipun besok saya sudah harus berangkat. Bunda juga pasti akan membantu saya. Kamu juga sibuk, kerjakan saja urusan kamu itu. Saya tidak akan mempermasalahkannya," balas Irsyad. Ia berucap agak sarkas sebagai respons dari ucapan Kila yang kembali kaku itu.


"Ayo berangkat, tunggu apa lagi? Kamu tidak ingin saya yang membawa koper kamu? Ya sudah tidak apa-apa jika itu kemauan kamu. Ayo segera, kamu mau cepat-cepat kembali ke kosan kamu, kan?" Irsyad berucap lagi saat Kila masih saja diam di tempatnya. Kila tahu, ucapan Irsyad sarkas sebagai respons dari ucapannya. Tapi, ini yang tidak Kila sukai. Irsyad seperti meluapkan emosi melalui ucapan.


Mereka menaiki pesawat dan tidak ada percakapan yang dimulai setelah mereka beranjak dari hotel tempat mereka menginap.


"Kila duluan ya Kak. Assalamu'alaykum." Saat sudah sampai di depan rumah Citra, Kila turun duluan. Mereka memang tidak meminta Erwin untuk menjemput, dan lebih memilih pulang dari bandara dengan taksi online.


"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Irsyad meski Kila sudah berjalan jauh karena melangkahkan kaki dengan cepat.


Irsyad menyusul juga untuk masuk ke rumah. Sebelum masuk, Citra dan Erwin sudah menyambut Irsyad dengan berdiri di depan pintu rumah. Irsyad mengucapkan salam kemudian segera salim tangan keduanya lalu masuk begitu saja.


"Syad, Kila mana?" tanya Citra yang sadar kalau Irsyad ternyata pulang tidak membawa serta Kila.


"Ooh, itu, Bun. Katanya sudah seminggu Kila tidak ada di kosan, makanya Kila ke sana untuk melihat keadaan kosan dan mungkin sekalian bersih-bersih juga. Terus, katanya ada barang-barang yang harus dibeli untuk perlengkapan kuliahnya nanti bersama Ira dan Risa. Irsyad masuk dulu ya, Bun. Irsyad sangat lelah dan ingin beristirahat." Irsyad yang lelah hanya menjawab seadanya. Ia bukan hanya lelah fisik saja, kelakuan Kila juga membuat kepalanya pusing karena lelah memikirkan Kila terus-terusan. Ingin ia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang dengan santai dan tertidur sebentar untuk menghilangkan lelahnya itu.


...****************...


Irsyad memberikan semua oleh-oleh yang dibelinya ke Citra. Jika Irsyad yang memberi langsung, waktu tidak akan sempat karena ia belum selesai mempacking. Sementara, jadwal penerbangannya esok adalah pagi pukul sembilan. Lagian, hari sudah terlalu malam juga untuk membagikan oleh-oleh itu, masih ada hari esok.


"Syad, kamu telpon Kila, dong. Bilang, oleh-oleh punya Ira sama Risa ada di sini, nih. Kamu bilang nanti mereka datang untuk sama-sama membeli perlengkapan kuliahnya bareng Kila, kan? Sayang banget kalau nggak di kasih sekarang," tutur Citra.


"Bun, ini sudah sangat malam. Kalaupun mereka ada datang tadi, pasti mereka sudah pulang. Besok saja ya, Bun. Kila juga pasti sangat lelah. Biarkan Kila istirahat ya, Bun," ucap Irsyad menolak lembut.


"Ya ampun Irsyad, kita cuma ngabarin aja, lho. Nggak sampai ke kosannya Kila juga. Lagian kamu kan sekarang sudah jadi suami Kila. Untuk memberitahu hal kecil ini bukan masalah harusnya kalau alasannya karena udah kemalaman," ujar Citra bersikeras.


"Ya sudah, ini Irsyad telpon Kila. Irsyad loud speaker juga biar bunda bisa dengar," jawab Irsyad menurut.


Irsyad dengan ragu menelpon Kila. Dering beberapa kali juga belum diangkat oleh Kila, pasti ia sangat sibuk. Setelah agak lama menunggu, akhirnya panggilan itu dijawab.


"Halo, Assalamu'alaykum, Kila," sapa Irsyad.


"Wa-Wa'alaykumussalam, Kak. Ada apa menelpon malam-malam?" jawab Kila gugup.


"Iya, ini mau memberitahu kamu. Saya lagi beresin koper dan tadi nitip oleh-oleh yang kita beli ke bunda. Terus, kata bunda oleh-oleh yang kamu beli untuk Ira dan Risa ada tertinggal di sini. Kamu bilang Ira dan Risa akan datang untuk sekalian membeli perlengkapan kuliah dengan kamu, kan? Maksudnya bunda tadi, kamu bisa ambil oleh-oleh yang sudah kamu siapkan untuk mereka ke sini agar segera di berikan," ujar Irsyad.


"Ooh, soal itu, Kak. Ira dan Risa nggak datang hari ini, besok kami janjiannya. Soal oleh-oleh itu, biarkan saja sama bunda dulu. Nanti akan Kila ambil. Sudah dulu, ya, Kak. Kila tidak ingin mengganggu kakak membereskan koper. Assalamu'alaykum," ucap Kila menutup panggilan setelahnya.


"Jadi, kenapa kamu terburu-buru, Kila? Apa alasan kamu ingin pulang ke kosan untuk menghindari saya? Mengambil oleh-olehnya saja tidak kamu lakukan, itu pasti karena kamu tidak ingin bertemu dengan saya. Kenapa seperti ini setelah saya tahu kalau kamu mencintai saya lebih dulu?" batin Irsyad setelah Kila langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


"Kila udah ganti panggilan untuk kamu? Wah, romantis sekali dipanggil dengan sebutan Kak." Citra ternyata tertarik dengan perubahan panggilan yang diucapkan Kila untuk Irsyad.


"Bukan cuma itu, Bun. Kila juga sempat bicara santai dan tidak baku ke Irsyad seperti Kila berbicara dengan bunda atau Ira dan Risa. Tapi, tiba-tiba ucapannya jadi kembali kaku seperti tadi. Hanya panggilan itu saja yang dipertahankan Kila, tidak ada bedanya saat Kila menyebutkan Pak seperti yang dulu," balas Irsyad sendu.


Citra mendengar ungkapan Irsyad yang sendu itu dengan prihatin. "Pasti ada hal yang terjadi saat mereka liburan bersama," pikir Citra. Tapi ia berusaha untuk tidak ikut campur karena mereka sudah dewasa untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.


...****************...