
Tak lama setelah nafas mereka stabil, keduanya meneduh. Kila tampak menggigil karena terlalu lama ada di bawah hujan.
"Mas..., Kila bisa jelasin." Kila buka suara memecah keheningan.
"Ayo turun dan mandi. Kamu bisa sakit kalau di sini terus," titah Irsyad.
"Saya juga menunggu penjelasan kamu, tapi setelah kamu selesai mengurus diri dulu," imbuhnya.
Kila menuruti Irsyad dan duluan menuju kamar. Irsyad juga basah karena saat ia berusaha untuk menolong Kila, hujan sedang dalam puncak derasnya. Irsyad memilih menggunakan kamar mandi di ruang kerjanya. Di sana juga ada setelan baju sebagai pengganti bajunya yang habis terkena hujan.
Cukup lama bersih-bersih diri, keduanya kini telah duduk di ruang keluarga bersama.
"Mas, Maafin Kila. Itu bukan seperti yang Mas kira. Kila cuma mengentaskan pakaian, terus bermain-main di bawah hujan sebentar. Waktu Kila mau balik untuk shalat isya, Kila tergelincir di posisi itu. Kila nggak bakalan ngelakuin hal yang sama lagi, Kila janji. Kila juga udah merenungkan semua hal dari berbagai sudut pandang dan sikap Kila akhir-akhir ini itu karena Kila merasa tertekan dengan banyak hal," buka Kila. Suaranya tampak merasa bersalah sekali. Irsyad masih menunjukkan wajah kesalnya saat mendengarkan penjelasan Kila.
"Soal tadi sore, Kila benar-benar minta maaf karena menangis tiba-tiba. Padahal Kila merasa sangat siap untuk itu. Mungkin, karena sebelumnya hubungan kita sempat meregang dan belum diselesaikan dengan baik. Kila juga berubah banget, jadi lebih pendiam dari biasanya, itu karena tekanan yang Kila rasakan. Kila mudah terpengaruh, mudah tertekan, mudah bersikap kekanak-kanakan. Maafin Kila yang nangis tiba-tiba itu, Mas. Tapi, kalau Mas mau benar-benar mengambil hak ini, Kila sekarang benar-benar yakin seratus persen kalau Kila benar-benar siap." Ucapannya sudah lebih tenang sekarang.
"Hatchu—" ingin melanjutkan, Kila malah terserang bersin.
"Astaga, kamu pasti akan terkena demam kalau seperti ini. Sebentar, saya ambilkan madu dulu untuk kamu minum." Irsyad sigap mencarikan madu, mengambil air minum beserta obat penurun panas.
"Makasih banyak ya, Mas. Kamu perhatian banget," ucap Kila haru. Ia segera meminumnya di depan Irsyad setelah disuguhkan. Imun Kila selama ini cukup kuat, tidak mungkin demam hanya karena terlalu lama terkena hujan. Sebelumnya ia seringkali tidur tidak teratur dan tak pernah terkena masuk angin sekalipun. Namun, kali ini karena terkena depresi yang menekannya, imunnya lebih drop dari biasanya dan mudah terserang masuk angin, hingga bersin.
"Kamu tahu Kila, saya benar-benar tidak mengerti kenapa kamu bisa ada di sana tadi. Apa kamu tidak memikirkan saya yang tidak bisa apa-apa tanpa kamu? Jangan seenaknya ceroboh seperti itu!" ceramah Irsyad untuk Kila. Irsyad terlihat marah namun juga khawatir.
"Jujur, ada bisikan setan yang berusaha membuat Kila menyusul nenek. Tapi, suara adzan yang Mas Irsyad kumandangkan tadi sekali lagi menyelamatkan Kila. Terus, Kila berpikir dari segala sudut pandang, dan jadilah Kila yang benar-benar sehat sekarang." Kila menunjukkan wajahnya yang baik-baik saja dengan memamerkan senyum pepsodent.
Irsyad memegang dahi Kila. Panas, pantas saja Kila bersikap tidak biasanya setelah nyawanya hampir berakhir tadi. Kila malah berusaha ceria di saat seperti ini, dan lebih mengkhawatirkan karena itu terlihat sangat natural.
"Apanya yang sehat? Lihat! Sekarang kamu sudah mulai panas gara-gara terlalu lama di bawah hujan. Nih, minum obat penurun panasnya sekalian supaya gejala demamnya tidak parah." Nada marah namun perhatian di lontarkan Irsyad.
"Iya sayang~," goda Kila untuk membuat Irsyad tersenyum.
"Jangan kamu ucapkan kata itu, saat kamu yang mengucapkan terdengar tidak natural. Kamu pikir saya akan luluh? Saya masih marah sama kamu, ya! Saya tidak akan memaafkan kamu karena membuat saya sangat panik tadi. Saya pikir saat itu akan kehilangan kamu! Dasar!" ucap Irsyad kesal. Ia bahkan mengakhiri ucapannya dengan mengusap kasar rambut Kila. Mengacak-acak lebih tepatnya.
"Mas Irsyad mau maafin Kila, kan?" Kila langsung ciut saat diancam perbuatannya itu tak akan dimaafkan.
Irsyad menghela nafas panjang. Sepertinya ia sudah berlebihan sekarang, sudahlah, cukup memarahi Kila. Toh, Kila nya sendiri sudah berjanji tidak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi.
"Tentu saja! Saya hanya tidak bisa berhenti mengungkapkan kekesalan saya sama kamu. Biarkan saya memarahi kamu sampai saya puas." Irsyad akhirnya luluh juga. Ia mengambil minum yang ia berikan untuk Kila tadi. Tenggorokannya kering karena memakai volume suaranya yang tinggi untuk memarahi Kila. Tingkah itu terlihat lucu dan membuat Kila tersenyum.
"Mau bulan madu lagi ke pantai?"
"Nanti, setelah kamu sembuh."
"Besok kayaknya Kila udah sembuh, deh."
"Ya udah, besok kita perginya."
"Kirain tawaran Kila bakal di tolak."
"Mas Irsyad gimana ngajarnya?"
"Oh, syukurlah."
"Berbanggalah kamu karena besok akan ke tempat favorit kamu, dan saya secara suka rela menemani."
"Lha, bukannya bulan madu ya?"
"Ya, bulan madu. Kamu harus menebusnya dengan yang lebih baik. Sebab, saat pernikahan kita waktu itu, kamu mengacaukan bulan madu kita." Irsyad mencubit hidung Kila untuk memberikannya pelajaran.
...****************...
Benar-benar niat untuk menebus bulan madu yang kacau waktu itu. Pantai yang sama, dan penginapan yang sama persis nomor kamarnya. Irsyad benar-benar melakukannya sesuai niat awalnya.
"Kila ke pantai duluan, ya, Mas."
"Oke. Biar saya yang beres-beres kopernya."
"Kila tunggu Mas Irsyad di pantai. Jangan lama-lama, ya. Babay," pamit Kila seraya melambaikan tangannya dan dibalas lambaian tangan pula oleh Irsyad.
Badan sudah berkeringat, memang cuaca di pantai lebih terik daripada rumahnya. Ingin sekali Kila menyebut di pantai sekarang juga untuk mendinginkan badannya. Ia masuk ke pantai, gamisnya sengaja ia biarkan basah.
Irsyad sudah beres dengan urusannya. Ia menyusul Kila ke pantai.
"Kila..., di mana sih, anak itu?" keluh Irsyad karena tak menemukan Kila di mana pun.
"Kila? Astaga, apa dia berulah lagi?" Irsyad terkejut bukan main. Dilihatnya Kila menuju laut dan terus melaju. Kila sudah sangat jauh dari garis pantai.
"Kila! Apa yang kamu lakukan? Sekarang kamu mau mengakhiri hidup kamu dengan menenggelamkan diri di pantai?" ucap Irsyad seraya berteriak saat ia sudah menyusul Kila di separuh jalan.
"Hahahaha."
"Tidak ada yang lucu, ya! Kamu jangan membuat saya panik. Cepat kembali ke sini!" Kila pun kembali, menuruti Irsyad.
"Kila cuma main air laut, kok, Mas. Lagian, Mas berlebihan, deh. Kila nggak mungkin ngelakuin hal itu di sini, nanti resort ini bakalan bangkrut kalau ada kasus seorang wanita mengakhiri hidupnya di pantai kawasan resort." Tidak ada serius-seriusnya Kila menanggapi Irsyad.
"Kila! Jangan bercanda!" Irsyad mulai marah.
"Mas..., jangan terlalu serius. Biasanya juga Mas Irsyad yang lebih ceria daripada Kila. Santai, Mas. Kita lagi liburan sekarang. Kila bisa berenang, kok kalau sampai ke tengah laut sekalipun. Nggak mungkin bisa tenggelam, lah."
"Sudah, ayo kembali ke kamar. Kamu kalau mau main ke pantai jangan sampai ke tengah-tengah laut segala. Cukup pandangi dari sini. Sekarang, karena kamu sudah basah setengah badan, lebih baik mandi dulu."
"Mas Irsyad tahu aja kalau Kila gerah. Makanya, tadi karena terlalu gerah, Kila nyemplung aja ke laut."
"Tidak normal!"
Mereka menikmati liburan di pantai itu dengan perasaan bahagia. Saat malam tiba, tujuan mereka ke sini untuk berbulan madu terpenuhi. Hanya mereka dan Allah yang tahu bagaimana malam ibadah yang penuh cinta mereka jalankan.
...****************...