Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Tak Mampu Berkata



Suasana senyap sejak Kila kembali dari kantin rumah sakit. Kila juga tidak menyangka dirinya bisa mengucapkan hal tidak sopan seperti itu. Ia ingin meminta maaf, tapi ia enggan berbicara. Apalagi, Irsyad belum memberikan respons apapun dari perkataan Kila tadi. Irsyad malah membantu untuk mengupaskan buah yang ia bawa tadi untuk di makan nenek dan Kila, tamu yang aneh memang.


Melihat Irsyad masih berkutat dengan buah-buah itu, Kila juga ingin mengalihkan pikirannya dengan segera memakan makanan yang sudah ia beli dari kantin. Ia mengunyah sepelan mungkin karena tidak ingin Irsyad menyadari kalau ia sedang makan. Itu ia lakukan juga agar suasana tidak semakin awkward.


Kila kini dapat keahlian baru. Ia dapat makan tanpa suara, namun tidak menghambat kecepatan makannya. Terbukti bahwa ia dapat menghabiskan makanannya dalam waktu lima menit. Ia segera membereskan makannya, lalu menenggak air minum. Rupanya Irsyad kalah cepat, terlihat bahwa Irsyad masih sibuk mengupaskan buah.


Nenek memberi kode kepada Kila untuk membantu Irsyad berurusan dengan buah-buah itu. Kila lantas dengan cepat menggeleng. Tapi tak lama, rupanya Irsyad sudah menyelesaikannya. Lengkap juga dengan menyiapkan tiga porsi untuk nenek, Irsyad dan Kila. Irsyad memberikan buah itu kepada nenek, juga Kila.


"Ayo, mari makan," Irsyad menawarkan. Kila dengan ragu-ragu mengambilnya, sebab masih ada perkara yang belum dibicarakan. Ya, perihal ucapan Kila tadi seperti dianggap Irsyad tak pernah terlontar sekalipun dari mulut Kila. Irsyad bersikap seperti biasanya.


Nenek mengerti kecanggungan mereka, makanya ia juga ikut diam dan berperan sebagai pengamat. Ia juga sedikit tidak mengerti maksud dari perkataan Kila, tapi biarlah ia menunggu untuk Irsyad menanggapi dengan sukarela tanpa dipicu perkataan dirinya.


"Maaf, Pak Irsyad, perkataan saya tadi, sepertinya membuat Bapak tidak nyaman." Kila yang tak tahan dengan momen canggung ini akhirnya buka suara. Irsyad hanya mengangguk sebagai respons dan tanda bahwa ia tidak terganggu dengan itu. Tapi, Kila yang terganggu dan merasa tak nyaman dengan keberadaan Irsyad setelah ia meminta Irsyad untuk tidak datang lagi ke rumah sakit. Ia mulai tenang karena sebelumnya Irsyad memang tak pernah datang lagi, tapi kenapa hari ini ia kembali? Melihat Irsyad dari kantin saja sudah sangat mengagetkan Kila.


Kila menghabiskan buah yang diberi Irsyad dengan cepat. Ia ingin mengetahui alasan apa yang bisa membuat ia tidak salah paham dengan kedatangan Irsyad ini. Hatinya bisa makin salah paham dan berharap Irsyad dalam perasaan yang sama dengan dirinya.


"Pak, bis kita bicara diluar? Sekaligus bahas tentang ujian besok, hehe," Ujar Kila. Ia menyinggung kata ujian agar sang nenek tidak curiga dengan itu nenek tidak bisa menghubung-hubungkan dengan perkataan Kila sebelumnya.


Irsyad mengikuti, dan sekarang mereka sudah berada di kursi dekat ruangan nenek.


"Sebelumnya, maaf menyinggung, saya tanya sekali lagi dengan Bapak, kenapa bapak di sini?" Kila berusaha mengulangi dengan santun.


"Bukan apa-apa, saya hanya tidak tenang saja," jawab Irsyad singkat.


"Apa yang membuat Bapak tidak tenang? Bukannya saya yang meminta secara langsung untuk Bapak tidak usah ke rumah sakit lagi. Saya lakukan agar Bapak tenang karena tidak selalu direpotkan oleh saya," Kila menanggapi.


"Justru itu yang membuat saya tidak tenang. Dengan sepihak kamu menyuruh saya untuk berhenti menolong kamu, padahal sudah saya jelaskan waktu itu. Saya tahu kamu sendirian sekarang, orang tua kamu juga jarang ada. Jadi, saya ingin menolong kamu sebagai seorang wali kelas yang baik. Permintaan kamu waktu itu begitu tiba-tiba, saya menurut saja karena saya pikir kamu memang butuh itu. Saat senggang saya jadi berpikir bahwa permintaan itu kamu lakukan atas dorongan lain, iya kan? Saya jadi tidak tenang membiarkan kamu tersiksa karena kamu sudah terbiasa dengan kehadiran saya yang selalu mengantarkan kamu ke rumah sakit meski hanya sebentar dan langsung pamit. Saya juga tidak tenang, besok sudah ujian, tapi kamu memiliki beban lain tentang saya yang juga harus kamu pikirkan. Kamu ceritakan kepada saya, dorongan apa itu? Apa ada yang berkata kepada kamu untuk menjauhi saya? Kalau ada, silahkan katakan. Jadi kita bisa sama-sama tenang." Irsyad dengan tegas menanggapi balik.


Tapi tidak dengan Kila, ia cukup dibuat terkejut dengan tanggapan Irsyad. Ia jadi mengira bahwa Irsyad tahu semua mengenai dirinya, termasuk perasaannya. Ia tidak bisa menanggapi lagi setelah di pojokkan begitu. Ia menunduk sebagai respons terhadap tanggapan Irsyad tadi.


"Sepertinya kamu tidak akan membalas perkataan saya. Tapi, saat kamu sudah siap, saya harap kamu bisa mengatakannya kepada saya. Baiklah, setidaknya kamu sudah tahu alasan kenapa saya kesini. Mari masuk, tidak enak membiarkan nenek sendirian di dalam," Irsyad mengakhiri. Ia masuk kembali ke ruangan nenek, sedangkan Kila masih terpaku di tempatnya duduk.


...****************...


Cukup lama Kila menyusul Irsyad untuk masuk kembali ke ruangan. Karena Kila harus menenangkan diri dulu dari obrolannya dengan Irsyad tadi. Ia juga mesti menyiapkan hatinya karena obrolan tadi membuat hatinya semakin salah paham. Ia juga sempat membeli minuman di kantin untuk menenangkan pikirannya. Kini ia merasa sudah cukup tenang dan siap melihat wajah Irsyad lagi.


Saat masuk, Kila melihat Irsyad berbicara sedangkan nenek hanya memperhatikan saja. Sepertinya mereka membahas sesuatu yang menyenangkan.


"Lagi ngobrolin apa, Nek?" ucap Kila mencoba basa-basi. Ia juga mencoba bersikap biasa saja.


"Ooh, nggak, ini Nak Irsyad katanya selama kamu ujian akan sering ke rumah sakit menemani nenek. Soalnya kamu harus fokus belajar juga untuk ujian, kan?" jawab nenek.


"Lho, nggak usah, Nek. Itu ngerepotin Pak Irsyad. Kila masih fokus belajar, kok, walaupun harus menemani nenek di waktu yang sama," bantah Kila halus.


"Ya beda, atuh, Kil. Kamu belajar mana bisa sambil ngobrol. Sedangkan nenek kesepian kalau nggak punya teman ngobrol. Jadi, nenek senang banget kalau Nak Irsyad bisa jadi teman ngobrol nenek," ucap nenek.


"Nggak bisa gitu juga, atuh, Nek. Pak Irsyadnya gimana? Beliau guru, dan lagi saat ujian gini guru pasti sibuknya kelewatan," balas Kila sedikit ditekan.


"Tidak, saya tidak sibuk, kok. Saya juga tidak keberatan dan tidak merasa di repotkan. Justru saya senang bisa membantu. Hal ini sudah saya bahas bersama nenek kamu saat kamu belum ada di ruangan tadi. Urusan masa ujian begini, tidak sesibuk yang kamu pikirkan. Justru akan lebih lenggang, karena yang saya periksa bukan tugas yang beragam kelas dan beragam soal seperti yang saya biasa berikan. Ujian ini saya memeriksa soal yang homogen, jadi saya merasa lebih luang. Jadi tidak usah mengkhawatirkan itu," ucap Irsyad menginterupsi.


Kila tak mampu berkata apa-apa lagi. Kila tidak tahu lagi ingin menolak seperti apa, yang ada perkataannya akan dibalikkan lagi ke dirinya. Ia diam sebagai tanda setuju meski tak begitu ikhlas. Memang sulit berdebat dengan guru bahasa Indonesia. Kila tak habis pikir, bagaimana bisa Irsyad mengajukan dirinya untuk menemani nenek dikala Kila harus fokus belajar untuk ujiannya. Memang, pria aneh yang sulit ditebak.


...****************...