Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Teringat dengan yang Sudah Pernah Terjadi



Irsyad meninggalkan rumah Citra cukup pagi. Setelah sarapan, ia langsung kembali menuju rumahnya sebelum melanjutkan untuk mengajar ke kampus. Tentang masalahnya dengan Kila, Irsyad tidak menjelaskan apapun pada orangtuanya. Meskipun Citra sudah berkali-kali menyinggung itu, tetap saja Irsyad menyimpan rapat-rapat masalah itu. Sebesar apapun masalah rumah tangga Irsyad, jangan sampai orang luar tahu masalahnya meskipun itu adalah orangtuanya sendiri. Itu sama saja dengan membuka aib rumah tangga. Karena seharusnya, aib itu ditutupi, bukan diumbar agar orang lain tahu. Meskipun tujuannya untuk membuat diri merasa lega karena merasa beban berkurang setelah menceritakannya. Jika kita masih punya Allah tempat mengadu, kenapa harus menduakan Allah dengan lebih percaya bahwa makhluk-Nya bisa menyelesaikan masalah kita?


Mereka, Irsyad dan Kila berpisah sementara. Irsyad kembali ke rumahnya, menjadi penghuni satu-satunya rumah itu dalam tiga hari ke depan. Irsyad tidak menanyakan kapan Kila akan pergi, dan Kila juga tidak memberitahukannya. Ternyata, satu hari setelah Irsyad memutuskan untuk menginap di rumah Citra, pagi-paginya Kila sudah berangkat dari rumah. Kila memilih penerbangan pagi-pagi untuk segera pergi dan menghindar dari kemungkinannya untuk bertemu Irsyad.


"Padahal sudah biasa saya hidup sendirian. Saat di Turki juga baik-baik saja dengan kesendirian itu. Kesendirian itu sama seperti sekarang, tapi kenapa saya merasa begitu kesepian hanya karena akan ditinggal oleh kamu cuma beberapa hari saja, Kila?" Irsyad memandangi memo yang sudah ditinggalkan oleh Kila sebelum keberangkatannya.


"Kila berangkat dari jam tujuh pagi, Kak. Maaf tidak membuatkan sarapan," isi memo itu. Hanya dengan membaca memo itu Irsyad begitu merasa kesepian.


"Wah..., kembali seperti anak kos lagi walaupun cuma tiga hari. Jadi rindu masa di Turki dulu," ujar Irsyad mengalihkan pikirannya. Irsyad berusaha baik-baik saja dengan kesendiriannya, ia membohongi dirinya sendiri.


Irsyad beruntung karena disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Jadi, ia tidak harus berlarut-larut memikirkan Kila. Kesendirian itu bukan masalah baginya untuk sekarang. Sekarang waktunya untuk berangkat ke tempat kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah menumpuk. Ia kembali ke kampus setelah mengambil beberapa dokumen dari ruang kerjanya di rumah.


...****************...


Di pantai, Kila malah berpikiran tentang liburan waktu itu bersama Irsyad. Liburan yang biasa orang sebut bulan madu karena melakukan perjalanan liburan itu beberapa hari setelah pernikahan. Ia tersenyum mengingatnya dan seketika senyuman itu berubah menjadi tangisan. Ia ingat momen manis saat menyusuri pantai, ingat pula saat ia egois dengan tiba-tiba menangis dan menjadi momen buruk. Sepertinya Kila salah memilih tempat untuk menenangkan diri.


"Kalau dipikir-pikir, yang egois itu aku. Tapi kenapa sulit sekali mengontrol keegoisan ini?" batin Kila yang melamun memandangi pantai. Ia cukup kuat sekarang untuk menahan air matanya agar tidak terlalu banyak ditumpahkan. Entah dirinya yang kuat atau memang karena sudah terlalu banyak air mata yang tumpah sebelumnya sehingga ia bisa menahan air mata itu untuk tidak bercucuran banyak kali ini.


Lokasi pantai yang dipilih Kila berbeda dengan pantai saat mereka liburan dulu. Namun, tetap saja suasana pantai membuatnya harus bernostalgia mengingat kenangan baik buruk itu.


"Ayo, Kila! Semangat! Skripsi skripsi, jangan lupa skripsi!" Kila menyemangati diri sendiri.


Baru hari pertama di pantai. Kila juga hanya menetapkan tiga hari saja untuk menetap. Untuk itu, Kila tidak akan menyia-nyiakan waktu yang singkat ini. Setidaknya itulah yang ia pikirkan setelah menangis dan melamun memandangi pantai. Ia langsung beranjak masuk ke dalam kamar hotel yang ia tempati untuk memulai hari produktifnya.


"Akil, kirim foto pantainya, dong. Kita mau liat biar serasa ikut liburan juga." Sebuah pesan singkat masuk dari grup chat yang berisi tiga serangkai itu—Kila, Ira, dan Risa. Dan yang mengirimkan pesan itu adalah Ira. Tepat sekali ia mengirimkan pesan saat Kila sedang jenuh menatap layar laptopnya terus menerus.


"Iya, Kil. Dari angle yang bagus, ya. Biar jadi mood pas ngeliatnya." Giliran Risa yang mengirimkan pesan chat. Kila tersenyum membacanya. Mereka baru saja diberitahu oleh Kila tadi pagi tentang keberangkatan ke pantai untuk tiga hari. Namun, sudah meminta untuk mengirimkan gambar pantai. Apalagi waktunya begitu pas. Hal ini membuat Kila selalu bersyukur memiliki sahabat seperti mereka meski kelakuannya aneh-aneh.


"Aku ada ambil gambar waktu baru sampai. Mau aku kirimin yang itu aja, nggak?" balas Kila.


"Aman, Kil. Foto yang paling bagus ya. Kita nggak mau lihat yang ada kamunya. Cukup pemandangan pantainya aja," ujar Risa.


"Ye..., kamu, Ris. Tapi bener, sih. Lebih puas kalau liat pemandangan pantainya aja. Kalau yang ada Akil di fotonya, ntar kita iri sama kamu. Terus mau nyusulin ke pantai juga, deh," balas Ira.


"Kalian tenang aja. Semua foto yang aku ambil pada bagus, kok. Nggak ada foto akunya juga. Soalnya aku ke sini sendirian, jadi nggak ada yang motoin." Kila menanggapi. Ia jadi sadar kalau dirinya sendirian, padahal saat ke pantai Sebelum ia ke pantai bersama Irsyad. Dan Irsyad banyak berjasa untuk mengambil gambar Kila di pantai.


"Iya, buruan, Kil!"


Kila langsung mengirim gambar pemandangan yang sempat ia ambil tadi. Ia melakukan hal itu seraya tersenyum menganggap lucu sikap dua sahabatnya yang ditunjukkan dalam obrolan pesan singkat itu.


"Terimakasih banyak atas pemandangan yang bagus ini Princess Akil." Ira mengungkapkan terimakasihnya dengan stiker hati di akhir.


"Duh, lebay, deh, Ra. Makasih Kila," susul Risa membalas.


"Iya, iya, sama-sama."


"Eh ngomong-ngomong, gimana skripsi? Aman, Kil?" tanya Risa memukai topik baru.


"Aman dong, soalnya Pak Irsyad, kan, jadi dosen privatnya Akil buat bantuin Kila supaya skripsinya cepat kelar. Iya, kan, Akil?" jawab Ira asal. Ia selalu berusaha mengaitkan Kila dengan Irsyad dalam kondisi apapun.


"Ya walaupun jadi dosen privatnya, nggak semata-mata semuanya Pak Irsyad kasih tahu, Ra. Kamu ini secara nggak langsung meragukannya kemampuan Kila, tahu," tegur Risa.


"Iya deh, aku salah. Maafin aku ya, Akil."


"Oiya, Kil. Kamu ke pantai kenapa nggak ajak Pak Irsyad? Kalau masalah hari kerja, kamu harusnya bisa undurin di hari Jum'at sampai Minggu, kan?" tanya Risa lagi. Ia jadi penasaran karena sebelumnya Ira menyinggung tentang Irsyad. Tapi, sama saja dengan Ira. Seandainya mereka tahu kalau Kila ingin liburan agar tidak memikirkan Irsyad. Namun, Kila jadi terpikirkan kembali karena kedua sahabatnya menyinggung tentang Irsyad.


"Ooh..., itu aku yang minta. Soalnya, aku merasa skripsiku masih jalan di tempat. Jadi, butuh inspirasi dengan liburan beberapa hari. Kak Irsyad sibuk banget makanya nggak bisa ikut. Dan aku nggak bisa mundurin hari perginya karena udah ngerasa harus cepat-cepat ke pantai biar kembali waras," jawab Kila jujur. Ia tak berbohong, tapi kalimatnya itu kurang tepat. Ia sengaja menahan diri untuk tidak menceritakannya kepada Ira dan Risa karena merasa masih sanggup menyimpannya sendiri.


"Uuh..., pasti masalahnya berat banget, ya? Semangat ya, Akil!" ungkap Ira menyemangati.


"Semangat, Kila! Kalau kamu ngerasa ada yang bisa kita bantu bilang aja, ya!" susul Risa membalas.


"Iya, kita juga siap selalu kalau kami butuh teman cerita, kok, Akil."


"Makasih banyak ya, guys. Kalian baik banget. Nanti aku beliin oleh-oleh yang banyak deh, buat kalian."


Membaca kata "oleh-oleh" membuat mereka kegirangan. Tak lama setelahnya, mereka malah mulai untuk melakukan video call. Ira yang memulai lebih dulu. Kila tidak punya alasan untuk menolak menganggap panggilan itu. Lagian tidak ada ruginya juga mengobrol sebentar untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang membebani Kila. Masalah skripsi bisa ia lanjutkan nanti.


...****************...