
Sudah lama Irsyad menunggu hari ini. Ia akhirnya bisa kembali untuk pulang. Sebelumnya ia sudah memesan tiket jauh-jauh hari karena tidak ingin kehabisan, sebab ia pulang di masa libur akhir tahun. Ia tidak ingin melakukan kesalahan sepele seperti saat itu. Momen kepulangan ini sangat berarti untuk Irsyad.
Berita kepulangan Irsyad ini hanya diketahui oleh Citra dan Erwin. Ia memberitahukan kepada keduanya saat ingin memberi kabar tentang wisudanya itu. Sempat ada perdebatan sedikit karena Irsyad tidak meminta pihak keluarga untuk datang melihat Irsyad wisuda, padahal bagi siapapun wisuda itu sesuatu yang sangat berarti.
"Bun, Irsyad sudah berangkat. Kira-kira akan sampai dalam lima belas jam. Irsyad minta dibikinkan bolu kesukaan, ya. Bikin yang banyak, Bun. Kalau bisa ajak Kila juga untuk membuat bolunya bersama. Kalau bunda sendiri yang buat, Irsyad takut bunda kewalahan." Irsyad mengirimkan sebuah pesan chat saat ia sudah di bandara. Ia langsung menyimpan ponselnya karena jadwal penerbangannya telah dekat.
"Ayah, Irsyad udah berangkat katanya," ujar Citra pada Erwin. Mereka sedang bersantai sebentar di pagi hari. Ngopi bersama, sebelum sebentar lagi Erwin akan pergi karena punya jadwal.
"Wah, Alhamdulillah kalau gitu, Bun. Akhirnya anak itu ingat pulang juga, hahaha," balas Erwin seraya tertawa.
"Iya, Yah. Udah bosan dia jadi Bang Toyyib yang nggak pulang-pulang. Hahahaha," sambut Citra dengan tawa juga.
"Hus, Bunda. Nggak boleh gitu. Irsyad ini anak kita juga. Lagian kita udah tahu dan mengerti alasan Irsyad nggak pulang-pulang, kan? Kita juga kompak untuk mendukung apapun yang diputuskan oleh Irsyad," peringat Erwin dan tawa mereka terhenti.
"Ayah, nih yang duluan. Bunda kan, cuma menyambut," pembelaan Citra.
"Gayung bersambut gitu ya, Bun? Puitis banget udah kayak ada pengalaman aja di bidang bahasa, kayak Irsyad. Hahahaha."
"Hahahaha, ayah bisa aja."
Tak lama setelahnya, Erwin pergi untuk agendanya. Lalu, Citra meniatkan untuk menghubungi Kila agar membantunya membuat kue. Tapi, tak sempat Citra memegang ponselnya, Kila sudah datang lebih dulu.
Kedatangan Kila entah seperti kebetulan belaka atau semacam terhubung dengan Irsyad? Pasalnya, Irsyad baru saja menyebutkan agar Kila diikutsertakan, tak lama setelah itu Kila datang. Tapi lebih baik begitu. Citra jadi tidak perlu mengungkapkan kalau Irsyad akan pulang hari ini. Biar Kila bertanya-tanya kenapa dirinya diminta membantu membuat kue yang banyak padahal ini bukan Hari Minggu. Dan, biarkan kepulangan Irsyad nanti menjadi sebuah kejutan.
...****************...
"Bunda, sepertinya kita harus menelepon Kak Irsyad, deh. Soalnya, belakangan ini Kila jarang ke sini juga, kan? Terus, Kila pengen video call Kak Irsyad bareng sama bunda juga, biar sekalian gitu," ucap Kila. Farhan sudah pulang sejak tadi. Setelah menunaikan shalat ashar, Citra dan Kila duduk kembali di ruang keluarga.
"Kayaknya nggak usah, deh, Kila. Bunda capek banget habis bikin kue sebanyak tadi. Besok aja, ya. Kamu besok datang di jam yang sama, kan? Atau, datang lebih cepat aja. Besok kita hubungi Irsyad pagi-pagi aja, biar sesuai sama jam istirahat dia di sana."
"Ooh, gitu ya, Bun? Ya udah, deh, kalau gitu."
"Iya, Kila. Kamu datang lebih pagi, ya, besok."
"Oke, Bun. Ini Kila pulang aja, ya, kalau gitu? Soalnya udah lama banget Kila di sini. Bunda juga bilang lagi capek, jadi lebih baik Kila pulang dan membiarkan bunda istirahat."
"Ma syaa Allah, menantu bunda ini pengertian banget, sih. Sini kepala kamu, mau bunda usap-usap dulu. Bunda gemes, deh."
Citra mengusap lembut pucuk kepala Kila cukup lama dan Kila sangat suka hal itu, mengingatkannya dengan kehadiran nenek yang biasanya melakukan hal yang sama pada Kila.
...****************...
Sudah pukul sepuluh malam, Irsyad sudah sampai di rumah lima belas menit yang lalu. Drama anak dan orangtua sempat terjadi, dimana Citra dan Erwin sempat melepaskan rindu yang memuncak dengan memeluk Irsyad sangat erat. Saat itu Irsyad tidak ada menghubungi untuk meminta jemputan, ia sudah tiba saja di depan pintu rumah. Dan kedatangan Irsyad itu sangat mengejutkan keduanya. Air mata tak dapat terbendung lagi dalam pelukan mereka bertiga itu.
Kini Irsyad diberi bolu yang sudah dibuat Citra dan Kila tadi sambil istirahat di ruang keluarga, menonton acara televisi yang sebenarnya adalah tonton berupa berita. Setelah lama tidak bertemu, akhirnya mereka bertiga dapat berkumpul kembali sebagai keluarga yang utuh, kalau sekarang minus Kila jika dihitung.
"Bunda, kenapa rasa bolu ini semakin lama semakin enak? Irsyad jadi tidak bisa berhenti untuk memakannya," ujar Irsyad memuji makanan yang ia makan. Irsyad memang sangat menyukai bolu buatan bundanya ini. Bahkan, dari sejak kecil bolu ini tidak pernah lengser dari predikat makanan favoritnya Irsyad.
"Lidah kamu aja, tuh, Syad. Biasanya kalau udah lama nggak makan makanan tertentu, sekali makan rasanya katanya lebih enak. Aslinya biasa aja, kok. Itu bunda pakai resep lama yang selalu bunda pakai sejak kamu masih kecil. Jadi, rasanya nggak pernah berubah. Kamu kalau mau makan terus, nggak papa, kok. Masih banyak lagi soalnya," balas Citra seraya ikut memakan bolu itu juga.
Mereka melanjutkan lagi memakan bolu yang ada. Sesekali menengguk minum yang juga sudah disediakan oleh Citra.
TOK TOK TOK
Ketikan pintu tiga kali terdengar, Irsyad melihat ayah dan bundanya sedang serius menyimak berita. Melihat itu, Irsyad mengusulkan untuk membukanya.
"Irsyad saja yang membukanya, Bun," kata Irsyad. Ia langsung menuju ke pintu depan rumahnya. Belum sempat ia membuka pintu itu, terdengar suara seorang wanita yang sedikit mengeraskan suaranya. Padahal ia bisa menunggu untuk mengungkapkan keperluannya saat pintunya dibuka agar lebih jelas, pikir Irsyad.
"Bunda, maaf ganggu malam-malam. Kila tadi udah chat dan coba telpon bunda, tapi nggak bunda angkat. Jadinya, Kila langsung ke sini aja. Maaf ganggu malam malam sekali nggak, Bun. Tapi, bunda ini penting banget. Bunda ada persediaan pembalut nggak?" tanya Kila cepat. Ia pernah melakukan ini sebelumnya, dan yang membuka pintu selalu Citra. Makanya, ia tak sungkan mengatakannya lenih dulu dengan sedikit keras, agar langsung tersampaikan maksudnya kepada Citra. Karena baginya, pembalut adalah hal yang sangat penting untuk saat ini.
Pintu terbuka saat Kila mengatakan kalimat terakhirnya, "ada pembalut, nggak?" Dan disitu Kila tidak tahu harus berekspresi seperti apa, karena yang membuka pintu itu adalah Irsyad, yang mendengar ucapan sedikit sensitif tadi juga Irsyad.
"Kak Irsyad?"
"Kila?"
Mereka menyebut nama orang yang ditemuinya berbarengan.
"Kak Irsyad udah pulang?"
"Kamu kemari malam-malam?"
Lagi, kalimat selanjutnya di sebut dengan berbarengan pula oleh keduanya.
...****************...