
Riska menepati janjinya dengan Kila. Bahkan Riska juga ikut serta membawa Gilang saat peringatan hari keseratus nenek. Mereka bertiga pergi mengunjungi makam nenek bersama, kali ini mereka datang sebagai keluarga. Sepertinya, wasiat nenek untuk meminta Kila agar akur dengan orangtuanya itu terpenuhi dengan baik.
Waktu juga terus berlalu, Riska datang ke sekolah mengambil rapor semester genapnya Kila sebagai wali murid. Kedatangan yang perdana membuat Riska agak canggung hadir disitu, namun Irsyad membuatnya lebih rileks dan pengambilan rapor Kila berjalan lancar. Setelah mengambil rapor, tentu saja Riska melanjutkan urusan pekerjaannya. Kila juga sudah terbiasa ditinggal karena pekerjaan atau urusan lain, bagi Kila, Riska sudah datang mengambilkan rapornya saja sudah cukup. Kali ini, mereka tidak banyak menuntut Kila harus mendapatkan nilai yang sempurna, mereka menerima nilai berapapun yang Kila capai. Kabar baik, nilai Kila meningkat dibandingkan smester lalu, ada kebahagiaan tersendiri di hati Kila saat Kila mendengarnya.
Masalah pesan terakhir nenek yang sudah disampaikan Irsyad, Riska dan Gilang belum bisa memutuskan. Mereka sudah melihat dengan baik, Irsyad memang sosok yang tepat untuk mendampingi Kila. Namun, status mereka sebagai guru dan murid menghalangi jalannya wasiat itu. Mungkin, setelah Kila lulus sekolah, mereka akan mempertimbangkan lagi.
...****************...
"Kila, senang bisa bertemu kembali dengan ibu kamu. Selamat, ya, Kila, kamu mengalami peningkatan nilai dibandingkan smester lalu." Irsyad berucap pada Kila. Ia berjumpa dengan Irsyad di dekat gerbang sekolah. Keduanya sama-sama ingin kembali pulang. Ira dan Risa lagi-lagi selalu merayakan hari pembagian rapor dengan orangtua mereka, jadi Kila hari ini pulang sendiri.
"Iya, Pak, terimakasih banyak. Bapak juga sangat ramah kepada mama saya," balas Kila.
"Kamu mau pulang sekalian dengan saya? Saya sering lihat kamu searah dengan rumah saya soalnya. Lagian, Ira juga sudah bersama orangtuanya pulang duluan, kan?" Irsyad menawarkan. Aa, sudah berapa lama Kila tidak pernah merasakan duduk di mobil Irsyad, ya? Ia sangat senang mendengar tawaran itu. Namun, untuk menutupi kesenangannya itu, ia sedikit ragu-ragu menjawab.
"I-itu, apa Bapak tidak keberatan? Saya niatnya memang mau jalan, sih, Pak. Soalnya dekat juga dari sekolah, cuma lima belas menit," jawab Kila dengan ragu dan malu-malu.
"Kalau dengan mobil, kan, bisa dipangkas jadi lima menit. Jadi, lebih efisien. Ayolah, Kila masuk. Saya sudah lama tidak menanyakan kabar nenek. Sekali-kali, saya ingin mendengar cerita tentang nenek dari kamu," balas Irsyad untuk meyakinkan Kila. Kila akhirnya menyetujui dan langsung masuk kedalam mobil Irsyad, seperti biasa kursi belakang adalah tempatnya.
"Jadi, pengajian hari keseratus nenek kamu tidak dilaksanakan?" Irsyad memulai pembicaraan saat keduanya sudah duduk nyaman di mobil.
"Dilaksanakan, tapi di rumah yang baru, tempat tinggal mama dan papa saya. Kalau di sini, kami hanya mengunjungi makam nenek saja sebagai peringatan hari keseratus nenek." Kila menjawab dengan lancar, pandangannya lurus ke depan. Sedangkan Irsyad memperhatikan penjelasan Kila dari kaca mobilnya.
"Sudah ikhlas menerima kepergiannya?" tanya Irsyad. Ia mengatakan itu karena tidak ada nada memberatkan dari jawaban Kila, meskipun sedang membahas tentang nenek.
"Sudah setengah tahun juga, Pak. Saya tidak mempermasalahkan itu lagi. Bagi saya nenek tetap akan hidup selama saya masih mengingat nenek." Kila menjawab dengan mantap. Irsyad dengan senyum menanggapi jawaban Kila. Dari jawabannya, dapat disimpulkan kalau Kila sekarang sudah ikhlas menerima kepergian nenek.
"Oiya, kamu kompleks sini juga, kan? Satu kompleks dong, kita berarti." Irsyad berujar saat mereka sudah memasuki kawasan kompleks.
"Iya, Pak," jawab Kila seperlunya.
"Karena dekat dengan rumah saya, sekalian saja saya beritahu rumah saya. Rumah orang tua saya, sih, sebenarnya," ucap Irsyad saat sudah dekat dengan rumahnya. Kila seperti mengerti dimana mereka akan turun.
"Wah, Pak, sudah sampai. Terimakasih banyak atas tumpangannya, Pak. Jazakallahu khair," ucap Kila karena merasa sudah sampai di tujuan.
"Lho, tapi ini saya sedang ingin menunjukkan rumah saya," balas Irsyad heran, karena merasa mereka belum sampai di tujuan.
"Lho, tapi ini Bapak sudah mengantarkan saya sampai di depan kosan saya," ucap Kila sedikit heran kenapa Irsyad berucap begitu.
"Ya sudah, kalau begitu, kita sama-sama turun saja. Lalu menunjuk tempat tinggal masing-masing," saran Irsyad. Kila mengangguk menyetujui. Selanjutnya mereka turun dari mobil dan berada di depan rumah yang masing-masing maksudkan.
"Ini rumah saya."
"Ini kosan saya, Pak."
Keduanya menunjuk dan menyebutkan bersamaan.
Kila tidak dapat mencerna keadaan. Kenapa Irsyad menunjukkan rumah yang tepat berada di samping kosan tempat ia tinggal? Bukannya itu rumah pemilik kosan yang Kila tinggali? Apa Irsyad juga mengekos di rumah pemilik kosan?
"Kamu ngekos di sini selama ini? Kenapa saya tidak pernah melihat kamu? Padahal kita bertetangga. Rumah orang tua saya tepat disamping kosan kamu." Irsyad tidak begitu terkejut, karena sebelumnya sudah mendapat tanda-tanda dari bundanya.
"Rumah orang tua? Maksudnya, Bu Citra itu orangtuanya Bapak?" Sebaliknya, Kila malah sangat terkejut mendengar pernyataan Irsyad.
"Iya," jawab Irsyad.
"Berarti Bapak adalah anak pemilik kosan yang saya tinggali, dong?" tanya Kila masih tidak percaya.
"Iya benar," jawba Irsyad lagi.
Kila masih tidak dapat mencerna hal yang baru saja ia ketahui. Bagaimana bisa, dirinya begitu akrab dengan Ibu Kos yang ternyata anaknya adalah orang yang selama ini ia kagumi. Berarti ini sama saja seperti sedang mengambil hati calon mertua, pikirnya. Kila bahkan sudah sangat sering mengunjungi rumah Citra, tapi tidak satu kalipun Kila mencurigai kalau Citra memiliki seorang anak laki-laki yang ternyata adalah Irsyad.
Ditengah proses mencerna, Kila malah bertemu dengan si pemilik kosan. Citra baru saja keluar dari rumahnya.
"Eh, Irsyad kamu udah pulang. Temenin bunda belanja, yuk. Untuk stok hari raya nanti." Citra menghentikan bicaranya saat melihat ternyata ada Kila juga di samping Irsyad.
"Lho, Kila, kamu juga udah pulang ternyata. Bareng Irsyad ya tadi?" lanjut Citra keheranan. Bagaimana dua orang ini bisa ada ditempat yang sama dan dalam waktu bersamaan pula?
"Iya, Bun. Tadi Irsyad menawarkan untuk pulang bersama saja, agar lebih efisien. Ternyata tempat Kila ngekos di tempat kosan kita, di samping rumah. Irsyad juga baru tahu tadi," jawab Irsyad. Ia bisa tahu keheranan dari sang bunda. Ia juga mengerti kalau Kila masih mencerna ini semua. Mereka kebingungan, sedangkan Irsyad tidak.
"Wah, kebetulan banget ya. Kok bisa gitu, ya? Berarti, Kila ini murid kamu, Syad?" tanya Citra dengan nada heran.
Setelah terlontarnya pertanyaan Citra itu, nyali Kila jadi ciut. Jika dilihat kebelakang tentang kedekatan Kila dan Citra akhir-akhir ini, Kila takut Citra akan kecewa dengan dirinya. Apalagi, mengetahui ternyata ada hubungan status guru dan murid diantara Kila dan Irsyad. Kila takut karena kejadian ini ia akan disuruh pindah dari kosan ternyaman itu untuk tidak dekat-dekat lagi dengan Irsyad.
...****************...