Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Orang yang Paling Berharga



Irsyad sudah berada di mobil dengan makanan dua bungkus makanan di tangannya. Kemudian ia meletakkan makanan itu di kursi samping. Kila yang sebelumnya di beri arahan untuk menunggu di halte tempat ia biasa menunggu juga kini sudah naik di kursi belakang tentunya. Mereka sudah dekat dengan rumah sakit.


Mereka masuk bersamaan setelah memarkir. Irsyad baru tahu, rumah sakit ini ternyata dekat dengan sekolah dan juga dekat dengan rumah Kila. Benar-benar lokasi yang strategis.


"Umm, saya turut berduka, ya, Kila. Pasti berat untuk kamu jalani hari disaat nenek kamu sedang sakit seperti ini," ucap Irsyad. Ia sebelumnya sudah keluar dari ruangan tempat nenek di rawat. Kila menanggapi dengan melemparkan sebuah senyum.


Kini mereka duduk di bangku rumah sakit dekat ruangan nenek. Mereka duduk bersebelahan namun dengan jarak yang cukup lebar.


"Nih, kamu makan. Tidak usah diganti, saya ikhlas mentraktir kamu makan. Soalnya, yang saya tahu perempuan kalau sedang diposisi seperti kamu ini selalu lupa makan. Jadi, di makan yang lahap, ya," Irsyad menawarkan. Irsyad sengaja membeli dua makanan untuk dirinya dan Kila tadi.


"Ooh, baik, Pak. Terimakasih banyak, ya, Pak. Jazakallahu khair, Pak. Bapak baik sekali." Kila mengungkapkan terimakasihnya.


"Iya, sama-sama. Monggo dimakan," Irsyad mempersilahkan.


"Baik, Pak," jawab Kila.


Kini, Kila merasa lebih kuat. Ada dua sahabatnya yang selalu bersamanya, dan sekarang ada Irsyad juga yang. Beruntungnya Kila.


Di sela-sela waktu makan, Kila melamun kembali. Ia yang biasanya sangat lahap saat makan itu, berubah sekali sampai tidak ada antusiasnya untuk makan. Irsyad hanya bisa menatap sebentar kelakuan Kila. Ia tidak ingin menegurnya, yang penting ada beberapa suap nasi yang Kila makan saja, itu sudah cukup.


"Kila, handphone kamu berdering, itu," Irsyad memperingatkan.


"Ooh, iya, Pak. Terimakasih sudah memberi tahu. Saya tidak sadar, tadi, hehe," jawab Kila.


"Monggo diangkat."


"Tapi ini video call, Pak. Kalau saya angkat di sini, Bapak tidak terganggu?"


"Tidak akan. Yang penting tidak terlalu nyaring sehingga mengganggu semua orang yang ada di sekitar sini, soalnya ini rumah sakit. Silahkan di angkat saja. Kamu bisa lanjut makan setelah video call itu kamu selesaikan."


"Baik, terimakasih, Pak. Saya izin angkat, ya, Pak."


Video call itu sudah di angkat Kila. Risa dan Ira lah orang yang menggangu makan siang mereka itu. Mereka masih berada di sekolah untuk kegiatan ekstrakurikuler masing-masing.


"Halo, Kil. Kamu apa kabar?" tanya Risa.


"Akil, mana wajahnya? Jangan separuh gitu, kita mau lihat keadaan kamu," susul Ira.


"Nih, udah, kan?" ucap Kila sambil menunjukkan seluruh wajahnya.


"Nah, gitu dong. Kamu jangan lupa makan siang, ya. Minum air putih yang cukup juga. Makan yang banyak, Akil kan suka makan. Jangan sampai lupa makan, ya." Ira mengungkapkan perhatiannya ke Kila.


"Iya, kamu beli di kantin rumah sakit aja, sekarang. Sambil video call gini, kayak biasanya. Soalnya kalau nggak kayak gitu, kamu nggak akan makan." Risa bergantian mengungkapkan perhatiannya.


"Iya iya, makasih ya, kalian udah ngingetin. Tapi aku nggak perlu beli makan ke kantin rumah sakit," ucap Kila.


"Lho, kenapa?" tanya Ira dan Risa bersamaan.


"Iya, soalnya aku lagi makan. Ini makanannya," jawab Kila seraya menunjukkan makanannya.


"Wah, Alhamdulillah kalau gitu, Kil. Kapan kamu belinya?" tanya Risa lagi.


"Nggak beli, tapi dikasih," jawab Kila.


"Dikasih siapa? Mama sama Papanya Akil kan lagi keluar kota," giliran Ira bertanya.


"Pak Irsyad," jawaban singkat Kila.


"Iya, Pak Irsyad mau jenguk nenek. Mulai hari ini dan seterusnya, katanya beliau mau bantu aku untuk ke rumah sakit nebeng mobil beliau," Kila menjelaskan.


"Wah, baik banget Pak Irsyad, ya. Calon imam idaman, tuh. Apalagi, serobot dong, Akil," ucap Ira dengan lantang. Irsyad sedikit memberi perhatian dengan pernyataan itu. Sedangkan Kila sedikit tersipu karena orang yang dibicarakan saat ini dekat keberadaannya.


"Hus, Ira. Mulai deh, mak comblangnya. Nanti Pak Irsyad ada denger, gimana?" tegur Risa ke Ira.


"Pak Irsyad udah pulang, kan, Akil?" Ira sedikit takut ingin memastikan.


"Pak Irsyad masih di sini, di sebelah aku." Kila menunjukkan posisi Irsyad pada Risa dan Ira.


"Tuh, kan, Ra. Kamu, sih, main asal ngomong aja. Kila nanti, kan, jadi malu gara-gara kamu." Risa memarahi Ira.


"Yaudah, deh, aku salah. Akil, maafin, ya. Buat Pak Irsyad juga, pasti masih kedengaran walau nggak terlalu dekat juga posisinya dengan Akil. Yang tadi itu, saya cuma bercanda, Pak. Maaf ya, Pak, kalau perkataan saya membuat Bapak tidak nyaman. Eh, Akil udah dulu ya, pertemuan ekskul udah mau dimulai. Kamu banyak makan pokoknya, ya. Babay," Ira memutuskan sambungan sepihak.


Kila melanjutkan makannya. Entah kenapa, kila kembali lahap makan setelah video call tadi. Dan dengan cepat makanan itu sudah habis terlahap.


"Alhamdulillah, ternyata kamu diberi dua sahabat yang sangat perhatian ke kamu." Irsyad memberi tanggapannya.


"Iya, Pak, Alhamdulillah, Allah Maha Baik. Mereka sahabat berharga saya, Pak," respons Kila.


"Terimakasih banyak, Pak untuk hari ini. Saya tidak ingin merepotkan Bapak lebih dari ini. Jadi, kalau Bapak ingin kembali, tidak masalah buat saya. Bapak juga sudah sangat membantu." Kila mengungkapkan dengan perasaan segan.


"Kamu tidak apa-apa sendirian?" tanya Irsyad memastikan.


"Biasanya juga seperti itu, Pak, jadi bukan masalah."


"Baiklah, kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi saya, ya. Kalau gitu saya pamit dulu. Assalamu'alaykum." Irsyad menyetujui. Ia sebenarnya juga tidak merasa nyaman jika berduaan dengan seorang wanita, meski itu muridnya sendiri.


"Wa'alaykumussalam, hati-hati, Pak," jawab Kila.


Irsyad berlalu meninggalkan rumah sakit menuju ke rumahnya.


...***************...


Kila sudah berganti baju. Hari sudah malam, dan malam ini ia memutuskan untuk tidur di samping neneknya. Berharap, ada sebuah keajaiban muncul untuk membuat neneknya siuman.


Saat kecelakaan, nenek sudah menjalani operasi dan menghadapi masa koma. Sekarang, ia sudah tidak separah waktu itu. Dokter dan perawat juga sudah memberikan perawatan terbaik pada nenek. Kemungkinan nenek siuman sekarang akan lebih besar karena kondisinya sudah kunjung membaik. Makanya, Kila lebih banyak menghabiskan waktu untuk berada di dekat neneknya selalu. Agar Kila ada saat neneknya siuman nanti.


Kila memegangi tangan neneknya sambil tidur dalam posisi duduk. Ia dibangunkan dengan tangan nenek yang bergerak.


"Nenek? Gerak-gerak gitu tangannya? Alhamdulillah, nenek tunggu sebentar, ya." Kila segera memanggil perawat dan dokter. Nenek mulai siuman saat itu juga. Kejadian ini gak disangka olehnya. Air mata bahagiapun tak terbendung. Orang yang Paling Berharganya Kila itu kembali.


Kila segera menghubungi Mamanya untuk menyampaikan kabar gembira ini.


"Ma, nenek udah siuman."


"Wah, benar itu? Alhamdulillah, Allah Maha Baik, sayang. Kamu jaga nenek, ya, kalau pekerjaan mama sudah bisa ditinggal, mama nyusul ke rumah sakit."


"Oke, Ma."


Kila melanjutkan memberitahu kedua sahabatnya. Ia juga memberitahukan kabar ini ke Irsyad, melalui chat.


Allah mendengar doa Kila saat tahajjud tadi. Ia memang meminta neneknya sadar saat itu juga. Saat ia tidur kembali, dengan kehendak Allah nenek siuman. Tepat saat itu, waktu subuh tiba.


...****************...