
Riska dan Gilang sampai di hotel. Mereka orang tua yang aneh. Ada anaknya dan rumah tentunya, tapi lebih memilih menginap di hotel.
Sesampainya di hotel, mereka langsung menuju ke rumah Citra. Kila dan Irsyad sudah datang lebih dulu. Lalu, orang di dalam rumah itupun saling sambut.
"Maaf ya, memberitahukannya begitu mendadak," ujar Citra kepada Irsyad dan Kila.
"Iya, benar-benar mendadak. Soalnya sekalian ada yang mau diurusin di sini, jadi sekalian aja deh mampir untuk bicarakan hal itu sekarang," Riska menimpali.
"Hal apa?" tanya Kila.
"Karena kamu dan Irsyad sudah menikah, ada baiknya dibahas dengan dua keluarga. Makanya Mama dan Papa datang ke rumah Bunda Citra," jawab Riska.
Kila melihat reaksi Citra dan Erwin, sepertinya mereka sudah tahu hal apa yang ingin dibicarakan di pertemuan ini. Tapi kedua pasang orang tua itu tidak ada memberitahukan sedikitpun kepada Irsyad ataupun Kila. Mereka hanya mengatakan bahwa akan ada yang ingin dibicarakan, tidak lebih dari itu.
"Jadi, apa yang ingin dibicarakan?" giliran Irsyad bertanya.
"Ini soal Kila, Syad," jawab Citra.
"Biar saya yang melanjutkan," interupsi Riska.
"Kami berdua sebagai orang tua Kila, ingin Kila melanjutkan studinya lagi," ujar Riska. Kila sontak terkejut. Padahal baru satu bulan ia menamatkan studi S1 nya.
"Benar, Kila masih muda. Di umurnya saat ini, harusnya jangan di sia-siakan. Kami ingin Kila memanfaatkan usia mudanya untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya," sambung Gilang.
"Ma, Pa, apa maksudnya? Apa Kak Irsyad harus terjebak lagi dengan janji yang waktu itu selama Kila melanjutkan sekolah?" tanya Kila heran.
"Kila..., kamu salah paham. Kami tahu kamu akan berpikiran seperti itu, makanya kami merasa harus membuat pertemuan antara dua keluarga seperti ini," jelas Citra menenangkan Kila. Peka sekali Citra dengan emosi Kila yang mulai tak terkontrol atas perkataan orangtuanya.
"Dari reaksi Kila, saya mengapresiasi kamu karena tidak melakukan hal-hal yang berbau suami istri yang akan mengganggu studi Kila waktu itu. Kamu menepati janji, Irsyad. Keputusan yang bagus saat kamu menepati janji itu sehingga Kila bisa fokus dengan aktivitas akademiknya di usianya yang rentan waktu itu. Tapi, untuk studi lanjutan itu, kamu tidak perlu terikat dengan janji itu lagi," ujar Gilang.
"Maksudnya?" tanya Kila dan Irsyad bersamaan.
"Kalian sudah dewasa. Janji itu sudah tidak harus dipenuhi lagi. Tapi jangan cepat-cepat memiliki anak. Karena Kila harus memprioritaskan pendidikannya," Riska membantu menjelaskan maksud Gilang.
"Cucu? Benar, ayah dan bunda sangat tidak sabar ingin menimang cucu. Mereka sudah menahan diri selama ini, karena Kak Irsyad terbelenggu janji. Apa mereka harus menunggu lebih lama lagi demi keegoisan orangtuaku yang menginginkan untuk aku lebih memprioritaskan pendidikan daripada punya anak?" batin Kila merasa bersalah kepada Citra dan Erwin.
"Kila bisa ngatur waktu, kok. Kila udah lebih dewasa dari yang waktu itu. Punya anak sekaligus sekolah bukan masalah buat Kila," ucap Kila penuh percaya diri seraya menatap Mama dan Papanya.
"Benar, karena ada orang tua saya yang sangat ingin sekali menimang cucu, anak kami nanti akan di bawa ke rumah orang tua saya. saat saya dan Kila begitu sibuk dengan urusan masing-masing," ucap Irsyad mendukung ucapan Kila.
Kila merona saat Irsyad dengan lancar mengucapkan kalimatnya, dan kalimat itu membahas tentang "anak" mereka. Irsyad, disaat seperti ini ia malah melontarkan ucapan seperti itu yang membuat jantung Kila terpacu.
"Irsyad! Kamu yakin bisa seperti itu? Kami tidak ingin anak kalian nanti mengalami masa kecil seperti Kila dulu. Kila harus di asuh oleh neneknya di saat kami orangtuanya sibuk. Jadi, kalian bisa punya anak saat benar-benar siap dan di waktu yang tepat," bantah Riska.
"Ma, bukannya dengan Kila memprioritaskan pendidikan itu dampaknya akan lebih parah, ya, ke anak Kila nanti? Kila pasti akan sibuk, sama seperti Mama dan Papa. Makin lama di tunda juga akan mempersibuk Kila dengan adanya urusan lain. Takutnya, Mama sama Papa nyuruh Kila lagi untuk lanjutin studi doktoral. Kalau gitu makin sibuk lagi, dong? Kapan punya anak? Kapan siap punya anaknya kalau gitu? Kapan memangnya waktu yang tepat untuk punya anak?" tegas Kila. Irsyad mengusap punggung Kila untuk menenangkan emosi Kila.
"Lebih baik kita akhiri perdebatan ini. Saya mempunyai saran. Irsyad dan Kila sudah terbebas dari janji waktu itu. Dan mereka sudah dewasa, sudah tahu bagaimana cara menunda punya anak. Nah, karena keinginan kuat kami untuk segera menimang cucu, saya mengusulkan untuk Kila mulai program punya anak di tahun keduanya S2. Jika programnya berhasil, maka saya akan sangat senang menimang cucu saat Kila akan segera lulus S2. Saya juga tidak keberatan mengurus cucu sendiri saat kiranya Kila sibuk mengurus tesis. Lagian, ada Irsyad juga yang akan membantu Kila dalam menyelesaikan studinya kalau terjadi kebuntuan. Namun, jika belum berhasil, mereka harus terus mencoba. Tidak baik menunda kehamilan terlalu lama karena di saat bersamaan kita melihat orang-orang di luar sana yang belum juga diberikan momongan," ucap Citra melerai.
Kila bisa saja langsung mendaftar S2 karena pendaftaran masih buka, tapi ia ingin mengambil nafas sejenak dengan gap year setahun sebelum melanjutkan studinya.
"Gimana, kamu setuju sama bunda, kan, Kila?" Citra melempar ke Kila.
Kila melihat Citra, lalu melihat satu per satu orang-orang yang ada di sana. Kila kikuk, bingung mesti jawab bagaimana.
"Lebih baik kita menyingkirkan ego kita masing-masing. Biarkan anak-anak kita yang memutuskannya. Sudah bukan ranah kita untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka." Erwin buka suara. Kemudian ia meninggalkan ruang tamu itu yang udaranya terasa panas. Ia tidak ingin ikut campur dalam perdebatan itu.
"Sepertinya, Bunda setuju sama ucapan Ayah. Keputusan harus di ambil oleh kalian sebagai pelaku yang menjalankan kehidupan. Kami di sini hanya orang tua yang memberikan saran dan masukan. Ambil yang baiknya saja bagi kalian. Benar begitu, kan, Bu Riska, Pak Gilang?" Citra menambahkan. Di ucapan terakhirnya ia seperti menyindir Riska dan Gilang. Tentu saja itu membuat Riska dan Gilang tertekan dan canggung. Tidak dapat lagi keduanya menguatkan argumen agar Kila lebih memprioritaskan pendidikan daripada punya anak. Dua orang itu menelan salivanya saat tatapan Citra mengarah kepada mereka.
Suasana menjadi canggung. Terjadi jeda beberapa menit setelah ucapan Citra itu. Tidak ada yang buka suara, semuanya membisu.
"Ayo silahkan dinikmati minuman dan camilannya. Sebentar lagi waktu ashar tiba. Jadi, mari kita puaskan isi perut dahulu sebelum melaksanakan shalat," ujar Citra mempersilahkan. Sebenarnya, ia hanya ingin membuat suasana canggung yang ia buat tadi berakhir.
...****************...