
Libur panjang telah berakhir. Puasa dan lebaran itu Kila hanya mengunjungi rumah orang-orang yang dikenalnya di Indonesia. Ia juga sempat kembali ke rumah mamanya dan menginap satu pekan.
Hubungan Kila dan Irsyad mulai biasa saja. Mereka tetap menjaga komunikasi, tapi akhir-akhir ini hanya melalui pesan chat. Keduanya sangat sibuk karena urusan pendidikannya masing-masing. Mereka juga membuat janji untuk melakukan video call di Hari Minggu saja sekalian saat Kila main ke rumah Citra. Agar Irsyad sekalian melihat dua orang tuanya di video call itu.
Ulang tahun pernikahan mereka yang pertama, terasa biasa saja. Tidak ada yang mengingatnya di antara Kila dan Irsyad. Tidak ada satupun yang menganggap hari ulang tahun pernikahan itu adalah hari spesial. Padahal, dulu Irsyad sempat mengucapkan selamat ulang tahun kepada Kila. Itulah gambaran betapa sibuknya mereka akhir-akhir ini.
Farhan dan Kila sudah menjalani komunikasi seperti biasa, seperti saat Farhan masih menjadi ketua OSIS SMAnya dulu. Sayang, Kila tidak pernah bisa akrab dengan Yuli. Tampaknya, Yuli masih belum menerima kalau Kila yang menjadi jodohnya Irsyad. Yuli cenderung menghindar saat Kila menanyakannya sesuatu. Kila sebenarnya juga canggung dengan Yuli, tapi mau tidak mau ia harus memulai pembicaraan dengan Yuli karena saat bicara di kampus dengan Farhan seringkali Yuli ikut. Kila hanya tidak enak kalau mengobrol hanya dengan Farhan saja sedangkan Yuli tidak ikut dilibatkan padahal Yuli juga ada, begitu santunnya Kila tapi malah tidak diacuhkan oleh Yuli.
"Kak Farhan, Kak Yuli. Assalamu'alaykum," sapa Kila saat bertemu di parkiran motor masjid fakultas teknik.
"Wa'alaykumussalam," balas keduanya. Bedanya, Yuli menjawab salam itu dengan nada yang tidak bersahabat. Padahal sebuah salam harusnya dibalas ramah dan ikhlas.
"Mau langsung pulang, Kil?" tanya
Farhan. Mereka baru saja mau masuk masjid, sedangkan Kila tampak seperti akan meninggalkan masjid.
"Iya, Kak. Tugas kuliah numpuk, hehe. Kila duluan ya. Mari Kak Farhan, mari Kak Yuli. Assalamu'alaykum," pamit Kila. Salam itu kemudian dijawab oleh Farhan dan Yuli.
"Han, kamu kok dekat sama dia? Bukannya waktu itu kalian nggak akrab, ya?" tanya Yuli saat melihat Kila sudah mulai jauh.
"Akrab, kok, Yul. Malah sejak di SMA dulu. Cuma karena aku duluan tamat di SMA, makanya kami jadi kurang akrab. Nah, sekarang udah akrab lagi," jawab Farhan.
"Ooh," ucap Yuli paham.
"Eh, tapi si Kila itu kok nggak ada muka kesepiannya, ya? Soalnya, Kak Irsyad udah lama nggak balik lagi ke sini," ujar Yuli mulai julid. Ia belum cerita banyak ke Farhan soal Irsyad belakangan ini. Perjumpaan mereka dengan Kila memicu Yuli untuk mengatakannya, membicarakan tentang Irsyad.
"Ih, Farhan. Kamu lihat tadi wajahnya. Lagian juga, kita jarang bertemu dia sekarang waktu main ke rumah Bunda Citra. Kayaknya dia udah jarang main ke rumah Bunda Citra, deh. Lagian, Kila katanya setiap Hari Minggu main ke tempat Bunda Citra, kan? Ya, sama kayak kita, dong. Belakangan ini, kita sering main ke rumah Bunda Citra soalnya. Tapi, nggak pernah tuh, kita lihat ada Kila di situ. Menantu kayak apa itu, coba?" sangka Yuli buruk ke Kila.
Kila memang tidak terlalu sering mengunjungi rumah Citra belakangan ini. Itu juga sudah disampaikan Kila pada Citra. Kesibukannya itu yang membuatnya tidak sempat berkunjung, dan Citra paham akan hal itu. Untung Citra dan Erwin adalah sosok menantu yang baik. Mereka tidak banyak ikut campur dengan rumah tangga Irsyad dan Kila. Mereka juga tidak banyak menuntut Kila sebagai menantu harus ini dan itu. Tidak juga menyuruh Kila untuk pindah saja ke rumah mereka sebagai menantu daripada harus di kosan itu. Mereka membebaskan Kila melakukan apapun, selama itu tidak menentang agama.
"Sttt... kamu bebas sih ngomong apa aja, tapi jangan sampai berprasangka buruk. Nggak baik tahu," tanggap Farhan.
"Dan kembali lagi, emang kamu tahu darimana? Kan, nggak akrab sama Kila. Manatahu kamu, Kila itu sibuk atau bagaimana. Dan lagi, mertuanya Kila, kan, Bunda Citra, bukan kamu, Yul. Jadi, lenih baik jangan memposisikan diri kamu sebagai orang yang udah tua, seperti mertua. Kamu nih, kebiasaan berburuk sangka, kurangin, dong. Ini mau sholat, malah buat dosa dulu, hahaha," lanjut Farhan.
"Kamu belain perempuan itu, Han?" tanya Yuli sewot.
"Lho, bukan belain. Ini aku ngomongin yang benar, lho. Aku juga sebagai saudara kamu karena sesama muslim berusaha mengingatkan kamu dan menasihati. Sisanya, yah, terserah kamu aja, deh. Yang penting tugasku udah selesai, udah aku sampaikan. Masalah kamu menganggap kalau aku belain Kila, itu hak kamu," jawab Farhan lancar. Ia bukan dirinya yang dulu. Yuli memang tidak dapat diatur oleh Farhan, tapi setidaknya Farhan berani menyampaikan untuk mengatur Yuli. Jika memang tidak bisa diatur, setidaknya Farhan sudah menyampaikannya.
"Udah, ah. Farhan nggak enak di ajak ngobrol. Kamu nggak perlu nasehatin aku, aku juga tahu, kok. Lama di sini terus, aku duluan ke masjidnya. Malas ngobrol sama kamu lagi. Bye!" Yuli melenggang setelah mengatakan kalimat barusan secara jengkel.
"Ya elah, biasanya juga kamu yang duluan masuk ke masjid. Dasar cewek," ujar Farhan saat Yuli sudah melenggang duluan di depan.
Farhan memang sebenarnya adalah pahlawan penyelamat Kila. Tapi, karena aksinya di balik layar, ia tidak pernah diketahui. Tapi, Farhan selalu berusaha membela Kila saat apa-apa yang Yuli katakan bertentangan dengan kenyataan.
Dengan mahirnya Farhan beretorika, perasaannya pada Kila tak di sadari Yuli. Ia begitu pandai merangkai kata agar upaya pembelaannya untuk Kila tidak disadari Yuli. Jika Yuli sampai tahu ada perasaan yang Farhan simpan untuk Kila, Farhan sudah dapat menebak apa yang bisa di rencanakan Yuli. Bisa saja ia mengajak Farhan bekerjasama untuk menghancurkannya pernikahan Kila dan Irsyad. Itulah pikiran paling jauh yang bisa Farhan pikirkan, untuk itu ia harus menjaga rahasia hatinya ini rapat-rapat.
Pembelaan Farhan untuk Kila selama ini hanyalah sebagian kecil dari usahanya untuk menunjukkan perasaannya pada Kila, untuk meyakinkan dirinya bahwa ia masih bisa mendapatkan Kila. Ia juga sebenarnya melakukan cara curang untuk bisa mendekati Kila lagi dengan berbohong kalau perasaannya sudah hilang ke Kila. Tapi sebenarnya, perasaan Farhan justru semakin menguat. Ia merasa benar-benar jadi pengganti Irsyad untuk Kila. Pengganti yang belum dapat digantikan selama Irsyad belum mengunjungi Kila kembali.
...****************...