Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Agenda Ta'aruf



Hari Minggu adalah hari matahari, “Sunday”. Benar, waktu baru menunjukkan pukul tujuh tapi matahari begitu menyengat. Kila tidak punya kebiasaan seperti orang-orang pada umumnya jika tiba Hari Minggu akan pergi untuk jogging. Kila merupakan wanita malas olahraga dan banyak makan tapi tetap memiliki tubuh yang proporsional. Sungguh beruntung dirinya.


Kila sudah memberitahu neneknya bahwa wali kelasnya akan datang hari ini. Nenek tidak menaruh curiga sedikitpun akan hal itu.


Sudah banyak cemilan yang dipersiapkan untuk tamu. Tapi malah Kila yang memakaninya.


“Kila, kamu jangan habiskan cemilannya, dong. Kalau habis kita nggak punya stok lagi untuk wali kelasmu. Kalau makan ingat ingat ada yang mau makan juga,” tegur nenek ke Kila. Sedangkan Kila masih menyumpal cemilan itu ke mulutnya.


“Iya, Nek. Ini yang terakhir, kok,” balas Kila setelah menghabiskan makanannya di mulut.


“Kamu siap-siap mandi dulu. Pakai baju yang rapi dan sopan. Bau keringat kamu asem tahu, Kil,” ujar nenek seraya mengendus ke badan Kila.


“Ih, nenek, siapa yang bau, sih? Olahraga aja nggak pernah, gimana mau keringatan? Nenek kadang suka berlebihan, deh,” jawab Kila mamanyunkan bibirnya.


“Ya sudah, kamu mandi sana!” titah nenek.


“Iya, iya, nenek bawel,” ejek Kila seraya berjalan menuju kamarnya.


“Kamu, ya,,,.” Nenek ingin mengomeli Kila, tapi anak itu sudah masuk ke kamarnya. Nenek mengurungkan niatnya.


“Humph, cucu nyebelin,” omel nenek sendirian.


...****************...


Irsyad sudah melajukan mobilnya menuju rumah kila sedari jam delapan. Sepertinya ia akan tiba lebih cepat dari waktu yang ia beritakan ke Kila semalam. Bukan karena Irsyad bersemangat untuk menjumpai Kila, tapi karena Irsyad tahu bahwa rumah Kila yang cukup jauh dan ia tidak ingin terlambat dari jamnya. Ternyata, lalu lintas lenggang dan lancar. Akhirnya Irsyad sampai tiga puluh menit sebelum jamnya.


“Assalamu’alaikum,” Irsyad mengucapkan salam seraya mengetuk pintu. Beberapa saat berlalu, pintu itu dibuka oleh nenek yang bingung siapa pria ini.


“Wa’alaikumussalam. Maaf, kamu siapa ya, Nak?” ucap nenek.


“Maaf mengganggu waktunya, Bu. Saya Irsyad Maulana yang akan melakukan kunjungan ke rumah murid. Hari ini saya akan melakukan kunjungan perdana ke rumah murid saya Afifah Syakila. Memang lebih cepat dari jam yang dijanjikan, tapi bolehkah langsung kita mulai saja pertemuannya, Bu? Ibu wali muridnya, kan?” ucap Irsyad memberi penjelasan. Nenek yang baru ngeh bahwa wali kelas Kila-lah yang datang, langsung mempersilahkan Irsyad untuk masuk.


“Sebentar, ya, Nak. Saya panggilkan Kilanya dulu. Nak Irsyad silahkan dinikmati cemilannya,” ujar nenek menawarkan.


“Baik, Bu. Terimakasih banyak sudah disuguhi makanan. Tidak perlu repot-repot, Bu,” jawab Irsyad dengan santun.


“Bagaimanapun juga kamu adalah tamu. Sudah tugas tuan rumah memuliakan tamu. Ya sudah, saya tinggal sebentar ke kamar Kila,” balas nenek. Ia kemudian menuju ke kamar Kila. Terlihat Kila sedang asyik membaca buku, rajin sekali anak itu.


“Kila, wali kelas kamu udah datang. Kamu buatkan minum, gih,” ucap nenek yang sudah diambang pintu kamar Kila.


“Hah??? Nggak salah, kan, Nek? Kenapa lebih cepat dari jam yang udah ditentukan? Ya udah, nenek bilangkan tunggu Kila ya, ke Pak Irsyad.” Kila langsung bergegas ke dapur. Ia ingat kalau Irsyad menyuruhnya untuk menjamu Irsyad dengan teh pahit. Kila dengan cepat membuat minum itu.


Kila sedikit tersenyum saat akan mengantarkan teh itu menuju Irsyad. “Kenapa teh pahit? Kayak orang udah tua aja,” batin Kila yang menyamakan Irsyad dengan neneknya, sama-sama suka teh pahit.


Kila sudah berada di ruang tamu, tempat Irsyad dipersilakan duduk oleh neneknya. Kemudian ia menyalami Irsyad sebagai bentuk sopan kepada wali kelasnya, meski tidak berada di lingkungan sekolah.


Nenek sedikit terkekeh melihat pemandangan itu. “Seperti pasangan suami istri aja,” batin nenek. Nenek bisa berbatin seperti itu dikarenakan Kila juga pernah menceritakan “beliaunya” yang ternyata adalah wali kelasnya. Kebetulan yang menganehkan bisa dikunjungi oleh pria yang dikagumi cucunya itu. Sayangnya, agenda kedatangan Irsyad bukan untuk meminta restu melainkan kunjungan wali kelas ke wali murid saja.


Teh pahit telah sampai, Irsyad menyesap teh itu terlebih dulu sebagai bentuk kesopanan. Lalu ia memulai percakapannya dengan nenek.


“Iya, tapi saya hanya neneknya. Mama dan papanya sedang dinas ke luar kota. Saya yang biasanya mengurus Kila,” jawab nenek santai.


“Kalau begitu, frekuensi kedekatan Ibu lebih besar dibandingkan dengan mama dan papanya?” tanya Irsyad lagi. Nenek kemudian meresponnya dengan menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, saya akan menyampaikan maksud kedatangan saya. Saya adalah wali kelas pengampu kelasnya kila, IPS 1. Kunjungan saya kemari ingin mengenal murid saya bagaimana perilakunya di rumah. Mengenal karakteristik murid di rumah yang mempengaruhi karakternya di sekolah. Dan kunjungan ini hanya memakan waktu kurang dari satu jam. Apakah Ibu dan Kila tidak keberatan?” ungkap Irsyad mengutarakan maksud.


“Tentu saja, siapa yang keberatan? Mulai saja, Nak. Apa yang ingin kamu tahu dari saya tentang Kila?” respon nenek menyetujui.


“Bagaimana Kila di rumah? Cara dia memperlakukan orangtuanya dan Ibu sebagai neneknya?” Irsyad melontarkan pertanyaan pertama.


“Sikap Kila ke saya sangat manja. Kila selalu menceritakan segala hal yang terjadi padanya ke saya. Termasuk saat dia senang, sedih, atau marah dengan seseorang. Kila ini anak yang teratur, di rumah hobinya baca buku. Anaknya penurut dan perhatian. Kila suka buatkan saya teh pahit sebagai bentuk perhatiannya. Kebetulan, kamu juga suka teh pahit ternyata, Nak Irsyad. Jarang ada anak muda yang suka teh pahit,” ucap nenek menanggapi pertanyaan Irsyad dengan intermeso dibelakangnya. Nenek yang membahas teh pahit itupun ikut menyesap teh pahit juga yang sudah di siapkan cucunya.


“Ibu bisa saja. Kebetulan memang saya tidak terlalu suka dengan yang terlalu manis. Teh pahit juga dapat menjaga pola hidup sehat saya,” Irsyad menanggapi.


“Suka jaga pola makan, ya? Pantas badannya bagus. Suka olahraga juga berarti?” tanya nenek lagi. Topik ini agak melenceng dari tujuan awal, namun Irsyad tidak merasa terganggu.


“Kalau untuk olahraga alhamdulillah saya rutin melakukannya. Dan saya biasanya nge-gym di rumah tiap sore,” ujar Irsyad menanggapi dengan santun.


“Wah, pantas saja badannya bagus, bidang dan ideal begitu. Berbeda sekali dengan Kila. Kila itu hobi sekali makan. Segala makanan masuk ke mulutnya. Dia sangat suka makanan yang manis. Dia juga malas berolahraga. Sepertinya, saya tidak pernah melihat dia berolahraga,” ungkap nenek membandingkan Irsyad dengan cucunya.


Irsyad sedikit terkekeh mendengar pengungkapan nenek. Ia tak menyangka ada muridnya yang hobi makan dan malas berolahraga ini bisa mempertahankan berat badannya yang bisa dibilang ideal.


“Ih, nenek. Kenapa bongkar aib Kila, sih?” Kila menyambung, ia malu nenek menceritakan itu ke Irsyad.


“Nak Irsyad umurnya berapa?” Pertanyaan acak kembali dilontarkan nenek.


“Saya dua puluh empat tahun, Bu,” jawab Irsyad.


“Ooh, umur kamu dan Kila hanya terpaut delapan tahun. Kila sudah berusia enam belas tahun.” Nenek lagi lagi memberi perbandingan. Dan Irsyad hanya mengangguk menanggapi.


“Selain menjadi guru di sekolah Kila, aktivitas kamu apa saja?”


“Saya menjadi dosen di salah satu kampus swasta pada kelas malam. Saya sedang mengelola bisnis sampingan saya dibidang fashion muslim dan muslimah. Lalu saya juga ikut mengelola rumah kost milik orang tua saya. Di hari libur saya sempatkan untuk pergi ke sebuah panti asuhan untuk berdonasi yang saya punya. Kadang saya juga berekreasi dengan keluarga.”


“Masyaa Allah, sudah mapan, berpendidikan, sholeh lagi. Kamu belum menikah?” Irsyad menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang juga terukir.


“Secara keseluruhan sudah siap untuk menikah. Mungkin masih terlalu muda menikah diumur dua puluh empat tahun, ya?” Nenek sudah mengarahkan topik pembicaraan kemana-mana. Kila merasa tidak enak dengan pertanyaan nenek yang asal ceplas ceplos itu.


“Nek, tiap orang juga punya privasi. Nggak enak tahu, sama Pak Irsyadnya.” Kila memotong percakapan mereka.


“Tidak apa-apa, saya tidak keberatan dengan hal itu,” direspon Irsyad.


“Lha ini kenapa agendanya jadi ta’aruf, sih?” ucap Kila pelan. Rupanya nenek dan Irsyad masih mendengar ucapan pelan itu.


“Memang agendanya ta’aruf,” jawab nenek dan Irsyad bersamaan. Namun diantara keduanya mengutarakan maksud yang berbeda, begitupula dengan Kila.