Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Berbagai Kejadian



Kini nenek sudah mulai bisa bicara, ia menyuruh Kila untuk berangkat lebih cepat ke sekolah tanpa perlu mengkhawatirkan keadaan dirinya. Setelah berdebat panjang, Kila akhirnya menyetujui.


Kila sampai di kelas dengan sambutan hangat dari kedua sahabatnya itu. Ucapan selamat disertai pelukan semangat. Percayalah, berikan sebuah pelukan saat orang sedang sedih, karena itu akan membuatnya lebih baik. Berikan juga sebuah pelukan saat orang sedang bahagia, karena orang itu ingin membagikan kebahagiaan melalui pelukan.


"Aku turut senang, Kil. Tapi aku nggak bisa jenguk. Soalnya orangtua aku protektif banget, apalagi ke rumah sakit. Mereka terlalu takut kalau aku tertular juga." Ungkap Risa setelah melepaskan pelukannya.


"Aku juga, Akil. Bakal ada persiapan ini itu untuk ekskulku, jadi aku juga sibuk akhir-akhir ini. Aku sama Risa titip salam aja, ya, ke nenek. Dan kami bantu doa juga supaya nenek bisa sembuh total dan segera pulang ke rumah," imbuh Ira.


"Aamiin," ucap Risa menyeimbangi.


"Iya, nggak masalah. Terima kasih banyak ya atas dukungan kalian berdua," respons Kila. Kila melanjutkan untuk memeluk mereka lagi, karena kebahagiaannya begitu melimpah. Seakan ia ingin seluruh dunia tahu bahwa ia sangat bahagia.


...****************...


Tak terasa, waktu sangat cepat berlalu. Kini sudah jam pulang sekolah, dan Kila segera ke halte bus depan sekolahnya untuk menunggu tebengan Irsyad.


"Alhamdulillah, nenek kamu sudah siuman. Bagaimana dengan bicaranya? Lancar atau belum bisa bicara?" Irsyad membuka percakapan.


"Alhamdulillah, Pak. Nenek sudah bisa bicara. Tapi, suara nenek belum bisa dipaksakan, jadi suaranya kecil. Tapi masih bisa didengar." Kila menanggapi.


"Alhamdulillah kalau begitu," respons Irsyad.


Karena sudah mendapatkan chat mengenai siumannya nenek sebelumnya, Irsyad jadi bisa bersiap dengan membeli beberapa buah untuk diberikan. Ia juga ingin sedikit berbincang dengan nenek karena lama tidak bertegur sapa.


"Assalamu'alaykum, Nek. Kila datang sama Pak Irsyad. Katanya beliau ingin lihat keadaan nenek," ucap Kila saat memasuki ruangan nenek. Nenek memberikan senyum sebagai respons.


"Ini ada sedikit buah, kiranya dapat di makan oleh nenek ataupun Kila," ucap Irsyad. Kila yang mewakili menerima sekumpulan buah berbentuk parsel itu dan meletakkannya di atas nakas.


"Terimakasih banyak, Nak Irsyad. Silahkan duduk. Kila, buatkan teh untuk Nak Irsyad, ya. Ia tamu sekarang," ucap nenek dengan pelan namun masih terdengar.


"Tidak usah repot-repot, Bu. Lagian hal itu harusnya dilakukan di rumah, bukan di rumah sakit," Irsyad menyampaikan ketidak-enakan nya.


"Ya sudah kalau begitu. Nak Irsyad apa kabar?" Nenek memilih topik umum.


"Alhamdulillah, kabar saya selalu baik. Ibu sendiri, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Irsyad, ingin mengakrabkan diri. Padahal ia sudah tahu keadaan nenek tanpa harus bertanya padanya.


"Seperti yang terlihat, Nak Irsyad. Alhamdulillah juga sudah agak mendingan. Tapi saya nggak bisa kemana-mana dulu. Yang saya bisa lakukan ya, cuma bisa berbaring. Kalau minum masih bisa ambil sendiri dari nakas, tapi kalau makan harus disuapi dulu. Alhamdulillah, saya diberikan cucu satu ini yang begitu perhatian pada saya. Jadi, urusan apapun yang saya tidak bisa lakukan, pasti dilakukan Kila meski saya tahu dia pasti lelah. Sudah lelah karena pelajaran di sekolah, ditambah lagi mengurus saya," ucap nenek pelan seraya menoleh ke Kila yang sedang mengupaskan apel yang diberi Irsyad tadi.


"Syafakillah, Bu. Semoga cepat sembuh dan dapat segera beraktivitas seperti biasa," doa baik Irsyad.


"Aamiin, terimakasih banyak Nak Irsyad," balas nenek.


Kila sudah selesai memotong buah apel dan menyusun buah yang lainnya. Ia menyajikan dengan dua piring, yang satu untuk nenek dan yang satunya untuk Irsyad.


"Bagaimanapun juga, Bapak tetap tamu," balas Kila.


"Tapi saya mungkin tidak akan habis. Buah ini untuk kamu saja, saya dengar kamu hobi makan, juga, kan?" balas Irsyad.


"Sudah, lebih baik Kila dan Nak Irsyad makan bersama saja buahnya di piring yang sama. Jadi, tidak ada rasa tidak-enakan di antara kedua pihak. Beres, kan?" Nenek menengahi.


Irsyad dan Kila terpatung, bingung ingin merespon apa. Irsyad juga tidak mengerti kenapa respons tubuhnya seolah berkata bahwa dirinya tidak ingin menolak, namun ia tidak ingin orang tahu dan mencoba memendamnya. Ia menunjukkan respons yang sama dengan Kila, sepertinya ia juga telah nyaman dengan keberadaan gadis ini. Sepertinya nenek ingin menjahili mereka dengan membuat mereka lebih dekat lagi.


"Ayo, di makan. Kamu ambil garpu satu lagi, Kil," perintah sang nenek.


"I-iya, Nek," jawab Kila kikuk.


Makan di piring yang sama, ditambah diperhatikan terus oleh nenek. Kila tidak menikmati makan seperti yang biasa ia lakukan. Ia juga canggung dan takut. Ia takut kalau suara jantung berdebar-debar miliknya terdengar hingga ke telinga Irsyad. Tapi ia juga senang situasi ini bisa terjadi.


Setelah makan buah dan makan siang di rumah sakit, Kila mempersilahkan Irsyad untuk pulang. Sekitar jam setengah tiga sore, begitu terus setiap saat setelah hari itu. Bagaimanapun juga, Irsyad masih memiliki kesibukan lain, jadi Kila tidak ingin menghambat dan tidak ingin terlalu merepotkan Irsyad.


...****************...


Hari Sabtu tiba, hari kesukaan semua orang mungkin. Kila jadi berpikir, apakah Irsyad dapat bersamanya hingga sabtu malam seperti yang orang-orang lakukan? Ya, meskipun di rumah sakit menemani neneknya, tetap saja itu menyenangkan. Memikirkannya saja sudah membuat Kila bahagia.


Kila sudah melaksanakan sholat sunnah dhuha di musholla. Saat istirahat pertama memang ada kesempatan lebih untuk melaksanakan sholat sunnah pembuka rezeki itu. Kila keluar dari musholla, namun ada seorang kakak kelas perempuan yang menunggunya di depan.


"Kamu Afifah Syakila, kan?" tanyanya.


"Iya, ada apa, ya, Kak?" balas Kila dengan santun.


"Ikut saya, ada yang saya mau sampaikan ke kamu," titahnya.


"Maaf, Kak, tapi kemana? Dan, apa tidak bisa di sini saja bicaranya?" Kila berusaha menolak dengan santun.


"Udah, deh, nggak usah banyak omong. Kalau dibilang ikut ya ikut. Nggak lama kok, jadi ikut aja biar makin cepat," ia semakin menuntut. Kila dengan berat hati mengikuti langkah kakinya setelah itu.


Kila tidak begitu familiar dengan tempat ini. Ia di bawah ke lorong sepi tak ada yang melewati.


Saat Kila ingin menelaah tiap sudut tempat, aktivitas itu terhenti saat badan Kila di dorong sampai menghantam tembok lorong.


"Aaaw, sakit," ucap Kila meringis seraya memegang badannya yang terhantam tadi.


"Jawab yang jujur, apa hubungan kamu dengan Pak Irsyad? Mana ada hubungan murid dan guru sedekat itu, apalagi ini sama Pak Irsyad. Kamu naksir, ya? Mau jadi penjilat, ya, biar nilai kamu aman?" Ia bicara dengan nada sangat keras. Bahkan Kila tak sanggup menatapnya dan tertunduk, sedangkan matanya sudah mulai berkaca-kaca. Sepertinya tujuan dibawanya Kila kesini adalah untuk melabrak Kila.