
Kila sudah menghubungi orangtuanya seperti yang Irsyad katakan. Ia sangat kesusahan karena harus berdebat dulu dengan mamanya. Namun, mamanya akhirnya setuju untuk menerima kedatangan Irsyad. Mereka juga ingin tahu, pria seperti apa yang banyak mendominasi di kehidupan putrinya itu. Karena kesibukan keduanya, mereka hanya punya waktu di Hari Minggu pekan depan. Dan di alamat yang sama, karena rumah mereka belum terjual.
Sudah jam pulang sekolah, Kila bersama dengan dua sahabatnya duduk di bangku dekat lapangan. Sepertinya mereka berkumpul dahulu untuk menunggu jeda waktu saja sampai kedua sahabatnya itu memulai ekskul nya, karena hari ini ialah Hari Sabtu.
"Hm, apa sih yang mau dibilang Pak Irsyad ke orangtuaku? Sampai bilang sekalian mau ta'aruf juga, lagi. Nggak bisa nebak jalan pikiran beliau. Kenapa ada sih, guru yang susah di tebak kayak Pak Irsyad?" tanya Kila heran kepada dua sahabatnya. Sebelumnya Kila juga sudah menceritakan topik ini di keesokan hari setelah percakapan waktu itu, tapi tetap saja Kila sangat terganggu sekaligus penasaran. Makanya ia membahasnya lagi dengan dua sahabatnya itu.
"Kalau menurut aku, sih, palingan cuma mau ta'aruf dalam arti yang sebenarnya. Kayak waktu itu, hari pertama Pak Irsyad jadi guru, kan juga gitu. Jadi, saya ingin kita berta'aruf, katanya. Eh, si Kila malah mikir Pak Irsyad ngucapin itu untuk dia, hahaha, kalau diingat-ingat lucu banget, ya. Dan, ujung-ujungnya Pak Irsyad cuma mau berkenalan dengan kita sebagai muridnya, karena udah jadi wali kelas kita," Risa menyampaikan pendapat.
"Ih, Risa, kenapa diingatkan peristiwa memalukan itu," ucap Kila kesal. Risa malah kembali tertawa mengingat peristiwa yang dimaksud Kila itu.
"Kalau menurut aku, sih, bisa jadi Pak Irsyad memang pengen tahu orangtuanya Kila. Tapi, sekalian ta'aruf, mungkin mau ngajuin diri jadi calon mantu juga, hahaha," ucap Ira ngawur.
Kila bisa menerima pendapat keduanya, karena sama-sama masuk akal. Kila juga tidak banyak berharap Irsyad akan memiliki perasaan yang sama dengan Kila. Ia mencoba menegaskan bahwa dirinya hanya seorang murid yang tidak akan pernah terikat sebuah hubungan dengan seorang guru. Bisa jadi perasaannya selama ini hanya sekedar kesalahpahaman belaka karena Kila belum pernah sedekat ini dengan seorang pria. Bisa jadi perasaan yang selama ini ia rasakan hanyalah sebuah perasaan kagum kepada orang yang telah menyelamatkannya dan karena hal itu ia jadi terus memperhatikan Irsyad dan mengagumi semua hal tentang Irsyad.
Ira dan Risa sudah memulai ekskulnya masing-masing. Sementara itu, Kila kembali ke kelas untuk menunggu Ira selesai. Semenjak pindah ke sebuah kamar kos, Kila selalu menebeng Ira karena arah rumah Ira dengan kosan Kila searah. Ira sendiri yang menawarkan untuk selalu mengantar Kila, meskipun Kila harus menunggu karena ada saja yang anak super aktif itu lakukan setelah pulang sekolah. Bagi Kila tidak masalah, lagian tidak ada yang menunggunya dan tidak ada yang akan mencarinya. Jadi, semenjak pindah dari rumah itu Kila selalu menunggu di ruang kelas sampai Ira menyelesaikan urusan ekskulnya. Sangat sepi, sih, tapi Kila jadi menyukai suasana sepi yang membuat tenang ini, suasana kesendirian, aman tanpa beban.
...****************...
Kebanyakan ekskul melakukan latihan di Hari Sabtu, begitupula OSIS yang sebenarnya adalah sebuah organisasi. Farhan dan Yuli berencana melakukan rapat dengan anggota OSIS. Mereka melewati kelas Kila, yang kemudian menarik perhatian dan masuk ke dalam.
"Kamu nggak ada ikut ekskul apa-apa? Atau lagi bolos ekskul, ya? Hayo, nanti saya adukan ke ketua ekskul kamu, lho," ujar Farhan. Kila yang tadinya melamun, memperhatikan arah datangnya suara.
"Em, bukan seperti itu, Kak. Saya memang tidak ikut ekskul manapun. Saya sedang menunggu teman saya selesai ekskul, karena kami berencana pulang bareng," jawab Kila cepat.
"Yul, kamu apa-apaan, sih," tegur Farhan pada Yuli.
"Kenapa kamu tidak memikirkan untuk masuk ke ekskul aja? Daripada buang waktu sendirian di ruang kelas ini. Ekskul Sastra, misalnya. Kan enak, bisa konsultasi terus-terusan sama Pak Irsyad, apalagi beliau, kan, wali kelas kamu juga." Yuli tidak berhenti berucap sarkas. Tampaknya ia masih menyimpan dendam pada Kila.
"Yuli, berhenti bicara soal Pak Irsyad." Farhan berucap tegas. Karena kesal, Yuli meninggalkan Farhan untuk menuju ruang rapat lebih dulu.
Kila beruntung karena Farhan dapat menghentikan sikap Yuli kali ini. Sejujurnya, Kila masih trauma dengan yang Yuli lakukan selama ini padanya. Ia juga takut akan dibawa ke tempat itu lagi dengan dalih mendisiplinkan Kila.
"Jangan dipikirkan apa yang dia ucapkan. Dia hanya meluapkan kekesalannya pada kamu. Ia sempat melihat kamu dan Pak Irsyad berduaan di kelas ini di jam pulang sekolah waktu itu. Dia hanya melihat sekilas dan murka lalu menyimpan dendam gitu aja, padahal dia nggak tahu apa yang kalian bicarakan di dalam. Saya juga melihat, Pak Irsyad sangat bahagia dengan menunjukkan tawanya. Sepertinya kalian menjadi semakin dekat, ya." ujar Farhan.
"He... Kakak melihat juga waktu itu? Tapi itu nggak seperti yang kakak pikirkan, kok. Beliau hanya menertawai saya karena sikap aneh saya. Saya juga tidak menjadi lebih dekat, kok, dengan Pak Irsyad. Kakak juga jangan salah paham," ucap Kila meluruskan.
"Hahaha, apa-apaan kalimat kamu itu, sangat lucu. Kamu seperti meluruskan sesuatu karena ketahuan selingkuh aja, hahaha. Santai, aja, Kila. Soal yang saya bilang barusan, untungnya Yuli belum sempat lihat. Kalau dia sampai lihat, saya nggak tahu lagi, deh, bisa-bisa kamu nanti di ganyang sama dia. Hahaha." Farhan menertawai Kila. Aa.. seperti de ja vu, Kila jadi mengingat peristiwa waktu itu lagi. Suasananya juga sama, dan Kila menyadari kalau Farhan dan Irsyad sama-sama memiliki sifat yang mendominasi.
"Ups, kayaknya udah lewat sedikit dari jadwal rapat. Saya tinggal dulu, ya. Senang bisa bicara dengan kamu. Oiya, soal nenek kamu, saya juga turut berdukacita, ya. Saya tidak bisa ke sana karena saya nggak tahu alamat kamu. Terus kalau saya tiba-tiba datang, saya takut dikira kepedean karena mengira kalau kita udah jadi teman dekat, jadi saya bantu doa aja dari rumah. Oke kalau gitu, Kila. Sampai nanti, saya ingin membicarakan hal lain lagi sama kamu. Dah...," ucap Farhan mengakhiri pembicaraan. Ia buru-buru menuju ruang rapat OSIS.
Kila tidak mengerti kalimat terakhir yang diucapkan Farhan. Sama seperti waktu itu, Farhan seenaknya bicara tentang topik yang Kila tidak mengerti sama sekali.
...****************...