Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Hujan Cinta



Hujan terus turun tanpa henti. Hujan ini membuat nyaman. Suasananya memang enak dibuat tidur, tapi tidak untuk tidur sungguhan.


Jam sekolah telah berakhir, namun hujan tak kunjung henti. Kila tidak ingin merepotkan mamanya untuk menjemputnya seperti yang dilakukan kebanyakan siswa lainnya. Kali ini, Kila mencoba menunggu hujan mereda di musholla.


Kira-kira pukul dua, Kila memutuskan untuk menunggu angkot karena dirasa hujan mulai mereda. Tak disangka, hujan makin deras saat Kila sudah sampai di halte bus sekolah. Ia terpaksa menunggu di halte kali saja ada angkot yang lewat.


“Dingin juga, ya. Mana lupa bawa jaket tadi,” ucap Kila. Ia menyilangkan tangan dan mengusap-usapnya untuk mengurangi hawa dingin yang ia rasakan.


Sekolah sudah mulai sepi karena sebagian besar siswanya sudah dijemput supir atau orangtuanya. Kila masih betah menunggu di halte meski kedinginan. Kila merasa kalau ia menaiki taksi online lagi uangnya akan sia-sia, siapa tahu hujan mereda, kan?


“Lho, kamu belum pulang, Kila?” Terlihat Irsyad memarkirkan mobilnya dekat halte. Ia turun dari mobilnya mendekati Kila.


“Hehe, belum, Pak. Angkotnya belum datang, jadi saya masih tunggu,” jawab Kila. Ia masih menyilangkan tangan dan mengusap-usapnya untuk mengurangi hawa dingin yang ia rasakan. Meskipun, hawa sudah mulai panas sejak Irsyad mengajaknya bicara.


“Bapak sendiri belum pulang?” tanya Kila balik.


“Benar, saya baru akan pulang karena pekerjaan baru selesai. Kamu kelihatannya kedinginan, saya bisa pinjamkan jaket saya,” ujar Irsyad menawarkan. Ia membuka jaket yang ia pakai dan memberinya ke Kila.


“Maaf, Pak. Saya pikir, bapak tidak perlu melakukan itu. Sebenarnya tidak terlalu dingin, kok. Malah saya kepanasan sekarang, Pak. Silahkan bapak pakai kembali jaketnya,” jawab Kila menolak. Ucapan Kila benar adanya. Ia sekarang sedang kepanasan karena sikap Irsyad ini.


“Kamu ada-ada saja. Mana ada orang kepanasan di waktu hujan begini,” Irsyad menanggapi.


“Ada, saya buktinya, Pak. Itupun penyebabnya bapak sendiri,” batin Kila menjawab.


“Tapi saya tulus memberikan ini. Sepertinya hujan akan berlanjut lebih deras saat kamu menunggu angkot nanti, sebaiknya kamu memakainya supaya kamu tidak sakit,” ucap Irsyad lagi, sedikit memaksa.


Kila sebenarnya sangat ingin memakai jaket yang ditawarkan, tapi ia juga harus menjaga sikapnya sebagi seorang murid. Kali ini ia tidak enak dengan tawaran Irsyad. Mau tidak mau, ia harus menerimanya karena jika percakapan ini dilanjutkan bisa membahayakan jantungnya. Ia juga tidak ingin Irsyad terlambat menuju ke rumahnya karena Kila.


“Baik, Pak, saya terima. Terimakasih banyak, Pak,” ucap Kila seraya menerima jaket Irsyad.


“Ya sudah, kalau begitu saya tinggal dulu. Assalamu’alaykum,” Irsyad mengakhiri seraya masuk ke dalam mobilnya.


“Wa’alaykumussalam, Pak. Bapak hati-hati di jalan.” Ucap Kila yang kemungkinan tidak terdengar Irsyad karena mobilnya sudah melaju.


Kila memakai jaket yang Irsyad pinjamkan. Aroma pelembut pakaiannya yang khas sangat menenangkan. Hawa dingin yang ia rasakan sebelumnya berubah hangat. Entah hangat dari jaket ini, atau dari si pemberi jaketnya. Kila tanpa sadar tidak dapat berhenti tersenyum saat mengingat bagaimana jaket ini bisa dipinjamkan oleh Irsyad.


Tak lama hujan sudah mulai reda, menyisakan rintik-rintik saja. Sepertinya angkot sebentar lagi akan tiba.


...****************...


Irsyad sudah berada di rumahnya. Ia senang karena hujan mulai mereda. Namun, ia ragu kalau di waktu hujan begini dimana jalanan tergenang air hujan, akan ada angkot yang lewat. Terlintas kekhawatiran kepada Kila saat itu. Mungkin anak itu masih menunggu angkot.


Irsyad buru-buru menaruh berkas-berkas pekerjaannya ke kamar. Kemudian ia kembali lagi menuju ke sekolah karena ternyata hujan mulai deras kembali. Cuaca memang tidak bisa diprediksi, baru sebentar mereda sekarang mulai deras kembali.


Di rumah tidak ada siapapun. Ayah dan Bunda Irsyad baru pulang setelah ashar, jadi ia tidak perlu berpamitan.


Di halte, Kila masih tetap menunggu. Waktu mulai menunjukkan pukul setengah tiga, tapi angkot tak kunjung datang dan hujan kembali berguyur deras.


“Kamu belum dapat angkot juga?” ucap Irsyad dengan tiba-tiba. Ia keluar dengan setelan sedikit lebih santai karena sudah mengganti kemejanya dengan kaos saat di rumah tadi.


“Lho, Pak Irsyad, kenapa di sini? Bukannya bapak sudah pulang tadi?” tanya Kila heran. Dalam benaknya ia berpikir untuk apa Irsyad kembali? Apakah untuk menemuinya?


Deg


Deg


Deg


“Apa-apaan ini, kenapa aku seperti terkena serangan jantung dari ucapannya?” batin Kila.


“Bapak nggak salah bicara, kan? Kenapa repot-repot, Pak? Sebentar lagi angkot datang, kok. Kalau nggak datang saya coba pakai taksi online.” Kali ini Kila benar-benar melontarkannya.


“Benar, saya tidak salah bicara. Saya mengkhawatirkan kamu sebagi wali kelas. Saya ingin murid saya selamat sampai ke rumah wali mereka. Kamu juga tidak ingin ashar kamu terlambat, kan? Jadi, menurut saja. Kamu tidak akan menolak, kan? Saya sudah bersusah payah datang kesini untuk kamu,” ucap Irsyad sedikit memaksa.


Kila sebenarnya sangat senang. Namun, ia berusaha untuk tidak menunjukkannya dengan memasang wajah datar tanpa ekspresi.


“Kamu duduk di belakang, ya, seperti waktu itu,” lanjut Irsyad.


“Baik, Pak. Terimakasih banyak atas tumpangannya,” balas Kila. Ia kemudian masuk ke dalam mobil begitupula dengan Irsyad.


Hujan terus turun di sepanjang perjalanan mereka. Kila melihat keadaan luar dari jendela. Air hujan mulai tergenang di jalan, Irsyad juga mengemudikan mobilnya lebih pelan. Perjalanannya kali ini terasa memakan waktu yang panjang. Kila juga rasanya sulit sekali bernapas karena berada sangat dekat dengan beliaunya itu.


“Kila, sebentar lagi waktu ashar. Bagaimana kalau kita berhenti dulu di sebuah masjid untuk menunaikannya?” ucap Irsyad memecah keheningan.


“Baik, Pak. Kita berhenti saja dulu. Di dekat sini kebetulan ada sebuah masjid,” jawab Kila.


“Baiklah kalau begitu,” balas Irsyad.


Merekapun menepi di sebuah masjid untuk menunggu dan menunaikan waktu ashar. Mereka berpisah menuju ke tempatnya masing masing.


Kila tiba di tempat wudhu, ia merasakan pipinya memanas. Penyebabnya sudah pasti Irsyad. Ia berusaha menetralkan segalanya yang tidak normal dibuat Irsyad itu, terutama jantungnya. Ia membasuh wajahnya beberapa kali, lalu mengambil wudhu.


...****************...


“Saya ikut masuk ke rumah kamu, bisa? Saya ingin menjelaskan semuanya pada nenek kamu,” ujar Irsyad. Sekarang mereka sudah berada di depan rumah Kila.


“Nggak usah repot-repot, Pak. Bapak sudah banyak membantu saya. Terimakasih banyak, Pak. Untuk menjelaskan ke nenek, urusan saya. Saya tidak ingin menyita waktu bapak lagi,” jawab Kila.


“Kalau begitu, sampaikan salam saya pada nenekmu. Saya akan langsung pulang,” ucap Irsyad pamit. Kila kemudian turun dari mobil Irsyad setelah mengucap terimakasih, jazakallahu khair dan salam. Lalu, Irsyad kembali ke rumahnya setelah berputar balik.


Kila langsung masuk ke dalam rumah dengan raut wajah senang. Ia langsung masuk ke kamar untuk mempersiapkan diri jika neneknya bertanya yang macam-macam.


Kila membaringkan diri di atas tempat tidur dan membekap wajahnya dengan selimut. Ia jadi bertingkah aneh hari ini karena kelakuan pria yang ia cintai itu.


“Terimakasih hujan,” batin Kila.


Hujan ini menumbuhkan cinta yang lebih lagi di hati Kila pada pria yang merupakan wali kelas itu. Biar Irsyad mengantarkannya sebagai bentuk perhatiannya yang menyandang gelar wali kelas, tapi tetap saja Irsyad mempedulikan Kila. Kila takkan pernah melupakan peristiwa ini, dan ia makin menyukai hujan karena hujan sudah membawakan kenangan indah yang tak akan pernah Kila lupakan.


...****************...