
Kedatangan Ira dan Risa sangat membuat Irsyad bersyukur. Kila kembali ceria saat bersama dengan sahabatnya, meskipun kembali murung dan cenderung irit bicara setelah dua sahabatnya itu izin pulang.
Tujuh bulanan Yuli, Irsyad dan Kila menghadirinya bersama. Kila harus bersikap bahagia bersama dengan Irsyad, menyembunyikan sifat pendiamnya sejenak, agar tidak menimbulkan pertanyaan yang tidak ingin dijawabnya.
"Nggak nyangka, ya, Han. Sebentar lagi kamu mau jadi seorang ayah. Padahal, dulu nggak mau dijodohin sama Yuli. Nggak lama nikah, eh, udah isi aja si Yuli," goda Irsyad pada Farhan. Kila berusaha senyum untuk menanggapi candaan itu, meskipun dipaksakan.
"Hahaha, iya, nih, Kak. Setelah menikah, Alhamdulillah banyak perubahan baik dari Yuli. Ada pelajaran hidup juga yang di ambil dari Kak Irsyad dan Kila. Terimakasih banyak atas andil kalian," balas Farhan seraya menjabat tangan Irsyad.
"Wah..., kami sih, cuma numpang lewat. Iya, kan, Sayang?" Irsyad menyeret Kila masuk ke pembicaraan. Ia sudah mulai terbiasa dengan panggilan barunya yang disebut Irsyad. Namun, saat panggilan itu disebut Irsyad di depan orang banyak, Kila tetap saja masih malu-malu dan pipinya jadi memerah.
"I-iya, Mas," ucap Kila gugup menanggapi.
Yuli merasa melihat hal yang menghibur dari ekspresi Kila yang lucu itu.
"Wah..., bagus nih, permainan waktu itu nggak sia-sia. Kak Irsyad sama Kila jadi makin mesra," goda Yuli.
"Kapan nyusul nih, Kil? Nanti, biar anak kamu sama anak kita di jodohkan dari kecil. Di booking dari sekarang, biar nggak keduluan orang. Hahahaha," lanjut Yuli. Disambut pula dengan tawa Farhan. Mereka ini terlihat bercanda, tapi omongannya serius.
Baru saja topik tentang anak harus dibicarakan dengan sahabatnya hari itu, kini harus dibicarakannya lagi di tempat ini. Batin Kila kian tersiksa mengingat betapa egoisnya Kila menahan Irsyad untuk mengambil haknya.
"Kamu, nih, Yul. Kayak tahu aja kalau nanti Kila ngelahirin anak cewek," Farhan menanggapi seraya menyulut pelan Yuli. Tawanya tadi masih tersisa.
"Ya tahu, lah, Mas. Bahkan, harus ngelahirin anak cewek, karena anak kita udah cowok," Yuli masih saja menanggapi sesukanya.
Kila terkadang iri melihat Yuli yang berkembang luar biasa, yang berubah drastis menjadi orang yang lebih baik. Semenjak menikah, Yuli memanggil "Mas" untuk Farhan dengan kemauannya. Semenjak menikah, Yuli terlihat lebih mudah di atur dan hubungannya terlihat harmonis dengan Farhan. Yuli yang Kila lihat egois dulunya, kini terlihat lebih peduli melebihi Farhan sendiri. Kila heran, kenapa dua individu itu yang awalnya menolak untuk dijodohkan bisa selancar itu hubungan rumah tangganya? Sedangkan Kila dan Irsyad yang keduanya sama-sama mencintai, tidak bisa seperti itu.
"Kalian ini, ada-ada saja. Harusnya biar ada teman main, bukan biar dijodohin. Lagian, Allah yang mengatur semua. Saya dan Kila juga lagi berusaha. Minta doa yang terbaik, deh, dari kalian."
Irsyad tampak peka. Padahal, tidak ada usaha sama sekali yang dilakukan, tapi ia berbohong untuk menyelamatkan Kila. Irsyad selalu saja seperti itu, melakukan hal yang baik yang sebenarnya tidak usah dilakukan. Ia terlalu melindungi Kila, dan kebohongan itu sungguh menyelamatkan Kila.
"Siiip, Kak. Kita selalu doakan, kok," balas Farhan.
"Makasih banyak doanya, Kak Farhan, Kak Yuli," ucap Kila menimpali. Terlanjur basah, ya sudah, mandi sekalian.
...****************...
Lelah rasanya kembali dari acara tujuh bulanan itu. Sangat banyak orang yang menanyakan Irsyad dan Kila tentang kapan menyusul. Lelah menanggapi mereka hingga sampai harus berbohong sesekali kepada orang-orang yang menanyakan hal itu agar pembicaraan berjalan lancar.
Sampai di rumah, Irsyad menghela hembusan nafas panjang. Menandakan betapa lelahnya ia di tempat itu tadi. Kila yang perhatian segera membuatkan teh pahit kesukaan Irsyad dan menyuguhkannya.
"Kelihatannya capek banget, ya, Mas? Maaf, ya, harus berbohong terus sama semua orang demi Kila," ucap Kila lirih.
"Tidak apa-apa. Kamu jangan berpikir berlebihan." Irsyad segera menyesap teh pahit yang telah disuguhkan.
"Um.., Mas, Kila boleh nanya, nggak?"
"Apa Mas nggak menderita karena Kila nggak pernah memberikan hak ini kepada Mas? Kalau Mas minta, Kila—"
"Kalau saya yang minta, kamu akan memberikannya, begitu? Bagaimana kalau saya memintanya sekarang? Detik ini juga?"
Kila tak menyangka akan mendapatkan tanggapan seperti itu saat dirinya belum selesai bicara. Kila lupa sifat Irsyad yang sulit mengendalikan emosinya, apalagi saat sedang lelah-lelahnya seperti sekarang. Meski sudah menyadarinya, tetap saja tiap Irsyad seperti ini selalu lolos membuat Kila terkejut.
Irsyad langsung sadar saat Kila menunjukkan ekspresi terkejut cenderung takut. Lalu ia memenangkan diri dengan beristighfar. Menarik nafas sekali sebelum bicara pada Kila kembali.
"Aa.., Maaf, Kila. Kebiasaan saya kalau seperti ini. Sepertinya, hari ini sangat melelahkan. Saya mau istirahat duluan ke kamar, ya?" pinta Irsyad seraya melangkah.
"Tunggu, Mas!" cegat Kila.
"Ada apa? Kamu mau ikut juga?" Kila menggeleng. Karena Kila seperti ingin mengatakan sesuatu, Irsyad membalikkan badannya kembali menghadap Kila.
"Kila pikir, lebih baik mengakhiri ini semua kalau pada akhirnya tidak ada hubungan timbal balik yang baik," ucap Kila tak begitu dimengerti oleh Irsyad.
"Hah? Maksud kamu?"
"Kila nggak pernah siap untuk jadi istri seutuhnya, dan Mas juga nggak pernah meminta. Mas terlalu membebaskan, dan Kila terlalu keenakan dengan kebebasan itu. Kita tidur satu ranjang, Kila tahu kalau Mas sebenarnya menyiksa diri untuk menahan diri. Apa itu demi Kila? Mas, kalau kamu yang minta, Kila pasti bersedia. Tapi, Mas terlalu baik. Kamu selalu bilang kalau akan menunggu Kila benar-benar siap untuk itu. Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini. Kita berpisah, selamanya. Tidak ada keuntungan yang Mas dapatkan dari pernikahan ini, kan?" ucap Kila lebih jelas dari sebelumnya.
"Kumohon, jangan membahasnya lagi. Aku takut perkataan selanjutnya akan menyakiti hatimu kalau temperamenku buruk karena kelelahan seperti ini," batin Irsyad yang mulai mengerti arah pembicaraan Kila.
"Kila..., jangan bahas itu, ya, Sayang. Saya sedang tidak mau membahasnya. Kamu tahu saya lelah, kan? Kita sama-sama lelah. Lebih baik kita istirahat dan menjernihkan pikiran yang penat ini. Nanti kita bicara lagi. Saya duluan ke kamar, ya," pamit Irsyad sekali lagi. Ia harus benar-benar istirahat saat ini. Perkataan Kila tadi menambahkan beban pikirannya.
"Kamu terlalu baik, Mas," ucap Kila pelan saat melihat Irsyad telah memasuki kamar.
Setelah cukup lama beristirahat, Irsyad sadar rupanya Kila tidak ikut beristirahat ke kamar. Ia melihat ke ruang keluarga, dan Kila terlihat berselonjor kaki di sana.
"Kila, sebentar lagi waktunya tidur. Kita shalat witir dulu, yuk."
"Maaf, Mas. Kila lagi halangan, baru aja dapetnya."
"Ooh, begitu. Kalau gitu, jangan lupa menyusul ke kamar, ya, jangan kelamaan di sini, ntar masuk angin. Cepat tidur, ya, Sayang."
"Umm, Kila izin besok ke tempat Mama, ya, Mas. Kila mau sarapan di sana."
"Kenapa buru-buru? Perhatian yang kuberikan pun tak dihiraukannya."
"Nggak usah di antar, Kila bawa motor aja."
Kila kemudian masuk ke kamar. Ia tidur lebih dulu meninggalkan Irsyad, dengan posisi tidurnya membelakangi Irsyad. Ia melakukannya lagi hari ini.
...****************...