Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Sensasi yang Seperti Nyata



"Kila, bolehkah saya....," ucap Irsyad lembut. Ia tidak melanjutkan perkataannya, Kila juga sudah paham maksud Irsyad tanpa harus Irsyad lanjutkan perkataannya. Itulah yang terpikir Irsyad dengan logikanya.


Sebelum melakukan itu, Irsyad ingin menikmati wajah Kila terlebih dahulu. Perlahan ia mengganti pandangannya yang sedari tadi hanya menatap manik mata Kila. Dari mata Kila, Irsyad beralih menulusuri tiap titik wajah Kila dan destinasi terakhir, ia berakhir dan membuat pemberhentian terakhirnya dengan menatap bibir Kila yang terlihat mungil nan kenyal. Melihat bibir mungil itu membuat Irsyad menelan salivanya. Irsyad sadar betul bahwa posisi mereka ini tidak biasa. Dan keadaan seperti ini tidak sering terjadi. Ia ingin membuat jarak mereka lebih intim, memanfaatkan posisi mereka yang sekarang, karena posisi seperti ini pasti akan jarang terjadi lagi.


Dengan naluri laki-laki yang dimilikinya, perlahan wajah Irsyad mendekat ke wajah milik Kila, bibirnya mulai mendekat ke bibir Kila. Tujuan Irsyad sepertinya mengarah ke bibir bawah Kila yang terlihat kenyal daripada bibir atasnya Kila. Karena itu, Irsyad gemas ingin melahap bibir bawahnya lebih dulu. Pikiran liar muncul di kepala keduanya, ya, setidaknya Irsyad berpikir bahwa Kila juga memikirkan hal yang sama dengan dirinya. Irsyad bersiap untuk melahap bibir bawah Kila, dan Kila bersiap untuk menerima itu. Kila tanpa sadar sudah memejamkan matanya secara refleks saat bibir Irsyad dan miliknya hanya berjarak satu senti.


"Aa..., debaran macam apa ini? Kenapa begitu kencang dan mengguncang?" pikir Irsyad. Irsyad yang sudah memperpendek jarak menjadi kurang dari satu senti itu, perlahan juga mulai memejamkan matanya pula. Dan...,


Cup


Tepat di bibir bawah Kila, Irsyad akhirnya melahapnya. Bukan seperti orang rakus, tapi ia memberikan kecupan yang begitu lembut terlebih dahulu. Kecupan yang tidak terlalu sebentar, namun pas. Dimana, setelah melahap bibir bawah Kila, Irsyad berhenti sejenak menikmatinya. Lalu, dengan perlahan ia melepaskan kecupan lembut itu dengan begitu lembut dan penuh kehati-hatian. Irsyad baru melakukan itu sekali, tapi ia begitu hebat mendaratkan kecupan lembut itu seperti orang yang sudah banyak pengalaman melakukannya.


Lalu, Irsyad berjeda. Ia ingin menatap kembali wajah cantik sang istri sebelum melakukan kecupan susulan yang lebih intens lagi.


Irsyad dan Kila sama-sama merasakan sensasi yang tak biasa dari perilaku kecil barusan, dari mata Kilalah Irsyad bisa berasumsi seperti itu. Ada rasa yang gatal dan mengganjal terasa di sekitar perut, tapi anehnya hal itu ingin dirasakan lagi dengan sensasi yang lebih-lebih lagi. Rasa yang membuat candu setelah sekali melakukannya, rasa ingin melakukannya lagi dan lagi sampai tubuh dan raga tak memiliki energi lagi. Namun, Irsyad yang ingin melanjutkan kembali malah terkesan ragu untuk melanjutkan. Beberapa saat setelah memandang wajah Kila, Irsyad malah tertunduk. Ia tiba-tiba takut jika ia sedang berkhayal saat ini.


"Kak..., Kila bisa turun dulu dari ranjang ini? Kila kurang begitu nyaman soalnya, hehe," ujar Kila.


BOOOOM


Bisa-bisanya Irsyad berkhayal liar. Ya, yang tadi itu hanyalah khayalan Irsyad belaka. Tidak ada kejadian manis yang berlanjut di atas ranjang itu. Dari awal, tidak ada juga yang di mulai, apalagi harus melanjutkannya. Sikap Irsyad diluar dugaan, dan penuh kejutan. Untungnya, Irsyad yang berkhayal nakal tadi tidak diketahui kebenarannya oleh Kila.


"Ooh, maaf Kila. Tadi, saya...," ucap Irsyad kikuk dan gagap. Mereka sama-sama bangun dari posisi yang tidak biasa di ranjang itu. Irsyad langsung bangkit dan kepalanya yang tak gatal sudah menjadi objeknya untuk ia garuk. Ia malu pada dirinya sendiri. Dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal setidaknya dapat meredam itu.


"Umm..., Kak Irsyad ...? Kalau Kila boleh tahu tadi Kak Irsyad ngomong apa? Boleh apa tadi? Boleh ngapain? Boleh gimana tuh maksudnya?" ujar Kila untuk membuat suasana menjadi lebih cair meski pengucapannya terdengar kikuk efek posisi tadi yang masih terasa. Lagi, Kila yang memulai pembicaraan, sebab Irsyad dari tadi seperti terlihat canggung saja setelah bangkit dari posisi barusan.


Sebenarnya, Kila juga penasaran dengan sikap Irsyad yang dua kali berturut menggantungkan ucapannya. Yang pertama, saat mereka dalam posisi itu dan bertatap cukup lama. Kila ingin menanyakan kelanjutan ucapan itu, tapi jantungnya meminta untuk diselamatkan lebih dulu. Kila penasaran, izin apa yang ingin Irsyad tanyakan pada Kila? Boleh untuk apa?


Yang kedua, saat bangkit dari posisi itu, tepat setelah kalimat Kila mengakhiri posisi itu. Irsyad seperti ingin menjelaskan sesuatu, tapi ia menggantungkan ucapannya.


"Boleh apa maksud kamu? Apa saya ada mengucapkan sesuatu sebelumnya?" tanya Irsyad pura-pura tidak tahu. Entah kenapa, Irsyad ingin mengelak dari kejadian yang sangat memalukan barusan.


"Tadi, Kak Irsyad ngomong waktu di atas ranjang itu. Kak Irsyad mau minta izin apa ke Kila?" balas Kila mengingatkan. Setelah diingatkan seperti itu, tidak ada celah lagi untuk Irsyad mengelak.


"Ya..., itu tadi saya hanya ingin bilang kalau...," ucap Irsyad menggantung lagi.


"Kalau..?" tanya Kila tak sabar ingin mendengar kelanjutannya. Irsyad mengalihkan pandangan dari mata Kila. Trik psikologi dasar itu terbukti sekarang. Jika kamu ingin tahu seseorang sedang berbohong atau tidak, maka tatap saja matanya saat ia bicara. Jika ia mengalihkan pandangan dan menatap mata kamu balik, itu artinya ia sedang berbohong atau tidak percaya diri dengan apa yang ia ucapkan. Dan di posisi inilah Irsyad sekarang. Mata Kila menatapnya, dan mata itu terlihat bersemangat untuk mengetahui kebenarannya.


Irsyad memantapkan hatinya. Ia sudah dapat berpikir dengan jernih dan ia tidak ingin mengelak lagi. Hal seperti itu sungguh bukan seperti dirinya. Meski sebelumnya ia mengakui bahwa khayalan nakalnya tadi itu memiliki sensasi seperti nyata adanya. Ia juga berpikir panjang agar khayalannya tadi terwujud tanpa merugikan pihak manapun. Ia memang mengalihkan pandangannya, tapi ia hanya mengalihkan pandangannya sejenak, lalu kembali mantap membalas tatapan mata Kila yang masih di tempat yang sama dengan jawaban yang sudah ia persiapkan di pikirannya.


"Kalau...., saya akan menjadi dosen lagi dalam waktu dekat ini, kan? Di kampus kamu tempatnya. Jadi, bolehkah saya menjadi dosen pribadi kamu? Tunggu..., kamu pasti berpikir kalau saya tidak percaya dengan kemampuan belajar kamu, ya? Bukan seperti itu. Dengar, saya ingin kamu cepat lulus. Saya kadang merasa sedih tidak dapat membantu apapun di saat kamu begitu rapuh dan kadang merasa lulus lebih cepat itu adalah target yang sangat sulit untuk digapai. Padahal, awalnya lulus lebih cepat itu adalah upaya kamu untuk tidak menahan saya agar tetap terikat dengan janji yang saya buat dengan orang tua kamu. Artinya, saya juga harus ikut berjuang bersama kamu. Jadi, biarkan saya menjadi dosen pribadi kamu saat di rumah. Kamu boleh tanya apapun yang dapat mempermudah perkuliahan kamu. Tentu saja, saya tidak akan memberikan jawaban atau kemudahan ataupun jalan pintas untuk ikut campur langsung saat kamu ada tugas. Disini, saya hanya ingin menjadi dosen saja seperti dosen di kampus pada umumnya. Dan, saat di kampus nanti saya bisa mengawasi perkembangan belajar kamu juga. Oiya, karena kita akan tinggal bersama, kamu tidak perlu repot-repot lagi untuk memikirkan akan terlambat ke kampus, atau motor yang tiba-tiba mogok. Kamu sudah ada saya yang bersedia mengantarkan, lagian tujuan kita juga sama. Dan terakhir, saya ingin yang saya lakukan ini mendapat imbalan dari kamu. Tentu imbalannya bukan macam-macam, kamu tenang saja. Saya hanya ingin, kamu memberikan saya tempat sesekali untuk merasakan menjadi suami seutuhnya. Tenang saja, saya tidak akan melanggar kesepakatan pernikahan kita. Saya akan tetap memegang janji itu. Begitu saja yang ingin saya ucapkan, saya tidak ingin menerima penolakan," jelas Irsyad panjang lebar.


"Eeee.....?" Kila teriak keheranan dalam hati. Sedangkan di muka, Kila polos tanpa ekspresi. Ekspresi apapun tidak dapat mewakili keadaan Kila saat ini. Si beliau yang susah di di tebak itu benar-benar penuh kejutan ucapannya.


...****************...