Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Akrab dengan Ibu Kos



Kila sangat berterimakasih atas tumpangan Farhan semalam. Ia bingung ingin membalasnya dengan apa. Harus ditanyakan langsung memang, seperti makanan kesukaan misalnya, agar dibuatkan sebagai bentuk terimakasihnya. Masalahnya, setelah menjadi tetangga, Kila belum mengetahui nomor ponselnya Farhan. Tidak mungkin ia ujuk-ujuk mengetuk pintu rumah Farhan hanya untuk menanyakan makanan kesukaan Farhan saja, itu sangat aneh padahal mereka baru kenal.


Kila keluar menuju toserba dekat kosnya. Ia kehabisan perlengkapan mandi seperti sabun dan kawan-kawannya. Ia memang sudah kesusahan di awal karena tidak mendapat dukungan finansial lagi dari Riska, tapi karena kepandaian Kila itu bukan masalah lagi sekarang. Ia mencoba melakukan bisnis sebagai dropshipper, dan dari situlah ia bisa bertahan hidup sekarang. Tidak sia-sia selama ini gadis itu selalu menghemat uang bulanannya, dan simpanan itulah yang dijadikan modal bisnisnya.


"Assalamu'alaykum, Bu Citra. Apa kabar?" Saat Kila keluar, rupanya ia melihat ibu kos nya juga yang terlihat baru saja ingin masuk rumah.


"Wa'alaykumussalam, Kila. Kabar Ibu baik. Kamu apa kabar? Mau keluar, ya?" sapa Citra balik.


"Aa, kabar Kila baik juga, Bu. Iya, nih, mau keluar beli perlengkapan mandi," jawab Kila.


"Singgah dulu yuk, Ibu punya banyak simpanan barang perlengkapan mandi. Ini juga baru belanja keperluan anak kos. Jadi, Ibu mau minta bantuan kamu juga," ujar Citra menawarkan. Kila sempat ragu menerima perlengkapan mandi yang bukan fasilitas anak kos. Tapi, ia juga tidak dapat menolak karena di ucapan Citra juga tersirat sebuah permintaan untuk menolongnya.


"Ya udah, kalau gitu, Bu. Terimakasih banyak sebelumnya. Ibu baik sekali ingin memberikan saya perlengkapan mandi yang bukan fasilitas untuk anak kos. Jazakillahu khair, Bu," ucap Kila kemudian berjalan menuju rumah Citra.


"Yuk, silahkan masuk," sila Citra. Kila mengikuti langkah kaki Citra ragu-ragu karena belum pernah ke rumah ini sebelumnya.


...****************...


Saat mereka sudah selesai menyusun barang keperluan anak kos, Kila pun juga sudah menerima perlengkapan mandinya secara gratis. Ia ingin langsung pulang, namun tidak enak ingin bicara setelah diberikan sesuatu yang ia inginkan.


"Kila, kamu bisa bantu Ibu lagi, nggak?" Citra menawarkan lagi.


"Tentu, Bu. Apa lagi yang bisa Kila bantu?" jawab Kila cepat.


"Aaa, ini, Ibu mau membuat bolu untuk camilan keluarga malam ini," ujar Citra.


"Wah, camilan. Boleh, Kila sangat senang bisa ikut membantu membuat juga. Kila juga sering membantu nenek Kila membuat bolu juga." Kila menjawab dengan sangat sumringah. Citra tidak menyangka dengan respon dengan nada bicara Kila itu. Ia tertawa kecil setelah Kila menjawab seperti itu.


"A-a, itu..., Kila juga suka camilan, Bu. Kalau boleh, Kila nanti minta bolunya juga, ya, Bu?" Kila kini berucap dengan malu-malu. Tawa Citra langsung pecah karena sikap Kila ini.


"Hahaha, kalau itu udah pasti, dong, Kila. Nggak mungkin Ibu minta tolong ke kamu, tapi nggak ngasih ke kamu juga camilannya." Citra berucap dan sedikit diselai tawa.


"Lagi-lagi, Terimakasih banyak, ya, Bu." Kila merai kedua tangan Citra saat mengucapkan itu saking senangnya. Citra berhenti membuat tawa karena sedikit terkejut dan ia mengangguk sebagai respons dari ucapan Kila.


Kila memang begitu, ia sangat semangat dengan camilan. Apalagi, ia belakangan ini mengurangi hobi ngemilnya itu. Sebuah rezeki saat diajak Citra untuk membuatnya langsung dan diberikan sebagiannya pula.


...****************...


"Hah? Menyelamatkan bagaimana maksudnya?" tanya Citra heran.


"Um, pokoknya menyelamatkan, hehe. Kila pamit dulu, ya, Bu. Assalamu'alaykum." Kila malah cengengesan menjawab. Ia kemudian beranjak menuju kosannya.


Kila tidak mungkin menceritakan tentang hobi ngemilnya itu. Ia tidak sengaja menyebutkan menyelamatkan, yang maksudnya adalah karena Citralah akhirnya Kila dapat mengemil kembali. Citra tidak mengerti memang dengan ucapan Kila itu, semua sikapnya juga aneh bagi Citra. Tapi gadis itu unik, Citra menyukai keunikannya.


Saat sudah selesai dengan gadis itu, Citra kembali ke dapur untuk menyiapkan camilan tadi untuk keluarganya. Saat ingin berbalik, ia malah berpapasan dengan anaknya.


"Bunda kenapa senyum-senyum begitu?" ucap anak laki-laki itu.


"Eh, Irsyad. Kamu di rumah ternyata. Bunda kira kamu keluar. Kalau tahu ada kamu tadi, bunda minta di anterin aja belanja barang kebutuhan untuk anak kos. Dan harusnya tadi kamu bantuin bunda juga buat camilan." Citra mengomel sedikit agak kesal harus menyupir sendiri dan belanja sendiri. Anak laki-laki itu adalah Irsyad. Kila belum mengetahui kalau Citra memiliki anak laki-laki yang ternyata wali kelasnya itu. Kila hanya tahu dari cerita Citra yang menceritakan bahwa ia hanya memiliki satu anak dan anak itu sudah dewasa, itu saja.


"Iya, Irsyad memang nggak kemana-mana. Irsyad belum selesai memeriksa tugas murid. Irsyad minta maaf, ya, Bun, nggak bisa bantu bunda." Irsyad langsung sigap menjelaskan dan meminta maaf, dengan mimik wajah merasa bersalahnya.


"Iya, nggak masalah, sih. Tadi ada yang bantu bunda soalnya," ucap Citra memaafkan.


"Siapa, Bun?" tanya Irsyad cepat.


"Anak kos. Bantuin bunda nyusunin barang dan buat camilannya juga," jawab Citra.


"Anak itu unik, deh, Syad. Dia semangat sekali waktu bunda minta tolong untuk bantuin buat camilan. Katanya dia sering bikin juga dulu, sama neneknya. Dia juga ngaku kalau dia suka ngemil juga. Eh, tadi dia ada ngucapin makasih karena udah menyelamatkan dia, bunda nggak ngerti deh maksudnya. Memang unik sekali gadis itu," lanjut Citra. Ia ingin membagi kesenangannya pada Irsyad karena keunikan gadis itu.


"Ee, sepertinya aku mengenal orang dengan sifat seperti itu," gumam pelan Irsyad. Citra mendekatkan telinganya ke Irsyad sebagai respons karena tidak terlalu mendengar ucapan Irsyad.


"Siapa namanya, Bun? Anak SMA, kah?" Irsyad menormalkan kembali volume suaranya. Citra sedikit mundur karena merasa kaget dengan gelombang suara Irsyad, sebab Citra masih mendekatkan telinganya ke Irsyad.


"Namanya Kila. Setahu bunda dia satu sekolah sama Farhan. Oiya, bukannya kamu ngajar di sekolah Farhan juga, ya? Mungkin gadis ini pernah kamu ajar juga, Syad." Citra menjawab seraya berpikir dengan pose memegangi dagunya dengan tangan kanannya. Ia tahu Farhan bukan hanya sekedar sebagai tetangga saja, tapi anak itu juga sering bermain ke rumah Citra dulu.


"Tidak mungkin, kan, orang yang dibicarakan bunda ini adalah Kila, muridku? Kalau memang benar, cepat sekali dia akrab dengan bunda?" batin Irsyad.


...****************...