
Perjalanan pulang Irsyad dan Kila sangat terasa panjang. Apalagi dengan Irsyad melambatkan laju motornya, ditambah dengan pelukan Kila yang tak kendur sedikitpun. Selama perjalanan tidak ada yang buka suara baik Irsyad maupun Kila. Karena itu, perjalanan mereka terasa panjang dan waktu terasa sangat lambat.
Setelah lama di perjalanan pulang, akhirnya mereka sampai di rumah. Motor yang digunakan tadi juga sudah dimatikan. Tapi, sudah sampai di rumah, kini Kila enggan turun. Ia masih tetap memeluk Irsyad, seperti tak ingin melepasnya.
"Kila, kenapa? Tidak mau turun? Masih mau jalan-jalan lagi?" tanya Irsyad heran.
"Sebegitu cintanya kamu ke saya, sampai tidak mau melepaskan pelukan ini? Kita sudah sampai, Kila. Kamu sudah bisa melepasnya kalau mau," ujar Irsyad. Kila masih enggan turun dan malah lebih mengeratkan pelukannya.
"Kila, kenapa semakin erat pelukannya?" batin Irsyad.
"Saya sangat senang mendapat pelukan sukarela dari kamu. Tapi sekarang sudah waktunya untuk turun. Saya juga harus siap-siap untuk merapikan barang-barang untuk kembali ke Turki," ucap Irsyad lagi tapi tak digubris sedikitpun oleh Kila.
"Kila, Hei, kamu kenapa? Ada yang ingin kamu sampaikan kepada saya?" tanya Irsyad seraya menatap ke belakang sejenak untuk melihat Kila. Kila mengangguk menanggapi di punggung Irsyad.
"Baiklah, silahkan kamu sampaikan," seru Irsyad mempersilahkan.
Ada jeda sedikit untuk Kila melakukan persiapan tentang apa yang ingin ia sampaikan. Irsyad agak penasaran karena Kila sepertinya akan membicarakan hal yang serius.
"Tapi tadi waktu di motor, Kak Irsyad ada yang ingin dibicarakan juga, kan?" alibi Kila menunda. Ia tampak masih belum siap mempersiapkan.
"Iya, memang. Tapi kamu saja yang duluan. Saya belakangan," balas Irsyad.
"Kamu mau menyampaikannya sambil peluk saya? Pelukan kamu tidak mau lepas dari tadi. Tidak baik tahu, untuk jantung saya," ucap Irsyad menggoda untuk memaksa Kila segera bicara. Sebab, Kila memberikan jeda lagi sebelum itu.
"Biarkan gini dulu sampai Kila selesai bicara, ya, Kak?" pinta Kila. Sebenarnya ia tidak berani menatap Irsyad untuk pengungkapan ini. Dengan memeluk Irsyad dari belakang, ia bisa mengalihkan untuk tidak menatap mata Irsyad. Ia juga merasa bersalah dengan yang ia lakukan. Pikirnya, dengan memeluk Irsyad lebih lama lagi akan menebus kesalahannya itu meski hanya sedikit.
"Iya, tidak masalah. Ya sudah, kamu lanjutkan. Apa yang ingin kamu sampaikan?" Irsyad mempersilahkan.
"Sebelumnya, Kila mau nanya dulu ke kakak. Apa Kak Irsyad selalu memakai cincin nikah kita meskipun kakak di Turki?" tanya Kila sebagai pembuka sebelum persiapannya benar-benar matang.
"Kenapa bertanya begitu? Tentu saja saya selalu pakai. Cincin ini simbol status perkawinan saya. Cincin ini tanda saya setia dengan istri saya. Cincin ini sebagai kode kepada semua perempuan mencolok mendekati saya, jika sudah tahu kalau saya sudah punya istri itu akan menciutkan niat mereka. Saya sangat bangga memakai cincin ini. Tidak pernah sekalipun saya melepasnya." Irsyad menjelaskan seraya menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya ke Kila. Kila hanya bisa melirik dari belakang. Irsyad juga mencoba mengimbangi Kila, ia paham kalau Kila tidak ingin membahas topik ini dengan saling menatap. Makanya Irsyad bicara hanya memandang lurus ke arah cincin yang ia tunjukkan itu.
"Kak, soal di restoran tadi...," ucap Kila terputus. Tampak tanda kalau Kila mulai ingin mengungkapkan apa yang ingin disampaikannya.
"Kenapa di restoran? Soal cincin ini?" tanya Irsyad. Kila mengangguk di punggung Irsyad.
"Boleh saya tahu alasannya? Itu juga yang ingin saya bicarakan ke kamu," tanggapan Irsyad cepat.
"Kila nggak pernah pakai cincin nikah kita setelah akad dan kita liburan bersama waktu itu. Kila nggak sanggup menyandang status sebagai istrinya Kak Irsyad. Orang-orang pasti berpikir kalau kita pasangan suami istri yang aneh, tinggal berjauhan dan saat Kak Irsyad kembali ke Indonesia, kita tidak pernah tidur bersama."
"Kila bukan nggak mau menyandang status ini. Cuma, rasanya cincin itu memberi beban pikiran ke Kila. Kila juga nggak mau kepikiran terus tentang status Kila sekarang, karena setiap melihat cincin itu Kila ingat betapa tak mampunya Kila menjalankan peran sebagai istri. Kila belum sanggup mendengar perkataan orang-orang tentang keburukan Kila dan ketidakmampuan Kila."
"Pakai cincin itu juga sedikit menghambat Kila dalam perkuliahan. Pasti tiap teman akan bertanya tentang status pernikahan Kila jika melihat cincin melingkar di jari Kila. Kila menghindari itu supaya lebih fokus, sesuai tujuan awal Kila untuk cepat lulus dan kalau bisa bersamaan lulusnya dengan Kak Irsyad. Kila juga belum siap dikenalkan oleh Kak Irsyad sebagai istri kakak. Kila merasa pernikahan yang kita jalani ini hanya sebagai keterpaksaan karena wasiat nenek. Kila tidak tahu harus menjelaskan seperti apa pada mereka yang bertanya bagaimana kita berakhir menjadi pasangan suami istri seperti ini."
Segala persiapan yang dibuat Kila telah matang dan apa yang ia ingin sampaikan sudah terungkapkan semua. Ada kelegaan di hati, tapi dengan respons Irsyad setelahnya sangat menyayat hati Kila.
Irsyad melepaskan pelukan Kila. Seketika itu juga, air mata Kila jatuh. Pelukannya dilepas oleh Irsyad. Apa penyebabnya, membuat Kila berpikir negatif tentang ketidaksukaan Irsyad terhadap alasan Kila tidak memakai cincin nikah mereka.
Irsyad berdiri di depan Kila yang masih duduk di motor. Ia menatap Kila dalam-dalam, tampak Kila yang sedang berusaha menghapus air matanya yang terus-menerus mengalir.
"Kali ini jangan menolak lagi. Biarkan saya menghapus air mata kamu," ujar Irsyad meminta izin. Kila kemudian berhenti menghapus air matanya dan membiarkan Irsyad yang melakukannya sebagai gantinya.
"Tidak perlu mengkhawatirkan itu. Itu hanya sebuah cincin, kamu tidak memakainya tidak akan merubah status kamu sebagai istri saya. Jika kamu tidak memakainya, tidak masalah bagi saya. Kita juga pasangan muda, pernikahan kita masih seumur jagung. Biarkan waktu berjalan sampai kamu siap memakai benda itu. Untuk kedepannya, saya akan hati-hati mengenalkan kamu sebagai istri saya, karena kenyamanan kamu lebih utama," ucap Irsyad seraya menepiskan air mata Kila.
"Kakak nggak marah? Nggak kecewa?" tanya Kila. Kali ini Kila mencoba menatap Irsyad balik.
"Tidak, sama sekali tidak. Justru saya senang kamu mau menceritakannya. Saya payah dalam memahami perasaan, apalagi perasaan wanita. Saya tidak marah atau kecewa, karena saya mencoba untuk mengerti perasaan kamu," jawab Irsyad lembut menenangkan Kila.
"Kalau nggak marah, Kak Irsyad kenapa tadi melepas pelukan Kila?" tanya Kila lagi.
"Saya tidak tahan jika bicara tanpa saling tatap. Kalau begini, kan, lebih baik. Saya bisa melihat sisi kamu yang lemah saat menangis seperti ini. Tapi tenang saja, itu tidak akan mengurangi kecantikan kamu di mata saya," jawab Irsyad menggoda. Kila seketika tersenyum mendengar ucapan Irsyad itu.
"Nah, gitu, dong. Kalau senyum jadi makin cantik, deh," lanjut Irsyad menggombal.
"Kak Irsyad bisa aja gombal. Belajar dari mana coba?" tanya Kila berani, tapi wajahnya menunduk.
"Tidak perlu tahu. Yang penting saya bisa menyenangkan hati kamu."
...****************...