Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Kila Berkegiatan



Libur tahun baru sudah terlewati. Dua hari setelah tahun baru, akhirnya kegiatan yang telah didaftarkan oleh Kila harinya tiba pula.


Sebuah kegiatan dimana susunan kegiatannya semua sangat positif. Kegiatan ini adalah aksi amal mengunjungi panti-panti asuhan. Kila sebelumnya sudah disibukkan untuk menjadi panitia, mempersiapkan segala hal sebelum hari kegiatannya tiba. Semua bantuan sudah dipersiapkan untuk dibagikan sebagai aksi amal.


"Ris, kamu udah nyatat semuanya, kan?" Ira bicara.


"Nyatat apa?" tanya Risa bingung.


"Astaga..., kamu sekretaris di bidang konsumsi. Kan kemaren aku yang nentuin."


"Ih, kebiasaan. Emang kamu siapa main nentuin aku sebagai sekretaris, hah? Lagian, mana ada jabatan sekretaris di kepanitiaan. Yang ada itu ketua, bukan sekretaris, Ra."


"Ya kalau kerjanya sendirian, nanti kasihan Akil. Dia kan ketua konsumsi. Maksud aku, kamu jadi sekretaris supaya mempermudah Akil."


"Terus, jabatan kamu apa kalau gitu? Wakil ketua konsumsi? Atau wakil sekretaris konsumsi? Atau mau jadi wakil lain?" tanya Risa menyindir.


"Hahaha, iya, Ra. Kamu main tunjuk-tunjuk aja," tawa Kila mendengar sindiran itu. Mengingatkan mereka peristiwa SMA dulu yang dari ceritanya, Risa suka menunjuk orang untuk menepati jabatan tertentu, tapi dia menunjuk dirinya sendiri hanya sebagai wakilnya saja yang biasanya tidak terlalu banyak kerja.


"Iya, aku nggak mau kamu repot nanti, Akil. Ya lagian jabatannya cuma sekedar ucapan, bukan tertulis, kok, Ra. Mau ya, Ra?"


"Ya udah, aku terima jadi sekretaris yang ghaib. Nggak di anggap, jadi orang yang ada di balik layar. Aku rela nggak dianggap ada, kok," ujar Risa dengan ekspresi mengeluarkan air mata palsu.


Ira dan Kila tertawa melihat ekspresi itu, dan kejutekan khas Risa itu.


"Ya udah, apa yang mau dikerjain? Tadi kamu bilang mau nyatat, apa yang mau dicatat, Ra?"


"Kamu tanya sama Akil, deh, biar lebih jelas. Soalnya Kila, kan, ketua," lempar Ira.


"Tuh, kan, lempar-lempar tanggung jawab lagi nih namanya. Sama aja kayak jaman SMA dulu," balas Risa kesal.


"Ngomongin soal SMA, aku jadi kangen sama masa SMA kita, guys," ujar Ira mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya, aku juga. Pengen balik ke masa SMA dulu, deh, jadinya," balas Kila ikut bernostalgia.


"Ngapain, Akil? Mau ngerasain mandangin Pak Irsyad diam-diam lagi? Kan, lebih enak sekarang kalau mau lihat Pak Irsyad tinggal lihat, nggak perlu curi-curi pandang," respons Ira. Kebiasaannya yang suka menggoda itu kini kambuh.


Ucapan Ira disambut tawa meriah oleh Risa. Karena itu, seorang senior mendatangi mereka karena begitu berisik. Yang tak lain dan tak bukan, senior itu adalah si galak Yuli.


"Kalian jangan terlalu berisik. Selesaikan segera tugas kalian sebagai panitia. Jangan santai-santai aja. Kerja!" tegas Yuli.


Mereka langsung terdiam mendapat teguran seperti itu. Kaki dan tangan mereka mulai bekerja lagi sesuai arahan si senior galak itu.


"Duh, kegiatan ini berasa reuni nggak, sih, guys?" tanya Risa sambil mengerjakan pekerjaannya.


"Iya, nih. Aku mendaftar ke kegiatan ini karena bingung nggak ada kegiatan yang lain. Kalian tahu sendirilah kalau aku anak yang super aktif. Eh, nggak tahunya Risa sama Akil ikut juga," balas Ira.


"Iya, padahal kita nggak ada janjian, kan? Sahabat memang sehati, nih," respons Risa.


"Hahaha, iya juga. Aku juga mendaftar kegiatan ini untuk mengisi hari libur aja. Benar-benar sehati, sih, kita ini," ucap Kila ikut menanggapi.


"Pak ketos Farhan ada, Ibu OSIS Yuli galak tadi juga ada. Dah, fix sih ini reunian namanya. Cuman kurang Pak Irsyad aja, hahaha," ucap Ira.


"Iya, ya. Dua senior itu kok bisa satu kegiatan sama kita, ya? Mana si Yuli tetap aja galak, lagi. Padahal tadi cuman ketawa dikit doang, si Yuli malah langsung sewot gitu. Hadeh..., untung bukan dia kakak koordinator kita. Kalau dia, begh... nggak mau aku ikut kegiatan ini," cibir Risa.


"Sabar, Ra. Kamu jangan begitu, dia juga udah banyak bantu kita walaupun kebanyakan julid, sih, hahaha," respons Ira.


"Iya iya, Bu Irsyad," ucap Ira dan Risa bersamaan. Kila tidak keberatan dengan godaan semacam itu, karena dirinya sudah menerima dengan senang hati status yang disematkan oleh kedua sahabatnya.


...****************...


Kegiatan amal sudah selesai. Panitia juga sudah selesai beberes. Sudah saatnya untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Kil, aku nebengnya sama Ira, ya," pamit Risa.


"Iya, kalian hati-hati ya," balas Kila. Ira dan Risa sudah lebih dulu jalan. Sementara Kila masih memeriksa semua barangnya untuk memeriksa kelengkapannya.


Kila kemudian mengemudikan motornya untuk pulang ke kosannya. Ditengah jalan, ia berhenti ke sebuah masjid untuk menunaikan shalat isya. Kegiatan memang hanya berlangsung sampai pukul lima sore, tapi briefing nya itu yang membuat lama.


Kila terbilang masih baru untuk mengendarai motor saat malam hari. Makanya, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di jalan, setidaknya ia sudah menuntaskan kewajiban shalat nya.


Kila ikut menunaikan shalat berjamaah, karena ia tiba duluan sebelum adzan isya berkumandang. Setelah selesai ikut berjamaah, ia segera menuju motornya untuk cepat pulang sebelum hari semakin larut.


"Kila, baru shalat dari masjid ini juga?" Farhan menyapa yang sudah lebih dulu ada di parkiran.


"I-iya, Kak."


"Kalau gitu, ayo pulang bareng."


"Tapi Kila bawa motor, Kak."


"Iya, maksudnya pulang bareng pakai motor masing-masing. Kamu belum biasa berkendara di malam hari, kan? Tenang aja, nanti saya bawa motor lebih pelan dan kamu bisa jadikan saya acuan dari belakang. Dengan begitu, kekhawatiran kamu bisa berkurang sedikit."


"Ya udah, boleh, deh. Silahkan duluan, Kak."


"Oke, saya duluan kalau gitu."


Tempat acara amal dilakukan tidak jauh dari kompleks mereka tinggal, jadi hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja dari masjid tadi. Setelah dipandu oleh Farhan, akhirnya mereka sampai di kompleks perumahan mereka.


"Gimana tadi acaranya? Capek banget, ya?"


"Hehe, iya, Kak."


"Tapi lumayanlah, bisa mengisi waktu luang, kan? Soalnya Kak Irsyad nggak bisa pulang liburan ini, gitu, kan?"


Percakapan awalnya normal. Tapi saat Farhan membawa-bawa topik mengenai Irsyad, Kila diam sejenak. Memikirkan niat terselubung dari Farhan.


"Oke, Kila. Kamu sampai rumah jangan lupa istirahat yang cukup. Saya ke rumah dulu kalau gitu. Assalamu'alaykum," ujar Farhan karena ucapannya barusan tidak digubris oleh Kila.


"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Makasih banyak untuk hari ini, Kak. Jazakallahu khair."


"Oke."


Kila sudah bersikap biasa saja pada Farhan. Ia juga tidak ingin memutuskan sambungan tali silaturahim hanya karena masalah sepele seperti itu. Sikap Kila yang barusan ditunjukkannya ke Farhan dianggap Kila masih tergolong normal, tidak melampaui batas.


Berbeda dengan Farhan yang diam-diam senang karena Irsyad yang tidak bisa pulang ke Indonesia. Satu kegiatan bersama Kila sudah membuatnya bahagia bisa dekat kembali dengan Kila.


...****************...