
Pertemuan penuh kejutan bagi Kila. Masih tersisa tanda tanya besar bagaimana bisa Irsyad sudah sampai di Indonesia, tanpa mengabarinya sekalipun. Irsyad kemudian mempersilahkan Kila duduk di ruang keluarga untuk Irsyad menjelaskan semuanya ke Kila. Kila merasa sedih karena kedatangan Irsyad ini tidak diberitahu oleh Irsyad karena dirinya terlalu sibuk. Kila cukup banyak mengucap maaf dalam menanggapi penjelasan Irsyad. Untunglah keduanya saling mengerti setelah mereka mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya terjadi.
"Oke, kalau begitu, apa saya perlu panggil bunda? Soalnya kedatangan kamu malam-malam begini mau cari bunda, kan? Mau minta pembalut kalau saya tidak salah dengar. Begitu, kan?" ujar Irsyad membuat jeda dari pembahasan mereka. Tapi, itu seperti terlalu frontal terucap dari bibir Irsyad. Kila merasa sangat malu, pasalnya Irsyad mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Kila saat di depan pintu tadi. Lagian, siapapun akan mendengar jika Kila berbicara dengan volume suara lebih keras seperti itu.
"Aaaaaa.... kamu kenapa ngomong keras-keras, Syad? Apalagi di depan Kila langsung. Duh..., nggak mikirin perasaan Kila kamu, ya," balas Citra yang tiba-tiba ikut menimbrung ke meja makan setelah dari dapur.
"Nah, bunda sudah ada. Kalau bunda bilang begitu, Irsyad tinggal kalau begitu. Sepertinya, ini pembicaraan antar perempuan saja," ucap Irsyad mencoba mengerti. Ia berjalan menuju dapur yang di rasa cukup untuk tidak bisa mendengar pembicaraan dua perempuan itu.
"Duh, Irsyad gimana sih? Eh, Kila udah butuh banget pembalutnya, ya?" ucap Citra pada Kila.
"Iya, Bun. Kila kehabisan, baru mulai hari ini, sih, datang bulannya," balas Kila. Dan karena datang bulan inilah Kila mendapatkan kejutan yang luar biasa. Kila jadi bingung harus merasa senang atau sedih karena peristiwa barusan di sebabkan oleh datang bulannya.
"Waduh..., gimana, ya? Bunda juga belum belanja bulanan. Soalnya ini kan, masih akhir bulan. Jadi, bunda nggak punya stok lagi," ungkap Citra.
"Wah..., gitu ya, Bun? Mau ketuk pintu anak kos yang lain, tapi Kila segan karena udah kemalaman. Mau ke toserba sekarang, Kila takut karena udah malam begini," balas Kila agak sedih. Mendengar itu, Citra langsung berinisiatif untuk membantu. Ini memang sudah sangat malam, sudah pukul sebelas malam. Siapapun pasti akan takut keluar malam-malam begini.
"Syad, Irsyad...! Coba ke sini sebentar, tolongin bunda!" panggil Citra.
"Ada apa, Bunda?" sahut Irsyad.
"Bunda minta tolong, kamu temani Kila ke toserba. Udah jam sebelas lewat, nih. Nggak baik biarin cewek keluar malam-malam. Apalagi biarin istri sendiri keluar malam-malam begini, bahaya tahu."
"Ke toserba, ya? Boleh, ayo Kila!"
"T-tapi, Kak Irsyad pasti lelah karena baru sampai di rumah. Ditambah kejadian tadi, pasti semakin lelah," ucap Kila ragu.
"Kejadian tadi? Kejadian yang mana? Yang memeluk kamu itu? Siapa yang lelah memeluk kamu? Justru, dengan memeluk kamu, lelah saya karena baru melakukan perjalanan jauh hilang seketika," balas Irsyad.
"Toserba nya dekat, kan? Kita naik motor saja. Tunggu sebentar ya, Kila," lanjut Irsyad.
"Ini, pakai jaket saya. Agak kebesaran, sih. Kita mau keluar malam, jadi saya tidak ingin kamu masuk angin karena kedinginan," ucap Irsyad seraya menyuguhkan sebuah jaket pada Kila. Kila sudah menunggu di depan rumah bersampingan dengan motor yang akan mereka pakai. Kila langsung menerima jaket itu, tapi tidak langsung memakainya. Kejadian ini seperti Dejavu baginya, makanya ia melamun sebentar memikirkannya.
"Ayo jalan! Lho, belum kamu pakai juga jaketnya? Ada apa? Apa perlu saya yang memakaikannya?"
"Nggak, Kak. Ini langsung Kila pakai, kok."
"Jadi, kenapa kamu melamun begitu? Masih rindu dengan saya, ya? Kita sekarang, kan, akan berkencan, jadi kamu bisa melepas rindu lagi dengan memeluk pinggang saya saat berkendara. Kalau bisa, kita cari toserba yang paling jauh sekalian, supaya kamu puas meluapkan rindu kamu ke saya."
"Kak Irsyad, apaan, sih? Bukan karena itu, kok, Kila melamunkan kalau kejadian ini kayaknya pernah terjadi sebelumnya."
"Kejadian apa?"
"Kak Irsyad datang dan meminjamkan jaket, saat itu hujan memang lumayan deras dan Kila terlihat kedinginan. Makanya Kak Irsyad mau meminjamkan jaket untuk Kila."
"Ooh, saya ingat kejadian itu. Tapi, lebih baik kita pergi sekarang sebelum hari semakin malam. Kamu sangat membutuhkan pembalut itu, kan? Sampai malam-malam mengunjungi rumah bunda."
"Iya, tapi jangan disebut-sebut terus dong. Malu tahu," ucap Kila pelan. Sengaja, agar tidak terdengar Irsyad.
...****************...
"Jadi, ini namanya pembalut?" tanya Irsyad polos saat Kila mengambil barang yang disebut Irsyad barusan. Sebenarnya Irsyad memang benar-benar tidak tahu sama sekali seperti apa bentuk pembalut itu. Ia hanya sering mendengar kata itu, ia juga tahu fungsinya, tapi tidak tahu bentuknya. Ini kali pertama ia melihat dengan detil bagaimana bentuknya dari kemasan yang menampilkan gambar dari bentuk asli pembalut itu.
"Kak Irsyad, ih!" ucap Kila kesal. Setelah mengambil barang barusan, ia beralih ke rak lain dengan langkah cepat karena kesal dengan Irsyad. Kenapa Irsyad tidak mengerti kalau kalimat yang diucapkan Irsyad itu bisa membuat Kila malu mendengarnya? Langkah Irsyad juga tidak kalah cepat untuk mengikuti Kila.
"Lho, kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapan saya?" tanya Irsyad seraya menyamai langkahnya dengan langkah Kila.
"Nggak ada! Kila mau langsung ke kasir. Kak Irsyad duluan aja, tunggu Kila diluar."
"Ya sudah, saya tunggu di luar kalau begitu."
"Kak Irsyad mau nitip beli apa? Biar Kila ambilkan sebelum ke kasir."
"Umm... saya rasa saya mau minuman yang sama seperti yang kamu ambil itu."
"Itu aja? Nggak ada yang lain? Atau ada yang dibutuhkan, gitu?"
"Ada."
"Apa itu?"
"Saya membutuhkan kamu."
"Apaan, sih, Kak. Kila nanya serius, tahu."
"Itu tadi saya juga serius, Kila."
"Kalau yang lain? Nggak ada barang lain yang mau dititip beli, kan?"
"Itu saja sudah cukup."
"Oke, kalau gitu kakak duluan aja. Nanti Kila nyusul."
"Kila, jangan lama-lama, ya."
"Iya, Kak. Kenapa sih, Kak Irsyad? Tinggal ambil minuman yang sama, terus langsung ke kasir, kok. Nggak bakal lama. Kak Irsyad tenang aja."
"Iya, saya tidak ingin sesuatu yang saya butuhkan berpisah dari saya walau cuma sebentar."
"Minumannya atau...?"
"Keduanya."
"Hmm... keduanya, ya?"
"Tentu saja kamu, Kila. Sudah terlalu malam juga. Ya sudah, saya lebih baik langsung ke parkiran saja menunggu kamu di luar."
...****************...