Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
"Bahkan Mahkotaku Masih Terjaga"



"Pak Irsyad, gimana kabar Akil? Kita udah jarang banget ngobrol sama dia. Terakhir lihat waktu kita nikahan doang. Udah lama banget, hampir setahun, ya? Kangen banget."


Jangan kaget dengan berita itu. Yang bicara adalah Ira di sampingnya berdiri Risa. Lama Irsyad tidak mendengar kabar mereka. Mereka berdua sudah menikah tak lama setelah Farhan dan Yuli menikah. Dua sahabat Kila itu pun diboyong oleh suaminya meninggalkan kota ini. Kebetulan, lebaran tiba, ia mampir ke rumah Irsyad, namun yang terlihat hanya Irsyad saja.


"Kila lagi sibuk dengan persiapan tesisnya. Kalau gitu, saya panggilkan dulu, ya. Kila pasti mengira tidak akan ada lagi yang akan bertamu setelah seminggu lebaran."


"Kitanya baru bisa mudik lebaran kelima, Pak. Maklum, udah ada suami. Jadi, lebaran di rumah mertua dulu, baru bisa mudik ke sini."


"Ooh, begitu. Sembari menunggu, silahkan dinikmati kue lebaran yang ada. Semuanya bikinan rumah, lho."


"Wah..., mantep nih pasti."


Irsyad melihat Kila di kamar. Sejak memasuki semester tiga, ia sangat giat belajar dan banyak membaca buku di meja belajarnya yang ada di sudut kamar. Ia jadi lebih pendiam setelah pernyataan tentang tidak pantasnya dirinya disandingkan dengan orang sebaik Irsyad. Kila mulai merasa demikian, Kila yang pendiam itu kembali. Ia tahu kalau Kila memang pendiam dari dulu, tapi jika sudah seperti ini mengingatkannya pada Kila dulu yang pendiam dan suka melamun. Hanyut dalam pikirannya sendiri, memikirkan masalah yang tak pernah diceritakannya kepada orang lain.


"Kila..., Ada Ira dan Risa di bawah." Ucapan Irsyad sudah cukup kuat, tapi tidak digubris sangking fokusnya Kila.


"Sayang..., di bawah ada Ira dan Risa,"


"Ooh? Mereka datang? Bilangin ke mereka kalau Kila sebentar lagi turun setelah membereskan ini semua, Mas."


"Jangan lama-lama, ya, sayang. Mereka katanya kangen banget sama kamu. Apalagi, mumpung mereka lagi mudik ke sini, lebih baik kamu manfaatin waktunya."


Ada panggilan baru di sana. Semenjak lebaran itu, ada keluarga Irsyad yang protes tentang cara pemanggilan suami istri ini yang terkesan formal, bukan seperti suami istri. Di dukung pula oleh Farhan dan Yuli yang mengejek kikuknya dua pasangan ini jika menggunakan panggilan istimewa satu sama lain. Ditambah permainan truth or dare waktu itu, membuat mereka harus memilih dare. Tantangannya adalah mengganti cara memanggil satu sama lain. Irsyad menambahkan embel-embel "sayang" setelah nama Kila disebutkan atau membuat kata ganti "sayang" kalau ingin menyebut nama Kila, sedangkan Kila mengganti panggilan "Kak" menjadi "Mas".


Semua orang di saat itu sangat puas mendengarnya, membuat Irsyad malu-malu saat disuruh untuk melakukan panggilan baru ini seterusnya agar tidak terlihat kaku sebagai pasangan. Sementara Kila, ia tidak berkomentar banyak, toh, hanya penyebutan panggilan saja yang berubah. Cara bicara Irsyad masih cenderung formal seperti biasa, karena sudah terbiasa seperti itu juga. Namun, sudah ada perubahan sedikit, tidak terlalu baku dan kaku, sama seperti saat Irsyad berbicara dengan orang tuanya.


"Assalamu'alaikum, guys, maaf nunggu lama. Kalian apa kabar?" sapa Kila saat berjalan menuju dua sahabatnya itu.


Semua orang berdiri saat Kila datang. Ira dan Risa sangat senang bertemu Kila, sampai tak sabar ingin berpelukan. Sementara Irsyad, ia terkejut dengan nada bicara Kila yang kembali ceria setelah sekian lama ia menjadi lebih pendiam sejak saat pengungkapan rasa tak pantasnya bersanding dengan Irsyad.


Irsyad membiarkan ketiga sahabat ini bermesraan, ia memutuskan masuk ke ruang kerjanya. Kedatangan mereka membuat senyum Kila kembali terukir. Biarkan para ciwi-ciwi menikmati waktu bersama mereka, pikirnya.


"Gimana kalian? Udah pada isi?" tanya Kila bersemangat.


"Aah, kamu, ya, Akil. Jadi malu. Kamu sendiri, udah isi belum?"


"Kalau ditanya, jangan dibalas dengan pertanyaan balik, atuh. Tadi aku duluan lho, yang nanya." Kila tampak menghindar, tapi itu tidak terlalu ketahuan oleh dua sahabatnya.


"Wah, sebentar lagi aku bakal jadi onty, nih, Ris. Alhamdulillah..., turut bahagia aku, Risa."


"Hehe..., makasih, Kil."


"Nah, kalau aku, masih mau pacaran sama suami dulu. Kita juga belum ada satu tahun nikah, jadi pengen berduaan dulu." Giliran Ira yang bicara.


Risa yang duluan menikah, disusul tiga bulan oleh Ira setelahnya. Menikah di saat Kila baru semester satu menyandang status sebagai mahasiswa strata dua. Waktu itu, mereka sedih sekali harus berpisah karena mereka akan diboyong oleh suaminya.


"Kamu sendiri gimana, Akil?"


"Umm..., kalau aku, sih, udah ada rencana tentang itu. Kayaknya, biar nggak terlalu mengganggu pendidikan, aku mau tunda dulu sampai aku mendapat gelar magister."


"Kok egois banget, sih, Kil? Di luar sana bahkan ada yang pengen punya anak, tapi nggak dikasih sama Allah. Kamu juga, harusnya tahu, kalian sama-sama anak satu-satunya di keluarga, kan? Pasti orang tua kalian pengen banget cepat-cepat nimang cucu. Kamu udah tanya ke dokter keputusan kamu ini?" Risa menanggapi dengan sifatnya yang blak-blakan.


Sesaat setelah tanggapan Risa itu, wajah Kila jadi murung. Lalu, menyadarkan Risa tentang perkataannya yang berlebihan.


"Kil, kok jadi sedih gitu sih, mukanya? Maafin aku deh, aku memang orangnya suka gini. Tapi, kayaknya berlebihan banget deh ngomong kayak gitu tadi. Maafin aku, ya. Pengaruh hormon hamil juga, kali, ya?" ucap Risa dengan rasa bersalah.


Kila langsung mengembangkan senyum baik-baik saja untuk meyakinkan sahabatnya itu.


"Nggak, kok, Ris. Aku malah berterimakasih banget ke kamu. Akhirnya ada yang bilang langsung kalau aku egois. Dulu, bahasan tentang memiliki anak udah pernah dibicarakan sebelum akhirnya aku memutuskan untuk lanjut studi. Dan kesimpulannya, bisa aja aku mau punya anak di masa sekarang, toh, hamil itu sembilan bulan, tidak akan menggangu pendidikan kalau saat melahirkan tiba," ucap Kila seraya mengusap tangan Risa.


"Tapi, aku memang egois seperti yang kamu bilang. Orangtuanya Kak Irsyad pengen banget nimang cucu, tapi aku belum bisa. Bahkan, mahkotaku masih terjaga."


Mendengar pernyataan itu, Ira dan Risa merasa sangat terkejut. Sudah berapa lama pernikahan sahabatnya itu? Rumah tangga macam apa yang mereka jalani? Ingin sekali mendengar cerita lengkapnya dari Kila, tapi mengenai urusan dalam rumah tangga itu harus dirahasiakan. Dua sahabat itu hanya bisa ikut merasakan kepedihannya saja dan menenangkan Kila.


"Aku tarik lagi kata-kata aku, Akil. Kamu nggak egois, kok. Justru, kamu memikirkan calon individu itu yang akan lahir kalau kamu hamil sekarang. Karena pendidikan kamu, pasti rentan untuk mengandung, apalagi usia kandungan muda itu sangat rawan. Meskipun, kurang dari sembilan bulan lagi kamu akan lulus dan wisuda masih terbilang aman untuk mengandung, kamu memikirkan calon individu itu akan merasakan dampaknya kalau kamu banyak pikiran menyelesaikan tesis atau perintilannya. Kamu baik banget malah, Kil. Kamu memikirkan jauh ke depan."


"Kalian pasangan yang serasi, kok, menurut aku, Akil. Kamu mau memutuskan untuk mengambil keputusan seperti itu, lalu Pak Irsyad mau menerima keputusan kamu. Dia juga nggak pemaksa, kan? Buktinya, kamu masih bisa menjaga mahkota kamu. Padahal, bisa aja dia minta dengan alasan mengambil haknya sebagai seorang suami. Lagian, setiap hubungan itu ada macam-macam jenisnya. Aku sama suamiku sebenarnya nggak saling kenal, kita juga baru mau memutuskan untuk menyerahkan hak masing-masing setelah tiga bulan tinggal bersama. Jadi, nggak usah khawatirkan hal itu, ya, Akil." Ira ikut menghibur kesedihan Kila. Entah itu boleh dibicarakan atau tidak. Seingatnya, Risa pernah memarahinya jika menyangkut kehidupan suami istri itu tidak boleh diumbar oleh orang lain. Lagian, pemikiran macam itu mana bisa ditahan lagi kalau yang dipikirkan Ira hanya sekedar untuk menghibur Kila.


Kedua sahabat ini sibuk menghibur Kila. Namun, Kila malah mengalihkan topik dengan mengatakan sangat ingin makna kue lebaran setelah lama belajar. Alhasil, ada sedikit rasa tidak enak di hati mereka karena membuat Kila bersedih. Mereka juga sadar, Kila suka sekali menyembunyikan kesedihannya dengan mengalihkan topik seperti ini. Namun, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan jika urusan seperti ini. Mungkin, hanya doa lah yang kiranya dapat membantu Kila, pikir mereka.


...****************...