
Kedatangan wanita itu membuat semua orang yang berada di kamar kos Kila terkejut. Ira dan Risa baru pertama kali berjumpa dengan mamanya Kila, dan keadaan semakin canggung karena hubungan Kila dan Riska sedang tidak baik.
Sesaat setelah pintu dibuka, Riska dengan cepat memeluk erat tubuh Kila. Ia tidak pernah mendapatkan pelukan dari mamanya, apalagi sampai seerat ini. Ada apa gerangan dengan dirinya yang tiba-tiba datang dan berlaku aneh seperti ini?
"Kila, mama rindu sama kamu, Nak." Riska berujar sambil terus tenggelam dalam memeluk Kila. Nada bicaranya gemetar serasa ingin menumpahkan air mata.
"Mama kenapa bisa ada disini? Terus, mama tahu darimana kalau Kila ngekos disini?" tanya Kila heran, sambil terus berada di pelukan Riska. Setelah mendengar pertanyaan Kila, Riska kemudian melepaskan pelukannya dan berusaha tenang agar tidak gemetar dalam menjawabnya.
"Tadi mama ke sekolah kamu, dan ternyata di sekolah kamu sepi, kayak udah nggak ada siapa-siapa. Kata seorang murid yang mama jumpa semua murid udah ada pulang. Terus mama tanya soal kamu ke dia, dan beruntungnya dia tahu bahkan dimana kos kamu juga dia tahu," jawab Riska.
"Aa, itu pasti Kak Farhan, tapi aku nggak ngasih tahu yang mana kamar kosku, darimana dia tahu?" batin Kila.
"Masuk dulu, Ma," Kila mempersilahkan Riska masuk. Ira dan Risa langsung peka dan memberikan ruang untuk ibu dan anak itu.
"Kenalin, ini sahabat Kila, Ma, Ira dan Risa," ucap Kila memperkenalkan kedua sahabatnya. Riska sangat familiar dengan dua nama ini, kemudian ia baru teringat kalau dua orang ini adalah teman anaknya yang waktu itu disebutkan Kila. Ira dan Risa langsung mengambil tangan Riska untuk di salim. "Benar-benar anak yang sopan", pikir Riska.
"Mama kenapa nggak telepon Kila kalau mau datang?" Kila bertanya seraya menyiapkan minum dan beberapa camilan yang ada untuk mamanya.
Keluarga Kila memang sangat memuliakan tamu. Mereka selalu menyuguhkan apapun yang ada untuk tamu. Begitulah adab dala Islam, memuliakan tamu. Meski kali ini, Riska yang datang sebagai orang tua Kila ia tetaplah dianggap sebagai seorang tamu.
"Iya, hp mama ketinggalan di hotel," jawab Riska.
Ira dan Risa merasa harus segera pulang dan tidak ingin ikut campur dengan urusan keluarga Kila. Risa dan Ira langsung berdiri dan menyampaikan pamit pada ibu dan anak itu dengan sopan dan santun. Lalu pergi meninggalkan kamar kos Kila, dan Risa akan diantar pulang oleh Ira.
Kila merasa senang memiliki dua sahabat yang sangat peka. Karena, ia memang ingin membahas topik yang lebih privasi lagi dengan Riska. Setelah Ira dan Riska pamit, Kilapun ikut duduk di samping Riska untuk membahas topik itu.
"Rumah kita yang itu udah terjual, Ma?" tanya Kila.
"Pekerjaan mama nggak masalah ditinggalkan gitu aja untuk kesini?" tanya Kila ragu-ragu. Ia juga masih canggung, perihal hubungan buruk mereka berdua dari terakhir berkomunikasi waktu itu.
"Mama ke sini karena urusan pekerjaan juga, mau melihat cabang usaha kita disini," jawab Kila. Tentu saja, tidak mungkin seorang Riska dapat mengabaikan pekerjaannya. Perkataannya tentang kerinduannya terhadap Kila dapat dipertanyakan ketulusannya.
"Berapa hari mama mau menetap di kota ini?" tanya Kila lagi.
"Tiga hari. Mama juga udah pesan kamar hotel untuk menetap," jawab Kila. Aa, pernyataan itu memupuskan harapan Kila. Ia tadinya sempat berpikir Riska akan menetap di kamar kosnya karena mampir ke sini.
"Jadi, mama ke tempat tinggal Kila hari ini mau ngapain?" tanya Kila lagi, berusaha untuk tidak mengeluarkan nada marahnya.
"Kila, mama kepikiran kamu. Mama juga kepikiran ucapan kamu waktu itu. Papa dan mama akhir-akhir ini nggak sering sama-sama pergi ke luar kota untuk urusan dinas. Pasti selalu aja kalau nggak mama yang nggak pulang, ya papa. Tapi dibandingkan papa, mama lebih sering pulang ke rumah. Kami jadi jarang bertemu sekarang. Mama mengkhawatirkan, mungkin aja karena mama nggak di samping papa itu kesempatan papa untuk melakukan hal lain diluar pekerjaan. Mama sama papa juga jarang kan ngerjain projek yang sama. Sama-sama keluar kota, tapi nggak tinggal di tempat yang sama. Sama seperti yang kami ucapkan waktu itu." Riska mengungkap kekhawatirannya.
"Jadi, mama ke sini mau minta pendapat Kila?" tanya Kila kemudian perlahan mendekati Riska. Sebagai jawaban, Riska mengangguk.
"Kila nggak tahu, ya, masalah mama dan papa. Lagian dari awal juga kita nggak pernah saling cerita tentang diri masing-masing. Kila cukup terkejut karena mama mau menceritakan ini ke Kila. Padahal, waktu itu perkataan Kila dianggap sebagai adu domba. Tapi, Kila nggak dendam kok dengan peristiwa waktu itu. Kila nggak mau perpanjang masalah waktu itu, Kila juga udah maafin kalian. Perasaan kesal masih ada, sih, mungkin akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu." Kila memulai pernyataan pembukanya.
"Kalau mama khawatir soal papa, tanya aja langsung ke papa. Coba jujur dengan diri sendiri, dan masing-masing juga saling jujur. Mama coba berani bicara duluan, tanya semua kekhawatiran mama selama ini. Lagian hubungan yang baik itu kuncinya komunikasi," lanjut Kila. Entah darimana Kila dapat sebijak ini, padahal pengalaman komunikasi dengan orangtuanya sangat buruk. Mungkin ia secara natural berkata karena intensnya komunikasi antara dirinya, nenek dan Irsyad saat nenek di rumah sakit dulu. Aa, mengingat peristiwa waktu itu, membuat Kila terbawa arus memikirkannya kembali. Nenek dan Irsyad merupakan sosok guru terbaik bagi kehidupan Kila.
"Kamu rindu nenek, Kil?" tanya Riska. Ia melihat Kila sedikit melamun setelah membuat pernyataan itu. Seketika setelah Riska menanyakan itu, air mata Kila tumpah secara natural. Riska langsung sigap memeluk Kila untuk menguatkannya.
"Kila, maafin mama, ya. Mama belum bisa jadi orangtua yang baik buat kamu. Di hari keseratus nenek, mama janji akan ke makam nenek bersama kamu. Mama juga akan mencoba bicara dengan papa. Kila nggak keberatan, kan? Mama usahakan nggak bawa-bawa pekerjaan saat sama kamu. Mama mau menebus waktu kebersamaan kita yang sempat hilang," ucap Riska yang masih memeluk Kila. Kila berharap, ucapan Riska kali ini dapat dipegang.
Sikapnya tadi membuktikan, Riska benar-benar menjalankan perannya dengan baik, bertindak sebagai orangtua Kila. Tidak ada salahnya dengan kedatangannya kali ini. Hubungan ibu dan anak itu sudah lebih baik, dan Kila bisa berdamai dengan kesibukan apapun yang dilakukan mamanya waktu itu.
...****************...