
Sejak nenek dibawa ke rumah sakit, Kila selalu tidur di rumah sakit untuk menjaga neneknya. Ia hanya pulang untuk mengambil baju ganti yang baru saat baju kotornya sedang dalam laundry-an. Ia juga ke rumah untuk menyusun beberapa buku untuk dibawa ke sekolah, biasanya ia akan ke rumah sehabis ashar atau di hari libur ia akan pergi setelah zuhur. Semalam perasaan hatinya seperti roller coaster yang sedang melaju. Ia harap hari ini dapat merasakan ketenangan.
Nenek hari ini tampak begitu tenang, ia bahkan belum bangun di jam biasanya ia bangun. Kila membiarkan nenek istirahat, setelahnya Kila pergi ke kantin membeli sesuatu untuk makan siang.
"Nek, bangun, kenapa tidur terus, sih?" Kila membangunkan nenek setelah selesai melahap makan siangnya.
"Nek, ayo dong bangun," ucap Kila lagi seraya menepuk lengan sang nenek.
"Nek? Nek...?" Kila berteriak memanggil, namun nenek tidak juga bangun.
"Nenek...!" Teriakan Kila semakin kencang bahkan suaranya dapat terdengar sampai lorong rumah sakit.
Kila mulai menangis sambil meneriaki neneknya. Dokter yang kebetulan lewat, memasuki ruangan nenek. Ia menjauhkan Kila dari nenek untuk memeriksa keadaan nenek. Kila masih terus menangisi keadaan nenek. Ia tak ingin apa yang paling ia takutkan terjadi.
"Dik, Innalilahi wa innailaihi Raji'un, Ibu ini sudah tidak bernafas lagi," ucap dokter. Seketika sepenggal kalimat itu meruntuhkan pertahanan Kila. Ia menangis histeris tak terima keadaan.
"Nek... Nenek bangun, Nek. Nenek bilang nggak akan ninggalin Kila, kan? Nek, kenapa nenek ninggalin Kila untuk pergi selamanya? Ini terlalu tiba-tiba, Nek. Nek... nenek, jawab Kila, Nek. Nenek bangun, dong," ucap Kila seraya mengguncangkan tubuh sang nenek. Ia memukul-mukul bantal yang menjadi sandaran tidur nenek sambil terus menitikkan air mata.
"Dik, mohon untuk ikhlas supaya beliau tenang meninggalkan apa yang ia tinggalkan," ucap seorang perawat yang ternyata juga menyusul dokter itu tadi.
"Lebih baik kamu menghubungi keluarga tentang kabar duka ini. Jika adik berkenan, saya bisa membantu menghubungi melalui handphone kamu." Perawat itu menawarkan. Kila merogoh kantong dan menyerahkan ponselnya.
Perawat itu tidak menyangka, kontak yang disimpan Kila hanya sedikit dengan total enam orang. Dan mereka adalah; Mama, Papa, Nenek, Ira, Risa dan Pak Irsyad. Perawat itu mengambil kesimpulan bahwa kontak yang disimpan Kila ini adalah orang terdekat Kila, jadi ia menghubungi mereka berenam dengan pesan teks yang sama.
Sementara Kila, ia belum bis menerima kenyataan dan masih saja mengguncang nenek agar bangun. Ia melontarkan kata-kata maaf atas semua hal yang dibuat Kila menyakiti hati sang nenek. Ia juga mengutip kata-kata nenek tentang pesan-pesan terakhir sebelum ia meninggal. Dan karena pesan yang nenek ucapkan itu, ia benar-benar pergi sekarang.
Orang pertama yang datang ke rumah sakit itu adalah Irsyad. Ia sangat terkejut membaca sebuah pesan dari Kila. Ia langsung menuju ke rumah sakit setelah membacanya. Terlihat Kila yang begitu terpuruk dan ia masih saja menggoncangkan tubuh nenek dan sesekali memeluknya.
Irsyad menghampiri Kila, dan menariknya dalam sebuah dekapan. Kila malah menjadi semakin histeris karena ia harus terhenti membangunkan neneknya.
"Lepasin, Pak. Saya mau bangunkan nenek dulu. Nenek belum pergi, nenek cuma tidur sebentar saja," ucap Kila memberontak seraya berusaha melepas dekapan itu. Sedangkan Irsyad tak akan kalah dan semakin mendekap erat tubuh Kila.
"Kila, kamu tarik nafas panjang dulu. Istighfar dan cobalah ikhlas. Nenek kamu tidak akan tenang meninggalkan kamu jika kamu tidak menerima kepergiannya dengan ikhlas. Nenek sudah dipanggil duluan sama Allah, artinya Allah sayang sama nenek kamu, Kil. Kamu harus merelakan kepergian nenek dengan ikhlas kalau kamu sayang dengan nenek. Sudah, jangan mengguncangkan tubuh nenek lagi, biarkan perawat mengurus jenazah agar segera dikebumikan." Irsyad melontarkan kalimat yang ia harapkan dapat membuat Kila tenang dan berhenti memberontak.
Kalimat itu ampuh, namun Kila menggantinya dengan menangis histeris di dekapan Irsyad. Melihat Kila seperti ini, tangan Irsyad dengan sendirinya mengusap kepala Kila untuk menenangkannya. Kila menyandarkan kepalanya di bahu Irsyad. Dekapan Irsyad sudah mulai longgar dengan tangannya yang mencoba menenangkan Kila dengan mengusap bagian belakang tubuhnya di tangan satunya. Irsyad terus melakukan itu sampai Kila benar-benar tenang.
...****************...
Peristiwa duka itu sudah berlalu dua pekan. Saat itu mama, papa dan dua sahabatnya langsung ke rumah Kila karena jenazah sudah di sana. Pengajian tahlil untuk nenek juga sudah dilaksanakan pada hari ketiga dan ketujuh. Namun, pada saat pengajian itu mama dan papanya tidak bisa hadir karena sudah harus kembali keluar kota lagi untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Kila sudah tidak ingin meributkan soal orangtuanya yang sibuk itu, karena ia ingin memenuhi pesan nenek padanya untuk akrab dengan orangtuanya itu.
Dua pekan telah berakhir, artinya libur semester ganjil pun berakhir. Kila kembali sekolah dengan menghilangkan kebiasaannya sebelum berangkat ke sekolah, yaitu berpamitan dengan nenek dengan mencium tangan dan mengecup kedua pipi nenek. Kila sampai lupa kalau neneknya sudah tiada, ia menunggu di meja makan karena biasanya nenek menyiapkan sarapan untuknya. Kila belum terbiasa dengan kepergian nenek, bahkan ia belum bisa menerima sepenuhnya. Kebiasaan yang ia lakukan dengan nenek begitu melekat sampai nenek sudah tiadapun Kila masih menunggu nenek yang tiada untuk memenuhi kebiasaan itu. Kila telah terbiasa dengan kehadiran nenek, dan sekarang ia tak terbiasa dengan kepergiannya.
Sampai di kelas, dua sahabatnya sudah menunggu di meja Kila. Mereka ingin menghibur Kila atau setidaknya mengalihkan pikiran Kila dari kedukaan itu. Seperti saat itu, mereka sudah menyiapkan roti beserta air minum untuk sarapan Kila. Tidak ingin membuat dua sahabatnya terus mengkhawatirkannya, Kila langsung memakan pemberian mereka. Tak lama, terlukis senyum di bibir mereka karena Kila langsung mau memakannya. Mereka langsung memeluk Kila untuk membagikan energi positif yang mereka punya. Kila juga tersenyum meski hanya senyuman tipis yang ia buat. "Terimakasih banyak atas dukungan kalian dan kalian selalu ada buat aku, kalian sahabat yang sangat baik," ucap Kila seraya membalas pelukan mereka.
Kila menunggu Irsyad di lorong dekat musholla. Ia tidak bertemu dengan Irsyad sejak pengajian tujuh hari meninggalnya nenek. Ada hal yang belum sempat Kila sampaikan kepada Irsyad, makanya ia menunggu Irsyad untuk segera ia ungkapkan.
Tak lama, Irsyad mengarah ke lorong musholla setelah menyelesaikan pekerjaannya sebagai guru. Ia sebelumnya diminta langsung oleh Kila untuk ke lorong dekat musholla saat ia mengajar di kelas Kila.
"Pak, terimakasih banyak atas kebaikan Bapak selama ini. Terimakasih juga karena sudah menguatkan saya waktu itu dengan mendekap saya. Terimakasih sudah jadi orang pertama yang datang saat mendengar kabar nenek meninggal. Terimakasih karena sudah memenangkan saya juga waktu itu. Saya tidak tahu apa jadinya bila Bapak tidak datang waktu itu. Saya ingin mengucapkan terimakasih atas segala kebaikan Bapak selama ini kepada saya. Sekali lagi, terimakasih banyak, Pak." Kila mengungkapkan semuanya, lalu pergi berlari meninggalkan Irsyad.
Irsyad merasa senang atas ungkapan itu. Ia tidak mengelak tentang dekapan yang ia lakukan ke Kila. Sebab, tubuhnya bergerak begitu saja saat melihat Kila sangat terpuruk waktu itu.
...****************...