
Kila memang sangat merindukan Irsyad. Buktinya, sekarang ia tidak segan meminta untuk bertemu dengan Irsyad meski melalui video call. Setiap hari mereka semakin dekat meski jarak mereka jauh. Sejak Irsyad tidak dapat pulang ke Indonesia, komunikasi mereka menjadi lebih intens.
Kila berada di rumah Citra sekarang, untuk melakukan rutinitasnya membantu membuat camilan di Hari Minggu. Ia sudah duduk di ruang keluarga setelah selesai membantu Citra membuat camilan. Menjadi rutinitas Kila di jam ini untuk melakukan panggilan video call dengan Irsyad.
"Sayang banget, Kil. Saya juga tidak bisa pulang ke Indonesia saat libur Idul Fitri nanti. Penelitian ini sedang dalam fase tidak dapat ditinggalkan," ungkap Irsyad setelah beberapa pembicaraan pembuka.
"Irsyad, kamu memangnya ngerjain apa, sih? Kok kayaknya sibuk banget?" ucap Citra ikut pembicaraan.
"Irsyad ingin mempercepat kelulusan, Bun. Supaya bisa balik ke Indonesia lebih cepat. Makanya Irsyad sibuk sekali. Untuk meluangkan waktu berkomunikasi dengan Kila tidak akan mengganggu, justru akan membuat Irsyad lebih segar untuk melanjutkan penelitian. Tapi, kalau sampai meninggalkan penelitian, Irsyad tidak tahu nanti akan bagaimana kacaunya penelitian ini," balas Irsyad.
"Jadi, kamu puas cuma bertemu Kila lewat video call ini aja?" tanya Citra.
"Ya..., sebenarnya Irsyad harus bersyukur karena di zaman yang canggih ini Irsyad masih bisa lihat Kila meski tidak dapat menyentuhnya," jawab Irsyad santai.
"Assalamu'alaykum, Bun."
Saat Kila dan Citra sedang bicara, Farhan sudah masuk ke rumah dan ikut bergabung ke ruang keluarga. Farhan memang sering mengunjungi rumah Citra, dan mengetuk pintu sudah tidak diperlukan lagi. Kali ini ia bertemu juga dengan Kila setelah lama tidak bertemu. Ia memang sengaja untuk datang di tiap Hari Minggu, tapi saat datang pasti Kila sudah pulang duluan. Kali ini Farhan beruntung dapat bertemu Kila.
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh," ucap Kila dan Citra bersamaan.
"Eh... Farhan datang, Syad," ucap Citra menunjukkan Farhan ke layar ponsel itu.
"Wah, itu Kak Irsyad? Farhan mau dong ngobrol dengan Kak Irsyad juga," ujar Farhan yang langsung mendudukkan dirinya di samping Citra. Posisi duduk mereka sudah menempatkan Citra dalam posisi tengah antara Kila dan Farhan.
"Kak Irsyad apa kabar? Kapan balik ke Indonesia, nih? Orang rumah udah pada rindu, tahu. Apalagi Yuli, tiap ketemu pasti cerita tentang Kak Irsyad melulu," seru Farhan.
"Itu dia masalahnya, Han. Irsyad nggak bisa pulang, katanya penelitiannya nggak bisa ditinggal," dijawab oleh Citra.
"Kalau gitu, gampang aja, Bun. Tinggal kita yang ke sana," balas Farhan.
"Waktu libur akhir tahun juga Kila sempat berpikir seperti itu, Kak Farhan. Tapi tidak dapat izin dari Kak Irsyad," ucap Kila menanggapi.
"Ha..., Kak Irsyad, ya? Kila sudah sangat terbuka untuk menunjukkan panggilan itu padaku." pikir Farhan sejenak.
"Emang kenapa nggak diijinkan?" tanya Farhan penasaran.
"Iya, Han. Saya takut membiarkan Kila pergi ke Turki sendirian," jawab Irsyad dari ponsel itu.
"Nah, benar sekali itu. Sekalian liburan bersama melihat Turki. Ajak Ira dan juga nanti, Kil. Oiya, Han, Yuli juga ajak aja. Pasti dia senang sekali," nimbrung Citra antusias.
"Bunda, Tiket untuk ke Turki sangat mahal," ucap Irsyad tegas. Mereka bertiga tahu, kalimat pendek barusan tersirat penolakan di dalamnya.
"Nggak apa-apa kalau mahal, Kak. Ada uang simpanan Kila yang udah ditabung khusus untuk dana liburan, Kak. Jadi nggak akan membebani keuangan Kila," ucap Kila menanggapi dengan antusias juga.
"Oke, kamu aman, Kil. Lalu, bagaimana dengan ayah, bunda dan Farhan? Apa kamu mau membiayainya mereka juga?" tanya Irsyad lagi, fokus ke Kila. Ada penekanan di dalam kalimat itu.
"Irsyad, kenapa sih kalau mahal? Semenjak kamu di Turki, kamu lebih protektif sama keuangan," jawab Citra yang mulai jengkel.
"Kita harus realistis, Bun. Jangan hanya karena kalian merindukan Irsyad, kalian yang harus ke sini. Itu tidak sebanding. Kalian berombongan ke sini hanya untuk menemui satu orang. Beda dengan Irsyad yang sudah semestinya menemui kalian yang banyak dengan seorang diri," balas Irsyad masih dengan penekanan.
"Kan, tadi rencananya kami bakal sekalian liburan, Kak. Jadi masih sebanding, dong," ujar Farhan memberi tanggapan.
"Farhan, jangan berlebihan. Musim liburan pasti akan banyak turis, itu yang membuat harga tiket mahal dan juga keberadaanya langka. Dan biaya hidup di sini juga lebih tinggi. Kalau untuk tiket saja, oke saya bisa bebaskanlah kalian untuk membeli. Tapi, saat sudah di Turki nanti pasti kalian butuh makan dan tempat tinggal, kan? Ingat, uang yang harusnya bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat lagi jangan di sia-siakan untuk kesenangan sementara saja," balas Irsyad ke Farhan. Kali ini sangat jelas penolakan tegas dari Irsyad.
Farhan yang ditegaskan oleh Irsyad, tapi Kila yang merasa teriris hatinya. Sosok Irsyad yang tidak disukainya itu kambuh.
"Iya, benar, Kak Farhan. Sepertinya, rencana untuk ke Turki secara rombongannya nggak usah dilakukan, deh. Lagian ngerepotin Kak Irsyad juga nanti, beliau lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan penelitiannya. Kalau kita ada di sana, pasti akan menghambat Kak Irsyad. Lebih baik kita ikuti kata Kak Irsyad. Beliau tahu yang terbaik untuk kita," ujar Kila menengahi.
Suasana ruang keluarga sunyi setelah mendengar ucapan Kila. Mereka memberi jeda untuk memikirkan akan setuju dengan Kila, atau sepakat untuk ke Turki meski Irsyad terus menolak.
"Aa, Ya Rabb... Kila lupa untuk nge-charge hp. Udah lowbat nih. Kak Irsyad, Kila izin tutup sambungannya, ya. Assalamu'alaykum."
"Bun, Kila pulang dulu ya mau nge-charge hp."
"Iya, Kil."
Sebuah alibi belaka untuk mengakhiri sambungan itu karena lowbat. Juga kembali ke kosan adalah sebuah alibi Kila. Baterai Kila masih sangat banyak dan ia tidak ke kosan untuk mengisi daya ponselnya. Ia kembali ke kosan untuk menangis. Jika percakapan terus berlanjut saat mendengar ucapan penolakan yang kuat dari Irsyad itu, mungkin air mata Kila akan tumpah disaat itu juga. Ia tidak mau ada yang menyaksikannya menangis karena keegoisannya. Biar ia memendam sendirian kalau sebentar ia sangat rapuh mendengar ucapan Irsyad itu. Ia egois dan bermuka dua. Itu karena ia benar-benar merindukan Irsyad, ia ingin bertemu dengan Irsyad. Tapi, ia tidak ingin keegoisannya mendominasi lagi. Irsyad sudah banyak menerima keputusan Kila, kini Kila yang harus menerima keputusan Irsyad.
Tidak salah, saat pintu kamarnya ia tutup air mata Kila benar-benar bercucuran deras. Kila merasa sakit saat Irsyad bersikeras menolak kedatangannya.
"Kak Irsyad, apa kakak tahu kalau aku sangat merindukanmu? Apa Kak Irsyad menolak karena tidak ingin bertemu denganku?" ucap Kila di hati seraya meluapkan emosinya dengan menumpahkan air matanya.
...****************...