
Tak pernah terpikirkan oleh Kila bahwa dirinya begitu pengecut seperti ini. Ia beralasan ingin menemui Mama, tapi nyatanya ia ingin kabur dari rumah Irsyad.
"Ma..,"
"Un? Kenapa?"
"Mama beneran lebih bahagia setelah pisah sama Papa, kan?" Kila berbasa-basi sekaligus ingin memastikan.
"Kalau dari yang kamu lihat gimana? Mama terlihat lebih sehat, lebih bugar juga. Kantung mata Mama juga nggak separah dulu karena gila kerja."
"Syukurlah kalau gitu."
"Mama kesepian nggak?" tanya Kila lagi. Riska mulai agak risih banyak bicara dengan Kila. Sebab, meskipun mereka adalah ibu dan anak, aslinya sejak dulu mereka jarang bicara.
"Kalau ditanya kesepian..., kesepian, sih," jawab Riska.
"Mau Kila temenin? Setiap hari Kila akan nginap di sini nemenin Mama," usul Kila. Hal ini bisa menjadi alasannya untuk terus kabur dari Irsyad.
"Jangan, deh. Irsyad gimana? Terus, sebentar lagi kamu bakalan lulus. Tesis kamu gimana?"
Mau bagaimana pun, Riska tetaplah Riska, bukan nenek. Cara menanggapinya tidak berubah, selalu saja mementingkan hal yang berhubungan tentang edukasi. Tidak setulus nenek bila menanggapi.
"Tapi tadi Mama bilang kesepian."
"Iya, kesepian. Tapi, karena ada kesibukan, Mama nggak merasa kesepian, kok. Nggak ada bedanya sama waktu itu, waktu Mama masih sama Papa. Sama-sama sendiri kayak gini."
"Ya udah kalau gitu. Kila sering-sering mampir ke sini aja, deh, biar Mama nggak kesepian."
"Mama udah senang kalau kamu mau telepon dan video call, kok. Lebih baik, kamu fokus ngerjain tesis. Kamu ke sini ngapain, lagi, lah biasanya juga ngabarin lewat handphone."
"Kila kangen aja sama Mama. Setelah pertemuan yang penuh drama waktu itu, Kila nggak sempat ketemu sama Mama."
"Waktu lebaran, kan, ketemu. Gimana sih kamu?"
"Ketemunya, kan, cuma sebentar. Habisnya, Mama malah mau silaturahmi ke rumah temen karena langsung di jemput, kan? Padahal, itu Kila baru aja nyampe. Eh, ternyata Mama udah mau masuk ke mobil teman Mama itu. Sampai nginap lagi," keluh Kila.
"Iya, bener, sih. Soalnya, mau bangun bisnis dari nol bareng dia. Dianya nggak ngerayain lebaran, sih, makanya mesti pergi hari itu juga," jelas Riska.
"Kila jadi belum sempat minta maaf ke Mama. Maafin Kila, ya, Ma. Maafin semua kelakuan Kila yang buat sakit hati Mama. Maafin Kila belum bisa jadi anak yang baik, yang berbakti sama Mama," ungkap Kila. Ia ingin lanjut mellow membahas detil-detil kesalahan. Bahkan, ia ingin sungkem saat ini juga. Namun, sang Mama bukan tipe yang bisa diajak seperti itu. Ia hanya menganggap, setelah meminta maaf, semua telah selesai. Tidak perlu repot-repot menyebutkan secara detil kesalahan yang diperbuat apalagi sampai ingin sungkeman segala.
"Iya, sama-sama. Mama juga, ya, Kila."
Sarapan yang dipesan melalui food delivery tak lama datang. Pembicaraan mereka harus diakhiri di sini karena fokus menghabiskan sarapan.
Ia sudah menyiapkan makan malam di rumahnya untuk Riska makan. Namun, ia tidak makan malam karena takut terlalu malam kembali ke rumah Irsyad. Ia pamit pulang, dan Riska hanya bisa sekedar mengangguk menanggapi.
Mustahil mengharapkan sang mama akan berprilaku seperti nenek meskipun Riska anak kandungnya nenek.
Kalau mengingatkan apa yang nenek akan lakukan jadi membuat Kila berharap banyak pada mamanya. Nenek pasti akan mengantarkan sampai depan, mengucap "hati-hatilah di jalan" dan mengucap salam untuk Kila, lalu nenek akan mengecup Kila karena akan berpisah, dilanjutkan untuk mengusap lembut kepala Kila sampai ia puas. Sekali lagi, mamanya bukanlah nenek. Kila tidak bisa menaruh harap padanya.
"Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh. Kila pulang," sapa Kila saat masuk ke rumah. Pikirannya tadi masih tersisa. Jika masih ada nenek, Kila selalu masuk ke rumah mengucapkan kata lengkap itu.
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Kamu baru pulang? Makan dulu, ya. Saya ada masak tadi," sambut Irsyad. Kila segera menyalimnya, lalu Irsyad memberikan kecupan cukup lama di kening Kila.
Ada apa Kila akhir-akhir ini? Ia sering kali memikirkan nenek. Mengetahui yang menyambutnya bukan nenek, ia sedikit kecewa. Padahal, ia sudah tahu kalau nenek sudah tidak ada.
Atau, Kila ingin merasakan ada di rumah? Saat nenek ada di dalamnya, itulah rumah. Karena tidak merasakannya saat dirumahnya yang ditinggali Riska tadi, ia ingin merasakannya di rumah ini.
"Makasih, Mas. Tapi, Kila udah makan sama Mama tadi. Kila duluan ke kamar, ya," ucap Kila berbohong dan tidak semangat. Ia segera menuju ke kamarnya cepat-cepat. Tak mempedulikan perutnya yang kelaparan.
"Saya belum makan. Saya tidak mendapatkan kabar kalau kamu akan pulang setelah isya. Saya tidak tahu kalau kamu tidak masak apapun, bahkan tidak meninggalkan bahan makanan apapun untuk saya masak. Saya membelinya sendiri, saya memasak sendiri. Saya menawari kamu untuk makan makanan saya, ternyata kamu sudah makan. Apa yang ingin kamu tunjukkan? Argh....," ucap Irsyad geram. Ia memukul meja makan untuk melampiaskan kemarahannya. Kila yang sudah masuk ke kamar sangat jelas mendengar kemarahan Irsyad. Suara Irsyad sangat keras, seisi rumah bisa mendengarnya.
"Maafin Kila," ucap Kila pelan dari balik pintu kamar.
...****************...
Esok hari, Irsyad pulang dari masjid setelah subuh. Ia bertanya-tanya apakah Kila akan menyambutnya seperti biasa. Ia masih mau menyalin tangan Irsyad dan masih menerima kecupan dari Irsyad. Meskipun setelahnya ia terlihat buru-buru ingin pergi setelah mendapat kecupan itu.
"Umm..., Kila mau lanjutin kerjain tesis dulu, ya, Kak," pamit Kila. Ia seperti ingin kabur dari situasi ini.
"Kila, tunggu," cegat Irsyad.
Kila tidur membelakangi Irsyad kembali tadi malam. Namun, Irsyad sebenarnya mendengar suara perut Kila yang berbunyi karena kelaparan. Ia tidak tahu pasti sang istri sudah makan atau belum. Yang pastinya, Irsyad menyimpulkan bahwa Kila masih lapar. Ingin membangunkannya langsung saat itu, ia tidak tega, ditambah dengan rasa kesalnya terhadap sikap Kila sebelumnya.
Irsyad memberikan perhatian. Mendekat, lalu ingin mencapai puncak kepala Kila. Berniat ingin mengusapnya, seperti biasa ia lakukan, ia malah ditunjukkan refleks Kila yang menjauh satu langkah untuk menghindar. Irsyad kecewa, usahanya untuk memberikan perhatian pada sang istri malah dibalas seperti itu. Ia mengepalkan tangannya yang masih melayang di udara, lalu ia turunkan secara kasar.
"Makanan yang saya masak semalam, makanlah. Saya mendengar perut kamu berbunyi semalam," ucap Irsyad agak kesal. Padahal ia sudah menyiapkan nada perhatian nan lembut sebelumnya.
"Kila udah makan. Terimakasih, Mas. Kila masuk lagi, mau menyelesaikan tesis. Permisi, Mas," pamit Kila.
"Apa-apaan sikap itu? Jangan berulah, Kila!" batin Irsyad kesal.
...****************...