
Suara suara adzan mulai terdengar. Irsyad sudah menepikan mobilnya di tempat parkir masjid. Ia sengaja parkir lebih awal untuk menunaikan sholat berjamaah di masjid daripada ia harus ketinggalan waktu maghrib di jalan karena terjebak macet.
Irsyad sadar betul bahwa alamat rumah Kila dan alamat rumahnya itu berlawanan arah, namun ia lebih kasihan ke diri Kila. Seorang perempuan tidak baik pulang sendirian, apalagi diwaktu sudah mulai petang seperti tadi. Sebagai wali kelas yang baik, ia juga punya kewajiban untuk menjamin keselamatan siswanya. Tapi memang rumah Kila ini cukup jauh dari sekolah. Jika dihitung waktu tempuh menuju ke rumah Kila bisa menempuh waktu tiga puluh menit di jam lalu lintas yang santai. Karena tadi lalu lintas agak macet, untuk mengantarkan Kila pulang butuh waktu sekitar empat puluh lima menit. Berbeda sekali dengan rumah Irsyad yang jarak tempuhnya hanya membutuhkan waktu tempuh sepuluh menit saja menuju sekolah.
Masjid tempat Irsyad berhenti tadi berada di dekat sekolah dan sudah dekat dengan rumahnya, tapi tetap saja ia memilih untuk menunaikan sholat maghrib berjama’ah terlebih dahulu. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke rumah.
“Alhamdulillah, sampai rumah juga akhirnya. Assalamu’alaikum, Bun,” ucap Irsyad seraya memasuki rumahnya.
“Wa’alaikumussalam. Tumben hari ini lama, Nak?” seru Citra, bunda Irsyad.
“Iya, Bun. Hari ini hari yang panjang. Nanti saja Irsyad ceritakan abis Isya. Irsyad mau mandi dulu, mau ke masjid sholat isyanya. Ayah di rumah, kan, Bund? Bilang bareng Irsyad nanti ke masjidnya, ya, Bun.” Irsyad menjawab. Lalu ia mengambil tangan Citra untuk diciumnya.
“Iya, ayah di rumah. Kamu apa nggak kecapean, Nak? Sholat di rumah aja kalau bener bener capek.”
“Bun, Irsyad nggak capek, kok. Lagian kan, laki-laki itu sholatnya berjama’ah di masjid. Kalau di rumah, perempuan namanya. Ya sudah, Irsyad ke atas, ya, Bun.” Ucap Irsyad mengakhiri, kemudian bergegas naik ke atas menuju ke kamarnya. Lalu segera mandi dan menuju ke masjid bersama ayahnya, Erwin.
...****************...
Irsyad dan ayahnya sudah selesai menunaikan sholat isya berjamaah di masjid. Mereka kini pulang menuju ke rumah. Jarak masjid terbilang sangat dekat karena hanya memakan waktu tempuh lima menit saja dari rumah dengan berjalan kaki. Masjid yang dikunjungi Irsyad ini masih satu kompleks dengan rumahnya.
Sampai di rumah, Citra sudah menyiapkan makan malam di meja. Merekapun duduk untuk menyantap makanan yang sudah disediakan.
Keluarga Irsyad berbeda dengan Kila yang melarang mama dan papanya untuk tidak bicara saat makan karena alasan kesehatan. Alasannya yaitu makan menggunakan kerongkongan, dan bicara menggunakan tenggorokan. Yang satu alat pencernaan, dan yang satunya pernapasan. Jika dilakukan bersamaan akan menimbulkan tersedak dan itu menyakitkan.
Irsyad dan keluarganya selalu bicara saat sedang makan. Maksudnya, tidak melakukan kedua aktivitas secara bersamaan tetapi diantara kedua aktivitas itu. Misalnya, saat ingin membahas sesuatu, yang bicara harus menyelesaikan mengunyah makanannya. Begitu juga dengan yang menanggapi. Jadi dapat menghindari risiko tersedak.
Makan sambil bicara atau mengobrol ini merupakan aktivitas yang dianjurkan juga. Manfaat aktivitas ini adalah, makin dekatnya keluarga. Karena kesibukan tertentu, sebuah keluarga mungkin tidak berjumpa selain di meja makan karena untuk makan bersama. Untuk itu, waktu makan inilah jadikan momen yang baik untuk berkomunikasi dengan keluarga yang tidak sempat dilakukan diluar jam makan bersama. Aktivitas ini juga merupakan kunci harmonisnya keluarga Irsyad.
“Jadi, tadi kamu kenapa hari ini pulang lebih lambat, Nak?” tanya Citra memulai percakapan.
“Iya, Bun. Biasa, tugas wali kelas banyak. Terus juga Irsyad, kan baru jadi wali kelas pengganti hari ini, Bun. Jadinya hari ini kerjaannya banyak, Bun,” jawab Irsyad.
“Biasanya juga kalau banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, kamu bawa ke rumah kerjaannya,” ucap Erwin menyambung percakapan.
“Hari ini beda, ada murid yang bersedia bantuin pekerjaan Irsyad, Yah. Tapi itu nggak Irsyad suruh, muridnya yang mau sendiri,” ucap Irsyad.
“Berarti kamu sudah nggak ada pekerjaan lagi, dong? Nganggur kan, nanti malam?” tanya Citra.
“Belanja bulanan, sekalian belanja barang buat stok anak kost juga. Kalau sama ayah aja berdua, kelamaan. Jadi, pasti bakal lebih cepat kalau kamu ikut,” ucap Citra mengutarakan maksudnya.
“Ya sudah, setelah makan ini kita berangkat, Bun. Ayah ya, yang nyetir. Soalnya bahu Irsyad sudah pegal abis nyetir satu jam lebih,” jawab Irsyad sembari mengusuk pelan bahunya yang pegal.
“Lho, bukannya jarak dari sekolah ke rumah itu cuma makan waktu lima menit, ya? Kamu emangnya abis darimana, tadi bukan cuma nyelesaikan pekerjaan aja, kan? Kamu mulai nggak jujur, ya, sama bunda. Abis nganterin cewek pulang kamu, ya?” tanya Citra menaruh curiga.
“Iya, Bun,” dijawab Irsyad santai. Erwin dan Citra agak terkejut dengan jawaban anaknya itu, pasalnya Irsyad tidak pernah berurusan dengan wanita selain bundanya dan karena urusan pekerjaan.
“Lho, kamu sudah mulai antar-antar cewek, ya. Bukan pacar, kan? Calon menantu bunda, ya? Kenapa nggak di kenalin ke bunda? Eh tapi, tadi kalian nggak duduk samping-sampingan, kan?” ujar Citra menginterogasi.
“Murid Irsyad, Bun, bukan pacar apalagi calon menantu bunda. Dan Irsyad tahu batasan, kok, tadi Irsyad suruh dia duduk di kursi belakang, jadi kami nggak duduk bersebelahan,” jawab Irsyad setelah ia menelan makanannya.
“Tapi kamu kenapa harus antar dia segala?” tanya Citra lagi lebih serius dari sebelumnya.
“Dia tadi sudah ikut bantu Irsyad menyelesaikan pekerjaan. Kebetulan selesai pekerjaan itu setelah ashar, jadi dia belum mendapat angkot karena kebanyakan angkot penuh di waktu jam kerja tadi. Irsyad tahu rumahnya cukup jauh dari sekolah, kalau dia menunggu terus pasti dia akan ketinggalan waktu maghrib. Dan karena dia perempuan, Irsyad takut ada suatu hal yang buruk terjadi. Jadi Irsyad menawarkan, Bun.”
“Wah, baru juga jadi wali kelas hari ini, udah peduli aja dengan muridnya,” Erwin menimpali.
“Tapi, hati-hati, lho. Entar cinta lokasi sama murid sendiri, haha,” ujar Citra berusaha menggoda.
“Tidak mungkin, Bun. Bunda, kan, tahu kalau Irsyad orang yang sangat profesional. Tidak mungkin terlibat percintaan dengan murid sendiri,” ujar Irsyad tidak setuju. Ia sempat ingin tersedak ketika mendengar respons bundanya itu. Tapi ia memutuskan menelan air minum dulu baru menjawab.
“Eeeh, jodoh kan nggak ada yang tahu. Mau se-profesional apapun kamu, kalau takdir bilang dia jodoh kamu, kamu mau apa?” ujar Citra dengan menunjuk-nunjuk Irsyad dengan sendok yang dipegangnya.
“Ya tunggu dia nggak jadi murid Irsyad lagi. Langsung ke jenjang yang serius, kita datangi orang tuanya, kita lamar anaknya, terus nikah, selesai,” ucap Erwin berusaha membela Irsyad.
“Ayah sama bunda ada-ada saja,” respons Irsyad. Ketiganya kemudian bergelak kecil dengan topik yang mereka bicarakan.
Mereka sudah menyelesaikan aktivitas makannya. Kemudian bergegas berangkat ke supermarket terdekat untuk membeli beberapa barang keperluan anak kos.
Keluarga Irsyad memang mempunyai rumah kos di samping rumah mereka. Rumah kos itu dibangun dua lantai. Kos yang dikelola terbilang cukup komplit karena sudah tersedia tempat tidur, lemari, kamar mandi dalam, dapur dalam, jemuran di tiap kamar dan ada mesin cuci gratis di setiap lantai. Selain itu, disediakan juga dapur umum yang tersedia bahan gratis untuk penghuni kos. Biasanya Citra membelikan anak kos keperluan bahan makanan seperti; beras, minyak, gula, kopi instan, susu kental manis, mentega, telur, mie instan dan beberapa barang lainnya gratis tidak dipungut biaya tambahan. Citra ingin menyediakan kos yang ramah kantong bagi penghuninya, sehingga penghuninya bisa betah tinggal di kos mereka.
...****************...