
Kejadian di luar tadi sudah membuat Kika berakhir di sini. Ia diundang masuk ke rumah Citra karena masih ada yang ingin dibicarakan lagi oleh Citra. Makanan dan minumanpun telah disuguhkan di depan Kila. Ia diperlakukan sebagai tamu, dan itu sangat aneh mengingat apa yang baru saja terjadi.
"Jadi, kamu sudah setahun mengajar Kila, Syad?" Citra mulai menginterogasi. Irsyad juga duduk di ruangan yang sama dengan Kila dan Citra. Tepatnya, ia duduk di samping Citra dan Kila duduk di seberang mereka.
"Iya, Bun." Irsyad menjawab santai. Di seberang, Kila malah terlihat sangat cemas akan ditanyai berbagai macam hal.
"Terus, Kila ini murid yang kamu perhatiin dari dulu kan, ya? Sering kamu antar juga ke rumah sakit. Bahkan, kamu sering begadang karena belum selesaikan pekerjaan kamu demi ngantar gadis ini. Ternyata ini gadis yang sering mengganggu Irsyad," ucap Citra menggantung. Kila sudah keringat dingin mendengar ucapan itu. Kila juga sudah memastikan kalau Irsyad memang orang sibuk, buka maksud mengganggu Irsyad juga waktu itu. Mau bagaimanapun, itu sudah berlalu cukup lama Kila tidak mau membahasnya lagi dan Irsyad juga sudah bilang tidak akan mempermasalahkannya. Setelah ini, mungkin Kila dan Citra tidak bisa akrab kembali.
"Wah, senang sekali rasanya. Ternyata orang yang menggangu Irsyad adalah Kila. Kamu tahu nggak, Kil, Irsyad ini orangnya sangat perfeksionis. Dia selalu menomorsatukan pekerjaan. Tapi karena kamu yang mengganggunya, dia perlahan berubah. Mengganggu dan berubah disini dalam artian yang baik. Aaa, nggak nyangka bunda akrab dengan Kila, dan ternyata Irsyad juga sudah cukup dekat karena terjalin hubungan murid dan guru di sekolah. Wah, makin senang kalau gitu, akan ada topik baru lagi yang bisa bunda bicarakan sama Kila perihal Irsyad juga," lanjut Citra seraya bergantian menatap Kila dan Irsyad.
"Ee..? Apa maksud perkataan Bu Citra tadi? Bukannya Ibu mau memarahi saya karena saya dekat dengan Pak Irsyad? Terus, barusan juga Ibu melihat saya telah diantar oleh Pak Irsyad. Lalu, saya dan Pak Irsyad juga murid dan guru. Normalnya, apa yang barusan terjadi itu akan ditentang." Kila spontan mengatakan kecemasannya.
"Memang kenapa dengan murid da guru? Apa kamu akan selamanya menjadi murid? Apa akan selamanya juga, Irsyad menjadi guru kamu? Bunda nggak mempermasalahkan itu, kok. Lagian masalah mengantar tadi, bunda udah percaya sama Irsyad kalau dia tahu batasan apalagi kalau lagi bersama wanita wanita yang bukan mahramnya," respons Citra.
"Oiya, karena kebetulan kamu muridnya Irsyad jangan panggil Ibu lagi. Kan nggak lucu, kalau kamu panggil bersama dengan kamu memanggil Irsyad. Jadi dikira orang yang dengar nanti kami ini ibu dan bapak kamu. Panggil bunda aja ya, seperti Irsyad yang manggil bunda juga. Kamu udah bunda anggap seperti anak sendiri. Jarang-jarang lho, bunda akrab sama anak kos, cuma sama kamu doang, Kil," ujar Citra seperti sebuah permintaan.
"I-iya, Bun," ucap Kila ragu-ragu.
...****************...
Sejak kejadian itu, Kila malah semakin akrab dengan Citra. Libur semester genapnya digabung dengan libur idul fitri, yang totalnya satu bulan. Keesokan hari setelah kejadian waktu itu, Kila selalu diberikan menu takjil yang sudah mereka buat bersama sebelumnya.
Kila dan Citra kali ini melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid kompleks. Karena hari ini hari terakhir puasa, mereka ingin menikmati waktu-waktu terakhir merasakan suasana ramadhan bersama. Jadi, Kila, Citra, Irsyad dan Erwin bersama-sama pergi menuju masjid. Sejak itu, Kilapun juga akrab dengan ayahnya Irsyad. Dan atas permintaan Citra, Kila juga memanggil Erwin dengan panggilan ayah.
"Kila, kamu hari ini buka bareng sama kami aja." Citra berucap saat mereka sudah selesai shalat subuhnya dan menuju ke rumah.
"Aa, makasih udah nawarin, Bun. Tapi kayaknya Kila juga gak bisa ikut. Kila mau ke rumah mama dan papa, mau lebaran di sana untuk tiga hari. Kila berangkatnya abis dzuhur nanti," jawab Kila.
"Lho, kenapa nggak bilang-bilang, Kil?" tanya Erwin.
"Hehe, iya, Yah, Kila lupa bilang. Lagian tiketnya juga udah lama dipesen sama mama waktu mama kesini untuk ambil rapor Kila," jawab Kila cengengesan.
"Yaudah, nanti kita bareng-bareng antar Kila ke bandara kalau gitu," saran Citra.
"Sudah, tidak apa-apa. Justru karena dekat itu bisa lebih efisien lagi. Lagian, tidak ada yang repot hanya karena mengantar kamu saja. Kebiasaan tidak-enakan kamu tidak berubah, Kila." Giliran Irsyad yang membuka suara. Kila tidak membalas apapun dari ucapan Irsyad. Sepertinya sudah jadi hobi Irsyad membuat Kila membisu hanya dari ucapannya saja.
"Yaudah, berarti udah diputuskan, kita akan mengantar Kila ke bandara. Oiya, Kila, kamu bawa juga kue lebaran yang kita buat bersama itu. Hitung-hitung, sebagai oleh-oleh dari sini." Citra memecah keheningan yang sempat terjadi karena Kila tak bergeming beberapa saat.
"Um, iya, Bun," jawab Kila.
Mereka memang sempat membuat bermacam kue lebaran bersama. Membawa beberapa kue lebaran itu akan memudahkan Kila juga untuk mengatasi hobi makannya jika sedang kumat. Lagian, tidak akan ada tamu yang datang di rumah mereka nanti.
...****************...
Kila menaiki mobil Irsyad yang didalamnya juga sudah duduk Irsyad dan kedua orang tuanya. Kali ini, Kila menaiki mobil Irsyad tidak hanya berdua. Dan benar, itu tidak secanggung saat hanya ada Irsyad dan Kila saja. Suasana ramai nan hangat membuat Kil lebih leluasa dan merasa lebih nyaman, jantungnya juga aman.
Di dalam mobil, Kila menceritakan sedikit mengenai keluarganya. Dan di tanggapi pula dengan mereka yang menceritakan Irsyad dan orangtuanya menceritakan keluarga mereka. Saat itu juga, Kila merasa iri dengan keluarga utuh yang Irsyad miliki. Mereka bertiga sangatlah tepat untuk mendefinisikan arti dari keluarga. Kila bahagia karena sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka, meski bukan keluarga sungguhan.
"Terimakasih banyak, Bunda, Ayah, Pak Irsyad. Untuk salam yang telah dititipkan akan Kila sampaikan ke mama dan papa. Jazakumullahu khair." Kila mulai berpamitan.
"Iya, sayang, kamu hati-hati, ya," ucap Citra. Kila menjawab dengan anggukan seraya tersenyum.
Irsyad memegangi koper Kila, sejak turun dari mobil Irsyadlah yang membawa. Itu juga akan memudahkan Kila untuk berbicara dan berpamitan dengan bundanya yang cerewet itu.
Terakhir, Kila berpamitan dengan memeluk Citra dan mengatupkan tangan pada Erwin. Lalu, ia ingin berpamitan dengan apa dengan Irsyad, ia juga bingung.
Irsyad menyerahkan koper Kila yang sedari tadi ia pegang. Lalu, Kila menerimanya dengan pandangan tertunduk.
"Hati-hati, ya, Kila," ucap Irsyad lebih dulu. Kila mengangguk lalu terburu-buru pergi menuju pesawat yang akan ia tumpangi berada. Waktu penerbangan akan segera tiba, jadi wajar jika Kila buru-buru pergi setelah menerima kopernya, pikir Irsyad. Tapi, yang sebenarnya terjadi adalah, Kila tidak ingin terlihat begitu bahagia hanya karena sebuah ucapan tadi yang tiba-tiba dilontarkan Irsyad. Irsyad memang tidak dapat diprediksi tindakannya. Senang sekali membuat jantung Kila olahraga.
"Cie, kamu bilang hati-hati duluan ke Kila," ucap Citra menggoda Irsyad.
"Apaan sih bunda? Itu harusnya hal biasa. Ayo Bun, Yah, kita pulang ke rumah kita juga." Irsyad ingin segera pulang sekaligus mengelak. Ia sendiri juga terganggu dengan apa yang barusan ia ucapkan tadi.
...****************...