Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Terbongkar?



Sementara itu, di toilet. Kila terlihat kepikiran dengan sikap aneh Irsyad. Ia mengira kalau sikap Irsyad ini seolah seperti menutupi sesuatu. Prasangka buruk mulai menyelimuti.


"Stop Kila! Jangan mikir yang aneh-aneh tentang Kak Irsyad. Cukup fokus sama kencan hari ini aja," ucap Kila saat melihat dirinya di cermin toilet. Ia beristighfar dalam hati karena berprasangka buruk pada suaminya sendiri.


Kila sudah selesai dengan urusan toiletnya. Karena tak ingin membuat Irsyad lama menunggu, Kila segera menuju tempat Irsyad menunggu.


"Kak Irsyad bicara sama wanita? Sama siapa?" ucap Kila saat melihat Irsyad dari depan toilet.


"Ooh, Mbak Nabila, toh. Apa yang mereka bicarain, ya? Aku nggak mungkin datang nyelonong gitu aja ke sana. Mbak Nabila, kan, nggak tahu kalau aku istrinya Pak Irsyad. Tunggu di sini aja deh, sampai mereka selesai mengobrol. Mungkin ngobrolin pekerjaan, atau kebetulan ketemu di mall ini dan cuma ngobrolin hal biasa," pikir Kila.


"Kayaknya nggak masalah kalau sekedar nguping dikit, kan? Aku penasaran apa yang diobrolkan," gumam Kila. Lalu Kila sedikit mendekat untuk mendengar obrolan mereka.


...****************...


Nabila tidak terlalu senang setelah Irsyad mengungkapkan itu secara jujur. Ia jadi bertanya dengan tanpa semangat. "Hal penting apa, Pak?" ucap Nabila.


"Bisakah kalian pindah tempat? Jangan melakukan pertemuan di sini. Apalagi sampai harus bermesraan seperti itu. Apa kamu tidak risih dilihat oleh orang lain? Atau, kamu bangga dianggap bahwa orang tua kamu itu masih terlihat mesra di ruang publik. Kamu bangga dengan anggapan keharmonisan palsu itu? Beliau bukan orang tua kamu," ujar Irsyad. Nabila sama sekali tidak bisa menangkap maksud Irsyad.


"Hah? Pak Irsyad apaan, sih? Saya nggak ngerti." Nabila mengerutkan keningnya karena bingung. Namun, setelah dipikir-pikir, ia mengerti maksud Irsyad, dan itu berkaitan kalau Irsyad tidak akan menemuinya jika tidak sepenting ini. Maksud penting di situ pasti berkenaan dengan pertemuan Mamanya dan Gilang. "Apa Pak Irsyad melihatnya?" pikir Nabila.


"Dengar, saya sedang bersama dengan anaknya beliau sekarang. Saya tahu beliau di sini. Saya hanya tidak ingin anaknya melihat kelakuan ayahnya seperti itu. Kamu, tolong ingatkan beliau untuk tidak bertemu anaknya. Maksud saya, jangan sampai bertemu anaknya," ujar Irsyad. Itu malah membuat Nabila shock karena tebakannya benar, ditambah dengan pernyataan yang lebih mengagetkan. Namun, ia berusaha biasa saja di depan Irsyad.


"Pak, saya juga nggak akrab dengan beliau. Mana mungkin saya bicara langsung. Kalau melalui Mama, dia pasti akan emosi sama saya. Nggak ada yang bisa saya lakukan. Saya capek mengingatkan Mama, keras kepala," ucap Nabila malas.


"Lalu, apa solusi kamu untuk mengatasi ini selain berkata langsung ke mereka?" ucap Irsyad cukup tegas. Mengisyaratkan bahwa Nabila harus bertanggungjawab.


"Aku disuruh tanggungjawab, padahal yang bermasalah mereka. Pak Irsyad malah mojokin aku, lagi," batin Nabila kesal.


Cukup lama Nabila mencarikan solusi. Irsyad juga tampak gelisah karena sudah terlalu lama di sini meninggalkan Kila. Irsyad berniat untuk meninggalkan Nabila, tapi perkataan Nabila selanjutnya membuat Irsyad menunda langkahnya.


"Pak Irsyad bawa saja anaknya menjauhi lokasi tempat kami makan," ucap Nabila. Ide yang cukup bagus, terlihat Irsyad mengangguk menanggapinya.


"Dimana memangnya tempat makan kalian?" tanya Irsyad.


"Di lantai tiga, restoran dekat lift," jawab Nabila. Irsyad mengangguk lagi. Langkah selanjutnya, Irsyad hendak pergi meninggalkan Nabila. Namun, sebelumnya ia ingin mengucapkan sesuatu yang terlihat seperti ikut campur urusan keluarga mereka, tapi tidak ingin terlihat seperti terlalu ikut campur.


"Saya tahu kalau saya tidak pantas bicara seperti ini ke kamu. Namun, saya akan katakan. Ibarat batu yang terus-menerus terkena tetesan air, sekeras apapun batu itu, tetesan air akan melunakkannya. Pak Gilang orang baik, kamu juga baik. Tegaskan saja ke Mama kamu berkali-kali. Tidak berhasil tidak apa-apa, yang penting kamu tidak berhenti berusaha. Lagian, tugas manusia hanya mengingatkan, masalah peringatan yang disampaikan itu disikapi baik atau tidaknya itu tergantung pribadi yang diingatkan. Allah Maha membolak-balikkan hati."


Harusnya Kila sudah selesai dari tadi, tapi ia tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya ke Irsyad. Agak menyesal karena meninggalkan Kila cukup lama, Irsyad mengira pasti istrinya itu sudah bertemu stand makanan lain untuk kembali mengisi perutnya.


Benar saja, sesaat kemudian sebuah pesan chat masuk. Kila mengabari Irsyad sesuai prediksi Irsyad, sesuai pula tentang Kila yang masih mengisi perutnya. Kila juga memberitahukan lokasinya ke Irsyad, membuat Irsyad segera menyusul.


"Lantai dua dekat lift?" Irsyad cukup terkejut karena takut salah baca. Sebab, pertemuan keluarga itu ada di lantai tiga, bukan dua. Ternyata, bukan lantai yang dimaksud Nabila, Irsyad jadi merasa lebih tenang.


Irsyad segera menyusul. Namun, sesaat kemudian Irsyad baru ingat. Irsyad dan Kila baru saja dari lantai empat. Untuk melanjutkan tujuan ke lantai dua, ia bisa saja menggunakan lift walaupun sebelumnya Kila dan Irsyad memilih menggunakan eskalator untuk mencapai lantai empat. Dan otomatis, saat akan menuju ke lantai dua, pasti melewati lantai tiga terlebih dahulu.


Kemudian, Irsyad lebih khawatir karena jika Kila melewati eskalator yang juga letaknya dekat lift, ia akan jelas melihatnya. Buru-buru Irsyad memasuki lift langsung menuju tempat Kila untuk memastikan.


"Kila? Kamu kenapa pergi begitu saja? Maaf meninggalkan kamu terlalu lama. Tadi saya bertemu dengan Nabila dulu," ucap Irsyad ngos-ngosan karena buru-buru menuju Kila.


"Nih, minum dulu, Kak." Kila yang perhatian menyodorkan botol minum miliknya.


"Kila tahu, kok, Kak. Tadi sempat lihat juga," ucap Kila. Irsyad hampir tersedak mendengar itu. Sempat lihat bagaimana yang Kila maksud? Apa Kila juga mendengar obrolan mereka?


"Kila tadi turun pakai eskalator, terus ketemu gulali ini, jadi pengen beli. Maaf ya karena nggak langsung ngabarin Kakak," imbuh Kila seraya menunjukkan gulali yang sudah dibuka separuh dari bungkusannya.


"Naik eskalator?" batin Irsyad panik. Botol minum segera ia tutup. Ia tidak ingin tersedak saat mendengar sesuatu yang lebih ekstrim lagi jika meneruskan untuk minum.


"Kila, kamu lihat sesuatu di restoran dekat lift lantai tiga? Dan lagi, apa kamu mendengar pembicaraan saya dan Nabila?" tanya Irsyad berusaha tenang. Kila mengangguk, dan itu membuat Irsyad semakin panik. Padahal, Irsyad sudah menyiapkan hatinya sebelumnya, sudah kejadian seperti ini masih saja kepanikan tidak dapat terhindarkan.


"Kita pulang aja, ya, Kak. Kakak belum selesaikan pemeriksaan tugas mahasiswa, kan? Kila juga mau pulang ke tempat Mama besok, jadi harus packing cepat-cepat," ujar Kila. Lalu, Kila jalan lebih dulu meninggalkan Irsyad. Tak lama, Irsyad menyusul. Sampai di mobil, Kila malah membenamkan pandangannya menatap keluar dari jendela mobil seraya melamun.


Kila memang bilang akan lebih dulu ke rumah sang mama. Namun, Irsyad tidak menyangka Kila akan pergi besok. Apa karena "sesuatu" yang sudah ia lihat itu? Irsyad tidak tahu harus bagaimana. Ingin membahas, tapi tidak enak dengan Kila yang kemudian langsung melamun. Ia melihat sosok Kila dulu saat SMA, Kila yang sering melamun itu kembali.


"Kila..., kenapa tidak dimakan lagi gulalinya?" Irsyad mulai berbasa-basi. Setidaknya itu berhasil membuat Kila berhenti sejenak dari lamunannya. Tatapan Kila pun teralihkan dari kaca jendela mobil untuk menanggapi Irsyad.


"Aa..., Kila kekenyangan, Kak. Gulalinya manis banget, bikin mual karena enek," respons Kila. Ia melanjutkan kembali melamun menatap jalanan dari jendela mobil.


"Padahal aku pikir, dengan makan gulali dapat mengalihkan pikiran tentang apa yang baru aku lihat," batin Kila.


Irsyad tidak bisa lagi melanjutkan pembicaraan. Jika di bahas di sini tidak akan efektif. Ia akan menjelaskan semuanya di rumah nanti.


...****************...