Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Makan Siang Bersama



Setelah sekitar sepuluh menit menuju jalan pulang, akhirnya mereka sampai di rumah Kila. Kila sudah masuk duluan karena diberi tanda oleh sang nenek untuk menyiapkan piring makan untuk tiga orang. Irsyad berjalan pelan sekali karena merasa segan menumpang makan di rumah orang.


“Ayo, Nak Irsyad, silahkan masuk,” ucap nenek menawarkan. Sebelumnya ia juga sudah menawarkan Irsyad, tapi melihat Irsyad berjalan pelan sekali ia jadi menawarkan lagi.


“Tidak perlu sungkan, anggap aja rumah sendiri. Ayo masuk,” lanjut nenek. Irsyad kemudian menormalkan langkah kakinya untuk memasuki rumah Kila.


“Assalamu’alaykum, maaf mengganggu dan merepotkan,” ucap Irsyad yang baru saja memasuki rumah.


“Wa’alaykumussalam,” jawab nenek dan Kila bersamaan.


“Silahkan masuk, meja makannya di sebelah sana, mari,” ujar nenek. Kemudian ia menuntun Irsyad ke arah meja makan yang berada di antara dapur dan ruangan keluarga.


“Silahkan duduk,” nenek mempersilahkan saat mereka sudah sampai di meja makan.


Kila sudah melakukan yang nenek perintahkan. Ia sudah menyediakan piring untuk mereka bertiga lengkap dengan alat makannya. Sementara lauk pauk sudah ada dihidangkan di meja makan, jadi mereka tinggal mengambilnya saja.


“Silahkan diambil, jangan malu-malu. Ambil saja yang banyak biar kenyang, jangan dikit-dikit, ya,” tawar nenek lagi. Irsyad merespon dengan senyuman ramahnya.


Mereka sudah mengambil porsi makanan masing-masing. Kila merasa aneh karena duduk di meja makan yang sama bersama dengan Irsyad. “Situasi seperti ini sudah seperti keluarga saja, padahal nenek hanya melakukan ini sebagai bentuk terimakasihnya karena Pak Irsyad sudah bersedia mengantar kami. Aku tak ingin salah paham lagi dengan perasaan rumit ini,” batin Kila berucap. Ia tidak dapat makan dengan leluasa seperti biasanya karena di depannya ada Irsyad.


“Wah enak sekali masakannya,” ucap Irsyad di sela-sela waktu makan.


Kila dan nenek hanya tersenyum membalas sebagai respon dari ucapan Irsyad. Sebenarnya ingin sekali nenek mengobrol lebih jauh saat ini untuk membalas perkataan Irsyad, tapi ia takut karena cucunya anti sekali kalau sudah di meja makan mengobrol.


Sementara Irsyad, ia bingung sebab ucapannya tidak dijawab. Mengenal sosok seperti nenek Kila ini sudah pasti ucapan singkat tadi akan berlangsung menjadi obrolan panjang saat nenek menyahutinya. Namun, rupanya tidak ada sahutan dari nenek. Hal ini membuat Irsyad berpikir apakah ada yang salah dengan perkataannya.


“Ibu dan Kila selalu makan siang bersama, ya? Selalu di meja makan seperti ini?” ucap Irsyad lagi. Kali ini ia ingin ucapannya disahuti, karena merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya kali ini.


Namun, siapa sangka. Irsyad berpikir bahwa ia telah memperburuk keadaan. Pasalnya, nenek hanya merespon dengan anggukan saja. Ia jadi merasa bersalah.


“Sepertinya saya melontarkan perkataan yang tidak berkenan di hati Ibu, saya minta maaf. Saya tidak akan tanya apapun lagi. Sepertinya, saya terlalu mengulik masalah yang privat,” ucap Irsyad tidak enakan.


Nenek sadar benar, Irsyad berlaku seperti ini sebab ia hanya mengangguk saja menanggapi Irsyad. Sepertinya itu yang membuat Irsyad sampai tidak enakan.


“Bukan begitu, Nak Irsyad. Maaf juga karena hanya membalas ucapan Nak Irsyad dengan anggukan saja. Sebenarnya, kebiasaan kami di meja makan adalah tidak pernah mengobrol. Biasanya ini akan membuat waktu kami efisien karena cepat menyelesaikan makanan yang sudah diporsikan.” Nenek memberi penjelasan, sedangkan Irsyad mengangguk memahaminya.


“Biasanya juga, kami melakukan ini supaya tidak tersedak semisal bicara saat sedang makan. Jadi, kami menerapkan juga kalau ada tamu yang ikut makan. Tapi ini karena kamu perdana makan di sini dan tidak terlalu sering ke sini juga, jadinya belum saya beritahu kebiasaan saat makan kami ini. Jadi, saya harap Nak Irsyad jangan tidak enakan, ya. Nggak ada perkataan Nak Irsyad yang menyinggung atau kurang berkenan di hati, kok, tenang saja.” Lanjut nenek memperjelas.


Nenek memang orang yang sangat peka, ia bisa tahu yang Irsyad pikirkan dan apa yang membuat Irsyad tidak enakan. Irsyad terkesan akan itu. Ia juga terkesan dengan kebiasaan keluarga Kila ini, sebab kebiasaannya berbeda sekali dengan keluarganya yang selalu bicara saat sedang makan bersama seperti ini. Ia juga mengira semua keluarga mempunyai kebiasaan makan seperti keluarganya, makanya ia berusaha berbicara. Selain sebagai kebiasaannya dengan keluarganya, itu ia lakukan juga agar suasana yang senyap sempat ia ciptakan tadi perlahan memudar dengan ia memulai pembicaraan juga.


“Um, jadi seperti itu, ya. Maafkan saya juga karena seenaknya bicara. Soalnya, saya sudah kebiasaan kalau di rumah sering ngobrol dengan keluarga kalau sedang makan.” Irsyad juga mencoba merespons agar suasana jadi membaik.


“Oiya? Wah, nggak nyangka ternyata keluarga Nak Irsyad seperti itu. Kalau boleh tahu, kenapa seperti itu? Bukannya makan sambil ngobrol lebih banyak bahayanya?” Nenek berusaha menyelisik.


Kila tidak suka ini, neneknya berusaha bertanya sesuatu yang bersifat privasi pada Irsyad, sama seperti saat kunjungan waktu itu. Ditambah, secara tidak langsung ia disebut oleh sang nenek. Sebab, yang memberi kebiasaan untuk tidak makan saat di meja makan dan memberitahu bahayanya pada keluarganya itu adalah Kila sendiri.


“Ehem,” Kila berdehem. Ia memberikan kode kepada sang nenek. Nenek langsung mengerti kode yang diberikan cucunya itu. Nenek melanjutkan makannya untuk memberi respon kalau ia sudah mengerti kode Kila.


“Memang benar yang Ibu katakan, bicara saat makan lebih banyak bahayanya apalagi dengan mengobrol. Sebenarnya ada yang tidak bisa dilakukan satu keluarga, selain saat mereka semua berkumpul bersama di meja makan untuk bersama-sama makan. Keluarga saya termasuk keluarga yang seperti itu. Saya dan orangtua saya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, jadi waktu kami bertemu dan berkumpul hanya di meja makan. Jadi, walaupun saya dan orangtua tidak berjumpa satu sama lain, kami memanfaatkan waktu makan bersama untuk lebih dekat sebagai keluarga.” Irsyad menerangkan, sedangkan nenek mendengar sambil menyantap makanannya.


“Mengobrol saat makan memang tidak baik. Tapi mengobrol saat sudah menelan makanan, atau bicara saat tidak ada makanan atau minuman yang dimasukkan ke mulut, itu baru baik. Bahkan dianjurkan, apalagi untuk keluarga yang hanya bisa berkumpul di meja makan saja. Mengetahui cerita masing-masing anggota keluarga, menanyakan bagaimana hari-hari telah dilewati yang tak pernah diucapkan jika hanya sekedar bertemu bertatap muka sejenak saja. Dengan itu hubungan dengan keluarga menjadi lebih dekat juga dapat lebih sehat.” Irsyad melanjutkan, kemudian meneggak air minum untuk membasahi tenggorokannya yang mulai mengering.


“Jika ada tamu, kita membuat tamu senyaman mungkin dengan mengajaknya mengobrol mengenai topik apapun. Tapi, di sini saya tidak menyindir keluarga Ibu, saya hanya menyampaikan. Begitulah kira-kira,” ujar Irsyad. Ia mengakhiri pernyataannya dengan melanjutkan menyantap makanan yang sudah ia taruh di piringnya tadi.


“Wah, seperti itu ternyata. Sepertinya bisa kita contoh, Kil,” ujar nenek menanggapi.


Kila hanya mengangguk memberi respons. Ia secara tidak langsung diberitahu bagaimana hubungan Irsyad dengan keluarganya. Ia bahkan sekarang juga kagum dengan keluarga Irsyad.


“Tidak perlu dipaksakan, Bu. Setiap keluarga keadaanya juga berbeda, kan. Bisa jadi juga, karena banyak mengobrol di meja makan bukan malah menjadi dekat dengan keluarga tetapi malah membuat percakapan yang memicu konflik. Tapi, itu kembali ke tiap-tiap keluarga bagaimana ingin menyikapinya.” Irsyad memperingatkan dengan sopan.


Makan siang bersama ini sungguh membuka wawasan Kila. Ia juga jadi lebih banyak tahu tentang Irsyad. Ia merasa senang akan hal itu, namun kemudian ia merasa sedih. Dimanapun Irsyad berada di dekat Kila, ia tetap menunjukkan bahwa ia adalah seorang guru yang memberi pengetahuan baru. Secara tak langsung memperingatkan Kila bahwa Irsyad tetaplah seorang guru di manapun ia berada. Perhatian atas sikap spesial yang Kila anggap hanya ditunjukkan ke Kila saja adalah salah paham Kila. Irsyad menunjukkannya karena ia adalah guru yang peduli dengan muridnya.


...****************...