Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Melihat Nenek di dalam Irsyad



Dua bulan berlalu. Kila dengan kesedihan tentang perpisahan kedua orang tuanya tetap berusaha menjalani hari seperti biasa. Karena UTS sudah dekat, dan ia juga merupakan asisten dosen, ia jadi lebih sibuk dengan urusan akademik. Itulah untungnya dari sibuk, mengalihkan perhatian dan pikiran kita terhadap sesuatu yang tak ingin diperhatikan dan dipikirkan. Hingga akhirnya UTS telah selesai, dan kesibukan Kila adalah membantu Irsyad memeriksa UTS mahasiswanya.


Kila sudah lama tidak berkunjung ke rumah untuk melihat Riska. Ia hanya menelepon atau kadang video call untuk menanyakan kabar Riska. Untuk uang bulanan, semenjak perceraian itu Kila rutin memberikannya setiap seminggu sekali. Meski tidak sebesar uang penghasilan Riska saat kerja dulu, ia merasa uang yang ia sisihkan cukup. Sebab, enam puluh persen dari laba online shop-nya ia peruntukkan untuk Riska. Kila tahu, uang rumah yang dijual serta perusahaan yang di jual sebagian besar sahamnya dari hasil bagi harta perceraian itu dapat menghidupi Riska dengan sangat berkecukupan. Namun, agar sang Mama tak merasa sendirian setelah perceraian itu, ia melakukannya. Memberitahukan kepada Riska bahwa keberadaannya sebagai seorang anak selalu ada.


"Kak, gimana dengan pekerjaan Kakak dengan Mbak Nabila?" Kila membuka suara saat keduanya sedang istirahat sejenak memeriksa UTS mahasiswa. Keduanya suatu duduk di sofa ruangan kerja Irsyad, bersantai dengan beberapa camilan dan soft drink di sana.


Setelah dua bulan, Kila tidak pernah membahas soal pihak lain. Mungkin karena dirinya sudah mulai tenang karena UTS nya telah selesai, ia ingin membuka diri menerima banyak fakta yang terlambat ia ketahui.


"Hmm..., Saya sudah tidak bekerja lagi dengan Nabila. Dia yang mengajukan permohonan pengunduran diri duluan," jawab Irsyad.


"Ooh. Jadi, siapa yang membantu Kakak sebagai penggantinya?"


"Mama. Daripada beliau tidak tahu ingin melakukan apa, saya menawarkan pekerjaan ini. Beliau bilang hasilnya lumayan untuk membuat perusahaan baru selain ditambah dengan uang yang selalu kamu berikan tiap pekan dan uang pembagian harta miliknya dari perceraian itu."


Irsyad tidak pernah bercerita soal itu. Namun, Kila tak mempermasalahkannya. Hal yang dilakukan Irsyad sangat baik, tidak ada yang harus dipermasalahkan. Bahkan, Irsyad memilih untuk tidak mengatakan soal orangtuanya secara gamblang karena takut merusak mental Kila yang perlahan sudah mulai sehat kembali.


"Maaf ya, Kak. Selama ini Kakak yang harus lihatin Mama. Kakak juga perhatian banget sama Mama, terimakasih banyak, ya, Kak."


Kila memang selalu menanyakan kabar Riska, meskipun melalui gawai. Untuk melihat secara langsung keadaan sang Mama, ia meminta tolong kepada Irsyad. Kila hanya tidak siap bertatap muka langsung, meskipun cukup sering ia melakukan video call dengan Riska.


"Iya, sama-sama. Lagian, kamu masih belum sanggup bertatap langsung melihat kondisi Mama, saya mengerti itu. Jangan menyalahkan diri lagi, ya, Kila. Mama sudah terlihat lebih baik dan lebih sehat, meskipun beliau bercerai dan hidup sendirian sekarang. Perceraian itu bukan salah kamu, bukan karena ucapan kamu tentang perceraian yang mengakibatkan terjadinya perceraian itu. Bukan salah kamu juga menginginkan mereka lebih baik bercerai, kamu hanya memikirkan kebahagiaan Mama saja. Lagian, memang mereka jodohnya hanya sampai di situ saja." Irsyad menjawab dengan berharap itu akan sedikit menghibur Kila dari kesedihannya.


Mereka berdua semakin santai. Kila membaringkan tubuhnya di atas paha Irsyad. Kadang, ini membuatnya lebih rileks karena sering melakukannya dengan nenek dulu. Dan setelahnya, Irsyad mengusap rambut Kila perlahan, sama seperti yang dilakukan nenek saat itu dalam posisi seperti ini.


"Kila masih bisa ketemu Papa nggak, ya?" tanya Kila.


"Seperti yang kamu bilang, meskipun Papa Gilang adalah mantan suami Mama Riska, beliau tetaplah Papa kamu. Tidak ada yang namanya mantan Papa. Kamu bebas menemuinya," jawab Irsyad begitu lembut dan menenangkan.


"Tapi, apa Papa mau ketemu sama Kila? Ucapan Kila waktu itu, apa sampai ke lubuk hati Papa? Apa Papa tahu kalau Kila benar-benar nggak ada rasa sesal sedikitpun memiliki seorang Papa seperti dirinya?" Kila masih kurang percaya diri.


"Kila sayang..., perkataan kamu sampai ke semua orang, termasuk ke Papa." Kepala Kila diusap lembut, perkataan yang begitu lembut itu menyentuh hati Kila. Perlakuan yang sama saat ia suka bercerita kepada nenek, bercerita segala hal dan nenek mendengarkan dengan seksama seraya tak henti mengusap lembut kepala Kila. Ia melihat nenek di dalam Irsyad.


Irsyad agak terkejut karena panggilannya berubah. Namun, ia tak terganggu dengan itu. Kila sepertinya lebih nyaman dalam posisi ini, sehingga mengingatkannya pada sang nenek, pikirnya.


"Kila tahu kalau sekarang semuanya jadi lebih sehat. Mama jadi nggak kebanyakan kerja kayak dulu lagi, kata Mama, sekarang makan bisa lebih teratur dibanding waktu itu. Apa Kila salah karena bahagia atas perpisahan mereka?"


Benar tebakan Irsyad. Sepertinya, Kila begitu nyaman saat bercerita dengan neneknya. Ia berkata begitu lancar.


"Nek..., perceraian itu dibenci Allah, kan? Apa Kila sebagai pemicu perceraian itu benar-benar dibenci oleh Allah sekarang?" Kila mulai berucap lirih seperti orang yang sadar telah melakukan banyak dosa.


Entah kenapa, Kila berhenti sejenak dari ocehannya. Irsyad pikir Kila tidak apa-apa, sampai ia merasakan celananya terkena tumpahan air mata sang istri. Kila tidak baik-baik saja, ia menangis dalam diam yang membuat orang berpikir bahwa Kila baik-baik saja. Irsyad segera membuat Kila kembali pada posisi duduk. Lalu, segera mengusap air matanya yang terus-menerus mengalir tanpa henti meskipun terus diusap. Irsyad sangat khawatir dalam hati, ia tidak peka dengan urusan seperti ini, ia tidak tahu kenapa Kila begitu sedih sampai tidak bisa berhenti atau sekedar memelankan laju air matanya yang mengalir.


"Nek..., kenapa hubungan antara manusia selain sama nenek itu merumitkan? Kila cuma mau nenek aja di sini." Kila lanjut bicara lagi, ia sesenggukan sesekali. Irsyad begitu tersentuh melihat Kila seperti ini. Air mata Irsyad juga mulai memadati pelupuk mata.


"Kalau dipikir-pikir lagi, penyebab meninggalnya nenek itu Kila, kan? Penyebab perceraian Mama dan Papa juga disebabkan oleh Kila. Semua yang Kila lakukan hanya hal buruk. Apa Kila ikut aja sama nenek? Kila nggak pantas untuk hidup." Ucapan Kila selanjutnya sukses membuat Irsyad juga ikut mengalirkan air mata. Kila tak melihat itu karena saat dalam posisi duduk tadi, ia tidak memandang ke depan dan lebih memilih memandang bawah.


"Jangan bicara seperti itu, Kila. Kamu masih punya saya. Saya sangat membutuhkan kamu untuk hidup. Jangan seenaknya menyalahkan diri sendiri, Kila. Kamu orang baik, tidak seburuk yang kamu pikirkan." Irsyad buka suara. Lalu, Kila sadar, ia bukan sedang berbicara dengan neneknya. Ia hanya melihat nenek di dalam Irsyad. Ia lalu memandang Irsyad dengan tatapan sendu dan sesal, serta air mata yang masih mengalir dan sesenggukan.


"Nek..., Kak Irsyad..., kenapa harus Kak Irsyad? Wasiat yang aneh! Bahkan Kak Irsyad terlalu baik untuk bersanding dengan Kila. Kila yang hina ini nggak pantas untuk berbagi kehidupan dengan orang yang sangat baik seperti beliau," ucap Kila menatap Irsyad lurus. Irsyad kian sedih saat dilihatnya mata Kila memancarkan kejujuran. Apa semenderita itu ia hidup sejak dinikahi Irsyad? Bukan sekali ini saja Kila mengeluhkan hal yang sama.


Irsyad memegang kedua pundak Kila, menatap dalam-dalam manik mata Kila dan berkata, "Kila! Lihat mata saya baik-baik! Lihat dalam-dalam. Ini saya, Irsyad. Kamu lihat apa di mata saya? Saya sangat mencintai kamu! Tanpa pesan dari nenek pun, pasti saya akan menemui kamu untuk menjadi istri saya."


"Terimakasih atas kebaikannya untuk menghibur Kila. Kakak begitu baik sampai mengatakan hal itu hanya untuk menenangkan Kila."


Irsyad mendekap Kila, lalu mencium keningnya. Menunjukkan betapa ia sangat mencintai Kila. Mengisyaratkan agar Kila percaya dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


"Kila! Dengar, saya tidak berbohong. Kamu lihat ada kebohongan di mata saya? Tidak ada! Saya benar-benar mengatakan hal yang sejujurnya. Bahkan, jika boleh mengatakan hal yang begitu jujur, saya tidak bisa hidup tanpa kamu meskipun itu terdengar berlebihan."


Irsyad mengakhiri ucapannya dengan mengecup kening Kila sekali lagi. Menunjukkan betapa Irsyad benar-benar mencintai Kila. Sedangkan Kila tidak punya tenaga lagi untuk bicara, ia hanya bisa menangis dalam dekapan yang kian erat itu.


...****************...