Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Sikap Dingin



"Selamat makan! Jangan lupa baca doa." Kila memberikan post it untuk makan malam Irsyad. Mereka tidak makan di waktu yang sama. Seperti yang diduga, datangnya Farhan dan Yuli serta berita yang sudah sempat didengar membuat Kila kepikiran. Kila juga memilih makan lebih dulu untuk menyibukkan diri dengan skripsi, hanya itu satu-satunya cara untuk mengalihkan pikiran buruknya tentang Irsyad.


Irsyad membaca post it itu. Gemas rasanya ingin menanggapi. Kemudian, Irsyad mengambil pulpennya dan menuliskan sesuatu di balik post it yang masih kosong.


"Bagaimana perkembangan skripsi?" tulis Irsyad. Entah apa yang membuat Irsyad memilih topik itu. Ia harusnya peka akan kesensitifan topik itu. Ia sendiri orang yang akan menjanjikan untuk menjadi dosen pribadi Kila untuk berkontribusi dalam mencapai tujuan Kila agar cepat lulus. Nyatanya, hanya satu kali Irsyad mengambil peran itu, di saat mereka baru saja pindah ke rumah yang mereka tinggali sekarang, sisanya peran itu langsung ia lupakan begitu saja.


Selesai menuliskan itu, Irsyad duduk dan mulai menyantap hidangan makanan yang telah disajikan Kila. Ia memandang sekilas balasan yang ia tulis itu, berharap Kila akan membalasnya dengan baik esok hari.


Tidak sampai esok hari, Kila sudah melihat


balasan dari post it yang ia tulis. Tentu saja ia melihatnya di hari yang sama karena harus membereskan meja makan terlebih dahulu sebelum tidur. Tapi, saat ingin membereskannya, semuanya sudah terlihat rapi dan tidak ada satupun piring kotor. Kila berpikir, Irsyadlah yang pasti sudah membereskan semuanya sebelum kembali ke ruang kerjanya.


Menanyakan tentang skripsi, Kila bingung harus membalas bagaimana. Besok ia ada jadwal bertemu dengan seorang dosen untuk membahas tentang skripsinya. Sebaiknya ia membalas melalui pesan chat saja sekalian mengatakan ketidakbisaannya untuk mengunjungi rumah orang tua Irsyad besok.


"Alhamdulillah skripsi aman. Oiya, lain kali piringnya tinggalin aja, Kak, biar Kila yang cuci," balas Kila. Ia pikir tidak perlu mengawalinya dengan salam karena ia membalas perihal dari post it tadi.


"Kak, Kila nggak bisa ikut ke rumah bunda besok," kirim Kila lagi.


"Kebetulan sekali, saya juga tidak bisa. Ada urusan mendadak yang harus saya urus. Nanti biar saya saja yang mengabari bunda." Irsyad langsung membalas, bukan menanyakan alasan Kila terlebih dahulu.


"Perlu disiapkan makan nggak, Kak?" tanya Kila. Ia juga memutuskan untuk tidak menanyakan alasan Irsyad. Ia berusaha bersikap profesional sebagai istri, menanyakan kebutuhan primer sang suami—makan.


"Tidak perlu. Saya akan berangkat pagi-pagi. Begitu juga dengan sarapan, saya akan makan di jalan saja agar tidak terlambat," balas Irsyad.


"Pulangnya kapan, Kak?" tanya Kila. Harusnya ia menanyakan juga tentang perlu tidaknya dibantu persiapan barang apa saja yang akan dibawa oleh Irsyad. Namun, Kila mengurungkan niatnya karena ia sudah tahu apa jawabannya dan tidak ada gunanya bertanya tentang itu.


"Tidak sampai menginap. Saya akan pulang sekitar satu jam setelah mengerjakan shalat Isya di masjid terdekat. Kamu bisa langsung tidur, tidak perlu menunggu saya. Bisa jadi saya akan pulang lebih dari jam yang saya sebutkan," jelas Irsyad. Kila lega mengetahui Irsyad pergi tidak sampai menginap.


"Oooh, ya udah kalau gitu," balas Kila. Dan percakapan berakhir sampai di situ. Irsyad juga hanya membaca dan tidak membalas balasan terakhir dari Kila. Seketika Kila jadi berpikir pria hangat yang ia nikahi ini kini berubah menjadi pria yang dingin. Perilaku Irsyad yang ditunjukkan ke Kila akhir-akhir ini terasa dingin. Dan dingin itu juga menular ke Kila, ia kembali menjadi dingin seperti saat masih tinggal di rumah yang berisi dirinya, nenek, dan orangtuanya yang sibuk dengan berbagai pekerjaan.


...****************...


Kila kembali turun setelah menenangkan dirinya. Namun, dirinya kembali tidak tenang karena bersamaan dengan turunnya Kila, Irsyad juga langsung keluar rumah tanpa pamit dan meninggal teh yang telah disajikan Kila.


"Sepertinya aku telah terbiasa dengan sikap Kak Irsyad yang dingin ini," ucap Kila tak ambil pusing. Sebenarnya ia hanya membohongi diri sendiri karena hanya itulah satu-satunya cara agar mencegah air matanya meluap hanya gara-gara hal kecil seperti ini.


Jam berputar serasa lebih cepat. Alarm yang Kila setel sebagai pengingat waktu pertemuannya dengan dosen sudah berbunyi. Ia yang sibuk berkutat di laptopnya untuk mengalihkan pikiran tentang si pria dingin itu, bangkit dan segera bersiap menuju tempat pertemuan. Sebuah tempat yang letaknya agak jauh dari rumah Kila, sehingga Kila harus bersiap-siap lebih awal.


Setelah tiga puluh menit melakukan perjalanan dengan motornya, Kila akhirnya sampai di tempat tujuan. Dan ia harus menunggu sampai dosennya datang karena Kila datang lebih awal dari waktu janjian. Ia memesan makanan terlebih dahulu untuk mengisi kembali tenaganya yang terkuras karena mengendarai motor, seraya membuka laptopnya untuk melihat-lihat pekerjaan skripsi yang telah ia buat.


"Itu papa? Lagi dinas ke sini? Aku samperin aja, deh." Kila melihat-lihat kafe dan menyadari ada sang papa yang juga berada di tempat yang sama. Ia baru menyadari kehadiran Gilang dikarenakan letak meja mereka yang berjauhan.


Lalu Kila melihat orang yang di ajak bicara oleh papanya. Melihat dengan jelas orang itu yang ternyata adalah seorang wanita.


"Lho, bukannya itu wanita yang waktu itu? Apa papa ke sini untuk menemui wanita yang katanya kliennya itu? Papa dekat banget sama seseorang yang cuma klien doang. Aku mau samperin aja deh, sekalian menyapa papa," ujar Kila. Ia hendak berdiri, tapi seseorang datang menghampirinya.


"Huh, maaf Kila, Saya terlambat," ucap orang itu. Siapa lagi yang menghampiri Kila selain dosen yang sebelumnya sudah membuat janji dengannya. Kenapa ibu dosen ini datang di waktu yang kurang tepat?


"Ooh, tidak apa-apa, Bu. Saya juga baru saja sampai, kok, Bu," sambut Kila berusaha senyum.


"Sebentar ya, Kila. Saya mau makan dulu sebelum melanjutkan membahas skripsi kamu. Soalnya belum sempat makan siang tadi," ujar si dosen.


"Iya, Bu, silahkan," jawab Kila dengan senyuman. Berniat untuk menutupi perasaan gemas karena tidak bisa menghampiri Gilang setelah dosen ini datang.


Karena kedatangan sang dosen, Kila memutuskan untuk tidak menyapa Gilang. Jika Gilang tahu kalau Kila lebih memprioritaskan untuk menyapa Gilang dibandingkan mendiskusikan skripsinya, akan ada lagi masalah yang akan datang. Orang tua seperti Gilang dan Riska tidak mau tahu, anaknya harus lebih fokus dengan pendidikan dibandingkan mengurus hal kecil lain yang menghambat pendidikannya. Jadi, Gilang pasti akan marah besar kalau Kila menghampirinya hanya sekedar untuk menyapa.


...****************...