
Irsyad sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk membahas kejadian di mall itu. Sampai di rumah, Kila malah sibuk merapikan barang-barang yang akan dibawa, lalu langsung tidur karena tamu bulanannya datang. Irsyad juga tidak dapat membahasnya secara frontal, sebab Kila terlihat seperti tidak ingin membahasnya.
Saat pagi pun, Kila hanya menyambut Irsyad seperti biasa lalu menyiapkan sarapan. Mereka tidak makan bersama karena Kila berkata sudah sarapan duluan. Ia meninggalkan Irsyad di meja makan, sementara dirinya bersiap untuk berangkat menuju bandara. Benar-benar tidak ada waktu untuk bicara.
"Saya bisa menyusul kamu dalam dua hari lagi," tulis Irsyad dalam sebuah pesan chat. Kila sampai tidak membahas dalam satu hari, padahal ia pasti sudah berada di rumah Riska.
Hari selanjutnya, Irsyad juga memberikan beberapa pesan chat. Namun, tak kunjung dibalas. Beberapa kali pula Irsyad selingi dengan mencoba menelepon, tapi itu juga sia-sia. Apa Kila menghilangkan ponselnya? pikir Irsyad. Irsyad benar-benar khawatir.
"Sudah saatnya saya berangkat. Kamu di rumah Mama Riska baik-baik saja, kan? Jika tidak, jangan paksakan untuk menyambut saya." tulis Irsyad untuk kesekian kalinya.
Sesaat setelah pesan itu terkirim, terlihat ada telpon masuk dari Kila. Irsyad dengan cepat mengucapkan salam dan menanyakan kabar Kila. Ucapan Kila terdengar sedang tidak baik, tapi ia mengaku bahwa ia baik-baik saja.
Selanjutnya, Irsyad tidak tahu harus membicarakan apa. Kila yang mengambil alih, ia bicara panjang tanpa mendengar tanggapan Irsyad.
"Sebenarnya, Kila udah nggak di rumah Mama. Kila nggak mau ganggu kerjaan Mama, soalnya Kila lihat Mama lagi sibuk banget. Jadi, sekarang Kila ada di rumah. Rumah Kila, waktu itu sempat beli, tapi nggak bilang sama Kakak. Maaf ya, Kak, Kila nyembunyiin hal ini. Oiya, Kakak nggak perlu nyusul, soalnya Kila lagi beberes rumah dan coba mau isi perabotan lainnya. Ntar mau Kila sewain juga kalau perabotnya udah lengkap. Tenang aja, Kila bakal pulang sesuai jadwal, kok. Jadi, bisa, kan, Kila minta waktunya untuk di sini dulu, sendirian? Kila anggap Kakak mengizinkan, ya," ujar Kila. Ia sama sekali tidak memberi kesempatan Irsyad untuk menanggapi.
"Segitu aja yang mau Kila omongin. Maaf, ya, Kak, Kila sibuk banget dan nggak akan sempat ngomong lama-lama atau balas pesan Kakak. Kila matiin dulu. Assalamu'alaykum," lanjut Kila seraya menutup percakapan.
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Begitulah kabar dari Kila. Irsyad mencoba mengerti tentang sikap Kila. Mungkin akan lebih baik membiarkannya sendirian dulu sebelum Irsyad benar-benar menjelaskan semuanya. Kalau dijelaskan sekarang terlalu terburu-buru, tidak akan efektif untuk Kila yang moodnya sedang berantakan. Mau bagaimana lagi, Irsyad hanya bisa membiarkan Kila seperti itu.
...****************...
Irsyad melihat Kila beberes dapur. Padahal, sudah waktunya mereka sarapan.
"Kila, kamu nggak ikut sarapan? Sudah makan duluan?" tanya Irsyad.
"Kila lagi puasa Senin-Kamis. Untuk dua minggu ke depan, Kila juga mau puasa ganti. Jadi, Kila nggak bisa makan bareng. Cuman bisa nyediain doang."
"Ooh, begitu."
Semenjak pulang, Kila selalu beralasan untuk tidak satu ruang dengan Irsyad. Sudah pulang dari semalam, tapi Kila terlihat menjaga jarak dengan Kila.
Aktivitas akademik dimulai hari ini. Mulai memasuki semester dua untuk Kila dan mahasiswa baru yang diajarnya. Kila harus mengajar sendirian karena Irsyad sibuk dengan urusan jurnalnya. Itu justru menguntungkan Kila karena dapat menjaga jarak dari Irsyad.
"Kila, nanti saya akan menjemput kamu. Saya tunggu di parkiran fakultas kamu, ya." Irsyad bicara dengan Kila saat kelas sudah selesai. Irsyad menyusul Kila, tepat sekali mereka berpapasan di koridor. Kila agak terkejut karena Irsyad repot-repot mengatakan langsung ke Kila, padahal Irsyad sendiri juga sangat sibuk di kantornya.
"Maaf, Pak. Di sini masih ada mahasiswa yang lalu lalang. Lebih baik kita berkomunikasi melalui ponsel saja. Saya juga harus segera pamit untuk menghadiri kelas," ucap Kila terdengar was-was. Selain karena Kila ingin menjaga jarak dengan Irsyad, kali ini Irsyad juga membuat percakapan yang berkaitan dengan hubungan mereka. Jadi, Kila was-was dan tidak ingin mahasiswa mendengar percakapan mereka.
"Siang, Pak Irsyad. Siang Kak Kila." Tak lama mahasiswa yang baru Kila ajar datang. Kila makin was-was, dalam hati berharap tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka sebelumnya.
"Siang," jawab Irsyad, sedangkan Kila hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Mahasiswa yang bertanya ini adalah ketua kelas dari kelas yang baru Kila ajar. "Kak, mengenai tugas yang diberikan tadi...," ucapnya menggantung.
"Aa.., tanyakan ke Pak Irsyad saja." Kila justru memanfaatkannya untuk kabur dari Irsyad.
Tak lama, Kila melenggang pergi ke kelasnya meninggalkan dua orang itu.
"Kalian sudah diberikan tugas dihari pertama masuk?"
"Iya, Pak. Apa Bapak nggak tahu?"
"Aa.., mungkin Kila lupa memberitahu saya. Dia ingin melatih kalian untuk terbiasa dengan tugas yang menumpuk, jadi mulai berinisiatif untuk memberikan kalian tugas tanpa arahan saya."
"Ooh, gitu ternyata. Kirain ada dendam apa ke kelas kita. Soalnya hari ini Kak Kila ngajar nggak seceria biasanya. Agak dingin atau gimana gitu, lebih dikit ngomong. Biasanya Kak Kila ikut cara ngajar Pak Irsyad yang santai dan suasana yang ceria, tapi hari ini kayak Kak Kila jadi dosen cool yang killer."
"Ooh, begitu. Ya sudah, mana yang ingin ditanyakan?"
Keduanya melanjutkan percakapan. Kila cukup spesifik memberikan instruksi untuk tugasnya, tapi karena pembawaannya kali ini yang dingin, ada sebagian besar mahasiswa yang kurang mengerti tugas yang diberikan oleh Kila. Irsyad juga tidak menyangka Kila hari ini mengajar seperti itu. Mungkin pengaruh kejadian yang belum dibicarakan itu. Sekelebat bayangan bagaimana kejadian di mall itu malah membuat Irsyad merasa bersalah. Karena setelahnya, Kila terus menunjukkan sikap dingin, tidak hanya kepada dirinya tapi ke semua orang yang ditemuinya, termasuk para mahasiswa itu.
...****************...
Kila, ia memilih membaca buku saat di dalam mobil, saat ke kampus ataupun pulang dari kampus bersama Irsyad. Setelah pulang dari rumahnya, ia selalu seperti itu. Belakangan selalu begitu. Saat makan malam juga ia makan bersama dengan bukunya. Memang pendidikan S2 yang ia ambil menuntutnya untuk banyak membaca. Namun, sikap itu juga Kila manfaatkan untuk membuat jarak dengan Irsyad. Sikap itu lolos membuat Irsyad tidak bisa mengganggu kefokusan Kila.
"Besok kamu tidak puasa lagi, kan? Kita bisa makan di meja yang sama lagi. Sepertinya ada banyak masalah yang tidak sempat kita bicarakan."
"Iya, Kak. Tapi besok Kila ada janjian sama temen. Kayaknya Kila nggak sarapan dan makan siang di rumah. Mungkin waktu makan malam baru kita bisa makan bareng."
"Jam berapa? Saya antar, ya?"
Saat Irsyad mengucapkan tawaran itu, tiba-tiba Kila malah berpikiran sebuah ide.
"Kak Irsyad boleh ikut kalau nggak sibuk. Tapi, Kila maunya Kak Irsyad duduk di lain meja dan dengar pembicaraan Kila dengan temen Kila."
"Tentu saja beda meja, saya tidak mungkin mengganggu kenyamanan kalian. Besok saya akan ikut kalau kamu memang menawarkan. Besok juga tidak sibuk, kok."
"Terimakasih, Kak." Kila melanjutkan lagi membaca bukunya.
Karena Kila sedang asyik membaca buku, Irsyad berinisiatif untuk mencuci piring makan mereka. Sejak di mulainya semester baru, piring itu akan dicuci oleh Kila tepat saat sebelum tidur karena asyik membaca buku. Kali ini, Irsyad langsung mencucikannya setelah mereka selesai makan. Irsyad juga ingin meringankan pekerjaan Kila karena tidak terlalu banyak pekerjaan yang harus di selesaikan setelah ini. Selesai dengan piring, ia ingin melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk di meja kerja.
"Jam sepuluh, Kak. Besok jam sepuluh," cekal Kila saat melihat Irsyad melangkah.
Irsyad yang ingin memasuki ruang kerjanya mengangguk menanggapi, "Oke."
"Terimakasih banyak sudah mencucikan piringnya, Kak," ucap Kila terakhir sebelum Irsyad benar-benar menutup pintu ruangan kerjanya. Irsyad hanya tersenyum meresponsnya. Entah senyuman itu terlihat atau tidak, sebab Kila terlihat fokus dengan bacaannya.
Keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Besok, pertemuan Kila dengan temannya. Teman yang mana, Irsyad bertanya-tanya. Penasaran dan tidak sabar menunggu hari esok. Irsyad berpikir, es itu kini sudah mencair, karena ia menawarkan Irsyad untuk ikut dengannya.
...****************...