Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Kencan dengan Kekasih Halal



Tahun baru kali ini akhirnya tiba. Tahun yang kata Irsyad harus dibayar dengan berlibur bersama, untuk menebus liburan waktu itu yang tidak terlaksana karena keteledoran Irsyad.


Mereka memutuskan untuk berkunjung ke rumah orangtuanya Kila. Irsyad sudah lama tidak menemui mereka. Ingin menyampaikan pula kalau dirinya lulus dalam waktu kurang dari lima tahun.


Hari ini sudah hari kedua mereka menginap. Seperti biasa, orang tua Kila keduanya begitu sibuk. Mereka hanya bisa mempersilahkan Kila dan Irsyad untuk masuk ke rumah, lalu melanjutkan bekerja lagi. Irsyad jadi belum bisa untuk bersilaturahim dengan si mertua karena sibuknya.


"Kila, kamu tidak ingin jalan-jalan?" tanya Irsyad yang sudah rapi. Ia selalu berpakaian rapi selama di rumah orang tua Riska. Begitupun dengan Kila yang ikut selalu berpakaian rapi, berharap akan dapat mengajak Irsyad kencan. Tapi, kini ia beruntung karena Irsyad yang lebih dulu memancing obrolan tentang jalan-jalan, kemungkinan akan berakhir dengan kencan, pikir Kila.


"Jalan-jalan, ya? Iya juga sih, Kak. Di rumah aja bosen. Mana udah rapi, juga. Main ke mall, yuk, Kak," usul Kila.


"Ke mall cuma jalan-jalan saja, kan?" tanya Irsyad memastikan. Bukan tipe Irsyad untuk jalan-jalan ke mall. Ia hanya ke mall untuk menemani bundanya untuk membeli perlengkapan anak kos, kadang jika Citra malas untuk ikut pergi, Irsyad sendiri yang pergi untuk membelanjakannya.


"Seperti orang kebanyakan, lha. Kita jalan-jalan, nonton, makan, ke toko buku, nongkrong, ya gitu lah pokoknya, Kak," jawab Kila berpose seperti menghitung.


"Sepertinya sangat terlihat seperti anak muda sekali, ya? Saya sudah tua, tidak pantas melakukan itu semua," balas Irsyad merendah.


"Nggak cuma anak muda aja, kok, yang sudah punya anak punya cucu punya cicit juga gitu biasanya kegiatannya. Lagian, Kak Irsyad masih muda, tahu. Gara-gara Kila bilang tentang hobi minum teh pahit yang kayak hobinya orang tua, Kak Irsyad langsung kayak gitu, menganggap kalau dirinya udah tua. Muka kakak masih muda, tahu. Mana ada yang tahu kalau kakak umurnya udah tiga puluh tahun dari tampang kakak yang begini," balas Kila menjelaskan.


"Sebenarnya saya masih dua puluh sembilan tahun, Kila," ralat Irsyad di bagian terpenting dari ucapan Kila.


"Ya ampun, maaf, Kak. Kila pikir karena beda delapan tahun dari umur Kila---,"ucap Kila menggantung. Takut untuk selanjutnya ia salah bicara lagi.


"Memangnya kamu umurnya berapa?" tanya Irsyad karena kecanggungan Kila menyambung ucapannya.


"Dua puluh satu tahun, Kak," jawab Kila.


"Hari lahir kamu tanggal tiga Maret nanti, kan?" tanya Irsyad lagi.


"Iya. Kenapa, Kak?" tanya Kila balik.


"Saya lahir di tanggal tiga puluh Maret, bulan lahir kita sama. Untuk sekarang umur saya masih terhitung dua puluh sembilan tahun sampai tiga puluh Maret nanti tiba," jelas Irsyad.


"Ya Rabb... kenapa Kila baru tahu, Kak?" tanya Kila dengan nada terkejut mendengar fakta itu


"Tidak masalah, yang penting kamu sekarang sudah tahu," jawab Irsyad menenangkan.


"Ya sudah, tidak usah mempermasalahkan umur. Saya pikir semua perempuan sangat sensitif mengenai umur mereka, begitupula dengan saya meskipun saya bukan perempuan. Yang penting, untuk sekarang saya masih berumur dua puluh sembilan, belum kepala tiga. Hahahaha. Ayo kita jalan sekarang!" seru Irsyad.


"Loh, kita jadi ke mallnya, Kak?" tanya Kila yang mulai bingung.


"Tentu saja. Kamu sendiri yang bilang kalau saya masih muda, kan? Jadi, saya pikir, kenapa tidak melakukan hal-hal di mall seperti yang kamu bilang tadi?" jawab Irsyad dengan pertanyaan.


"Tapi kalau nggak Kila bilangpun, hal-hal begitu udah Kila bilang kalau bukan anak muda aja yang ngelakuinnya," ujar Kila memperjelas ucapannya sebelumnya.


Mendengarkan perkataan lugas dari Irsyad membuat Kila sedikit salah tingkah. Dan lagi, Irsyad malah mengambil tangan Kila untuk digenggam. Kila hanya bisa mengikuti alur Irsyad jika begini. Senyum mengembang di bibir Kila, keinginannya untuk berkencan dengan Irsyad dapat terwujud kali ini.


...****************...


Tiba di mall, mereka sudah berada di sebuah restoran setelah sempat menonton dan pergi ke toko buku. Kila sudah tidak lagi sungkan untuk memesan banyak makanan di depan Irsyad. Toh, Irsyad sudah tahu hobi makannya Kila.


"Makan kamu lahap sekali, Kila. Sampai tidak sadar ada noda makanan menempel di pipi kamu," ucap Irsyad disela-sela aktivitas makan mereka. Irsyad memang tidak terlalu banyak mengobrol dengan Kila karena kondisi restoran tidak kondusif. Biarlah mereka menyelesaikan makannya dahulu baru mengobrolkan banyak hal nanti.


Kila yang mendengar pernyataan Irsyad mulai meraba bagian pipinya. Dirasa pipi dekat bibir seperti bernoda, iapun mengusap noda itu. Ia melihat tangannya yang tadi mengusap noda itu dan terlihatlah tidak ada noda di pipi yang ia usap tadi. Begitu terus sampai ketiga kalinya. Irsyad gemas melihat itu, tapi ia menikmati itu.


"Bukan yang itu, tapi yang ini." Kemudian Irsyad sigap membersikan noda di pipi Kila itu.


"M-makasih, Kak," ucap Kila sedikit tersipu.


"Iya, sama-sama." Jawaban dari terimakasih yang tepat. Karena sebenarnya Irsyad juga berterimakasih atas kecerobohan Kila. Ia bisa modus untuk menyentuh pipi Kila.


Selesai makan, mereka memutuskan untuk berhenti lebih lama di restoran itu mengobrolkan banyak hal yang tidak sempat diobrolkan saat makan tadi.


Irsyad membahas tentang sesuatu yang membuatnya menjauhi Kila saat telah berbuat baik ke Kila dengan meminjamkan jaketnya. Pembicaraan yang sempat mereka tunda karena persiapan untuk ke rumah orangtua Kila.


Secara detil Irsyad menjelaskan kenapa ia menjauhi Kila waktu itu. Perihal perasaan Irsyad yang berkembang terhadap individu ciptaan-Nya membuat Irsyad lupa akan cintanya kepada penciptanya. Tiap hal yang terjadi saat Kila dijauhi Irsyad murni karena hal itu saja. Awalnya memang Kila mulai merasa minder dengan ketakwaan Irsyad saat menceritakannya. Tapi, ia ingat perkataan dua sahabatnya yang menguatkannya waktu itu. Kila juga merasa ketakwaannya sudah lebih baik sejak menikah dengan orang yang begitu takwa seperti Irsyad. Meskipun motivasi takwanya saat itu untuk mengimbangi Irsyad Tapi, kini ketakwaan itu ikhlas dan karena Allah semata.


"Kak, itu kayaknya papa Kila, deh," ujar Kila yang melihat seseorang mirip Gilang.


"Yang mana?" tanya Irsyad.


"Dua orang yang baru duduk di situ. Meja yang itu tadi kosong, kan? Nah, baru diisi itu kayaknya sama papa, Kak," tunjuk Kila.


"Ooh, iya benar. Wah, kebetulan sekali bisa bertemu di sini. Ayo kita datangi beliau berdua," balas Irsyad.


"Beliau berdua?" tanya Kila heran.


"Papa Gilang datang bersama perempuan, kan? Sudah pasti itu Mama Riska. Ayo kita datangi!" seru Irsyad.


"Bukan, Kak. Mama nggak kayak gitu perawakannya. Papa datang sama siapa, ya?" ujar Kila bertanya-tanya. Wanita itu lebih tinggi daripada mamanya, dan badannya juga lebih berbentuk meski pakaiannya berbalut hijab.


"Apa perlu kita lebih dekat dengan papa untuk mencari kebenarannya?" usul Irsyad.


"Kayaknya nggak usah, deh, Kak. Nanti papa sadar dan malah terkesan mengganggu papa kalau papa memang bertemu dengan kliennya di sini. Kita mengamati dari sini aja, Kak."


"Baik, sepertinya itu memang ide yang terbaik," balas Irsyad setuju.