
Bicara dengan Nabila membuat Kila merasa bersalah atas kesalahpahaman yang pernah terjadi. Mengenal Nabila membuat Kila merasa sangat tidak cocok disandingkan dengan Irsyad, sebab melihat betapa baiknya dua orang itu dibandingkan dirinya. Irsyad hanya berlakon sebagai dosen yang baik kepada Nabila sebagai mahasiswanya, lalu Irsyad juga manusia baik yang menolong orang asing.
Kila kini berpikir, Irsyad adalah dosen baik, guru terbaik. Kebaikan hatinya begitu tulus hanya untuk menolong Nabila. Tidak ada niatan apapun selain itu. Lalu, Kila merasa guru terbaik dan dirinya ini memang sudah tidak cocok di sandingkan dari awal. Kenapa sikap baik Irsyad selalu membuat Kila salah paham? Kenapa setiap Kila tahu betapa baiknya Irsyad, ia malah rendah diri? Kila saja yang tidak dapat menjaga sikapnya.
...****************...
Sudah hampir sepekan sejak pertemuannya dengan Nabila di restoran Jepang itu. Memikirkan apa yang diucapkan Nabila, berkali-kali membuat Kila merasa semakin enggan untuk memasang kembali cincin pernikahan mereka. Ia merasa tidak pantas mengemban tugas sebagai istri dari guru yang baik seperti Irsyad. Kila ini, kenapa ia selalu memikirkan pantas dan tak pantas?
"Kila, kata Bunda besok orang tua kamu mau datang berkunjung ke rumah Bunda. Katanya, ada yang mau dibicarakan." Irsyad berbaring di ranjang, di situ sudah lebih dulu ada Kila. Memang sudah waktunya mereka untuk tidur.
"Oiya? Kok Mama nggak ada ngabarin ke Kila, ya?" respons Kila terkejut. Ini sangat mendadak, apalagi Riska dan Gilang memilih hari yang sama dengan hari biasanya Irsyad dan Kila berkunjung ke rumah Citra. Ini pasti sudah direncanakan.
"Wajar sih, soalnya mereka pasti sibuk," lanjut Kila dalam hati. Lalu, Kila sedikit melamun. Ia tak sadar bahwa Irsyad memperhatikan tangannya. Saat sadar, sontak Kila berdiri dari ranjang itu dan menyembunyikan tangannya ke belakang.
"Kak Irsyad mau ngapain?" tanya Kila. Lalu, Irsyad juga ikut berdiri, melihat kembali tangan Kila yang sudah disembunyikan.
"Saya mau lihat tangan kamu," jawab Irsyad. Kila malah semakin menyembunyikan tangannya. Mendapat reaksi seperti itu, Irsyad malah semakin mendekat. Membuat Kila mundur hingga terpojok tembok. Dan Kila tidak bisa mundur lagi.
"Duh, Kak, Kila malu," ujar Kila. Sulit menyembunyikan sesuatu di saat bersamaan dirinya juga mengalami sesuatu yang keduanya sama-sama memompa detak jantungnya lebih kencang.
"Tidak usah malu. Saya tidak apa-apa kan, kok. Saya cuma mau lihat," ucap Irsyad seraya menatap mata Kila.
"Untuk apa?" tanya Kila. Ia tidak berani menatap Irsyad balik.
"Untuk memastikan sesuatu," jawab Kila.
"Kila! Tolong jangan kamu sembunyikan lagi!" Irsyad menegaskan suara karena Kila tak kunjung menunjukkan tangannya. Lalu, Ragu-ragu Kila melemaskan tangannya, kemudian membiarkan Irsyad meraihnya.
"Sudah saya duga," ujar Irsyad agak kecewa.Kila hanya menunduk, tidak berani melihat tatapan kecewa dari Irsyad.
Tangan Kila sudah tidak Irsyad raih. Kini, Irsyad meraih rambut Kila dengan tangan kanannya. Lalu, secara mengejutkan Irsyad mencium rambut Kila agak lama. Kila hanya bisa diam dengan jantungnya yang kian berpacu.
Tatapan kecewa Irsyad bercampur dengan sendu. Ada rasa marah yang menggerogoti hatinya.
"Kamu tidak memakai cincin pernikahan kita? Kenapa? Padahal kamu sudah dengan suka rela menunjukkan rambut kamu ke saya," bisik Irsyad langsung ke telinga Kila. Irsyad masih memegang rambut Kila. Memainkannya sejenak dengan membelai atau memelintir rambut indah itu.
Kila tidak mengerti Irsyad. Ia aneh, berbicara dengan cara seperti itu ke Kila. Membisikkan langsung seraya memainkannya rambut Kila, membuat Kila merasakan sensasi yang tak wajar, dan itu agak membuat Kila kesal. Kila yang semula menunduk kini menegakkan kepalanya. Sementara itu, kepala Irsyad masih di samping telinga Kila untuk membisikkan hal yang lain lagi.
"Aa..., maaf, mulai lagi sifat buruk ini mengambil alih." Irsyad seolah sadar dari kesurupan. Lalu, memundurkan langkahnya pelan menjauhi Kila, memberikan ruang untuk Kila.
Setelah Irsyad mundur beberapa langkah, Kila kembali menunduk. Bersiap menanggapi ucapan Irsyad.
"Kila..., Kila cuman agak risih aja. Lagian, cincin itu cuman sebuah benda yang menjadi simbol status, kan? Kalau nggak di pake nggak akan merubah status kita. Lagian, banyak pasangan di luar sana yang nggak mau pakai cincin pernikahan mereka, tapi rumah tangga mereka baik-baik aja, tuh." Kila ragu di awal karena berbohong. Lalu, nada bicaranya di akhir menunjukkan sikap tak ramah.
"Kak Irsyad sendiri gimana? Kakak nggak pakai juga tuh!" tegas Kila.
"Astaghfirullah, apa yang aku katakan? Kenapa aku malah menantangnya?" batin Kila tersadar.
"Lebih baik kita tidur sekarang, Kak. Takutnya nggak bisa bangun untuk tahajud nanti," Kila mengakhiri dan kembali membaringkan tubuhnya.
...****************...
Kila sudah membuatkan teh pahit dan bersiap untuk menyambut Irsyad pulang dari masjid. Masalah tadi malam tidak dianggap terjadi oleh Kila. Lain halnya dengan Irsyad.
"Kila, Maafkan sikap saya tadi malam. Saya bisa jelaskan tentang kenapa saya juga tidak memakai cincin pernikahan kita, tapi saat kita sudah sampai rumah, ya?" ucap Irsyad. Setelah mengucapkan salam dan duduk di meja makan.
Kila meraih tangan Irsyad seperti biasanya, lalu Irsyad mengecup kening Kila. Ada yang tidak biasa dengan tangan Irsyad. Kini ia melihat cincin pernikahan mereka bertengger di sana. Kila terus memperhatikan tangan itu.
"Aa..., ini, saya ingin memakainya mulai sekarang. Di mulai hari ini karena kita akan bertemu dengan orang tua kamu. Saya ingin menunjukkan kepada mereka berdua kalau pernikahan kita sudah tidak terikat lagi dengan janji yang pernah ada. Saya sudah bebas memiliki kamu seutuhnya. Seharusnya sudah bebas pula memamerkan status pernikahan kita," ucap Irsyad yang paham dengan gelagat Kila seperti menyiratkan pertanyaan.
"Sudah sebulan sejak wisuda kamu, saya tahu pasti perlu keterbiasaan dengan status kita yang baru. Karena sebelumnya sudah terbiasa dengan status pengajar dan pelajar yang membelenggu. Namun, saya ingin kamu terbiasa memakai kembali cincin pernikahan kita. Boleh, kan?" ucap Irsyad lembut.
"Kenapa, Kak? Apa karena kita akan menemui Mama dan Papa?"
"Seperti pencitraan, ya? Saya tidak memaksa kalau kamu tidak mau."
"Nggak, Kak. Kila mau, kok. Kila bakal pakai cincin pernikahan kita mulai hari ini." Mendengar jawaban seperti itu, terlukislah senyuman indah di bibir Irsyad. Diikuti Kila yang juga tersenyum saat melihat senyuman Irsyad.
Irsyad sudah membukakan pintu untuk Kila agar dapat menerima status Kila sebagai istri Irsyad. Mulai hari ini Kila akan lebih percaya diri memasang cincin pernikahan mereka di jari manisnya. Memamerkan status pernikahannya. Dengan memakai cincin itu pula, memberi pengingat bagi Kila tentang betapa beruntungnya Kila menjadi seorang istri dari guru terbaik seperti Irsyad. Itu karena ucapan tulus Irsyad tadi yang telah menyadarkan Kila. Ucapan yang secara tersirat memberikan pengajaran bagi Kila.
...****************...