Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Orang Tua Egois



Kila menyadari sudah jamnya makan malam. Setelah sholat isya, pasti nenek selalu menyiapkan makan malam. Sekarang sudah lewat tiga puluh menit dari adzan isya, makan malam pasti sudah siap. Akhirnya Kila memutuskan untuk menuju meja makan.


"Kila, makan malam udah siap, nih," seru Riska. Tak pernah ada yang menyuruh Kila untuk makan, karena selera makannya selalu stabil. Kila akan keluar untuk makan tanpa disuruh. Kila juga tipe wanita yang hobi makan tapi berat badan tetap ideal. Kila agak terkejut saat melihat mama dan papanya sudah duduk di meja makan, bersama nenek. "Ada angin apa ini?" batin Kila.


"Nggak perlu disuruh juga, Kila udah tahu jamnya makan. Tadi udah mau keluar dari kamar, kok. Udah di depan pintu kamar malahan. Jadi nggak usah terlalu perhatian tapi kurang berguna, Ma," ucap Kila. Kemudian duduk di sebelah nenek, berhadapan dengan Riska.


"Hus, nggak boleh kayak gitu, Kila," tegur neneknya. Kila mengerti dengan isyarat neneknya yang menyikut tangan Kila. Yaitu untuk meminta maaf atas ucapannya tadi ke mamanya.


"Ma, maaf, Kila berlebihan," ujar Kila.


"Ya udah, mari makan," ucap nenek mencairkan suasana.


"Gimana sekolah kamu, Nak?" Gilang memulai pembicaraan.


"Pa, kalau lagi makan nggak boleh ngomong," jawab Kila agak ketus.


"Ooh, ya udah selesai makan kamu ceritakan," ujar Riska mengikuti. Kila hanya mengangguk menanggapi. Makan malam mereka dihiasi dengan suara dentingan sendok yang bergesekan dengan piring, sunyi senyap.


"Kila udah selesai makan, mama papa belum, ya?" tanya Kila. Keduanya malah tidak menjawab, mereka asik berkutat dengan ponsel pintarnya. Dan makanan di piringnya masih tersisa banyak.


"Ma, Pa. Kila udah selesai makan," ucap Kila kali ini dengan nada ditekan.


"Iya, bentar, Sayang," jawab Riska. Riska dan Gilang masih multitasking antara makan dan memperhatikan ponsel pintarnya.


"Urusan kerjaan, ya? Nggak bisa makan dulu dihabiskan baru lihat handphonenya?" tegur nenek Kila. Keduanya langsung menuruti. Namun sesekali mereka melirik ponsel pintar itu.


"Nek, Kila cuci piring duluan, ya. Sekalian cuci piring nenek," ucap Kila pada nenek. Kila pun beranjak dari kursi dan menuju ke wastafel. Menyadari Kila sudah tidak ada lagi dihadapannya, Riska buru-buru menghabiskan makanannya begitupun dengan Gilang. Lalu keduanya menyusul Kila untuk membantu mencuci piring, Riska yang mencuci piringnya, dan Gilang yang akan membilas serta mengelap dan menyusunnya. Kila beralih ke meja makan untuk meletakkan piring kotor lainnya ke wastafel. Sementara, neneknya sudah pindah ke ruang keluarga untuk menonton berita di televisi.


"Jadi, gimana sekolah kamu, Nak? Sudah bisa beradaptasi?" tanya Gilang. Ia berusaha membuka percakapan yang sempat tertunda tadi.


"Alhamdulillah, semua baik. Kila juga udah dapat teman baru yang baik banget, Ira dan Risa, Pa," jawab Kila.


"Bagus deh kalau kamu sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru," ucap Riska menimpali.


"Iya, Ma."


Hening sejenak, ketiganya fokus menyelesaikan pekerjaan mencuci piring ini.


...****************...


Kila sudah selesai menaruh piring kotor ke wastafel dan membersihkan meja makan. Setelahnya, Kila menuju neneknya di ruang keluarga untuk merebahkan diri di paha neneknya itu. Kemudian melihat ponsel pintarnya sebentar, ada pesan masuk dan panggilan tak terjawab dan ternyata itu dari Ira. Tak lama setelah itu, panggilan masuk datang, dari Ira.


"Akil, udah tahu belom nanti wali kelas pengganti kita siapa?" ucap Ira mengawali.


"Loh, kenapa ganti? baru juga sebulan. Emang Bu Emi kenapa?" tanya Kila agak bingung.


"Iya, Bu Emi mengundurkan diri dari sekolah kita. Katanya suaminya dipindah tugaskan, jadi Bu Emi juga ikut pindah sama suaminya," jawab Ira.


"Ooh, sayang banget. Padahal udah satu bulan sama Bu Emi," tukas Kila dengan nada agak sedih.


"Huhu, iya, sedih. Mau gimana lagi," ucap Ira juga ikutan sedih.


"Kamu tahu darimana berita ini, Ra?"


"Dari Risa. Risa tau dari ketua OSIS, kemarin ngabarin Risa di kelas katanya."


"Kenapa Risa?"


"Ya ampun, kamu lupa ya, kalau Risa sekretaris kelas kita?"


"Lah, emang iya? Sejak kapan?"


"Lah apa lagi coba kerjaannya? Teman sebangku aja nggak punya, haha. Ra udah dulu ya, ada yang mau aku kerjakan."


Tut... Tut...


"Eh, Akil, belum siap ngomong udah dimatiin. Padahal berita pentingnya belum dibilang. Wali kelas penggantinya itu Pak Irsyad. Dan mulai besok dia masuknya," ujar Ira diseberang agak jengkel. Ia jadi bicara sendiri, mengomel kesal karena Kila.


"Teman kamu tadi yang nelpon?" tanya Gilang. Kila mematikan panggilan teleponnya dengan Ira karena Gilang menuju ke ruang keluarga. Kila tak mau terlihat senang dan luwes saat bicara dengan temannya, dan menampakkan pada orangtuanya. Kila merasa canggung.


Tak lama Riska ikut duduk di ruang keluarga membawa cemilan malam hari. Riska ingat yang ibunya katakan kalau Kila punya hobi ngemil dan makan, katanya selera makannya tinggi. Setiap melihat cemilan, pasti Kila selalu menyempatkan untuk memakannya. Hal itu dilakukan Riska juga ingin memperpendek jarak antara dirinya dan anaknya itu.


"Hmm, iya, Pa. Teman yang Kila bilang tadi."


"Ira atau Riska?"


"Ira, Pa."


"Ooh."


Benar ternyata, Kila langsung memakan camilan yang dibawa oleh mamanya.


"Tadi siang, mama dengar kamu cerita tentang laki-laki. Tumben. Ada apa Kila?" ucap Riska. Ia sempat menguping pembicaraan anak dan ibunya itu perihal lelaki yang Kila ceritakan. Ada pikiran tidak suka dari Riska saat anaknya membicarakan seorang lelaki.


"Bukan apa-apa, Ma. Nggak terlalu penting juga," jawab Kila.


"Ingat ya, Kila. Kamu jangan pernah coba-coba untuk pacaran. Itu dilarang agama. Lagian kamu tahu juga, keluarga kita semua terjaga dari lawan jenis. Tidak ada pacaran, langsung nikah. Tapi kamu ingat, kamu harus lulus kuliah dulu sebelum benar-benar memutuskan untuk menikah. Mama nggak suka cara kamu membicarakan pria itu. Ada nada senang terdengar dari suara yang kamu lontarkan. Jadi, kamu ...", ucap Riska terpotong oleh Kila.


Jarang sekali Kila memotong pembicaraan orang. Kila kali ini merasa tidak terima dengan yang diucapkan mamanya, makanya dia kontan memotong pembicaraan mamanya.


"Mama nguping pembicaraan aku sama nenek?" seketika Kila menghentikan makannya.


"Iya, kamu suka, kan, sama pria itu? Sudahi saja. Mama dan papa nggak bakal izinkan."


"Siapa sih yang mau pacaran? Mama tahu apa sih sama yang Kila alami? Tadi juga, Kila belum selesai ngomong ke nenek kok, yang tentang bahas pria itu. Lagian mama kok main asal simpulkan aja padahal cuma nguping, nggak dengar langsung." Kila menekankan tiap kata yang ia ucapkan. Berusaha ia meredam amarah nya, tapi tetap saja setan lebih berkuasa di atas emosi Kila.


BRAKK


Gebrakan meja terdengar, pelakunya adalah Gilang.


"Sopan kamu! Sama mama kok bicaranya seperti itu? Seperti tidak dididik, belajar apa kamu sama nenek? Melawan orang tua?" ucap Gilang dengan nada marah.


"Jangan bawa-bawa nenek, Pa. Tugas mendidik anak itu adalah tugas orang tuanya, bukan tugas orangtua dari orangtuanya," jawab Kila sebisa mungkin tidak meninggikan suaranya.


Seketika tangan Riska refleks menampar pipi kanan Kila. Kila menunjukkan respons menunduk seraya menatap ke arah neneknya. Ingin saat itu dia meneteskan air mata, tapi Kila mulai tenang saat melihat neneknya disampingnya.


"Kila, ucapan kamu, tata dengan benar. Mama bicara untuk mengingatkan kamu. Mama tidak ingin kamu salah pergaulan. Mama mengingatkan kamu untuk ingat jangan pacaran. Oke ini kamu lagi suka sama si pria ini, nanti kalau perasaan kamu berkembang lebih jauh akan bahaya. Beri mama alasan, salah kalau mama menyimpulkan dari cara bicara kamu yang menceritakan pria ini? Jawab Kila! seru Riska dengan tegas.


"Ma, Kila ngerti batasan, kok. Lagian beliau itu guru di sekolah Kila. Jadi mama nggak usah repot-repot ingatin Kila ..." ucapan Kila terpotong.


"Ha? Guru katamu? Sudah seperti apa pikiranmu sampai pria yang harus kamu kagumi itu guru di sekolahmu? Kamu tahu, itu malah semakin salah! Dengar itu?" giliran Gilang yang murka.


"Udah Kila bilang, kan. Kila belum selesai bahas pria ini, mama sama papa malah menarik kesimpulan gitu aja. Mama sama papa nggak bakalan ngerti apa yang Kila rasakan. Mama sama papa egois." Kila meninggalkan ruangan keluarga, berusaha sebisa mungkin mengalah dan meninggalkan debat ini.


"Pokoknya kamu harus ingat, jangan pernah bahas laki-laki dengan nada kagum. Kamu lebih salah yang kamu kagumi itu guru kamu sendiri. Mama sama papa nggak mau datang ke sekolah kamu kalau ada urusan yang mengharuskan wali murid hadir kalau kamu membantah. Ingat itu Kila," ucap Riska agak berteriak ke Kila yang sudah di ambang pintu dan mulai memasuki kamarnya.


"Jangankan hadir ke sekolah sebagai wali murid, Kila jadi anak baikpun, mama sama papa nggak punya waktu untuk sekedar lihat Kila. Perhatian kalian hari ini hanya formalitas belaka sebagai label orang tua, tidak tulus, sama seperti waktu itu di hari pertamanya Kila sekolah. Kalian hanya tulus perhatian pada pekerjaan kalian saja. Sebenarnya yang anak kalian itu pekerjaan kalian, bukan Kila, kan?" Kila berbicara diambang pintu, hanya dirinya sendiri yang mendengar.


...****************...