
Tak lama setelah kepergian Kila dan dua sahabatnya, Yuli dan Farhan juga sudah pulang dari rumah Irsyad. Kini, Irsyad menerima tatapan interogasi dari kedua orangtuanya.
"Apa itu tadi, Irsyad? Kamu akan ke Turki? Kenapa kamu nggak ngasih tahu kalau kamu mencoba beasiswa itu? Bagaimana dengan Kila? Lalu, tentang pesan terakhir neneknya Kila, kamu masih menunggu tanggapan dari orangtuanya Kila, kan?" Citra berucap dengan tegas.
Irsyad sudah memberitahukan semua yang berkaitan dengan Kila sehari setelah Citra tahu ternyata Irsyad dan Kila adalah murid dan guru dari peristiwa waktu itu. Irsyad melakukannya tentu dengan tujuan agar Citra tidak bertanya-tanya lagi tentang Kila secara langsung. Hal itu juga agar Irsyad dapat dikontrol jika perasaannya akan membuatnya lupa akan statusnya dengan Kila, karena sudah ada orangtuanya yang ia beritahukan semuanya.
Respon orang tua Irsyad terutama Citra saat Irsyad memberitahukan agenda kunjungannya ke rumah orang tua Kila waktu itu, sungguh sangat mengejutkan sekaligus menyenangkan. Oleh sebab itulah Citra jadi semakin dekat dengan Kila.
"Bun, Irsyad tidak bisa memikirkan masalah itu terus-terusan. Beasiswa itu ada di depan mata Irsyad, jadi tidak ada salahnya jika Irsyad mencoba. Dan Alhamdulillah lulus di tahap seleksi administrasi. Irsyad berharap akan lulus hingga tahap akhir. Irsyad juga ingin menjadi pemimpin yang baik dengan pendidikan yang baik pula. Lagian jika terus-terusan bersama dengan Kila, pikiran Irsyad selalu mengarah ke padanya. Irsyad takut perasaan Irsyad pada Kila terus tumbuh seiring seringnya kami bertemu. Jadi Irsyad ingin menjaga jarak dulu," ujar Irsyad.
"Apa maksud kamu Irsyad? Jadi kamu juga menyatakan kalau kamu punya perasaan sama Kila? Oke bunda enggak marah, malah bunda seneng kalau kamu jujur tentang perasaan itu. Tapi, ada baiknya, kamu menanyakan kejelasan lagi kepada orang tua Kila. Jika terus menunggu tidak akan baik. Lagian, bunda tidak ingin kamu langsung melanjutkan pendidikan doktor sebelum menikah." Citra mengutarakan dengan tersirat ancaman di dalamnya. Irsyad langsung mengerti maksud Citra. Ia akan segera menemui orang tua Kila untuk menuruti sang bunda. Ia juga tidak bisa pergi tanpa restu bundanya.
...****************...
Hari libur yang tersisa, Kila habiskan untuk memikirkan ucapan Yuli. Tak terasa pula, ia sudah duduk di bangku kelas sebelas selama satu bulan. Irsyad sudah tidak menjadi wali kelasnya lagi, maupun guru bahasa Indonesia. Itu juga mengganggu Kila, ia belum juga bertemu Irsyad setelah terakhir kali ke rumah Irsyad saat lebaran waktu itu. Kila juga sering mengunjungi rumah Irsyad saat akhir pekan, namun Irsyad memang tidak pernah tampak. Ia merasa ingin sekali bertemu dengan Irsyad, bercakap-cakap dengannya. Aaa... Kila sangat merindukan Irsyad sepertinya.
Saat ini sudah saatnya pulang sekolah. Ira masih sibuk dengan ekskulnya di Hari Sabtu, jadi kali ini Kila memutuskan pulang lebih dulu dengan jalan kaki.
"Kila? Aa, kebetulan sekali. Saya ingin membicarakan hal yang serius dengan kamu." Irsyad bertemu di koridor dekat lapangan sekolah saat melangkahkan kakinya untuk pulang. Mereka berlawanan arah.
"Aa, Pak Irsyad? Assalamu'alaykum, Pak. Saya juga, ada yang ingin saya bicarakan ke Bapak," balas Kila menahan perasaan bahagianya karena akhirnya dapat bertemu dengan Irsyad.
"Wa'alaykumussalam. Benarkah? Kalau begitu, kamu saja duluan," ucap mempersilahkan.
"Maaf saya lancang, Pak. Waktu itu saya mendengar perkataan Kak Yuli tentang Bapak yang lulus seleksi administrasi. Saya juga tidak sengaja mendengar saat akan pulang dari rumah Bapak. Kalau sekarang, berarti tahap tes wawancara sudah terlewati. Apa Bapak benar-benar akan ke Turki? Kalau dengan kemampuan Bapak yang kompeten, saya sangat yakin bapak akan lulus seleksi dan berangkat ke Turki," ucap Kila pelan namun masih terdengar oleh Irsyad.
"Kebetulan sekali, saya ingin membicarakan hal yang berkaitan dengan yang kamu bicarakan itu. Jadi, bisa kita bicara sebentar? Saya juga sangat ingin membiarkan ini ke kamu dari lama," jawab Irsyad antusias.
"T-tapi, ini bukannya Bapak ada urusan? Soalnya, kita bertemu seperti ini karena berlawanan arah. Bapak ingin mengisi materi ekskul, kan? Itu tadi hanya pembicaraan yang menggangu pikiran saya saja, kok, Pak. Bapak tidak perlu terlalu menjelaskannya. Saya juga tidak ingin menghambat Bapak," ucap Kila tidak enakan.
"Ya sudah, nanti kita bicara di rumah saya saja. Kamu bisa datang setelah shalat isya. Kali ini saya harus benar-benar membicarakan ini dengan kamu. Dan saya tidak bohong kalau apa yang ingin saya bicarakan ini memang benar berkaitan dengan yang kamu bicarakan itu. Jadi, saya akan menunggu kamu di rumah. Oiya, kita tidak sendirian. Nanti ada bunda yang mengawasi kita bicara, jadi kamu tenang saja. Kalau begitu, saya duluan, ya. Assalamu'alaykum," pamit Irsyad. Kila kemudian melanjutkan langkahnya setelah menjawab salam Irsyad.
...****************...
Seperti yang sudah Irsyad pesankan, Kila datang ke rumah Irsyad. Citra langsung mengambil camilan dan minuman untuk Kila, lalu menemani Kila dan mengobrol. Tak lama setelahnya, Irsyad turun dan menuju ruang keluarga di mana Citra dan Kila duduk.
"Besok mau buat kue apa, Bunda? Kila nggak sabar mau buat kue lagi sama bunda."
"Besok, bolu karamel kayaknya bunda belum pernah coba bikin sama kamu deh, kayaknya. Besok kita buat itu aja,"
"Maaf menunggu lama, Kila," seru Irsyad.
Suasana menjadi lebih serius karena kedatangan Irsyad. Sebab, Irsyad memasang mimik muka yang serius seperti saat itu. Kila tidak suka dengan mimik wajah itu.
"Umur kamu berapa sekarang, Kila?" Irsyad memulai obrolannya, seperti biasa terus terang tanpa basa-basi.
"Sudah tujuh belas tahun, Pak. Sejak bulan Maret. Ada apa, Pak?" jawab Kila.
"Aa, sayang sekali. Umur kamu belum dibolehkan untuk menikah. Lagian kamu juga masih sekolah," ucap Irsyad dengan nada sedikit kecewa.
"Menikah? Maksudnya?" tanya Kila bingung.
Irsyad kemudian menceritakan tentang pesan terakhir nenek kepada Kila. Lalu, Kila menunjukkan ekspresi yang sangat mengejutkan. Ia juga dengar percakapan Irsyad dan neneknya waktu itu. Tapi, Kila hanya mendengar bagian terakhir tentang pesan yang menandakan neneknya membicarakan tentang kematiannya. Tapi sama sekali Kila tidak mendengar isi pesan itu. Hanya itu saja, percakapan sebelumnya ia tidak mendengar mereka. Nenek, ia benar-benar tahu kalau Kila memang menyukai Irsyad.
"Pertemuan waktu itu dengan orang tua kamu, itu saya ingin menyampaikan pesan itu kepada mereka. Saya bersedia memenuhi pesan yang disampaikan nenek, tapi orang tua kamu masih berdiskusi tentang itu. Saya tidak bisa lama-lama menunggu. Karena, seperti yang kamu bicarakan saya akan ke Turki. Dan lagi, kita harus mendiskusikan hal ini karena kamu masih belum cukup umur untuk menikah lalu saya akan ke Turki selama lima tahun. Bisakah kamu mengatur waktu agar kita dapat bertemu dengan orang tuamu bersama?" Irsyad mengutarakan.
"Hah? Apa tujuan dari pembicaraan serius ini sebenarnya??" batin Kila sangat terkejut.
...****************...