Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Mengetahui Perasaan Satu Sama Lain



Hari kedua liburan. Kila dan Irsyad menghabiskan waktu di hotel tempat mereka menginap. Mereka berdua sedang asyik melakukan aktivitasnya masing-masing. Sama-sama membaca sebuah buku. Makan siang nanti mereka akan merencanakan untuk makan di restoran yang menghadap ke pantai, kencan pertama yang mendebarkan.


"Kak Irsyad, boleh Kila tahu rencana ke depan kakak setelah kita menikah ini?" tanya Kila. Mereka sudah selesai makan seraya menikmati pemandangan pantai yang indah. Namun, mereka masih duduk di sana untuk membuat nasi yang Kila dan Irsyad telan turun dulu.


"Benar juga. Begitulah memang pertanyaan yang tepat saat berta'aruf. Kita menjalankan peran masing-masing dulu. Saya kini sudah menjadi seorang suami, saat kita menjalin hubungan jarak jauh nanti, in syaa Allah saya akan berusaha untuk terus menjaga komunikasi kita. Saya ingin kamu menjalani hubungan ini bukan karena keterpaksaan, maka dari itu saya ingin kamu melihat saya lebih dekat sehingga saya bisa membuat kamu jatuh hati pada saya. Kamu sudah tahu kalau saya mencintai kamu, jadi jangan tanyakan lagi tentang alasan saya menikahi kamu. Kamu sendiri bagaimana?" jawab Irsyad.


Rencana ke depan setelah menikah. Harusnya itu yang direspons Kila. Tapi Kila tertarik dengan ucapan Kila tentang Irsyad yang mengatakan tentang perasaan Kila padahal Irsyad salah tentang itu. Kila mempersiapkan diri untuk mengungkapkan perasaannya agar tidak ada lagi kesalahpahaman yang sama. Kila juga tersinggung jika dikatakan belum menaruh hati pada Irsyad, padahal sudah sejak lama ia memendam perasaan itu.


"Kak, Kila juga senang yang menjadi suami Kila itu Kak Irsyad. Bahkan, Kila duluan yang jatuh hati ke Kak Irsyad. Malah mulai dari pertama jumpa, lho. Waktu Kila nggak sengaja menubruk Kak Irsyad, dan saat kita melakukan kontak mata pertama. Bahkan mungkin, saat kita belum bertemu, Kila udah jatuh cinta dengan adzan yang Kak Irsyad kumandangkan. Padahal gerak-gerik Kila udah nampak jelas kalau Kila suka sama Kak Irsyad. Bahkan, saat masih terbelenggu status guru dan murid, Kila diam-diam mengagumi Kak Irsyad lebih dalam lagi, Kila mengagumi semua hal tentang Kak Irsyad. Kadang juga Kila suka mikir perasaan ini hanya kekaguman biasa pada sosok guru terbaik seperti Kak Irsyad, tapi nyatanya bukan gitu. Itu bukan sekedar kekaguman biasa, kekaguman itu bukan suatu kekaguman seorang murid pada guru favoritnya, tapi kekaguman itu adalah kekaguman seorang gadis biasa pada sosok pria yang baik menurutnya.


Ira, Risa, bahkan nenek juga udah tahu itu. Soal pesan terakhir atau wasiat nenek itu, pasti karena nenek tahu kalau Kila menyukai Kak Irsyad. Dan ternyata, Kak Irsyad sosok pria yang baik pula menurut penilaian nenek. Ya udah, nenek ngungkapin pesan itu. Kila yakin sih kayak gitu kronologinya sampai kita udah menikah sekarang. Kila yakin karena Kila tahu jalan pikiran nenek, Kila juga udah sangat mengenal nenek karena apa-apa cerita ke nenek. Dan Kila ini sangat peka. Nggak kayak Kak Irsyad, sama perasaan Kila aja nggak tahu padahal udah jelas-jelas terbaca." Kila mengungkapkan perasaannya panjang lebar, entah kenapa ia jadi kesal di akhir cerita. Irsyad tidak tahu akan ada semacam pengakuan dari Kila, hal itu sama sekali tidak diperkirakan Irsyad. Ia mencoba mencerna dengan logikanya baru memberikan tanggapan.


"Ya ampun, Astaghfirullah Kila. Kamu bicara apa? Berikan saya waktu untuk mencerna perkataan kamu," ujar Irsyad. Kila mulai kesal dengan tanggapan itu. Irsyad bahkan memberi jeda cukup lama untuk berpikir.


"Jadi, selama ini kamu sudah menyimpan perasaan kepada saya? Sejak kapan? Saat saya menjadi wali kelas kamu?" tanya Irsyad setelah mencerna semua perkataan Kila melalui logikanya. Kila lalu mengangguk menanggapi malas, karena masih kesal.


"Kalau boleh jujur, Kila sangat senang saat doa Kila terkabul meski lebih cepat dari perkiraan, sih. Karena di tiap sepertiga malam, ada salah satu doa yang Kila selalu selipkan untuk meminta Kak Irsyad agar berjodoh dengan Kila,. Kila cuma mau kasih tahu aja, sih," ucap Kila yang harusnya ia ucapkan dengan nada gembira itu diucapkan dengan nada jutek.


"Kak Irsyad sendiri, gimana ceritanya bisa ci-cinta sama Kila? Sejak kapan?" ucap Kila dengan nada jutek yang malu-malu.


"Hah? Te-tentu saja cinta sejak kita menikah. Sudah wajar kan, suami istri harus saling mencintai," ucap Irsyad. Ia bisa gugup juga jika disuguhkan pertanyaan yang tidak bisa ia sangka dilontarkan oleh Kila.


"Perkataan Kak Irsyad saat kita pulang dari rumah mama saat itu, berarti Kak Irsyad belum mencintai Kila?" tanya Kila, kini ia berubah ke mode deteksi si penanya.


"Kila, tidak ada hak bagi saya mencintai sesuatu yang belum halal bagi saya. Tapi waktu itu memang benar saya memutuskan untuk menikahi kamu karena menyimpan perasaan kepada kamu," ujar Irsyad dengan penuh kejujuran yang terpancar di matanya.


"Tidak, saya tidak perfeksionis. Saya hanya menjaga keprofesionalan guru saja. Dan saya menaruh hati pada kamu saat saya sedang tidak berdinas mengajar. Jadi, saya tidak melanggar prinsip saya," ujar Irsyad meluruskan, namun malah menimbulkan kesalahpahaman baru.


"He.... berarti benar, dong. Kak Irsyad memang udah menaruh hati sama Kila waktu Kak Irsyad masih jadi guru Kila. Mau lagi nggak disekolah atau di luar sekolah, kalau Kak Irsyad masih jadi guru Kila ya tetap aja melanggar prinsip namanya. Kasih tahu, dong, Kak. Kapan itu? Kapan Kak Irsyad mulai menaruh hati ke Kila?"


"Saya tidak tahu Kila," jawab Irsyad. Kila yang kecewa kemudian menumpu kepalanya di atas meja. Ia tidak habis pikir kalau Irsyad tidak tahu sejak kapan Irsyad mulai menaruh hati padanya, padahal menurutnya itu sesuatu yang penting yang harusnya diingat tiap orang.


"Tapi..., Sejak berbagai kejadian yang membawa kita bertemu terus-terusan membuat saya selalu memikirkan kamu. Hanya kamu yang bisa membuat saya sangat perhatian dengan murid sendiri. Seperti menawarkan tumpangan, menawarkan bantuan untuk menjaga nenek, bahkan saya sangat terganggu hanya karena kamu tidak memperhatikan saya saat saya sedang menjelaskan materi. Bahkan ada saat di mana saya tidak dapat berhenti memikirkan kamu dan meminta petunjuk kepada Allah agar saya tidak melampaui batas cinta saya selain pada-Nya. Saya juga sering berpikir, selain perbuatan saya tidak baik karena memikirkan wanita yang bukan mahram saya, saya juga bisa menyalahi aturan tentang batasan guru.


Lalu, saya ingin bertanya pada kamu. Apa sejak kamu mengusik saya dengan ucapan terimakasih yang rumit itu saya sudah jatuh hati? Atau mungkin saat kamu menabrak saya dan kita saling bertatap itu, dan kamu menyentuh tangan saya karena tanpa sengaja kita sama-sama mengambil berkas yang terakhir, mungkinkah di saat itu saya sudah jatuh hati dengan kamu?" ujar Irsyad menjelaskan semuanya. Ia juga tidak enak dengan ekspresi kecewa dari Kila.


Kepala Kila masih menumpu pada meja yang kemudian pandangannya menghadap hamparan laut. Ia mendengar perkataan Irsyad dengan baik, tapi ada sesuatu yang membuatnya menangis mendengarkannya. Air mata yang tumpah tanpa izin itu terjun bebas membasahi pipi Kila.


"Kila, kamu kenapa menangis? Yang saya ucapkan salah, ya?" tanya Irsyad saat sadar bahwa Kila sudah menangis saja saat ia selesai bercerita. Kila mengusap air matanya, namun air mata itu tak kunjung berhenti.


"Nggak tahu, Kak. Kila balik duluan ya, Kak," ujar Kila. Ia beranjak dari duduknya dan berbalik arah meninggalkan Irsyad.


"Kila, tunggu," cegah Irsyad. Kila tidak menghiraukan dan tetap melanjutkan langkahnya untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap.


"Kenapa Kila menangis?" pikir Irsyad.


...****************...