
"Kak, mau tiap hari begini terus? Kakak sering kali buruk suasana hatinya sekarang. Apa Kila berhenti aja jadi asisten dosen?"
Sekarang kecemburuan Irsyad ia ekspresikan secara terbuka kepada Kila. Ia terus kesal dengan hal sepele yang bersangkutan dengan Kila yang kebanyakan dimodusi mahasiswa labilnya. Saat inipun terjadi lagi. Sedari tadi Irsyad sudah menggerutu kesal mengeluhkan sifat mahasiswa yang kegatalan itu.
"Jangan! Kamu nggak salah. Lagian yang salah itu mereka. Tidak ada habisnya cara mereka untuk modus ke kamu. Kesal saya melihat mereka," ucap Irsyad menggerutu.
"Ya udah, ngedate yuk! Untuk mengembalikan suasana hati Kakak. Kalau biasanya kita cuman makan, kali ini Kila maunya makan plus jalan-jalan. Mau, kan?" usul Kila. Memang sudah beberapa kali Kila mengusulkan makan saat suasana hati Irsyad buruk seperti ini, dan itu berhasil membuat Irsyad jadi lebih baik suasana hatinya.
"Ya sudah. Itu bagus," ucap Irsyad seraya tersenyum.
Selanjutnya, Irsyad menggenggam tangan Kila menuju parkiran mobil karena merasa senang dengan usulan Kila. Untung kampus sudah sepi, tidak ada yang melihat kedekatan pasutri itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena bergenggaman tangan di area publik, Kila berusaha menahan agar jantungnya tidak meledak. Namun, ia tidak bisa mempertahankan wajahnya yang memerah.
Sudah akan sampai di mall tujuan, Irsyad kembali kesal, suasana hatinya kembali buruk. Bukan karena mengingat kejadian di kampus, melainkan karena pemandangan yang tidak mengenakkan ia lihat di depan.
"Kenapa keluarga itu melakukan pertemuan di mall ini? Bukannya biasanya hanya di sebuah kafe atau restoran saja?" Irsyad dapat berkata seperti itu karena sering kali memergoki pertemuan "keluarga" itu, Gilang, Nabila serta mamanya. Jadi, ia sudah menandai betul mobil mana yang dipakai mereka, mobil yang sama berada di depan mata Irsyad, sama-sama menuju ke area jalan yang menuju mall yang sama dengan Irsyad dan Kila.
Selama ini Irsyad mengabaikan pertemuan keluarga itu karena tidak ingin memicu emosi negatifnya. Namun, karena sekarang ada Kila di sampingnya, ia mencemaskan kalau Kila sampai melihat pemandangan yang tak enak dilihat itu.
Kila melihat wajah gusar Irsyad. Kila pikir, suasana hati Irsyad sudah sepenuhnya baik kembali, ternyata ia salah. Itu membuat Kila merasa bersalah karena seenaknya bahagia karena sudah membuat Irsyad lebih baik, tapi nyatanya tidak begitu.
"Kak, ada apa? Kakak sebenarnya nggak mau makan di sini, ya? Kalau Kakak nggak mau, Kila nggak maksa, kok," ujar Kila.
Irsyad melihat Kila sekilas. Terlihat tatapan sedih di sana. Irsyad jadi bingung sendiri. Tidak mungkin ia menjelaskan dengan gamblang kenapa moodnya sekarang buruk lagi. Itu malah akan menyakiti hati Kila.
"Tidak, saya hanya baru ingat. Sepertinya waktu ashar sebentar lagi akan tiba. Lebih baik kita mendahulukan shalat dulu. Saya ingin shalat di masjid, bukan di mushalla restoran. Tidak apa, kan?" respons Irsyad. Alasan yang bagus, karena waktu berpihak pada Irsyad. Ini bukan termasuk kebohongan, kan? Jika iya, berarti Irsyad berbohong untuk membuat keadaan menjadi lebih baik, bukan berniat apapun. Ia juga tidak tahu yang ia lakukan ini baik atau buruk. Memanfaatkan situasi dan agama untuk menutupi sesuatu yang tidak boleh diketahui Kila. Itu Irsyad lakukan hanya sekedar untuk mencegah Kila berpapasan dengan mereka dan mengetahui kebenarannya. Tidak berlebihan, kan?
"Oke, deh, Kak. Kita cari masjid dulu, deh. Sayang banget melewatkan kebiasaan Kakak yang biasanya shalat di masjid. Cuma gara-gara mau makan dan jalan-jalan doang," balas Kila. Irsyad langsung lega seketika.
"Ya Rabbii..., itu alasan kegusaran Kak Irsyad? Kenapa aku tidak sadar waktu juga kalau sebentar lagi ashar? Di saat seperti inipun Kak Irsyad tetap memprioritaskan ibadah," batin Kila merasa hina. Kila, sayangnya kekhawatirannya itu tidak ada kaitannya dengan sikap Irsyad kali ini.
Sangat tanggung saat sudah sampai di depan mall, Irsyad memutuskan untuk menunda masuk ke situ. Itu usaha Irsyad untuk tidak berpapasan dengan keluarga itu yang mengarah ke tempat yang sama. Hampir saja mereka berpapasan, untung Irsyad dapat mengatasinya.
Sangat diuntungkan juga karena Kila mau menurut. Dan karena keduanya religius, alasan untuk mencari masjid itu sangat logis.
Tidak jauh dari sana, mereka melihat masjid. Tak lama pula adzan berkumandang.
Selesai shalat, ada doa tambahan yang Irsyad pintakan. Ia meminta dosanya diampuni karena memanfaatkan situasi dan agama untuk menyembunyikan sesuatu. Ia meminta agar semuanya berjalan lancar, keharmonisan rumah tangga mereka baik-baik saja. Ia juga meminta ampunan yang berlebih dari biasanya di shalat itu karena perkataannya, mungkin itu adalah sebuah kebohongan yang takkan pernah termaafkan. Dan shalat itu lebih banyak menghabiskan waktu daripada shalat-shalatnya yang biasanya.
"Masih mau jalan-jalan?" tawar Irsyad yang sudah mendekat ke parkiran tempat Kila menunggu. Meski belum tepat mereka berhadapan, Kila masih bisa mendengar.
"Sebenarnya, kita ngedate, kan, untuk membuat suasana hati Kakak jadi lebih baik. Jadi, tergantung ke Kakak, dong. Jangan tanya ke Kila," jawab Kila.
"Suasana hati saya sudah lebih baik. Kalau gitu, kita tunda dulu ngedate nya, boleh? Saya masih ada pekerjaan untuk diselesaikan sebelum berangkat ke masjid sampai Isya nanti."
"Ternyata benar. Kak Irsyad jadi terlihat lebih baik setelah melaksanakan shalat di masjid." batin Kila. Sayang sekali, lagi-lagi itu hanya salah sangka saja.
Keduanya segera masuk mobil dan melaju melanjutkan perjalanan menuju ke rumah.
"Kalau dipikir-pikir, akhir-akhir ini kita sering makan di luar, ya? Kali ini Kila mau masak aja, deh, untuk makan malam," ujar Kila.
"Makanan tadi siang juga tidak apa-apa. Kalau di panaskan, saya akan tetap makan, yang penting tidak basi," balas Irsyad seraya melemparkan senyum.
"Iya, campur sama makanan tadi pagi dan tadi siang juga. Kali ini, ditambah masak untuk makan malamnya."
"Wah..., siap-siap kekenyangan, nih."
"Siap-siap juga saingan sama Kila. Soalnya Kila pasti nggak lihat makanan yang mau habis kalau lagi lapar. Bisa jadi, porsinya Kak Irsyad Kila makan juga."
Keduanya tertawa.
"Kamu unik, ya. Makan banyak, tapi badannya tetap seperti itu terus."
"Iya, Kila juga nggak tau kenapa. Ini kelebihan Kila mungkin." Keduanya tertawa lagi.
Perjalanan menuju rumah di hiasi tawa. Kila berpikir, sekarang suasana hati Irsyad sudah sepenuhnya menjadi lebih baik karena melihat Irsyad tertawa tulus. Namun, itu hanya asumsi Kila saja.
Dibalik tawa Irsyad, ia khawatir dengan sesuatu yang sudah ia tutupi dari Kila. Seharusnya mereka sudah berjanji untuk mengkomunikasikan segala hal. Namun, karena ini menyangkut orang tua Kila, Irsyad jadi ragu. Ia takut yang ia lakukan ini adalah kesalahan besar. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Kila tahu hal yang sebenarnya.
"Apa menyembunyikan kebenaran tentang itu adalah keputusan yang tepat?" pikir Irsyad.
...****************...