
Irsyad terus mengejar Nabila, sampai ia sadar bahwa Kila yang baru ditampar Nabila itu malah ia tinggal. Irsyad menyesal. Harusnya ia melihat kondisi Kila dulu baru berpikir untuk mengejar Nabila.
Sekarang ia benar-benar rugi, Nabila tak terkejar dan Kila juga sudah tidak ada di tempat, tak mungkin juga dapat terkejar oleh Irsyad. Irsyad mengerti kenapa Kila memutuskan untuk pergi duluan, dan dengan berat hati Irsyad harus menerima itu. Irsyad menebak-nebak, Kila pasti akan menganggap bahwa dirinya bukan prioritas Irsyad lagi. Nyatanya tidak seperti itu. Justru karena Kila adalah prioritas Irsyad, ia mengejar Nabila untuk memberikan paham ke Nabila. Menasehati layaknya seorang guru yang memberikan pelajaran. Dan meluruskan salah paham juga. Menyalahkan tindakannya yang secara tiba-tiba menampar Kila di muka umum. Irsyad nyatanya benar-benar memprioritaskan Kila. Namun sayang, Kila sudah terlanjur berpikir sebaliknya.
"Kenapa tidak pernah belajar dari pengalaman sebelumnya, sih? Masalah di mall waktu itu belum terselesaikan, sekarang malah menambah masalah baru." Irsyad gusar. Wajahnya tampak semrawut. Karena tak tahu keberadaan Kila, ia akhirnya memutuskan pulang.
"Kila, kamu di mana? Kita harus menyelesaikan semuanya sekarang. Masalah ini akan semakin besar kalau kita tidak segera menyelesaikannya segera." Irsyad mengirimkan pesan suara. Itu ia lakukan karena usahanya untuk menelpon Kila tidak berhasil, begitupun dengan pesan chat. Setidaknya Kila dapat tahu bagaimana khawatirnya Irsyad saat pesan suara itu.
...****************...
Kila bosan mendengar nada dering yang terus berbunyi. Ia memutuskan untuk menyelipkan bantal ke kepalanya yang juga akan membuat telinga Kila tersumbat. Setidaknya dengan itu ia bisa meminimalisir bunyi yang kuat. Repot sekali ia, padahal bisa dengan membuat mode hening di ponselnya. Itu ia lakukan juga untuk mengetahui seberapa besar usaha Irsyad untuk terus menelepon Kila untuk menjelaskan semua kejadian. Pikirnya, makin banyak Kila di telpon, makin besar perhatian untuk Kila. Jika tidak sesuai yang ia inginkan, ia akan menyimpulkan sendiri bahwa Irsyad tidak benar-benar peduli dengan dirinya. Wanita ini benar-benar butuh perhatian dan pengakuan.
Nada dering sudah mulai berhenti. Apa Irsyad lelah meladeni keegoisan Kila? Karena berhentinya dering itu, Kila malah seenaknya berasumsi bahwa Irsyad tidak benar-benar peduli tentang Kila. Lalu selanjutnya, ia merasa yang Irsyad lakukan itu wajar. Setiap manusia memiliki batas wajar kesabaran. Meladeni Kila yang seperti itu, siapa yang tahan?
Satu menit kemudian, wajahnya yang murung kembali sumringah. Irsyad mengirimkan pesan suara, tidak seperti biasanya.
"Kila, kamu di mana? Kita harus menyelesaikan semuanya sekarang. Masalah ini akan semakin besar kalau kita tidak segera menyelesaikannya segera."
Senyumannya ia simpan segera. Menyadari bahwa dirinya seperti anak-anak membuatnya kian kesal. Sedikit-sedikit dapat merubah emosi.
Senyum Kila bukan hanya karena Irsyad menghubunginya lagi, tetapi juga karena nada penuh khawatir dan kelembutan yang Irsyad ucapkan di pesan suara itu yang membuat Kila tak dapat menahan senyumnya.
Kila memilih untuk tidak menanggapi Irsyad meskipun hatinya telah meleleh. Namun, sekarang jauh lebih baik, hanya dengan mendengar suara Irsyad yang memuaskan hatinya. Ia berhenti menyimpulkan sendiri semua kejadian, lalu bermunajat kepada Allah untuk memaafkan sikapnya yang sudah keterlaluan, tidak hanya kepada Irsyad saja, tetapi terhadap semua orang.
Entah apa yang Kila pikirkan tentang semua kejadian ini. Ia melihat sang papa bermesraan dengan wanita lain yang dimana anak wanita itu termasuk dekat dengannya dan Irsyad. Setelah kejadian di mall yang dianggapnya sebagai kejadian yang takkan termaafkan, ia mengadu pada sang mama. Memang sebelumnya ia ingin membicarakan suatu hal pada Riska meskipun ia tak tahu hal apa, perasaannya mengatakan ada yang harus dibicarakan. Tak disangka, ia tahu hal yang ingin dibicarakan dengan mamanya adalah berita perselingkuhan itu. Tanpa sadar, ia menyuruh mereka menyudahi hubungan pernikahan orangtuanya.
Melihat Irsyad menyembunyikan perilaku Gilang, Kila jadi enggan mendengar penjelasan Irsyad. Kila pikir, tanpa diberitahu alasannya oleh Irsyad, Kila sudah tahu alasannya. Karena Irsyad sangat baik, ia menunjukkan sikap yang benar. Tidak mengumbar aib seseorang, meskipun itu adalah mertuanya sendiri yang sebenarnya istrinya harus tahu kelakuan dari ayahnya. Irsyad melakukan kebohongan putih, berbohong untuk tidak menimbulkan perpecahan. Namun, kebohongan tetaplah kebohongan. Saat semuanya telah terbongkar, rasa dikhianati oleh Irsyad begitu terasa. Orang yang dekat menjadi penyusup rumah tangga keluarga, rumah tangganya dan juga rumah tangga orangtuanya.
Dua tamparan sudah mendarat di pipinya, kemungkinan besar ia akan mendapatkan satu atau dua tamparan lagi dari Gilang dan Irsyad. Atau bahkan ia akan mendapatkan satu tamparan lainnya dari ibunya Nabila. Kila sudah mempersiapkan dirinya. Ia berencana untuk membicarakan topik ini guna menyelesaikan problematikanya. Mengumpulkan semua orang yang terlibat, lalu mengakhiri permasalahannya. Mengungkapkan kebenaran secara jujur meskipun itu menyakitkan pihak-pihak yang ada. Menurut Kila, lebih baik mengakhirinya dengan sakit yang teramat sangat, daripada harus menderita terus menerus di kemudian hari.
Setelah Kila selesai dengan pikirannya, ia mencoba untuk merilekskan diri. Tidur menjadi pilihan. Saat hati dan pikiran lelah, tubuh pun ikut terasa lelahnya. Karena kelelahan itu, Kila bisa dengan mudah tertidur pulas.
...****************...
Dering telepon disenyapkan oleh Kila, termasuk bunyi alarmnya. Saat ia teringat belum menunaikan shalat dzuhur, tidurnya tersentak. Buru-buru ia mengambil wudhu. Merutuki dirinya sendiri karena lengah menunaikan shalat hanya karena sakit hati dengan hamba-Nya.
Selesai dengan shalatnya, Kila segera beberes. Ingin segera kembali ke rumahnya, rumahnya dengan Irsyad, sekaligus meminta maaf atas sikapnya tadi. Sebelum beranjak, ia melihat ponselnya lebih dulu. Ada banyak panggilan tak terjawab yang ia kira datang dari Irsyad. Namun, panggilan itu datang dari Riska. Sekitar tiga puluh panggilan yang dilewatkan Kila. Tidak biasanya sang mama meneleponnya sesering ini. Pasti ada hal penting yang harus dibicarakan, pikir Kila.
Ingin rasanya menelepon balik, tapi Kila masih teringat saat mamanya sendiri menampar keras dirinya. Namun, rasa khawatirnya tidak bisa ia sembunyikan. Ia memutuskan untuk menanyakannya lewat pesan chat.
"Maaf, Ma. Kila ketiduran tadi. Ada apa, ya?" ketik Kila.
Tak lama pesan itu langsung dibaca. Lalu telepon dari Riska datang lagi.
"Halo, Assalamu'alaykum, Ma?" sapa Kila duluan.
Belum sempat terjawab oleh Riska, Kila sudah mendengar suara isak tangis dari seberang sana. Membuat kekhwatirannya kian memuncak.
"Wa'alaykumussalam. Ki-Kila..., kamu di mana? Mama mau ketemu kamu," ucap Riska agak terbata-bata karena menangis.
Kila segera mematikan panggilan telepon itu. Tidak kuat mendengar suara tangis sang mama karena ikut merasakan kepedihannya. Ia segera mengetikkan alamat rumahnya, tempatnya berada sekarang.
...****************...