
Kepergian nenek sudah melewati satu bulan, bahkan sampai saat ini Kila masih belum terbiasa dengan kepergian nenek. Orangtuanya juga semakin jarang di rumah termasuk Hari Minggu. Mereka mengabaikan janji yang mereka buat untuk selalu di rumah pada Hari Minggu saat masih ada nenek.
Sama seperti hari ini, Hari Minggu yang harusnya Kila ditemani oleh kedua orangtuanya, mereka sibuk mengurusi pekerjaannya ke luar kota. Mereka tidak peduli dengan Kila yang sendirian setelah ditinggal nenek, bahkan mereka semakin cuek dengan Kila. Mungkin karena perkataan Kila yang membantah tentang Irsyad waktu itu membuat mereka enggan berinteraksi dengan Kila.
Semenjak ditinggal oleh nenek, Kila mulai memasak untuk dirinya sendiri. Ia semakin berhemat untuk tidak beli makan diluar manakala ia akan meninggalkan rumah ini karena jenuh dengan orangtuanya, ia harus semakin berhemat. Ia juga sedang belajar membuka bisnis online sebagai dropship manakala ia harus berhenti mengharapkan uang bulanan dari mamanya.
"Hari ini masak nasi goreng aja, deh. Masak banyak sekalian untuk makan malam nanti biar nggak repot masak lagi." Kila bicara pada diri sendiri sambil menyiapkan bahan makanan yang ingin ia masak. Ia berusaha untuk tidak berlarut dengan kepergian nenek. Ia sedang berusaha untuk ikhlas, maka dari itu ia berusaha untuk terlihat senang pula.
"Assalamu'alaykum," ucap seseorang. Ia adalah Riska, tampaknya hari ini ia kembali ke rumah namun sendirian karena tidak terdengar suara Gilang.
"Wa'alaykumussalam. Papa kemana, Ma?" ucap Kila saat Riska menghampirinya.
"Papa masih banyak pekerjaan, jadi cuma mama yang pulang," jawab Riska.
"Mama kok mau biarkan papa sendirian? Waktu jenguk nenek juga, mama nggak datang sama papa. Apa mama nggak curiga sama papa?" jawab Kila apa adanya. Ia juga sudah mengherankan ini sejak saat mama menjenguk nenek sendirian waktu itu.
"Hus, nggak boleh gitu. Mama percaya, kok, sama papa. Papa sedang bekerja keras untuk menghidupi keluarga kita," balas Riska.
"Iya, terserah mama deh, Kila cuma ngungkapin apa yang Kila pikirin aja. Oiya, Ma, jangan lupa tiga hari lagi pengajian empat puluh harinya nenek meninggal. Kila ngingetin aja, soalnya kan, waktu pengajian tiga hari dan tujuh harinya nenek mama sama papa nggak ada di rumah. Kila mau kalian hadir nanti, dan di pengajian hari ke seratus juga. Kila capek jawab pertanyaan tetangga yang suka nanyain mama sama papa. Kila bilang kalian kerja, mereka malah balas kalau kita ini udah nggak kekurangan apapun, tidak ada alasan untuk terus bekerja demi mencapai target kekayaan. Dan kalian malah dibicarakan kalau kalian lebih mementingkan pekerjaan ketimbang menghadiri hari penting waktu itu." Kila mengoceh sambil mengaduk nasi gorengnya.
Riska tampak tak ingin membahas topik itu, karena ia merasa dirinya sudah terpojok dan tidak ada ruang untuk mengelak. Ia memilih untuk memasuki kamarnya di lantai dua mengakhiri percakapan ini.
"Pokoknya mama sama papa harus datang. Kila anggap kalian udah janji untuk datang," ucap Kila agak berteriak karena tahu bahwa Riska sudah mulai menaiki tangga.
...****************...
Hari pengajian empat puluh hari pun tiba. Kila sangat lihai menyiapkan persiapan pengajian ini. Kila senang, Irsyad masih terus datang ke pengajian empat puluh hari neneknya. Irsyad juga menjadi penyemangat bagi Kila untuk melanjutkan hidup seperti sebelumnya saat masih ada nenek.
"Mas, kamu dari mana aja? Kenapa sampai terlambat begini? Kamu lupa atau bagaimana?" Riska menginterogasi Gilang.
"Jangan bahas itu, aku capek banget," balas Gilang lesu. Gilang meninggalkan Riska menuju kamar.
Kila melihat Gilang baru pulang, ia menghampiri mereka. Sebelum Kila sampai, Gilang keburu masuk ke kamarnya.
"Papa baru pulang, Ma?" tanya Kila memastikan.
"Iya, katanya kecapean. Mungkin kerjaan hari ini banyak, terus papa juga maksain diri untuk pulang ke sini buat menuhin janjinya. Biarkan papa istirahat dulu, ya," jawab Riska.
"Mama baik-baik aja diperlakukan seperti itu sama papa? Mama yakin kalau papa beneran kelelahan karena kerja? Mama nggak mau cari tahu, mungkin aja karena mama nggak di samping papa itu kesempatan papa untuk melakukan hal lain diluar pekerjaan. Mama sama papa juga jarang kan ngerjain projek yang sama. Sama-sama keluar kota, tapi nggak tinggal di tempat yang sama, kan?" ucap Kila sarkas.
"Kila, kenapa kamu berubah seperti itu? Kamu berniat mengadu domba mama dan papa, ya?" tanya Riska meninggikan suaranya.
"Kila juga curiga sama mama. Bahkan lebih menomorsatukan pekerjaan ketimbang menghadiri acara pengajian nenek. Mama bukannya makin sering di rumah setelah nenek pergi, kini malah semakin sibuk dan jarang pulang ke rumah. Kalian nggak ada bedanya. Lebih baik jual aja rumah ini, Ma. Alasan untuk tetap disini udah nggak ada, nenek udah nggak ada. Mama bisa balik ke kota kita dulu untuk mempermudah pekerjaan mama. Kila bisa ngekos di dekat sekolah Kila sekalian supaya bisa hidup lebih mandiri dari ini. Rumah yang jadi tempat pulang ini udah nggak ada fungsinya lagi. Penghuninya udah punya tempat pulang masing-masing, jadi jual aja rumahnya," ucap Kila berkaca-kaca.
"Oke, kalau itu memang mau kamu. Kamu bisa hidup mandiri sepuas kamu dengan mengekos. Rumah ini akan mama jual. Mama dan papa akan kembali ke kota yang dulu. Dan karena kamu semakin membantah, mulai besok kamu udah bisa keluar lebih dulu dari rumah ini. Dan kamu tidak berhak menerima uang bulanan lagi, kamu sendiri yang bilang kalau kamu mau hidup mandiri. Berarti, kamu bisa menjalani hidup kamu tanpa bantuan sedikitpun dari mama maupun papa." Kila jual, Riska beli. Ia meladeni kata-kata Kila dengan ucapan serius. Kila tak terlalu mempedulikan itu, toh ia juga sudah terbiasa dengan ketiadaan orang tua tertulisnya itu.
"Oke, terimakasih banyak, Ma, kalau begitu. Setelah pulang sekolah besok, Kila langsung angkat kaki dari rumah ini supaya mempermudah pekerjaan kalian dan keinginan kalian. Keegoisan mama juga," balas Kila sarkas pula. Ia meninggalkan Riska menuju kamarnya. Tanpa aba-aba, air mata Kila meluncur seketika.
Riska tidak berpikir dua kali saat mengatakan itu. Itu semua di luar kendalinya karena tersulut emosi oleh ucapan Kila sebelumnya. Ia sedikit menyesal mengucapkan kalimat itu. Tapi, ia tidak menarik kata-katanya kembali. Ia juga ingin melihat bagaimana Kila Tumbuh mandiri tanpa bantuan finansial darinya.
...****************...