
Sudah tiga bulan mereka kembali seperti semula. Rutinitas yang kini dirasa monoton oleh Kila. Keadaan rumah sudah dikembalikan menjadi hangat kembali, tapi masih ada yang kurang Kila rasa. Menyiapkan makanan, menyambut Irsyad saat pulang atau pergi keluar, menjadi makmum, serta tidur bersama. Sebagai tambahan, Irsyad menjadi dosen pribadi Kila di tiap Sabtu atau tiap Kila yang datang menanyakannya. Semuanya sudah kembali seperti sedia kala, tapi Kila merasa kurang puas karena itu. Apakah ini karena Kila yang memintanya waktu itu? Apakah rutinitas yang kembali dilakukannya seperti sediakala ini dilakukan dengan setulus hati? Ada sesuatu yang kurang, pikir Kila. Tapi Kila tak tahu itu.
"Besok kamu ada kelas atau tidak?" ucap Irsyad. Kini Kila dan Irsyad sedang makan malam bersama.
"Ada, Kak. Kelas pagi," jawab Kila. Irsyad lalu mengangguk menanggapi.
"Sabtu nanti, kita jalan, yuk," ajak Irsyad.
"Jalan? Kila nggak seperti Kakak yang suka olahraga, Kak." Kila kebingungan dengan ajakan Irsyad.
"Bukan..., maksudnya kita jalan-jalan entah kemana. Kencan," balas Irsyad memperjelas. Bersamaan dengan kata 'kencan' diucapkan, Kila yang sedang mengunyah makanannya tersedak.
"Hati-hati, cepat minum! Bisa-bisanya tersedak padahal yang sedang bicara itu saya, bukan kamu." Irsyad dengan cepat menyuguhkan air minum untuk Kila.
"Kenapa tiba-tiba, Kak? Bukannya selama ini Kak Irsyad masih banyak kerjaan? Kalau terlalu sibuk, nggak usah dipaksakan. Kila juga lagi sibuk mikirin kuliah." Kila yang sudah meneguk air minum itu menentang halus.
"Justru karena kita sama-sama sibuk dan tidak punya waktu bersama saya memintanya. Kita sudah lama tidak keluar selain ke kampus atau ke tempat bunda, kan? Apa salahnya coba? Untuk menyegarkan otak juga sebelum bersiap kembali berkutat dengan urusan dan pekerjaan yang harus dipikirkan." Irsyad yang berusaha meyakinkan itu secara langsung mendapat tatapan ragu dari Kila.
"Ya udah, Kila ikut kalau gitu." Akhirnya, setelah berpikir sejenak, Kila setuju. Tidak ada salahnya menjalankan hari diluar rutinitas yang monoton selama tiga bulan ini, pikirnya.
Sesaat setelah makan malam selesai, Kila membereskan meja makan dan mencucinya. Lalu Irsyad membantu menyusun piring-piring. Tidak ada percakapan saat melakukan kegiatan itu, karena keduanya tidak memiliki topik yang dapat dibahas.
"Kila, saya kembali ke ruang kerja dulu, ya. Setelah shalat witir, saya akan kembali ke kamar. Jadi, kamu duluan saja tidurnya, jangan menunggu saya," ucap Irsyad lalu meninggalkan Kila. Selama tiga bulan ini, pamit itu selalu Irsyad lontarkan. Kila juga harus melaksanakan shalat witir sendiri selama tiga bulan ini karena Irsyad yang selalu lebih dulu mengerjakan witir sendiri di ruang kerjanya.
Kila mulai sadar apa yang kurang. Irsyad yang semula tidak terlalu sibuk di ruang kerja tidak, kini tak bisa sehari saja tak memasuki ruangan itu, di situ pembedanya. Tempat kurangnya kehangatan rumah, karena kesibukan Irsyad yang tidak bisa ia tinggalkan. Membuat Kila berpikir apa yang dilakukan Irsyad selama tiga bulan ini hanya sebagai formalitas belaka untuk memperbaiki hubungan mereka sesuai dengan yang Irsyad ucapkan, bukan setulus saat mereka baru-baru pindah ke rumah ini.
...****************...
Irsyad memilih kafe yang cukup terkenal di daerah mereka sebagai tempat kencan pertama. Kafe yang memiliki dekorasi dan desain yang fresh selera anak muda. Terbukti dengan tampak kafe ini cukup ramai di datangi oleh anak-anak muda.
"Kak, Kila ke toilet dulu, ya." Saat sampai, Kila langsung menuju toilet. Membuat Irsyad harus memilih tempat duduk lebih dulu selagi Kila di toilet.
"Pak Irsyad? Selamat siang, Pak!" Irsyad berpapasan dengan Nabila yang berlawanan arah dengannya. Dapat disimpulkan, Nabila dan orang yang bersamanya itu baru saja akan keluar dari kafe.
"Ooh, Nabila, siang," sapa Irsyad. Ia juga menyapa orang di sebelah Nabila. "Seperti pernah lihat wanita ini, tapi di mana?" pikir Irsyad.
"Kebetulan banget bisa ketemu Pak Irsyad di sini. Tapi sayang banget, saya baru selesai dari sini, jadi tidak bisa mengobrol sebentar dengan Bapak. Oiya, ini ibu saya, Pak."
"Ma, Pak Irsyad nggak biasa berkontak fisik sama lawan jenis. Bukan mahram katanya," ucap Nabila memberikan penjelasan. Sontak, wanita itu juga membalas Irsyad dengan melakukan hal yang sama, mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Kalau gitu, saya pamit dulu, Pak. Bapak bisa kabari saya kalau ingin ketemu. Selamat siang, Pak," pamit Nabila.
Saat keluar dari toilet, Kila melihat Nabila juga. Bukan itu yang mengejutkannya, tapi saat ia melihat Nabila bersama dengan wanita yang sudah dua kali ini Kila pergoki dekat dengan papanya. Dua wanita yang mengganggu ketenangan pikiran Kila itu muncul bersamaan. "Apa hubungan mereka?" Kila bertanya-tanya.
"Kak Irsyad, maaf nunggu lama." Kila agak berteriak saat sudah melihat Irsyad. Rupanya, disebelah sang suami, ia melihat Gilang di sana.
"Aaa, tidak apa-apa. Lagian saya ditemani oleh papa di sini," jawab Irsyad.
"Papa berada di sini juga? Apa cuma kebetulan? Ada wanita itu dan ada papa ditempat dan waktu yang bersamaan," batin Kila bertanya-tanya.
"Papa udah lama di sini?" tanya Kila setelah menyalim tangan Gilang.
"Udah, ketemu dengan teman lama tadi," jawab Gilang.
"Waktu itu papa mengaku kalau wanita itu seorang klien, sekarang berkata wanita itu teman lama papa. Mana yang benar?" batin Kila curiga.
"Sepertinya papa nggak bisa lama-lama di sini. Papa juga udah ngobrol sama Irsyad walau cuma sebentar. Papa harus pergi dulu, urusan kantor sedang menunggu," pamit Gilang cepat. Padahal Kila baru saja mendudukkan dirinya.
"Ooh, iya, hati-hati di jalan, Pa," sambut Irsyad. Setelahnya, tak lama makanan yang sudah sempat dipesan oleh Irsyad saat Kila ke toilet tadi kini tiba. Irsyad segera mencicipi, memulainya dengan minuman lebih dulu.
"Kak Irsyad kok bisa sama papa?" tanya Kila sebelum menyentuh makanan dihadapannya.
"Tadi saya melihat meja mana yang kosong, rupanya ada papa yang duduk sendirian di meja ini. Lalu, saya menghampiri. Katanya, beliau baru sampai di sini pagi ini, dan besok mau langsung balik lagi ke rumah untuk mengurus urusan kantor pusat," jawab Irsyad.
"Ngobrolin apa aja?" tanya Kila lagi.
"Tidak banyak. Hanya yang saya katakan tadi dan sekedar menanyakan kabar," balas Irsyad singkat.
"Sayang sekali papa buru-buru. Padahal bisa menginap di rumah kita dulu untuk melihat rumah yang dihuni oleh putrinya bersama sang suami," ucap Irsyad mengakhiri sebelum memulai menyentuh makanan yang menggugah selera didepannya.
"Papa juga lebih memilih menginap di hotel daripada mengabariku untuk memberinya tempat menginap, di rumahku dan Kak Irsyad. Mungkin hotel adalah tempat ternyaman dibandingkan dengan tempat yang putrinya tinggali," batin Kila berprasangka.
...****************...