Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Siap Memberikan Hak?



Irsyad dan Kila kembali setelah begitu lelah bersosialisasi dengan banyak orang tadi. Cukup sore baru mereka sampai di rumah.


Keduanya berpisah duduk. Irsyad di meja makan, sedangkan Kila di ruang keluarga. Kila memang lebih lelah dari Irsyad, makanya ia memilih duduk di ruang keluarga untuk berselonjor kaki di sana.


"Kila udah wisuda lagi sekarang. Kila udah siap, Mas." Kila buka suara setelah lama dua orang itu fokus untuk pemulihan diri.


Irsyad tahu arah bicara itu. Ia sebenarnya tak ingin meladeninya, tapi ia takut membayangkan sikap Kila selanjutnya.


"Kamu pasti lelah sekarang. Saya tidak mau memaksakan," jawab Irsyad. Ia ingin kabur sejenak agar topik ini tak berlanjut, ke ruang kerjanya. Namun, Kila masih kukuh untuk terus membahasnya saat Irsyad ingin melangkahkan kakinya menuju ruangan kerja.


"Semua orang terus menanyakan untuk kita segera menyusul untuk punya anak. Bunda juga tidak sabar ingin menimang cucu," ucap Kila dengan pandangan kosong.


Melihat Kila yang seperti itu, Irsyad melangkahkan kakinya untuk duduk di ruang keluarga juga menemani Kila lebih dekat.


"Sayang..., punya anak itu bukan karena ingin ikut-ikutan. Lagian, Bunda juga nggak terlalu mempermasalahkannya lagi sekarang. Karena yang akan menjadi orangtuanya adalah kita, jadi, jangan jadikan keinginan orang lain sebagai landasan harus segera punya anak. Dan lagi, kita udah ke dokter dan kita dinyatakan sehat-sehat saja, kan? Kita bisa menunda punya anak dulu dan mengeratkan hubungan sebelum memutuskan punya anak. Bahkan, kamu bisa lanjutkan pendidikan doktoral kamu kalau kamu. Setelah wisuda lagi, baru ingin memiliki anak juga tidak masalah kata dokter," jelas Irsyad lembut supaya Kila mengerti. Namun, tampaknya ada pemilihan kata yang salah di sana.


"Baiklah kalau gitu. Mas Irsyad terlihat seperti orang tua Kila yang kolot, lebih suka mementingkan pendidikan Kila," Kila menanggapi dengan senyum menyeringai dan mengalihkan muka.


"Maksud saya bukan begitu, Sayang..., itu hanya perumpamaan saja. Kalau ingin usaha dari sekarang juga tidak masalah, tapi jangan sekarang banget. Kamu masih sangat kelelahan. Saya masih bisa menahan diri, kok. Saya tidak ingin menyakiti kamu. Karena pada dasarnya, hubungan intim itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Saya tidak ingin kamu tidak suka dan hanya saya saja yang merasa menikmatinya. Jika begitu, sama saja seperti saya memaksakan kehendak. Saya tidak mau itu terjadi," jelas Irsyad tegas nan lembut untuk memberikan pengertian.


"Mas! Kila bukan negosiasi. Kila buat pernyataan, Kila siap, kok! Udah cukup Kila menyiksa Mas Irsyad karena nggak pernah ngasih hak ini." Kila masih bersikeras.


"Jangan menggoda saya, Kila. Saya tahu kamu lelah," Irsyad juga tak mau kalah.


"Mas..., kenapa?" tanya Kila lirih. Matanya berkaca-kaca. Tatapannya tulus, menginginkan apa yang ia katakan dengan sungguh-sungguh. Irsyad seketika merasa iba.


"Kila..., kamu benar-benar yakin dengan apa yang kamu katakan? Kamu tidak kelelahan? Kita baru saja pulang dari rumah," tanya Irsyad memastikan. Lalu Kila mengangguk dengan cepat, seperti anak kecil saja.


"Saya ingin shalat sunnah dulu sebelum pertama kali melakukannya dengan kamu. Ayo shalat berjamaah dulu," ajak Irsyad. Kila hampir saja lupa soal itu. Saat Irsyad mengatakannya secara gamblang, Kila jadi gugup.


"I-iya, Mas."


Irsyad akhirnya menuruti permintaan Kila. Mereka melakukan shalat sunnah yang dilakukan pasutri sebelum melanjutkan ibadah yang paling indah untuk tiap pasutri. Sudah selesai shalat, Kila malah ragu. Hatinya berdebar-debar. Padahal, ia sangat yakin kalau dirinya sudah siap memberikan mahkota yang selalu ia jaga. Ia merasa siap memberikan haknya Irsyad, kenapa ada keraguan?


"Bagaimana? Masih mau melakukannya? Saya melihat kamu memerah hingga gemetaran," ucap Irsyad memastikan kembali.


"Baiklah, rapikan alat shalatnya dulu."


Tak lama kemudian, keduanya sudah selesai membereskan alat shalat.


"S-sudah, Mas," ucap Kila gugup.


Keduanya kemudian berpindah untuk duduk di atas ranjang.


Irsyad membaca doa-doa sebelum melanjutkan ibadah paling indah itu. Membacakannya di atas kepala Kila, lalu mencium keningnya cukup lama setelah doa selesai dibacakan.


"Saya tidak punya pengalaman, kita perlahan saja, ya." Kila mengangguk menanggapi.


Sungguh keduanya dalam perasaan berdebar kencang. Ingin memulai langkah, namun begitu lambat. Sangat lambat, sampai ini harus dimulai dengan Irsyad mendekatkan wajahnya ke wajah Kila lebih dulu sebagai langkah awal. Permulaan itu untuk meraih bibir Kila yang terlihat begitu lezat. Lalu Kila, ia sebenarnya sangat takut, debaran yang ia rasakan terlihat berbeda, tidak seperti biasanya. Ia memejamkan mata untuk merilekskan diri dan menerima semua perlakuan dari Irsyad.


Cup


Satu kecupan berhasil mendarat di bibir Kila setelah cukup lama usaha Irsyad untuk sampai mendarat di situ. Kemudian Irsyad mengulanginya lagi. Kini, tangannya sudah menangkup pipi kanan Kila untuk melanjutkan ke langkah selanjutnya. Kecupan selanjutnya Irsyad lakukan lebih dalam. Menikmati bibir Kila yang begitu lezat, atas dan bawah. Baru beberapa detik ia melakukannya, tapi cepat sekali terasa sesak nafasnya. Ia melepaskan dan mengambil nafas sejenak. Nafas keduanya sama-sama memburu. Kenapa rasanya begitu melelahkan? Padahal, mereka melakukannya dengan posisi duduk di atas ranjang, bukan berdiri.


Serasa sudah cukup mengambil nafas, Irsyad ingin melanjutkannya lagi dengan perlahan. Mengganyang kembali sepasang bibir itu, dengan lembut dan penuh kasih. Saat Irsyad melanjutkan, ia tersentak karena sadar bahwa dirinya saja yang menikmati ini. Tak lama, ia merasakan air mata tumpah ditangannya yang masih menangkup pipi kanan Kila, istrinya menitikkan air mata. Seketika itu pula Irsyad berhenti.


Bagaimana bisa Irsyad tak menyadari bahwa Kila sangat ketakutan mengalami itu. Apalagi saat akan melanjutkannya lebih dari itu. Padahal, ia merasa yang dilakukannya sudah sangat lembut dan perlahan. Tidak pernah ia sangka bahwa Kila akan meneteskan air mata karena terlalu ketakutan digerayangi seperti itu. Irsyad kecewa pada dirinya sendiri karena memaksakan kehendaknya.


"Maaf, Kila. Sepertinya kita sudahi saja. Saya ingin mandi dan bersiap-siap ke masjid untuk shalat maghrib."


Irsyad meninggalkan Kila yang air matanya terus mengalir.


Memang waktunya tidak pas, sudah Irsyad perkiraan sebelumnya. Irsyad malah lengah mengabaikan itu. Ditambah, waktu maghrib sudah sangat dekat. Ia harus buru-buru mandi dan bersiap ke masjid.


"Apanya yang sudah siap? Siap memberikan hak dari mananya? Kila malah terlihat sangat ketakutan dan aku malah tak menyadarinya. Astaghfirullah..., bahkan aku hampir terlambat menuju masjid untuk shalat maghrib." Irsyad menyalahkan dirinya dalam hati. Terus-menerus beristighfar karena telah menyakiti Kila, dan lengah dalam ibadah.


Kenapa Kila menangis? Bukannya ia yang mengatakan sendiri bahwa sudah siap untuk menyerahkan mahkotanya pada Irsyad? Justru itu terlihat jauh dari kata siap. Ia ketakutan sampai air mata yang ia tahan tumpah.


...****************...