Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Suasana Dingin di Rumah



Cukup lama Kila menunggu Irsyad kembali dari ruang kerjanya. Harusnya di jam segini sudah saatnya Irsyad melaksanakan shalat witir di kamar, namun ia tak kunjung kembali. Karena penasaran, Kila mendatangi ruang kerja yang terletak di lantai satu itu untuk melihat apa yang terjadi.


Kila melihat ke dalam ruangan kerja Irsyad. Terlihat ada sajadah yang membentang dengan sarung dan kopiah yang belum terlipat di atasnya. Lalu, pandangan Kila beralih menuju meja kerja Irsyad. Tampak beberapa buku dan kertas berserakan di atasnya. Kila mencari keberadaan Irsyad dengan menyusuri sudut ruangan. Lalu, Kila menemukan Irsyad yang tengah tertidur di sofa ruangan itu. Sebelah tangan Irsyad yang besar terlihat ditumpu oleh Irsyad di dahinya. Seperti berniat untuk menutupi wajahnya yang pasti sangat kelelahan. Sedangkan yang sebelahnya lagi diletakkan di atas selimut yang sudah terlilit di badu. Kila kembali ke kamar begitu melihat Irsyad yang ternyata sudah pulas membaringkan tubuhnya di sofa ruangan kerja. Kembali dengan perasaan campur aduk hanya karena melihat sang suami sudah tertidur.


"Sepertinya, Kak Irsyad nggak akan kembali ke kamar," ucap Kila seraya menarik selimutnya. Ia memutuskan untuk tidak memikirkan hal kecil itu dan langsung tidur. Hal kecil? Hal seperti itu tidaklah kecil bagi Kila. Mau bagaimanapun berusaha langsung tidur dan melupakan hal kecil itu, tetap saja Kila terusik memikirkannya sendiri.


"Sampai melakukan shalat witir di ruangan kerja juga. Tertidur di atas sofa dengan selimut yang sudah melilit di badannya. Apa harus sebegitunya? Apa karena masalah tadi kamu sampai tidak ingin tidur di ranjang yang sama denganku, Kak?" pikir Kila seraya memejamkan matanya. Setitik air mata kemudian jatuh membasahi pipi Kila. Lalu, jatuh yang satunya lagi di sisi mata yang berbeda. Titik demi titik air mata berjatuhan. Tumpahan air mata itu tidak dapat dibendung lagi dan membasahi pipi sekaligus bantal tempat ia menyandarkan kepalanya. Hanya memikirkan Irsyad yang tidak mau tidur dengannya membuat Kila bisa secengeng ini.


...****************...


Kila memang sedang tidak shalat sekarang. Irsyad juga mengetahui hal itu. Karena itu Irsyad tidak membangunkan Kila untuk tahajud bersama kali ini. Sama seperti saat witir tadi yang harusnya dilakukan mereka bersama.


Kalau sudah memutuskan shalat witir di ruang kerjanya, pasti Irsyad juga akan melaksanakan shalat tahajud di tempat yang sama. Lalu pergi ke masjid saat subuh dengan tidak memberitahu ke Kila seperti biasanya. Itulah yang Kila pikirkan. Dan Kila resah memikirkan hal itu. Karena apa yang ia pikirkan ternyata berjalan menjadi kejadian yang sebenarnya.


Kini Kila sudah di dapur, sementara itu Irsyad masih belum pulang dari masjid. Kila berencana membuat camilan manis kesukaan Irsyad untuk pendamping bekal Irsyad nanti, makanya ia harus memulainya lebih pagi hari ini. Kila berpikiran kalau dengan membuatkan camilan kesukaan Irsyad akan sedikit menghangatkan suasana rumah kembali.


Teh pahit sudah tersedia di atas meja untuk menyambut Irsyad pulang dari masjid. Kila tidak tahu kalau Irsyad sudah pulang karena Irsyad langsung memasuki ruang kerjanya kembali. Kila juga masih sibuk di dapur untuk mengurus makanan, Irsyad mengucapkan salam saat masuk rumah tidak sekuat biasanya. Rutinitas menghampiri Irsyad dan menyalim tangannya hari ini tidak Kila lakukan. Aaa..., apa Kila sudah menjadi istri yang tidak berbakti kepada suaminya sekarang?


"Kak, Kila hari ini nggak ada kelas. Jadi, Kila nggak ikut ke kampus, ya. Kila mau nyicil skripsi di rumah walau nggak ada kelas," ujar Kila. Mereka sedang di meja makan untuk sarapan. Karena tidak ada pembicaraan, akhirnya Kila yang membuka pembicaraan.


Sementara itu, Irsyad sedang fokus dengan kertas-kertas di meja makan. Bisa-bisanya ia sarapan sambil menuntaskan pekerjaan. Ucapan Kilapun hanya ditanggapinya dengan anggukan, tanpa memandang wajah Kila. Kila berusaha mengerti karena Irsyad memang terlihat benar-benar sibuk sekarang.


"Ini bekalnya, Kak. Ada bekal tambahan di dalamnya, Kila harap Kakak suka, ya," ucap Kila seraya menyuguhkan bekal yang sudah ia siapkan. Ia buru-buru melakukan itu karena melihat Irsyad langsung berdiri dan membereskan kertas-kertas yang ia bawa tadi dan memasukkannya ke tas. Irsyad langsung mengambil bekal tersebut dan melangkahkan kakinya ke luar untuk segera memakai sepatu dan menyalakan mobil. Dan Kila mengikuti dari belakang.


"Aaa..., terimakasih. Kalau begitu saya langsung berangkat, karena harus mengerjakan pekerjaan lain di kampus," ujar Irsyad. Ia langsung masuk ke mobil dengan terburu-buru. Kila yang mengerti itu segera membukakan pintu gerbang untuk Irsyad.


Lagi, tidak ada rutinitas suami istri saat Irsyad berangkat. Harusnya, Irsyad memberikan tangannya untuk dikecup oleh Kila dan dilanjutkan untuk mengecup kening Kila. Tapi hal itu tidak terjadi hari ini. Kila berusaha mengerti bahwa Irsyad hari ini benar-benar sibuk sampai tidak bisa melakukan rutinitas seperti biasanya. Tapi, sekalipun ia mengerti tetap saja hatinya tergores. Pikirannya campur aduk sejak ia melihat Irsyad tidur di sofa dengan selimut yang sudah terlilit.


...****************...


"Kak Irsyad? Hari ini pulangnya sore banget." Kila turun dari lantai dua dimana kamarnya berada karena mendengar suara gerbang dibuka yang menandakan Irsyad baru pulang. Padahal ia sedang fokus menyicil skripsinya tadi, tapi karena suaminya pulang, itu dulu yang ia utamakan. Menyambut suaminya pulang.


Saat masuk ke dalam rumah, Irsyad terlihat ingin pergi kembali dengan membawa sarung dan kopiah. Irsyad masuk ke rumah hanya untuk meletakan tas kerjanya saja.


"Iya. Saya tinggal ya, soalnya takut Maghrib di masjid tidak tersusul," jawab Irsyad. Ia terburu-buru langsung pergi menuju masjid karena suara-suara murottal sudah terdengar.


Ada dua tas yang Irsyad tinggalkan di meja ruang kerjanya. Tas kerjanya dan tas bekal yang disiapkan oleh Kila tadi pagi. Karena berpikir itu kotor, Kila segera membawanya ke dapur.


"Kok kayak masih ada isinya, ya? Apa bekalnya nggak dihabiskan?" tanya Kila heran.


Kila membuka tas bekal itu. Camilan yang ia letakkan dikotak bekal yang atas tampak tidak disentuh sama sekali. Lalu, Kila membuka kotak bekal selanjutnya. Mata Kila memerah saat melihatnya. Irsyad sama sekali tidak menyentuh bekal yang sudah Kila siapkan. Makanan di dalam kotak bekal terlihat belum disentuh sama sekali. Kila menangis saat akan membuang makanan itu. Pikiran-pikiran negatif mulai bermunculan. Bahkan camilan kesukaan Irsyad pun tidak di makan sedikitpun oleh Irsyad. Lalu, Kila mencuci kotak bekal itu dengan air mata yang juga bercucuran.


"Sudah Kila, jangan berprasangka buruk! Mungkin Kak Irsyad begitu sibuk sampai tidak memakan bekal buatanmu. Atau, bisa jadi Kak Irsyad diajak makan diluar oleh koleganya dan tidak bisa menolak." batin Kila berusaha menenangkan diri.


Selesai mencuci kotak bekal itu, Kila sudah dapat menenangkan diri. Air matanya juga sudah berhenti mengalir. Ia harus melanjutkan kewajibannya sebagai seorang istri meskipun tadi tidak dapat menyambut Irsyad pulang dengan benar. Ya, harusnya rutinitas menyambut Irsyad pulang itu sama seperti saat Irsyad akan berangkat, yaitu aktivitas kecup tangan dan kecup kening. Tapi, sepertinya hari ini rutinitas romantis seperti itu tidak bisa dilakukan. Kila berusaha berpikir ke depan. Saatnya menyiapkan makan malam untuk Irsyad.


...****************...