Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Momen Bersama



Tampaknya perjuangan Irsyad untuk datang mengurus Kila tidaklah sia-sia. Kila lebih cepat sembuh dari prediksi dokter, itu karena perhatian yang diberikan oleh Irsyad.


"Kila, kamu bisa janji untuk menjaga kesehatan kamu? Jangan terlalu fokus terhadap kuliah kamu. Jangan berjuang terlalu keras, itu akan menyakiti diri kamu sendiri," ujar Irsyad. Mereka sedang berdua saja tanpa Citra. Ini kesempatan Irsyad untuk menggurui Kila lagi, mumpung berduaan.


"Kak, Kila nggak mau lihat kakak aja yang sendirian berjuang. Kila juga ingin cepat lulus kuliah. Kila pengen saat Kak Irsyad lulus, Kila juga lulus. Cuman ini satu-satunya kontribusi yang bisa Kila lakukan. Oke, kakak jangan larang-larang Kila lagi untuk berusaha keras. Kalau untuk jaga diri, Kila janji akan berusaha untuk tidak lupa makan. Kila bisa jamin, Kila nggak akan sakit kayak gini lagi," balas Kila tak mau kalah. Staminanya sudah lebih baik dibanding saat Irsyad pertama kali melihat kondisi Kila yang sakit waktu itu.


"Iya, tapi, kan, jangan dipaksakan untuk terus berusaha keras. Kamu tahu, kan, saya tidak bisa ke sini terus-terusan kalau tiba-tiba mendapat kabar lagi kalau kamu sakit. Itu juga bukan kemauan saya, prosedur sudah begitu. Tapi kamu tahu, saya sangat kesal saat tidak dapat mendampingi kamu jika hal seperti ini terjadi lagi. Kamu harus tahu kalau saya sangat mengkhawatirkan kamu, Kila," tegas Irsyad.


"Iya, Kila paham. Kak Irsyad juga, ucapan Kak Irsyad berlaku juga untuk diri Kak Irsyad," ucap Kila mengalah.


Untung saja Hari Jum'at itu tidak ada dosen yang masuk, dan akan di gantikan di hari lain. Kila jadi bisa beristirahat lebih banyak hingga Hari Senin nanti. Jadi, selain karena Irsyad yang menjaga Kila, faktor lain dari mulai pulihnya Kila adalah senggang waktu istirahat yang lebih panjang. Sudah di Hari Minggu, Irsyad terus mengurus Kila yang masih terkulai lemas di ranjang.


"Kak, Kila udah mendingan sakitnya. Kakak nggak usah khawatir lagi dengan keadaan Kila. Kakak bisa kembali ke Turki, kok, Kila nggak keberatan," ujar Kila tidak enakan. Saat itu Irsyad sedang mengambil minum. Ia duduk dan meletakkan gelas untuk segera menanggapi Kila.


"Tapi saya yang keberatan, Kila. Saya tidak akan meninggalkan kamu sebelum kamu benar-benar sembuh," balas Irsyad tegas.


"Ya ampun, Kak. Kila udah sembuh, lho. Buktinya sekarang kila bisa bicara banyak, kan?"


"Saya tahu, masih ada sisa migrain di kepala kamu. Yang mendingan cuma suara kamu, kalau kamu sudah mendingan, harusnya kamu bisa berlarian, bukan terkulai di ranjang, kan?Kamu pandai sekali berlakon."


"Apaan sih dibilang berlakon gitu? Kila cuma bilang kalau Kila udah mendingan, Kila nggak berlakon, Kak."


"Iya, tapi tetap saja kamu harus saya lihat benar-benar sembuh dulu. Kalau tidak, saya akan memikirkan kamu terus saat di Turki nanti. Kamu tidak ingin saya khawatir, kan? Jadi, mohon kerjasamanya, ya. Cepatlah sembuh dan kamu jadi punya alasan untuk mengusir saya."


"Iya, Kak, iya. Kila pasti sembuh, kok. Kan ada suami Kila yang sangat perhatian ini yang merawat Kila. Karena Kak Irsyad, Kila bisa cepat sembuh. Dan dengan begitu, Kila bisa mengusir Kak Irsyad dari sini."


"Suami yang pengertian?" pikir Irsyad merasa janggal.


"Kila kamu sadar atau tidak dengan yang kamu katakan barusan?"


"Sadar, dong, Kak. Memangnya kenapa?"


"Aa, tidak tahu. Soalnya kita jarang bertemu. Di telpon juga saya yang lebih dominan. Tapi saat kamu sakit, seketika saya pikir kamu tidak sadar dengan ucapan kamu yang barusan. Saya pikir, Kila yang biasanya belum mampu mengucapkan kalimat seperti itu. Saya hanya bertanya-tanya, apa karena kamu sakit saja kamu dapat seberani itu mengungkapkan kalimat tadi? Kalau saya mengungkitnya saat kamu sudah sembuh nanti, kamu tidak akan mengelak dengan mengklaim bahwa kamu tidak pernah mengungkapkan itu, kan?"


Irsyad diam sejenak. Ia tidak ingin memberitahu Kila, tapi ingin Kila yang sadar kalimat yang diucapkannya. Jadi, dengan begitu Irsyad bisa lebih yakin kalau Kila mengungkapkan kalimat itu dalam keadaan sadar, bukan karena sakit seperti ini.


Kila peka atas diamnya Irsyad. Ia mencari dan mengingat-ingat kembali kalimat apa yang diucapkannya.


"... Suami yang pengertian? Ya Allah, aku ngomong apa barusan?" ingat Kila dalam hati.


Saat kembali teringat, Kila sadar bahwa kalimat itu membuat Kila malu karena telah diungkapkannya. Kila menutupi malunya dengan menutup wajahnya dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia tarik selimut itu ke bagian wajahnya, lalu berganti arah tidurnya dengan menyamping dan membelakangi Irsyad.


"Kila, kamu menyadarinya, kan? Itu bukan kalimat yang akan kamu ungkapkan," ucap Irsyad mendekat ke arah wajah Kila yang membelakanginya.


"Iya, Kila sadar, kok. Tapi ini bukan pertama kali Kila mengungkapkan kalimat mirip seperti itu. Waktu di pantai--," balas Kila namun belum selesai. Itu karena ia mencoba membaringkan tubuhnya seperti semula, tapi ia malah melihat wajah Irsyad yang sudah sangat dekat dengannya. Makanya kalimatnya tidak bisa ia tuntaskan.


Aa... pria penuh kejutan dan tidak bisa Kila tebak ini lagi-lagi mengenai Kila. Sebelumnya menjebaknya dengan membuat Kila sadar dengan kalimat yang ia ucapkan yang membuatnya malu. Setelah itu, ia malah membuat Kila mati kutu karena tiba-tiba wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Kila.


"Waktu di pantai kenapa? Kamu diam, ada apa? Lanjutkan saja Kila," ujar Irsyad tanpa ragu meski dalam posisi wajah seperti itu.


Karena tak dapat membendung rasa malunya lagi, Kila menutupi seluruh wajahnya dengan selimut yang tadi sempat menutup sebagian wajahnya. Tapi karena Kila salah tingkah begitu, saat ingin menarik selimutnya, tangannya malah mengenai Irsyad dan menimbulkan bunyi seperti tonjokan.


"Kila, kamu memukul saya?"


"E... nggak, kak, nggak sengaja," jawab Kila yang langsung membuka selimutnya kembali. Ia ingin memegang wajah Irsyad yang sempat kena tadi, tapi ia mana sanggup. Kila tidak ingin terjebak lagi dalam perangkap si pria penuh kejutan dan tidak dapat di tebak itu.


"Coba kamu lanjutkan dulu kalimat yang tadi. Kenapa dengan pantai waktu itu?"


Kila merasa kalau Irsyad sedang mengerjainya sekarang. Ia jadi berpikir harus mengerjai Irsyad balik dengan menyerangnya tiba-tiba pula. Kila menyandarkan tubuhnya dengan menyelipkan bantal di punggungnya lalu secara natural wajah Irsyad yang sangat dekat dengan wajah Kila itu perlahan menjauh. Irsyad duduk normal kembali.


"Kak Irsyad lagi ngerjain Kila, kan? Kila merasa aneh, dan perasaan anehnya Kila itu sendirian, wajah Kak Irsyad cuma dekat aja Kila udah deg-degan, padahal Kak Irsyad biasa aja," ujar Kila. Ia merasa perkataan tadi cukup untuk menyerang balik Irsyad, tapi tidak semudah itu. Irsyad ini pria yang penuh kejutan.


"Kamu tahu? Saya tidak pandai mengungkapkan apa yang saya rasakan. Sebagai gantinya, saya berusaha berikan perhatian lewat perlakuan. Kamu sebenarnya tidak aneh, Kila. Justru saya yang aneh. Saya tidak tahu ada semacam sensasi yang menggangu, ada kupu-kupu beterbangan di sekitar perut saya saat wajah saya dekat dengan kamu. Sensasi itu sangat menggangu, tapi saya senang hanya dapat merasakannya saat dekat dengan kamu saja," ucap Irsyad, dan Kila kalah telak. Kila yang berusaha menyerang malah diserang balik membombardir Kila, itu sih namanya bunuh diri.


...****************...