
"Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan?" ujar Citra.
Sudah cukup malam, harusnya jam segini digunakan untuk istirahat. Tapi, karena ada yang ingin ditanyakan oleh Farhan tadi, mereka membahasnya dulu sebelum tidur.
Di ruang keluarga sudah berkumpul Citra, Erwin dan Farhan. Sebenarnya, hal ini lebih baik ditanyakan dengan Citra saja. Tapi, Citra memberitahu ke Erwin tadi, jadilah Erwin ikut diskusi juga.
Farhan mulai mantap untuk bertanya.
"Kila sering main ke sini ya, Bun? Sejak kapan? Setahu Farhan, bunda memang baik sama anak kos, tapi nggak sedekat seperti dengan Kila," tanya Farhan sesantai mungkin.
"Iya, bunda juga merasa gitu juga. Tapi Kila itu punya sisi cukup menarik saat pertama kali berjumpa. Jadinya, akrab juga sampai sekarang. Kenapa nanya tentang Kila?"
"Aah, itu, Farhan cuma pengen tahu aja. Waktu Farhan kenal dengan Kila, Farhan akui dia memang gadis yang unik. Saat pertama kali bicara dengannya, dia sangat menjaga pandangan dan terus tunduk. Dia juga gadis yang pendiam saat bicara dengan lawan jenis. Tapi seketika berubah saat bicara dengan orang-orang terdekatnya," ujar Farhan. Ia jadi bercerita tentang Kila yang dikenalnya.
"Eeh... Kila pendiam ya, baru tahu. Soalnya selama main ke rumah, Kila cukup banyak ngomong juga. Nggak nyangka, sih. Mungkin memang Kila akan jadi pendiam waktu sama lawan jenis. Soalnya, bunda nggak pernah lihat Irsyad bicara berdua aja sama Kila. Jadi makin salut deh, sama gadis unik itu. Dia lebih menghindari bicara dengan lawan jenis. Gadis idaman," balas Citra dengan memuji Kila lebih lagi.
"Oiya, Bun. Mengenai Kak Irsyad, bukannya bunda nggak ngasih izin ke Kak Irsyad untuk pergi ke Turki kalau belum menikah? Kenapa tiba-tiba bunda ngasih izin? Kak Irsyad kan, katanya bakal di Turki selama lima tahun. Bunda nggak khawatir kalau Kak Irsyad bakal nunda untuk menikah sampai ia lulus dari Turki? Bukannya sudah terlalu tua untuk Kak Irsyad menikah di umur segitu?" Kali ini Farhan ingin mengaitkan pertanyaannya tadi dengan Irsyad.
"Ooh, soal itu sih, memang awalnya bunda ngelarang. Tapi, Irsyad udah ketemu jodohnya, kok. Jadi, bunda bisa tenang," jawab Citra santai.
"Jodoh? Bunda menjodohkan Kak Irsyad dengan seseorang? Siapa orangnya? Terus, Kak Irsyad bakalan nikah waktu libur tiba, ya?" keterkejutan tak terelakkan dari Farhan.
"Bukan dijodohkan, sih. Tapi mirip perjodohan juga," jawab Citra meluruskan. Tapi itu hanya membuat Farhan semakin bingung lagi, ditunjukkan dengan keningnya yang berkerut.
Melihat Farhan yang tampak makin bingung itu, Citra memberitahu Farhan tentang kedekatan Kila dan Irsyad. Tentang semua hingga sampai pada pesan terakhir nenek yang disetujui oleh Irsyad dengan sukarela.
Farhan sangat shock berat mendengar semuanya. Tapi ia tidak menunjukkannya melalui mimik wajahnya berpura-pura layaknya aktor hebat.
Ia menginap di kamar tamu rumah Citra. Berita itu membuatnya tidak tidur sama sekali. Ia selalu terjaga seraya memikirkan hal yang tidak dapat ia terima itu.
"Aaargh, harusnya aku yang di posisi Kak Irsyad itu. Mau bagaimanapun aku berjuang, pasti selalu keduluan sama Kak Irsyad. Harusnya aku langsung mendekati Kila saja sejak pertama bertemu. Harusnya aku yang membela Kila dari Yuli waktu itu, bukan Kak Irsyad. Harusnya, aku selalu ngasih perhatian yang lebih ke Kila walaupun aku sibuk jadi ketua OSIS," ucap Farhan mengacak-acak rambutnya. Sayangnya, yang harusnya ia lakukan tak dilakukannya. Sisanya hanya penyesalan yang harus dialami Farhan.
...****************...
Kila tiba di kosannya, sahabat baiknya itu yang mengantarkannya. Kila jadi tidak enak merepotkan Ira terus, ia masih rela mengantar Kila padahal akan kembali ke sekolah lagi. Kila jadi berpikir untuk membuat SIM dan membawa motor sendiri.
"Wa'alaykumussalam, Kak," jawab Kila menunduk.
"Gimana rasanya jadi murid kelas dua belas? Harus kamu optimalkan, lho. Soalnya tahun terakhir kamu SMA. Nikmati masa muda kamu, jangan sampai menyesal," seru Farhan.
"He... Kak Farhan ada apa tiba-tiba bahas itu? Saya udah maksimalkan di tahun terakhir ini, kok. Terimakasih banyak atas nasehatnya. Kalau gitu, saya duluan ya, Kak. Punggung saya pegal, kelas dua belas banyak sekali menjalani les untuk persiapan ujian akhir nanti," balas Kila segera mengakhiri percakapan.
"Tunggu dulu, Kila," seru Farhan. Kila mengurungkan niatnya untuk melangkah.
"Ada apa, Kak?" tanya Kila heran.
"Saya udah dengar semuanya dari Bunda Citra. Setelah lulus SMA nanti, kamu akan menikah dengan Kak Irsyad, kan? Apa kamu yakin akan menikah dengan guru perfeksionis itu? Apa kamu yakin kamu bisa suka dengan dia? Lagian, apa kamu tahu alasan kenapa Kak Irsyad dengan sukarela menyetujui pesan nenek kamu? Sudah direncanakan pun, apa kamu yakin semua akan berjalan lancar? Kamu akan ditinggal kembali ke Turki, lho," ucap Farhan mengalir begitu saja. Ia meluapkan semua yang termuat di kepalanya saat itu.
Kila sangat tidak senang dengan ucapan Farhan. Tapi ia tidak ingin meluapkan emosinya. Ia menenangkan diri terlebih dahulu sebelum hendak membalas ucapan Farhan.
"Maaf, Kak, saya pikir kakak sudah terlalu ikut campur dengan urusan saya. Saya tidak ingin menanggapi ucapan kakak. Saya pamit ke dalam dulu, Assalamu'alaykum," ucap Kila tegas. Farhan menandai kalau Kila sedang kesal, bahkan Farhanpun merutuki tindakannya itu karena berbicara terlalu lancang. Ada apa dengan Farhan? Sebegitu besarkah perasaan Farhan kepada Kila sampai melontarkan kata menyinggung itu.
"Kenapa tiba-tiba Kak Farhan berucap seperti itu? Bukannya dia sosok yang baik? Kalau begitu, sama saja dia dengan Yuli itu." batin Kila berucap kesal lalu berjalan dengan langkah kasar menuju kosannya.
...****************...
Saat ini, sudah satu pekan Kila menyandang status sebagai kelas dua belas. Kila sudah berpakaian rapi untuk bersiap ke sekolah sekalian olahraga pagi. Saat ingin pergi, ia melihat ponselnya lebih dulu. Pipi Kila merona saat melihat ada pesan chat dari seseorang yang bertuliskan "Pak Irsyad". Ia sudah senyum-senyum lebih dulu sebelum membuka pesan itu.
"Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat menjadi kelas dua belas, Kila. Tetap fokus sampai lulus nanti. Waktu yang sebentar lagi ini, jangan sampai mengganggu pikiranmu." Begitulah isi pesannya. Pikiran Kila sudah traveling menafsirkan kata "waktu yang sebentar lagi ini", dari pesan chat itu.
"Bagaimana aku bisa tidak terganggu jika diingatkan langsung dengan yang bersangkutan?" ucap Kila seraya tertawa kecil. Ia tidak akan membalas pesan chat itu. Lagian, Irsyad tidak akan suka jika pesan itu dibalas.
Isi pesan Irsyad sangat menggangu Kila. Kila sangat sensitif sekarang kalau bersangkutan dengan Irsyad. Ia lebih mudah terbawa beragam emosi. Senang, bahagia, kacau, galau semua bercampur aduk. Dan semakin menjadi saat sekarang, dimana ia akan lulus dari statusnya sebagai siswa. Dan nantinya akan langsung menikah dengan Irsyad yang ia kagumi dalam diam, yang ia sebut di sepertiga malam.
"Apa ini yang aku inginkan? Kenapa kata-kata Kak Farhan menggangguku sekarang? Apa tidak masalah jika menjalankan pernikahan karena sebagai pemenuhan dari wasiat nenek?" Kila meragu.
Kila cepat sekali berubah suasana hatinya. Baru saja merasa senang dengan menerima chat dari Irsyad, kini ia malah murung karena mengingat perkataan Farhan. Allah maha membolak-balikkan hati manusia.
...****************...