
Kini Kila dan Risa sudah sampai di rumah Kila bersama Ira yang tak lama kemudian menyusul mereka. Ira tampak heran dengan raut wajah kesal yang ditunjukkan oleh Risa. Padahal sudah cukup lama mereka berada di rumah Kila dan membicarakan beberapa hal, tapi raut kesal itu tak kunjung pudar.
"Ris, senyum, dong. Kamu jutek banget menanggapi obrolan kita. Jadi nggak seru, tahu. Kenapa sih kesel gitu mukanya? Coba cerita." Ira yang terganggu dengan itu, akhirnya mengungkapkannya.
Kila tahu penyebab kesal wajah Risa sahabatnya itu. Ia merasa bersalah karena dirinya secara tidak langsung yang membuat Risa berwajah seperti itu.
"Risa..., aku minta maaf, ya. Pasti kamu masih memikirkan pertemuan dengan Kak Farhan tadi, kan? Terimakasih banyak udah mau melindungi aku. Jujur, aku memang sempat tersinggung dengan perkataan Kak Farhan, tapi aku bisa mencoba menerima pandangan dia tentang nikah muda." Kila memasang wajah bersalah.
"Jangan menerima, Kila. Dia hanya mencoba merendahkan." Risa malah makin kesal karena teringat jelas diingatannya cara Farhan menyinggung Kila.
"Ada apa ini? Ceritain ke aku juga, dong, Akil," pinta Ira yang penasaran. Kila kemudian menceritakan pertemuan itu, beberapa di antaranya Risa yang menimpali.
"Aku setuju juga dengan sikap Risa. Tapi, Ris, kayaknya kamu datang bulan, deh. Soalnya, itu kamu udah kelewat galak, lho. Apalagi sama si Farhan itu, orang yang belum pernah kamu ajak bicara sebelumnya." Ira mengutarakan pendapatnya. Terselip candaan berharap dapat menghilangkan wajah kesal sang sahabat.
"Hahaha, Ira. Tahu aja kalau aku lagi datang bulan." Risa yang pahan usaha Ira itu, mengimbangi dengan tawa. Ia juga tidak berbohong dengan yang ia ucapkan.
"Tuh, kan, bener."
...****************...
Hari semakin sore. Dua sahabat itu masih betah di rumah Kila.
"Waah..., ada kumpulan cewek-cewek ternyata di rumah." Irsyad baru sampai di rumah setelah pulang mengajar di kampus. Mengucap salam, lalu menyapa mereka sebentar.
"Pak Irsyad, maaf mengganggu waktunya." Ira dan Risa menyapa pula dengan sopan.
"Tidak apa-apa. Santai dan anggap rumah sendiri. Mengobrol-lah seperti biasa. Saya tidak akan menggangu."
"Terimakasih banyak, Pak," ucap Ira dan Risa bersamaan.
Irsyad memberikan senyum sebelum pamit membiarkan ketiga sahabat itu melanjutkan obrolannya. Ira dan Risa melihat ke mana Irsyad pergi, membuat dua orang itu heran karena yang dimasuki oleh Irsyad itu bukan kamar tidur, melainkan ruang kerja.
"Jadi, Pak Irsyad dan kamu masih jalan di tempat, Kil?" Risa yang penasaran itu akhirnya bertanya. Dalam pikiran Risa, hubungan antara Kila dan Irsyad masih terbilang kaku. Yang ia tahu juga, kamar tidur ada di lantai atas, kenapa Irsyad memasuki ruang kerja padahal Irsyad juga baru pulang kerja. Apa tidak ada niatan di pikiran Irsyad untuk mengistirahatkan tubuh sejenak di kamar sebelum melanjutkan kerja kembali?
Risa yang merasa ucapan Ira sudah terlalu privasi mengalihkan topik pembicaraan. Ira sahabatnya itu memang suka hal-hal yang berbau cerita rumah tangga, terlihat seberapa sering ia membaca novel tentang itu, bahkan ia masih menonton sinetron di televisi yang temanya berbau rumah tangga pula. "Oiya, kamu juga udah lulus, kan? Tinggal nunggu wisuda udah bukan mahasiswa s1 lagi. Nggak ada salahnya, kan, nyambi jadi ibu sekalian nunggu waktu wisuda. Buat anak, gih. Pengen jadi onti aku nih," tanya Risa menimpali. Namun, tampaknya ia salah memilih topik, karena topik yang ia pilih itu tidak jauh bahasannya dengan yang Ira tanyakan.
Ira yang sok tahu menjawab, "Hahaha, sabar lagi proses, Ris. Tapi, jangan lama-lama bikinnya ya, Akil. Aku juga udah pengen jadi onti."
Kila gundah. Perihal Kak Irsyad-nya itu yang belum sempat ia salim tangannya, belum sempat pula ia menikmati kecupan yang biasa diberikan Irsyad di keningnya. Mana mungkin ia melakukan itu disaat dua sahabatnya melihat. Lagian, Irsyad malah langsung menuju ruang kerjanya, mana sempat Kila mendatangi Irsyad meski hanya sekedar menyambutnya saja.
Soal Irsyad yang masih sibuk, juga, Kila takut kedua sahabatnya ini mengkhawatirkan Kila tentang rumah tangga apa yang sedang dijalani Kila sebenarnya. Tapi ia memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat rahasia rumah tangganya. Tidak boleh ada orang luar yang tahu, tidak boleh orang luar itu mengetahui aib rumah tangganya, sedekat apapun orang luar itu dengan Kila.
Kila bersikap biasa saja. Menunjukkan wajah yang biasanya ia pasang saat tak ada masalah menerpa. Menjawab godaan sahabatnya itu dengan godaan pula. "Dari pada nungguin aku, mending kalian nyusul gih nikahnya. Lalu, ciptakanlah makhluk baru bernama manusia bersama suami sah kalian. Aku kalau diduluin sama kalian bakal ikhlas, kok. Aku juga kepengen banget jadi onti. Hahahaha," canda Kila. Ia tidak tahu canda yang tak sepenuhnya ikhlas ia tunjukkan ini akan ketahuan atau tidak oleh mereka.
Bukan membalas candaan Kila dengan candaan, Ira dan Risa merasa tidak beres dengan Kila. Terlihat Kila yang jarang melontarkan candaan atau godaan, itu bukanlah sifat Kila. Keduanya berpikir, ada sesuatu yang disembunyikan dari Kila.
"Aaa..., kamu nggak seru, Akil. Jangan-jangan, ada yang kamu sembunyiin dari kita, ya?" tanya Ira curiga.
Gawat! Dua sahabat ini peka sekali. Apa Kila harus menceritakan apa yang ia sembunyikan? Kila berusaha tenang untuk tidak membuat mereka bertambah curiga lagi. Berusaha mendengar dengan seksama kalimat apa lagi yang akan dilontarkan oleh si kepo Ira itu.
"Sebenarnya kamu udah isi kan, Akil?" tebak Ira. Tebakan yang mengasal. Tak Risa sangka kalau Ira akan menebak seperti itu, meski ia juga merasa ada yang disemburkan Kila.
"Hah?" respons Kila kaget. Begitu kaget karena sebelumnya ia begitu serius bersiap mendengarkan kalimat yang akan diucapkan Ira selanjutnya. Tebakan macam apa itu? pikir Kila.
"Halah, nggak usah malu. Bilang aja. Udah berapa bulan, Bu?" ucap Ira lagi. Kalimat Ira yang makin asal itu membuat Risa geram.
"Ssssttt, Ira hamil itu nggak boleh di bercandain tahu. Gimana kalau itu nyinggung perasaan Kila? Kamu nggodanya jangan keterusan!" Risa memperingatkan. Ira yang sadar setelahnya, merasa bersalah dan menundukkan wajahnya. "Benar yang Risa sampaikan," batin Ira.
Suasana jadi tak terkendali setelah teguran Risa disampaikan. Kila yang paham itu, berusaha memperbaiki suasana, lagi, dengan candaan. Padahal ia sudah tahu, melakukan candaan atau godaan itu bukan sifat Kila yang biasanya. Itu juga sudah jelas diketahui oleh sahabatnya, tapi ia tetap melakukanya dengan harapan dapat memperbaiki suasana. "Maaf, Ra. Aku sama Kak Irsyad memutuskan untuk menunda punya anak. Mau berdua dulu menikmati waktu pacaran halal, hehehe," ucap Kila.
"Jadi, aku siap kok kalau ditikung sama kalian. Aku bisa jadi onti duluan, kan? Hahaha. Nggak usah tegang begitu ah, Ira, Ria. Udah berapa lama kita sama-sama? Nggak mungkin aku tersinggung karena topik itu," sambung Kila.
"Yuk ceria lagi. Jangan bahas aku mulu, dong. Aku juga mau mendengar cerita kalian. Ira gimana organisasi? Risa aman, udah dapat calon yang tepat belum?" Kila mengakhiri dengan menyinggung kesibukan dua sahabatnya. Seketika suasana akhirnya mencair. Mereka kembali bercerita dan membahas soal organisasi Ira dan rencana nikah mudanya Risa.
...****************...