
Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh gadis satu ini. Ia memang suka dengan keindahan pantai, tapi memilihnya sebagai destinasi liburan agak mengherankan. Ia juga tidak mungkin berenang karena sedang datang bulan. Menikmati keindahan pantai, hanya memandangnya saja itu cukup untuk Kila.
"Kak, fotoin Kila, dong." Kila memberikan ponselnya kepada Irsyad. Mereka sedang jalan-jalan bersama menyusuri pantai. Karena keindahannya, Kila tak tahan ingin mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan.
"Oke. Sudah," ujar Irsyad. Ia hanya menekan satu kali saja yang artinya hanya satu foto yang diambil. Kaum hawa seperti Kila mana puas dengan hanya satu foto saja yang diambil, Irsyad tidak tahu itu. Kila mendatangi Irsyad karena kesal, tapi ia tidak berani mengungkapkan kekesalannya.
"Kak, kalau ambil foto Kila yang banyak, jangan cuma satu aja. Kakak nggak betah ya karena Kila suruh fotoin?" ujar Kila.
"Tidak. Saya hanya tidak terbiasa. Saya juga malu dilihat orang-orang," jawab Irsyad.
"Nggak ada yang liatin, kok. Kalau ada yang lihat, berarti mereka ngeliat Kila, bukan Kak Irsyad. Ya udah kalau gitu, gimana kalau kita foto berdua? Sama-sama untung, kan? Kila dapat fotonya dan Kak Irsyad nggak akan malu diliatin sendirian. Buat kenang-kenangan juga kalau kita pernah berlibur bersama di sini," solusi dari Kila. Ia sangat lancar mengungkapkannya. Kila yang dulu mana bisa mengucapkan kata yang ambigu begitu seperti foto berdua dan liburan bersama.
Mereka akhirnya mengambil beberapa selfie dengan pemandangan pantai di belakangnya. Kila dengan cerewet menyuruh Irsyad untuk melakukan ini dan itu, menyuruh berpose begini dan begitu.
"Entah kenapa, semenjak kita menikah kamu lebih cerewet sekarang, ya," ujar Irsyad saat Kila mulai mengatur lagi untuk arahan berfoto. Kila, mendengar kata "semenjak kita menikah" sudah membuatnya merona. Kenapa kata itu sangat berdamage untuk Kila?
"Iiih, nyebelin banget. Kakak sendiri padahal yang minta Kila untuk nggak terlalu kaku. Kakak juga ingin diperlakukan kayak Ira sama Risa waktu kita bicara. Beginilah Kila saat bersama dua sahabatnya itu. Maaf ya kak kalau Kila cerewet. Apa kakak kecewa karena ekspektasi kakak tentang Kila adalah Kila ini gadis imut nan lucu yang pendiam. Kakak nggak nyesel nikahin Kila, kan?" Kila menjawab dengan pelan dan menyembunyikan pipi merahnya dengan menunduk.
Mereka melakukan selfie dengan berjarak, Kila belum terbiasa dekat-dekat dengan lawan jenis. Irsyad melangkah lagi untuk lebih dekat dengan Kila memperpendek jarak. Kila refleks mundur karena serangan tiba-tiba itu. Irsyad mengusap kepala Kila sebagai tanggapan dari ucapan Kila, ia bahkan lebih cepat dari Kila yang mencoba memundurkan langkah. Kila memundurkan langkahnya lagi saat Irsyad mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah Kila jarak mereka sudah sangat dekat, Kila membangun pertahanan untuk menghadapi serangan Irsyad yang suka datang tiba-tiba.
Cup
Satu kecupan lembut mendarat di kening Kila, lagi untuk kedua kalinya setelah peristiwa akad waktu itu. Desiran di jantungnya bercampur dengan desir ombak yang berbunyi. Setelah melakukan serangan dengan mengusap kepala Kila, Irsyad mengultimatum dengan mengecup kening Kila. Pertahanan yang Kila bangun akhirnya runtuh. Ia terjatuh dengan duduk di atas pasir. Ia tak punya tenaga untuk kembali berdiri karena semua energi sudah habis digunakan karena kelelahan akibat jantungnya yang terus berolahraga karena kelakuan Irsyad ini. Irsyad ikut duduk untuk menyamakan posisi.
Irsyad menatap Kila dalam-dalam. Ia tidak tahu kalau Kila tetap akan menunduk setelah serangannya tadi, padahal mereka sudah halal. "Sangat menggemaskan," pikir Irsyad.
"Kila, kamu coba lihat mata saya. Tatap saya." ujar Irsyad yang sudah menatap Kila lebih dulu. Kila enggan melakukannya, ia tidak bisa mengontrol dirinya sekarang. Mencoba menatap Irsyad mungkin suatu bom bunuh diri karena ia sudah pernah terjebak dengan bola mata hazel milik Irsyad itu.
"Dengar baik-baik, ya. Mau bagaimanapun kamu, kamu tetaplah kamu. Saya menikah dengan kamu karena kamu adalah kamu. Saya menaruh hati pada Kila bagaimanapun dia adanya. Bukan Kila yang pendiam bukan pula Kila yang cerewet, tapi keseluruhan dari Kila itu sendiri. Tidak ada kata menyesal atau kecewa karena saya telah menikahi kamu. Saya justru sangat bahagia karena kamu adalah Kila yang sepenuh hati saya cintai. Jadilah apapun dan berubah lah sesukamu. Saya akan tetap mencintai kamu apa adanya," tutur Irsyad seraya menatap mata Kila dalam-dalam.
Seketika Kila menangis mendengar ucapan penuh kejujuran dan kejutan dari Irsyad. Namun tangisnya tak mengeluarkan suara, air matanya saja yang dengan seenaknya tumpah tanpa persetujuan Kila. Melihat air mata Kila yang jatuh, Irsyad mengusapkannya pelan untuk menyingkirkannya dari wajah Kila yang cantik. Kila tertunduk lagi saat Irsyad melanjutkan serangannya dengan mengusap air mata Kila. Dan Kila dengan cepat mengusap air matanya sendiri untuk menghalau serangan itu. Irsyad mengembangkan senyum atas kelakuan Kila.
"Soal kamu yang menjadi cerewet itu, sebenarnya saya bukan mengeluh. Itu hanya ingin saya ucapkan saja. Dengan begitu, saya jadi lebih tahu dalam tentang kamu. Saya juga senang sudah tidak dianggap sebagai orang yang harus kamu hormati dengan kaku lagi. Jadi, jangan tersinggung, ya, Kila. Saya minta maaf untuk itu, dan berharap kamu segera memaafkan." Irsyad meluruskan ucapannya sebelumnya.
"Iya, dimaafin. Kila nggak tersinggung, kok. Sekarang Kila kesel sama kak Irsyad," balas Kila.
"Lho, kesal karena apa? Bukannya tadi katanya kamu tidak tersinggung, ya?" tanya Irsyad heran. Kila diam sebagai tanggapan.
"Bukan karena itu berarti?" tanya Irsyad lagi. Lagi-lagi Kila diam. Irsyad harus menebak si hawa satu ini, iapun berpikir dengan keras menggunakan logikanya dan mengaitkannya dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Karena saya mengusap kepala kamu, lalu mengecup kening kamu dan berusaha mengusap air mata kamu, apa itu yang membuat kamu kesal?" ujar Irsyad setelah jeda sebentar untuk berpikir. Kila diam lagi. Tapi kali ini karena tebakan Irsyad benar, Kila menunjukkan rona merah di pipinya. Irsyad melihat reaksi itu, dan itu adalah reaksi yang menandakan bahwa tebakannya sudah pasti benar.
"Aa, benar juga. Sepertinya itu juga terburu-buru buat kamu dan saya. Saya mungkin hanya menggebu-gebu karena sudah memiliki seseorang yang halal bagi saya. Saya juga heran, saat melihat kamu dan kamu mengatakan hal itu, tubuh saya bergerak sendiri untuk melakukan itu. Saya minta maaf, ya," ujar Irsyad mengutarakan.
"Mungkin kita luruskan dulu tujuan kita datang ke sini untuk apa. Saya dan kamu hanya mengenal di saat kita masih terbelenggu status guru dan murid. Bukankah harusnya kita harus saling mengenal lebih dalam?" lanjut Irsyad.
"Ta'aruf." Kila bereaksi dan menjawab dengan pelan.
"Iya, ta'aruf. Kila, mari kita berta'aruf!" ucap Irsyad mantap. Kila mengangguk pelan menanggapi.
Mungkin setelah ini Kila akan bersiap menerima serangan jantung bertubi-tubi dari Irsyad. Kila memang tidak akan pernah bisa menebak pria yang sudah menjadi suaminya itu. Saat ta'aruf nanti, bagaimana nantinya kejutan-kejutan baru akan datang dari Irsyad?
...****************...